PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Andreas sadar


__ADS_3

Seorang perawat keluar dengan buru, di ikuti Aura yang terlihat panik begitu terlihat di mimik wajah gadis itu.


"Suster apa yang terjadi?" tanya Leon.


"Anda siapa?" tanya Suster karena baru melihat Leon.


"Saya temannya," kata Leon sambil menatap Aura yang kini sedang mondar-mandir depan ruang rawat Cia.


Perawat itu menatap Aura dan berkata." Pasien tiba-tiba drop dan detak jantungnya melemah."


Leon menatap Aura dengan tatapan yang berbeda. Namun, gadis itu begitu acuh kepadanya. Pria itu menarik napas panjang dan menghampiri gadis yang sekarang terlihat khawatir.


"Nona, sebaiknya Anda kembali ke apartemen. Biar saya yang menjaga Nona Velicia." Leon menatap Aura dingin.


Aura hanya diam, ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Leon kepadanya, Merasa diacuhkan asisten dari keluarga Setyawan itu mengepalkan kedua tangannya.


Leon pergi begitu saja meninggalkan Aura yang begitu keras kepala, Tidak lama dokter keluar dari ruang rawat Cia dan berkata." Pasien kritis." 


Aura meneteskan air matanya, gadis itu mengikuti perawat yang mendorong brankar Cia untuk dipindahkan di ruang ICU.


Apa ini, Kenapa keduanya menjadi kritis


Aura kini duduk di depan ruang ICU, tatapannya terlihat begitu kosong. Tanpa ia sadari jika sedari pria berwajah dingin memperhatikannya dari jauh.


Velicia yang masih dinyatakan kritis. Namun, wanita merasa kalau kini dirinya berada di sebuah taman yang begitu Indah, tidak lama ia mendengar suara yang tidak begitu asing.


Cia menutup mulutnya, ia melihat Mama dan Papanya sedang bermain dengan anak laki-laki sekitar berumur tiga tahun. Anak itu begitu tampan.


"Mama," kata Cia saat sudah mendekati kedua orang tuanya itu.


Ketiga orang itu menatap Cia dan tersenyum, anak lelaki itu menghampiri Cia dan mengusap wajahnya dan berkata."Mama."


Mata Cia melebar saat menyadari wajah anak itu begitu mirip dengan Arnold, air matanya berlinang membasahi kedua pipinya.


Saat Cia akan mencium pipi anak lelaki itu, ia merasakan bahunya di usap dengan lembut. Dilihatnya Arnold berada di sampingnya dengan senyum manisnya.


"Nak, pulanglah. Tempat kalian bukan disini," kata Mama Cia sambil tersenyum.


"Mama, Papa Cia kangen," kata Cia sambil mengulurkan tangannya kepada Mamanya. 

__ADS_1


Arnold memegang erat tangan Cia dan menggelengkan kepalanya. Saat itu juga kedua orang tua dan anak kecil itu berjalan menjauhi Cia.


"Mama!" terika Cia karena mereka semakin menjauhinya.


Aura yang sedang menjenguk Cia di ruang ICU melihat tubuh wanita itu bergetar langsung menekan tombol dan tak lama dokter dan perawat datang dan mempersilahkan Aura untuk keluar.


Leon yang duduk tidak jauh dari tempat itu langsung berjalan mendekati Aura dan bertanya."Ada apa?"


Aura menatap pria yang masih setia dengan wajah datarnya itu dalam diam, tidak lama gadis itu langsung berhambur memeluk Leon karena saat ini ia membutuhkan seseorang untuk menenangkan dirinya.


Leon kali ini membalas pelukan Aura, pria itu baru tahu jika Arnold di singapura sedang kritis juga. Perlahan diusapnya rambut panjang Aura dengan lembut. 


"Kak, aku takut terjadi sesuatu dengan Kakak Cia," kata Aura sambil menangis tersedu di dada kekar Leon.


"Kita berdoa saja yang terbaik untuknya," kata Leon dengan suara beratnya.


Aura yang baru menyadari jika kini Leon memeluknya, tiba-tiba dadanya berdebar. Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran kotornya. 


Leon yang menyadari jika Aura beberapa kali menggelengkan kepalanya yang sedang bersandar di dadanya langsung menyentil dan berkata."Buang jauh-jauh otak mesummu itu!"


Aura langsung melepaskan  pelukannya, saat dokter James datang sambil mengusap keringatnya.


"Nona Velicia sudah melewati masa kritisnya, dan akan segera kami pindahkan ke ruang rawat," ujar Dokter James sambil tersenyum.


Maria kini berjalan menuju ruang rawat Arnold, karena putra keduanya itu sudah dipindahkan ruang rawat. Tuan Besar dan Shinta sedang menjaga Andreas yang kini sedang makan bubur disuap oleh Shinta.


"Shinta siapa yang sudah mendonorkan ginjal untukku?" tanya Andreas di sela-sela makannya.


"Untuk apa Kakak tanyakan itu, toh yang penting sekarang Kakak sudah sehat." Shinta meletakan mangkuk ke atas nakas di samping brankar Andreas.


"Kakak akan mengucapkan terimakasih," kata Andres.


"Nggak perlu karena Shinta sudah mengucapkan terimakasih," ujar Shinta.


Shinta terpaksa mengatakan ini atas permintaan Tuan besar, supaya Andreas tidak merasa bersalah.


Andreas hanya menarik napas panjang, pria itu menatap langit-langit kamarnya. Rasa penasaran siapa yang sudah mendonorkan ginjalnya karena ia merasa semua baik-baik saja. Apa lagi Arnold sekarang sedang menjaga Cia di Berlin.


"Shin, apa kita membayar ginjal orang itu mahal?" tanya Andreas.

__ADS_1


"Tidak Kak, orang itu dengan sukarela mendonorkannya," jawab Shinta sambil tersenyum.


Mendengar pintu terbuka Andreas dan Shinta menatap dan tersenyum saat melihat siapa yang masuk.


"Apa yang terasa sekarang, Nak?" tanya Maria sambil mengusap bahu putra sulungnya itu.


"Sudah lebih baik dari sebelum operasi, Mam." Andreas menatap wajah Mamanya yang terlihat begitu lelah.


Maria mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja, hal itu membuat Andreas menatapnya dengan sendu.


"Mama jangan menangis aku tidak apa-apa," ucap Andreas sambil mengusap air mata wanita yang begitu disayanginya itu.


Maria merasa dadanya sesak, putranya satu selamat. Namun, Arnold sekarang masih koma walaupun sudah melewati masa kritisnya.


Banyak tanya dalam hati wanita paruh baya itu, akankah ia bisa tersenyum. Shinta yang melihat begitu rapuhnya seorang ibu yang harus merasakan apa yang saat ini Maria rasakan.


"Tante, sebaiknya istirahat, biar saya yang menjaga Kak Andreas," ujar Shinta.


Maria hanya mengangguk, wanita itu keluar dari ruang rawat putranya dan kembali lagi masuk kamar rawat Arnold. 


Setyawan melihat mantan istrinya menangis saat masuk langsung beranjak dari duduknya dan menatapnya bingung.


"Ada apa?" tanya Setyawan.


Maria semakin pecah tangisnya, hal itu membuat pria paruh baya itu langsung memeluk ibu dari anak-anaknya itu.


"Jangan bersedih, kita harus kuat demi anak-anak kita," ujar Setyawan sambil mengusap bahu Maria.


"Apa aku Ibu yang kejam, membuat anakku satu sakit demi keselamatan anakku lainnya?" tanya Maria di sela-sela tangisnya.


"Tidak, kamu Mama yang hebat buat mereka," kata Setyawan.


Maria sudah mulai tenang, ditatapnya Arnold yang masih belum sadar juga itu. Ada rasa sedih karena anak keduanya belum sadar pasca operasi dan rasa bahagia karena Andreas selamat.


"Tadi Aura telepon jika Cia sempat Kritis juga," kata Setyawan.


Maria menatap mantan suaminya itu dan bertanya."Kapan?"


"Saat Arnold melewati masa kritisnya, Cia juga sama," kata Tuan Besar merasa kalau ikatan batin Arnold dan Cia begitu dekat.

__ADS_1


Maria tertegun, ditatapnya suaminya dengan intens."Apa Leon jadi melamar Aura?"


Bersambung ya...


__ADS_2