
Clara hari ini kerja seperti biasanya tidak ada yang berubah dari gadis itu saat ini, semua akan berjalan seperti biasanya. Velicia yang baru datang bersama suaminya tersenyum tipis. Hingga kedatangan Aura yang membuat gadis itu terkejut. Namun, Clara tetap menyapanya seperti biasanya.
"Nona sudah pulang," sapa Clara.
Aura hanya mengangguk. Setelah Nona dan Tuannya masuk dalam ruangan Clara hanya menaikkan kedua bahunya, gadis itu sudah pusing karena Jhon sedari tadi telepon. Tidak hanya satu jam kadang setengah jam sekali menghubunginya hanya menanyakan hal yang tidak penting.
“Kalau memiliki pasangan seribet ini kenapa semua orang malah suka,” kata Clara lirih kembali menarikan tangannya di atas keyboard.
“Clara,” kata Velicia menatap sang asisten sambil tersenyum.
“Iya, Nona. Apa Anda memerlukan sesuatu?” tanya Clara.
“Tidak. Aku minta kamu temani aku untuk bertemu dengan Alek,” ucap Velicia.
Clara begitu terkejut, gadis itu menatap bosnya itu merasa ada sesuatu yang terjadi.
“Kamu kenapa?” tanya Velicia.
Velicia menatap Clara karena baru kali ini sang asisten terlihat gugup.
“Nona apa biar saya saja yang bertemu?” tanya Clara.
“Hai, kamu ini kenapa? Bukan kita ini sedari dulu pasangan kerja yang ditakuti yang lainnya,” ujar Velicia sambil menaikkan kedua alisnya.
“Maaf, Nona. Bukan maksud saya seperti itu,” ucap Clara langsung bersiap untuk bertemu dengan Alek.
Velicia tersenyum dan kemudian kembali masuk ke ruangannya lagi.
Clara menghela napas panjang, lagi-lagi ada pesan dari Jhon. Ancaman yang diberikan pria itu membuat gadis itu melebarkan matanya.
Baru saja Clara akan menghubungi nomor pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu ada seorang resepsionis menghubunginya jika calon suaminya menunggu di lobby.
Clara langsung memijat kepalanya, baru satu hari saja sudah pusing.
“Ya Tuhan, ini cobaan apa musibah,” ucap Clara lirih langsung beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Clara langsung menuju ke lift, wanita itu ingin sekali memukul wajah tampan yang hampir membuatnya gila beberapa jam ini.
Saat pintu lift terbuka, gadis itu langsung keluar dan melihat Alek berdiri di samping Tuanya. Sedangkan Jhon sibuk dengan ponselnya untuk membalas email yang dikirimkan oleh sekretarisnya.
Alek yang melihat Clara lebih dulu hanya tersenyum tipis, jujur ia ingin sekali menertawakan bosnya itu saat menghubungi calon istrinya, tapi tidak diangkat.
Clara langsung duduk di depan Jhon, sedang pria itu melihat ada wanita yang mampu membuat pikirannya tidak bisa konsentrasi langsung tersenyum.
“Kenapa tidak diangkat teleponku?” tanya Jhon.
“Tuan, sekarang saya sudah berada di depan Anda. Katakan apa yang Anda inginkan?” Clara melipat kedua tangannya di dada.
Jhon menarik panjang, wanita di depannya ini membuatnya semakin penasaran. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan ke arah Clara.
Clara hanya menatap datar ke arah tangan yang menjulur di depannya, wanita itu menggelengkan kepalanya.
Jhon merasa sang calon istrinya cuek langsung menarik tangan Clara dan membawanya keluar dari kantornya group Arista. Saat sampai di depan mobil Jhon menghentikan langkahnya karena melihat Aura dan Arnold akan masuk mobil.
“Selamat pagi Nona Aura dan Tuan Arnold,” ucap Jhon sambil mendorong tubuh Clara untuk masuk ke mobil. Mendengar suara itu Aura langsung menegang, dan begitu menoleh ke belakang alangkah terkejutnya saat melihat pria yang kini bersama dengan Clara.
Begitu juga dengan Arnold, ya itu tidak kalah terkejutnya karena masih pagi sudah ada John di depan kantor istrinya.
Setelah itu dan langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan area kantor milik grup Arista.
Setelah mobil milik John tidak terlihat lagi Aura menatap sang kakak.” Ada hubungan apa antara Tuan John dengan Clara?”
Arnold tidak menjawab karena ia juga tidak tahu hubungan apa antara mereka berdua. Namun, pria itu yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu.
Setelah itu Aura dan Arnold masuk ke dalam mobil, melaju dengan kecepatan sedang.
Di mobil milik John, pria itu memberikan mobilnya menuju ke salah satu restoran yang berbintang lima.
Clara menata kesal pria di sampingnya itu, seharusnya sekarang ia masih di kantor karena masih jam kerja. Sekarang harus menemani Jhon untuk makan siang walaupun sekarang belum waktunya.
Jam sekarang baru menunjukkan pukul sebelas siang, keduanya keluar dari mobil berjalan Jhon menggenggam tangan Clara. Itu membuat garis itu terkejut dan mencoba untuk menarik tangannya. Namun sayang, pria itu menggenggam tangannya begitu kuat.
__ADS_1
Clara hanya bisa pasrah saja sambil berjalan mengikuti John ke arah meja yang sudah dipesannya.
Kini keduanya duduk di ruang VIP yang dipesan oleh pria yang kini duduk di sampingnya itu.
Dua orang pelayan datang menghampiri kemejanya untuk memberikan buku menu, Clara dengan cepat mengambil hukuman itu dan langsung memesan apa yang ingin ia makan.
Melihat itu Jhon tersenyum tipis, biasa wanita yang pergi makan bersamanya akan menawarkan mau makan apa.
Berbeda dengan Clara, gadis itu terlihat acuh karena masih kesal. Namun, dengan wanita di sampingnya Pria itu merasa kembali tenang.
“Alek susah minta izin kepada Nona Velicia untuk memberikan izin hari ini untuk tidak masuk kantor,” kata Jhon.
Cara mendengar itu tentu saja ia begitu kesal sekarang, dari dulu wanita itu tidak suka hal pribadi diikut campurkan dengan pekerjaan.
Kini baru terpikir olehnya, sepertinya keputusan yang diambil baru-baru ini salah. Bukan ini tujuannya untuk menerima lamaran dari John.
Namun kenyataannya, pria itu begitu posesif kepadanya sekarang. Clara hanya bisa menarik nafas panjang. Tidak lama pesanan mereka datang.
Keduanya makan hanya dalam diam, sedang kencing sesekali melirik ke arah wanita di sampingnya itu.
Jujur ya belum tahu betul bagaimana sikap Clara selama ini. Wanita yang begitu dingin dan datar, pastikan tidak akan ada pria di sampingnya selama ini.
Jangan bisa berpikir seperti itu, sikap Clara ini seperti membangun sebuah benteng yang begitu tinggi tapi tidak terlihat.
Banyak sesuatu yang disembunyikan oleh wanita yang memiliki sikap tertutup seperti Clara, iya kan selalu memendam apapun yang ia rasakan selama ini jangan sampai orang lain mengetahuinya.
“Clara kamu mau kita menikah di mana?” tanya Jhon.
Clara menatap pria di sampingnya itu, gadis itu hanya terdiam.
“Kita menikah sederhana saja bagaimana?” tanya Clara kepada Jhon.
“Apa kamu yakin? bukankah seorang wanita itu meminta pesta pernikahannya seperti putri raja,” ujar Jhon
Clara menatap Jhon dengan sinis.”Mungkin itu wanita yang selama ini Anda kencani, Tuan.”
__ADS_1
Jhon mendengar apa kata Clara mengepalkan kedua tangannya. Pria itu sebisa mungkin menahan emosinya, karena tidak mudah baginya untuk membujuk calon istrinya sekarang.
Clara wanita yang begitu susah untuk dikendalikan, beda dengan Aura.