
Arnold tidak menjawab pria itu hanya diam sambil menatap Cia yang sedang tersenyum saat Andreas menjelaskan kepadanya."Kapan berangkat?" tanya Arnold.
"Kau mengusirku!" gerutu Andreas kesal melihat adiknya.
"Bukannya lebih cepat lebih baik," ujar Arnold.
Andreas hanya mendengus saat ia akan mencium kening Velicia wanita itu mendorongnya. Semua itu tak lepas dari perhatian Arnold membuat pria itu mengerutkan keningnya.
"Aku pergi jaga diri baik-baik. Ar, kalau ada apa-apa tolong kabari aku!" seru Andreas sambil keluar dari ruangan.
Setelah Andreas keluar hanya ada keheningan yang terjadi, baik Cia dan Arnold sama-sama diam. Hingga Jack masuk dengan senyum lebarnya sambil membawa amplop.
"Hem, apa aku mengganggu?" tanya Jack.
"Tidak ada apa Jack?" tanya Cia sambil tersenyum menatap kakak angkatnya itu.
Jack duduk di tepi ranjang, ia membuka amplop yang baru di ambilnya dari dokter James, Ia memperlihatkan ke Velicia jika adiknya itu mengikuti terapi dan pengobatan dipastikan akan bisa sembuh setelah melihat dari tes terakhir.
"Benarkah jack!" seru Cia dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, tapi kamu harus rajin mengikuti terapinya," ujar Jack sambil memeluk tubuh kurus Cia.
Perlahan Jack melepaskan pelukannya, ia menatap Arnold yang kini berdiri menghampiri istrinya. Cia tersenyum menatap pria yang sampai sekarang masih dicintainya itu.
"Ar, aku akan pulang sore nanti, apa aku bisa minta tolong untuk menjaga Cia. Namun, bukan sebagai mantan istrimu."
Deg, Cia menatap Jack. Entah kenapa dadanya begitu sesak saat kakaknya mengatakan itu. Wanita itu menunduk untuk menyembunyikan rasa sakit di dadanya.
"Asal kamu tahu Jack, sampai sekarang wanita ini masih istriku," Arnold bermonolog.
"Kamu jangan khawatir, aku kan menjaganya sebagian kakak iparku, karena Cia sudah menemukan cintanya!" kata Arnold sambil tersenyum getir.
Velicia semakin menunduk rasanya begitu sakit hatinya, walau Andreas cinta di masa kecilnya, tapi rasanya berbeda saat ia berdekatan dengan Arnold.
__ADS_1
Jack hanya mengangguk, setelah itu Jack pamit karena mau ada yang akan ia urus. Arnold kini duduk sambil menatap mata itu dengan intens.
"Selamat ya kamu sudah menemukan cinta yang sebenarnya," kata Arnold sambil tersenyum walau hatinya begitu sakit harus mengatakan itu.
"Ar, aku tidak ingin kita membicarakan hal ini lagi!" pinta Cia sambil mengusap air matanya.
"Kenapa, kamu tadi terlihat begitu bahagia saat bersama kakakku. Semua itu membuatku berpikir mungkin saatnya aku melepaskanmu," kata Arnold lirih.
"Ar," tangis Cia langsung pecah.
Arnold merengkuh tubuh istrinya erat, tangis Cia semakin pecah saat Arnold memeluknya. Pria itu mengusap punggung wanita yang kini sedang sedih atau entahlah ia tidak tahu.
"Cia, jangan menangis ;lagi, ingat kamu harus bahagia," kata Arnold lembut.
"Ar, apa boleh selama kamu menjagaku tidak membahas yang lain!" pinta Cia menatap dua netra pekat itu dengan tatapan sayu.
Arnold menaikan kedua alisnya menatap nanar wajah wanita yang dicintainya itu."Maksudnya apa, hem?"
"Aku hanya ingin merasakan sisa hidupku saat bersamamu, Ar." Cia menunduk merasa malu.
Velicia bukan menjawab, wanita itu kini menatap lekat wajah tampan di depannya, perlahan ia mengusap pipi mantan suaminya itu. Ini pertama kali ia melakukannya. Entah keberanian dari mana ia melakukan ini.
Arnold hanya diam, ia membiarkan tangan istrinya itu mengusap wajahnya, rasa hangat kini menjalar membuat hatinya berdesir. Saat wajah Cia kian menipiskan jarak, tiba-tiba ia dibuat terkejut.
Cup
Kecupan itu mendarat di keningnya membuat semburat di wajahnya. Arnold terkekeh , baru kali ini wajah itu tanpa make up. Dari dulu wajah istrinya itu selalu memakai make up. Entah mengapa Arnold lebih suka jika Cia natural seperti ini.
"Ar, jangan menatapku seperti itu," kata Cia sambil menanduk.
"Aku suka lihat wajahmu yang sekarang tanpa make up, Sayang," kata Arnold lembut membuat Cia semakin merona.
Arnold mengambil mangkok bubur yang baru datang di antar perawat tadi, ia menyuapi Cia dengan sabar, sesekali keduanya sama-sama tersenyum. Cia begitu bahagia apa ini rasanya jatuh cinta yang dirasakan pasangan normal lainya.
__ADS_1
Setelah suapan terakhir Cia minum air putih dan empat obat yang sudah disiapkan oleh perawat tadi, sedangkan Arnold membereskan bekas makan Cia.
"Apa kamu mau istirahat," kata Arnold sambil mengusap bibir Cia memakai jarinya karena ada sisa bubur.
"Ar aku takut saat tidur nanti kamu pergi," kata Cia menatap lekat wajah Arnold.
"Tidak akan, kamu boleh genggam tanganku." ujar Arnold.
Cia tersenyum, wanita itu begitu senang saat akan tidur sambil memeluk tangan Arnold. Pria itu membantunya untuk berbaring dan menyelimuti tubuhnya sampai dada.
"Ar, janji ya jangan tinggalkan aku," kata Cia sambil menempelkan telapak tangan Arnold di pipinya.
Arnold tersenyum, diusapnya lembut wajah putih walau sedikit pucat itu, satu kecupan mendarat di pipi Cia. Membuat wajahnya merona, sehingga membuat pria itu semakin gemas apalagi saat matanya menatap bibit tipis yang selalu menjadi candunya saat Cia belum memberikan surat gugatan cerai.
"Tidurlah," kata Arnold sambil ikut membaringkan tubuhnya di samping tubuh istrinya.
Arnold menjadikan tangannya bantal untuk istrinya, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang Cia dan memejamkan matanya karena ia juga begitu lelah.
Cia mendengar dengkuran halus dari mantan suaminya itu, ia membalikan badan hingga sekarang ia berhadapan dengan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa.
"Ar, kenapa kamu berpikir jika aku bahagia saat bersama Andreas, apa kamu tahu hati ini bergetar saat bersamamu, Sayang." kata Cia lirih sambil mengusap bibir tebal yang pertama mengambil ciuman pertamanya dan pria ini juga yang mengambil kehormatannya sebagai seorang wanita.
Selama ini tidak ada dendam atas apa yang dilakukan Arnold kepadanya, cinta itu mengalahkan segalanya hingga ia terlanjur memberikan hatinya kepada satu pria yang kini sedang berada di sampingnya.
Cia tersenyum saat wajah tampan mantan suaminya itu begitu polos saat ini, ia ingat kata-kata pria yang kini memeluknya 'Aku hanya menikah sekali dengan Velicia' mengingat itu Cia tersenyum.
"Kenapa sekarang baru kamu sadari Ar, andai dari awal kamu terima pernikahan ini pasti kita sudah bahagia dengan anak-anak kita." Cia mengecup kening suaminya lembut.
Velicia menenggelamkan wajahnya di dada bidang mantan suaminya itu, air matanya membasahi kedua pipinya. Sekarang ia bisa dengan bebas memeluk tubuh kekar yang dirindukanya.
Velicia mendongak menatap bibir Arnold ia perlahan mendekatkan bibir, matanya terpejam saat benda kenyal itu kini menempel di bibirnya. Arnold yang baru terbangun saat istrinya itu sedang menenggelamkan wajahnya di dadanya hanya diam.
Ia perlahan menggerakan bibirnya, dan menyesap semakin dalam, apa lagi saat Cia membalas menyesap bibir itu, hingga Arnold menggigit kecil sampai mulut Cia terbuka. Saat sedang membelitkan lidahnya tiba-tiba terdengar."Hem."
__ADS_1
Bersambung ya….