
"Kita tunggu di sini, apa yang akan dibicarakan mereka." Cia menatap ponsel yang kini tergeletak di depannya.
Clara hanya bisa mengangguk, sebenarnya ia tidak tega. Melihat wanita yang dari dulu tidak menderita oleh Arnold. Sedangkan di ruang sebelah.
Maria segera memesan makanan untuk anak-anaknya, tidak lupa wanita itu juga pesan untuk Meli.
"Meli, apa kamu besok siap menikah dengan putra saya?" tanya Maria.
Meli hanya diam, entah kenapa ia sebenarnya tidak ingin menikah muda. Masih banyak impian yang akan ia raih, apa lagi wanita yang sudah menolongnya akan menolongnya untuk bisa bekerja di grup Arista.
Impian bagi setiap orang untuk bisa bekerja di perusahaan besar itu, apa lagi terkenal jika CEOnya seorang wanita yang tidak lain pewaris tunggal keluarga kaya raya di kotanya.
"Mama ini berlebihan, apa Mama tidak memikirkan kakak ipar!" kata Aura.
"Kalau kakak iparmu itu bisa memberikan anak untuk Arnold. Apa kamu kita mama akan melakukan ini, Aura." Maria menatap tajam putrinya itu.
"Apa yang akan mama rasakan, jika posisi Kakak ipar itu aku yang mengalami?" tanya Aura.
Maria menatap putrinya itu jengah." Tidak mungkin Arnold melakukan hal itu. Kamu saja sedang hamil sekarang."
Aura menatap jengah, wanita itu tidak habis pikir akan apa yang dilakukan oleh Mamanya. Leon menatap Meli, saat gadis itu menarik tasnya. Mata Pria itu membulat.
Leon beranjak dari duduknya, pria itu langsung menarik tas Meli. Hal itu membuat semua terkejut." Apa ini?"
Meli yang masih shock, hanya menggeleng kepalanya. Gadis itu tidak mengerti akan apa yang ditanyakan pria dingin itu.
"Katakan siapa kamu sebenarnya?" Leon mengeraskan suaranya.
Meli langsung terlihat begitu ketakutan, melihat itu Maria langsung menatap menantunya itu." Apa yang kamu tanyakan,.Leon?"
Leon menatap mertuanya itu dengan dingin." Apa Mama tahu, ini apa?"
Leon memperlihatkan alat yang sekarang sudah dirusaknya itu. Hingga pelaku tidak bisa mendengar apa yang kini terjadi di ruangan itu.
Maria dan yang lainnya saling pandang." Apa itu, Sayang."
Aura kini mendekat ke arah suaminya.
"Alat penyadap."
"What?" Teriak Aura begitu terkejut.
__ADS_1
"Sayang, " ucap Leon karena telinganya begitu sakit karena teriakan istrinya itu
Aura tersenyum tipis, wanita itu menatap Arnold dan mamanya bergantian.
"Apa ini Mama sengaja atau kakak?" tanya Aura terlihat begitu marah.
"Apa maksudmu?" tanya Maria tidak terima atas tuduhan yang diberikan oleh putrinya itu.
Saat Aura akan berbicara lagi, tiba-tiba pintu terbuka. Muncul Cia yang menatap dingin kepada suaminya.
"Sayang," kata Arnold yang begitu terkejut.
Maria menatap menantunya itu, sedang Meli menatap Cia dan Arnold bergantian.
"Aku yang meletakkan alat itu, apa Mama tidak tanyakan lebih dulu apa yang diinginkan gadis ini. Atau mama akan mengancam untuk memasukkan ibunya lagi ke penjara." Cia kini menatap Maria dengan dalam.
Arnold menghampiri istrinya, tapi saat sudah dekat. Cia mengangkat tangannya supaya suaminya itu berhenti.
"Kenapa harus di luar bertemu, kamu." Cia menatap Arnold dengan senyuman getir.
Ada tatapan kecewa terhadap pria itu." Talak aku sekarang, baru menikahlah dengan wanita lain. Bukan dengan Meli. Meli ayo kita pergi."
"Nyonya lepaskan tangan saya!" pinta Meli.
"Tidak. Kita belum selesai bicara. Apa kamu mau menikah dengan Arnold?" tanya Maria menatap dengan cara mengintimidasi gadis polos itu.
"Cukup Ma, cukup aku ikuti semua apa yang akan Mama dan Papa inginkan!" Suara Arnold terdengar begitu marah menatap Wanita yang sudah melahirkannya itu.
Arnold segera keluar, tangannya menggenggam tangan Cia tanpa melihat ke arah istrinya.
Maria menatap punggung putranya, hingga pintu tertutup. Sedangkan Leon memberikan kode kepada Meli untuk keluar dari ruangan itu. Kini hanya tinggal Aura, Leon dan Maria.
Leon memapah istrinya untuk duduk, makanan yang dipesan baru saja datang. Aura melihat berbagai macam makanan itu langsung mengambilnya.
"Aura, bisa-bisanya kamu makan saat seperti ini." Maria menatap tajam putrinya itu.
"Is, Mama. Ini bukan Aura yang makan, tapi anak dalam kandunganku."
Mendengar ap kata Aura, wajah mafia semakin kesal. Wanita paruh baya itu segera keluar dan menutup pintu dengan cara membantingnya.
Leon yang terkejut, hanya mengelengkan kepalanya. Sedangkan Arnold kini sudah berada di area parkir tepatnya di depan mobilnya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang," ajak Arnold.
Cia menggelengkan kepalanya, wanita itu mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten rumah tangga yang bertugas di vila milik keluarganya Arista.
"Sayang," kata Arnold.
"Aku akan pulang ke villa orang tuaku."
Arnold mengusap wajahnya dengan kasar, bukan ini yang ia mau. Namun, melihat istrinya sudah memutuskan untuk tinggal di villa orang tuanya , pria itu tidak bisa berbuat banyak.
"Aku juga akan pulang kesana." Arnold menatap wanita yang dicintainya itu.
"Tidak, kamu selesaikan urusan keluargamu dulu, setelah selesai. Baru kamu bisa mengambil keputusan aku atau wanita."
"Cia."
"Ini sudah keputusanku, asal kamu tahu, Ar. Wanita yang akan menikah denganmu itu Meli. Saat sudah menjadi istrimu dan dia hamil. Akan kembali lagi fokus kuliah dan anaknya kalian aku yang urus."
Arnold begitu terkejut atas pengakuan istrinya. Pria itu tidak menyangka, akan apa yang dipikirkan oleh Cia.
Di depan mobil Arnold itu keduanya saling diam. Hanya ada keheningan. Tanpa pasangan itu tahu. Tidak jauh darinya ada beberapa orang mendengar apa yang dikatakan oleh Cia.
Aura memeluk suaminya, berapa mulianya hati sang kakak ipar itu. Pasti tidak mudah untuk Cia memutuskan akan hal itu.
"Meli memiliki cita-cita menjadi dokter, tahun depan akan mulai kuliah, tapi kamu menolaknya. Apa kamu pikir setelah gadis itu gagal menikah denganmu tidak akan kuliah, itu salah. Aku bahkan sudah mendaftar di Berlin. Atas rekomendasi dokter Smith." Cia menjelaskan apa yang akan ia rencanakan untuk masa depan Meli nantinya.
Meli yang sedang berdiri di samping Cia menangis, apa mungkin ia tega melakukan hal itu. Wanita itu begitu baik selama ini.
"Kakak, aku tidak usah kuliah, biar kerja saja. Kakak sudah begitu baik denganku dan Ibu." Meli menunduk.
"Apa yang kamu katakan, tahun depan kamu hanya tinggal masuk saja. Namun, kalau kamu mau menikah dan ikut aturan dari Mama silahkan, Meli." Cia berjalan ke arah taksi.
"Sayang, aku akan antar ya," ucap Arnold.
"Tidak perlu aku akan bersama Meli, tapi jika kamu memutuskan untuk menikah. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik."
Mendengar apa kata istrinya, dada Arnold begitu sesak. Pria itu melihat taksi yang dinaiki oleh Cia dan Meli sudah tidak terlihat lagi.
Aura melihat itu menghampiri sang kakak." Kakak."
Arnold menatap Aura dan Leon. Setelah itu menatap wanita yang sudah melahirkan itu dengan menarik napas panjang." Leon kamu pulang naik taksi ya, aku sedang ingin sendiri."
__ADS_1