
Jhon mengusap wajahnya kasar karena saat ia ingin merasakan bibir ranum Clara, gadis itu mendorongnya.
"Kenapa?" tanya Jhon.
"Cih, belum menikah saja Anda sudah mencuri start," decih Clara membuat Jhon tersenyum malu.
Jhon menatap Clara yang kini sedang begitu kesal menatapnya.
“Apa kamu tidak ingin menikah denganku, Nona?” tanya Jhon.
Clara menatap kembali mata tajam pria yang kini sedang berjalan menghampirinya, gadis itu memilih duduk di sofa setelah apa yang telah dilakukan oleh John kepadanya tadi.
Ini keduanya duduk berdampingan, Clara merasa cuek kepada pria yang akan mengajaknya untuk menikah itu.
Entah kenapa ada rasa ragu dalam hatinya, apakah ini pernikahan kontrak atau pernikahan umumnya seperti orang lain.
Wanita itu ingin menikah seumur hidup sekali, ada rasa untuk mempermainkan sebuah pernikahan.
“Apa aku harus membawa Papa untuk bertemu keluargamu, Nona?” tanya Jhon.
“Kenapa harus aku, Tuan?” tanya Clara.
“Karena Papa menyukaimu,” jawab Jhon.
“Baiklah biar saya menikah dengan Tuan Jimmy saja , “ ucap Clara Santi
Mendengar apa kata wanita itu membuat Jhon melebarkan matanya, pria itu begitu terkejut akan apa yang didengarnya barusan.
“Kamu itu!” Jhon langsung menyentil kening gadis di sampingnya itu.
Clara langsung mengaduh karena merasakan keningnya sakit.
“Belum menikah saja Anda sudah KDRT,” ucap Clara kesal.
Jhon merasa bersalah, lalu ia menangkup wajah Clara untuk melihat keningnya.
“Hanya merah ucapnya lembut.” Jhon mengecup kening Clara membuat gadis itu kembali membeku sedang Alek yang sudah berada di depan pintu yang terbuka langsung membalikkan badan.
Pria itu tersenyum saat bisa melihat Jhon kembali lagi tertarik kepada wanita.
__ADS_1
Alek berjanji setelah pria yang bagai malaikat itu sudah bahagia ia akan memikirkan masa depannya sendiri lagi.
***
Sementara di Vila tempat Cia dan Arnold mereka masih berada di sana, Pria itu yang melihat istrinya berbaring di kamar merasa khawatir akan Clara yang sampai sekarang belum ada kembali.
"Ar, apa Clara sudah bisa dihubungi?" tanya Cia.
"Belum sayang, kamu percaya padaku jika Clara akan baik-baik saja," ujar Arnold mencoba menenangkan istrinya.
Cia menatap suaminya itu, ia tahu Arnold benar -benar berubah saat ini, tidak lama ada pesan dari Clara jika Leon dan Aura bisa pulang ke tanah air.
Hal itu membuat wanita itu menatap Arnold dan memberikan pesan chat dari orang kepercayaannya itu
Arnold langsung menghubungi Clara, tapi sayangnya ponsel gadis itu sudah tidak aktif.
Setelah itu menghubungi Alek, tapi pria itu tidak menjawab dan tidak lama pesan masuk dari Alek.
Pria itu menuliskan pesan jika Clara masih bersamanya dan akan baik-baik saja. Hal itu membuat Arnold lega.
Dilihatnya sang istri masih sibuk menghubungi Leon dan setelah selesai wanita itu menghampiri suaminya.
“Sayang semua baik-baik saja, Alek bilang kalau Clara masih bersama dengan Jhon dan asistennya itu,” ucap Arnold.
“Maaf aku begitu mengkhawatirkan keadaan Clara saat ini, "kata Cia lirih.
Mendengar itu Arnold memeluk pinggang sang istri dan entah kenapa ia semakin mencintai wanita yang dulu dengan bodohnya ia tinggalkan begitu saja.
“Sayang, terimakasih sudah memberikan kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya,” ucap Arnold.
Cia tersenyum, walau awalnya begitu sulit dan merasakan cinta yang salah karena orang yang dulu dicintai adalah Andreas. Namun, seiring berjalannya waktu kini Cia bisa merasakan cinta yang sesungguhnya.
Jack yang baru keluar dari kamar menatap jengah pasangan yang kini sedang dimabuk cinta itu.
“Mau kemana?” tanya Jack.
“Cek up,” jawab Arnold datar.
Cia tersenyum melihat kedua pria itu bak beruang kutub semua. Sedangkan Serly menatap wajah suaminya dan Arnold yang masih diam berdiri seakan ada yang mereka sedang pikirkan.
__ADS_1
Jack menatap Adiknya itu, kini pria itu menggelengkan.” Apa sudah ada kabar dari Clara?”
Arnold menghentikan langkahnya, pria itu menatap Jack dan kini beralih ke Serly yang hanya acuh.
"Clara baik-baik saja," jawab Arnold membuat Jack mengangguk.
Cia dan Suaminya langsung pamit begitu saja karena ia merasa sudah tidak ada lagi yang ditanyakan oleh kakak angkatnya itu.
Kini pasangan itu sudah berada di dalam mobil, Arnold menatap istrinya yang sampai sekarang masih begitu cantik. Apa lagi sang istri sekarang lebih suka memakai make up natural.
"Sayang, kalau keluar jangan pakai bedak dan lipstik," ucap Arnold.
Cia langsung menoleh ke arah suaminya yang kini sudah mulai posesif kepadanya. Wanita itu menarik napas dalam. Andai dulu seperti ini sikapnya kepadanya pasti pernikahannya akan baik-baik saja
"Sayang apa yang kamu pikirkan?" tanya Arnold karena melihat sang istri hanya diam-diam saja.
Cia tidak menjawab, apa ini semua atas doa-doanya selama ini."Aku tidak apa-apa."
Setelah mobil memasuki area parkir, Arnold turun dan diikuti oleh sang istri tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobil untuk dirinya sendiri.
Keduanya berjalan beriringan melewati lorong karena Arnold sudah membuat janji dengan dokter.
Setelah banyak yang diceritakan,. Dokter itu mengusap bahu Cia karena merasa kagum tidak semua wanita akan kuat setelah mendapatkan hasil pemeriksaannya dulu.
“Dokter apa saya sudah boleh melakukan hubungan suami istri?” tanya Arnold membuat Cia begitu malu. Sedangkan Dokter itu tersenyum dan pertanyaan yang dilontarkan itu sudah sering diarahkan begitu saja.
“Sudah pak,” jawab Dokter itu tersenyum menatap Cia dan suaminya yang terlihat begitu semangat saat mendengar mereka bisa melakukan hal yang sudah lama tidak keduanya karena Cia sakit.
Cia menatap Arnold, andai boleh memilih ia ingin bersama suaminya ini dan membina rumah tangga yang normal. Namun, ia sadar tidak akan bisa memberikan keturunan kepada suaminya kelak.
Setelah selesai keduanya langsung keluar, Arnold terlihat begitu bahagia, karena ia berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak akan disukai istrinya.
Pria itu akan melakukannya dengan lembut, tapi sejujurnya ia lebih suka permainan kasar karena saat melihat kamar yang akan hanya terdengar erangan dari istrinya.
Arnold berjalan menuju ke mobilnya, sebelum masuk mobil pria itu menatap Velicia dan tersenyum tipis, karena kedua matanya beradu. Ia masuk mobil, begitu juga dengan istrinya.
Kesalahannya di masa lalu, membuat istrinya akan menjauh. Mereka semua menghukum dirinya. Arnold ingat akan Papanya, pria itu mengusap air matanya yang kian deras. Ia tidak peduli kalau istrinya itu akan mengatakan kalau dirinya cengeng.
Selama diperjalanan keduanya hanya diam, rencana untuk mengenang apa yang selama ini ia ingat saat awal berjumpa kini sirnah. Arnold mengemudikan mobilnya menuju salah satu rumah yang ditempati oleh sahabat istrinya itu. Saat mobil sampai, seorang wanita paruh baya keluar sambil tersenyum melihat siapa yang datang.
__ADS_1