
Clara yang tadinya tidak percaya, akhirnya ditelepon oleh Leon orang kepercayaan Tuan Setyawan. Wanita itu merasa kalau Tuan besar benar-benar membutuhkan anaknya. hingga ia mau mengambil alih pekerjaan dari Ceo yang kini dijabat oleh Arnold.
****
Di Jerman.
Di ruang yang bernuansa putih itu seorang wanita baru terbangun dari mimpi buruknya, Velicia menatap sekelilingnya, Ia tadi merasakan sedang di taman bunga bersama mama dan Papanya. Namun, ia mendengar suara Arnold memanggil namanya.
Velicia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, wanita itu baru menyadari kalau itu hanya pemimpin buruk saja. Apa ia begitu merindukan Arnold hingga suara itu membuatnya terkejut dan Mama dan papanya pergi meninggalkan dirinya.
"Jack," panggil Velicia kepada Kakaknya yang kini sedang duduk di sofa bersama Selly istrinya. Jack tersenyum menatap adiknya yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Ada yang kamu butuhkan," kata Selly menghampiri adiknya karena suaminya sedang meeting lewar Virtual.
"Enggak Kak, hanya ingin minta air putih saja," ujar Velicia.
Selly tanpa menjawab mengambilkan air mineral untuk adiknya itu, jack tersenyum karena istrinya mau membantu adiknya sekarang.
Tak lama perawat datang karena hari ini akan dilakukan kemoterapi lagi untuk Velicia, Andreas datang sambil tersenyum. Walau sejak kejadian itu pria itu agak berubah dengan gadis kecilnya.
"Kamu harus santai jangan tegang ya," kata Andreas lembut.
Velicia menatap wajah pria itu, entah mengapa suara Arnold yang sekarang begitu berbeda dengan Arnold yang dalam mimpinya. Wanita itu membuang napas secara kasar, karena ia belum pernah bertemu dengan Kakak Arnold.
Velicia dibantu Andreas untuk pindah di kursi roda setelah itu didorongnya untuk mengikuti dua orang perawat. Velicia memicingkan matanya saat melihat banyak orang luar, tiba-tiba ia meminta kepada Andreas untuk berhenti.
"Kita dimana?" tanya Velicia.
"Nanti aku jelaskan setelah kemoterapi ya, ingat harus optimis," kata Andreas sambil menyembunyikan rasa gugupnya.
Velicia merasa kalau dirinya sedang berada di luar Negeri, apa selama ini ia dibohongi, banyak pertanyaan dalam hatinya.
Tubuh Velicia di baringkan, sedangkan Andreas melihat dari kaca, tak lama Selly dan Jack datang sambil tersenyum menatap Velicia. Dokter James dan dua orang perawat masuk. Saat jarum itu menusuk kulitnya Velicia memejamkan mata, bibirnya bawahnya dilipat ke dalam untuk menahan rasa sakit yang kini mulai menjalar dalam tubuhnya.
Selly menangis tak kuasa melihat yang terjadi pada Velicia, wanita itu duduk di kursi tunggu sambil sesenggukan, Jack menatap sendu adiknya, Velicia walau merasakan tubuhnya sakit ia tetap tersenyum kepada Andreas dan Jack.
Kini Velicia memilih untuk membelakangi kedua pria itu, perlahan air matanya mengalir di kedua pipinya, rasa mual dan sakit ia rasakan, Tiba-tiba wanita itu muntah-muntah seorang perawat langsung membantu.
"Apa yang terjadi?" tanya Jack kepada Andreas.
__ADS_1
"Semoga gadis kecil kuat," jawab Andreas.
Jack terlihat begitu frustasi, ingin rasanya ia menerobos masuk ke dalam sana. Namun pintu di kunci. Selly melihat itu langsung menghampiri suaminya.
"Tenangkan dirimu," kata Selly lembut.
Jack hanya mengangguk, Andreas mengusap air matanya, tak lama Velicia hanya berbaring dan memejamkan matanya. Namun, dari sudut mata itu meneteskan air mata.
"Jack kita datangkan Arnold saja bagaimana?" tanya Andreas.
"Maksudmu apa?" tanya Jack balik.
"Sekarang yang Cia tunggu hanya adikku, Jack. Aku mohon mengertilah." Andreas mengusap wajahnya dengan kasar.
Jack hanya diam, pria itu takut jika Arnold masih berhubungan dengan kekasihnya dan adiknya akan kembali terluka.
Andreas tidak tega karena ia akan lebih menyakiti Velicia lagi saat ini, ia juga ingat gadis kecilnya itu sudah mulai curiga tadi.
"Jack, sebaiknya kita katakan yang sebenarnya kalau kita sekarang berada di jerman," kata Andreas.
"Kenapa?" tanya jack sambil memicingkan matanya.
Andreas menarik napas panjang dan berkata," Velicia sudah curiga dan bertanya sebenarnya kita ada di mana."
Setelah tiga jam Velicia dikeluarkan dari ruang yang tadi ia menjalani kemoterapi, wanita itu kini lebih terlihat memejamkan matanya. Walau sebenarnya ia tidak tidur, Velicia begitu benci saat semua orang terlihat mencemaskan dirinya.
Wanita itu kini dibaringkan di brankar, wajahnya terlihat begitu pucat, seperti baisa adiknya itu belum boleh dijenguk sebelum empat jam. Kini Velicia tengah terlelap.
Pagi harinya Velicia mengerjapkan matanya, ia terbangun dan melihat pria yang dianggapnya mantan suaminya itu tersenyum. Wanita itu hanya diam, karena ia merasakan tubuhnya masih lemah.
"Ar, aku haus, "kata Velicia.
Andreas dengan senang hati membantu gadis kecilnya itu, air dalam gelas itu di teguk oleh Velicia langsung tandas. melihat itu Andreas terkekeh.
"Kamu makan bubur dulu, ya," bujuk Andreas.
Velicia hanya mengangguk saja, tak lama Andreas mulai menyuapi wanita yang terlihat lemah itu, setelah merasa perutnya kembali muat ia menggelengkan kepalanya minta stop.
"Kenapa, kamu baru makan sedikit?" tanya Andreas sambil memberikan air putih ke gadis kecilnya lagi.
__ADS_1
"Aku kenyang dan mual," jawa Velicia.
Andreas hanya mengangguk, pria itu mengusap rambut Velicia dengan lembut, tak lama seorang perawat masuk untuk membantu Velicia menyeka tubuhnya.
Andreas yang baru keluar dari ruang rawat Velicia terkejut karena sang adik yang baru datang dengan Ibunya menangis tersedu langsung memeluknya.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Andreas lembut sambil mengusap sayang rambut adiknya itu.
Mama Maria hanya diam, ia masuk saat suster sudah siap menggantikan baju Velicia. Senyum mengembang di bibir wanita itu saat melihat menantunya itu sudah terlihat segar.
"Mama apa kabar?" tanya Velicia karena wanita itu sudah tiga hari tidak datang berkunjung.
"Baik Nak, dan begitu sehat dan cantik sepertimu," goda Mama Maria sambil mengambil sisir untuk Velicia.
"Biar aku saja Mam," kata Velicia .
"Mama juga ingin menyisir kamu," ujar Mama Maria.
Tak lama Andreas dan Aura masuk, Velicia melihat Aura habis menangis mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Velicia.
"Aura mimpi buruk, katanya Papanya sakit." Mama Maria menceritakan kepada Velicia.
Maria begitu terkejut saat menyisir rambut indah milik mantan menantunya itu, rambut itu mulai rontok, air matanya menetes membasahi kedua pipinya melihat itu Aura dan Andreas hanya menatap sendu.
"Ada apa?" tanya Velicia.
"Dilihatnya rambutnya di tangan Mama Maria begitu banyak, Velicia tersenyum, untuk menutupi kesedihannya. Ia terlihat begitu santai saat ini. Seakan tidak ada apa-apa saat ini.
Mama Maria menatap tidak percaya, dan langsung memeluk Velicia dengan erat, dan berkata."Ini hanya sementara saja sayang."
"Mama jangan sedih aku enggak apa-apa," jawab Velicia.
Arnold ponselnya berdering terlihat nama Leon yang muncul.
"Hallo," kata Andreas.
"Tuan Besar masuk rumah sakit dan-," kata Leon yang langsung di sela oleh Andreas
__ADS_1
"Apa?
Bersambung...