
Beberapa kali Leon menepis kalau ia menyukai anak dari Tuannya itu. Namun, saat Aura meninggalkannya saat sedang melamarnya tadi hatinya sakit bak ditusuk sembilu.
"Saya tidak tahu Nona, tapi saat Nona Aura mengabaikan lamaran saya dada saya sesak," jawab Leon dengan wajah polosnya.
Cia rasanya ingin menenggelamkan pria di depannya kini, wanita itu hanya mengepalkan kedua tangannya karena begitu geram.
"Kenapa Nona Cia terlihat marah, apa saya salah jawab?" tanya Leon.
"Tuan Leon sepertinya Anda harus berjuang lagi jika benar-benar mencintai Aura," ujar Cia.
Leon hanya mengangguk, ia saja tidak tahu apa benar-benar mencintai Nona muda bosnya itu.
Leon menarik napas panjang, andai ia bisa mencintai Aura pasti begitu senang jika dijodohkan dengan gadis itu.
"Kenapa diam?" tanya Cia.
"Saya takut akan mengecewakan Nona Aura, bukankah menikah harus saling mencintai, Nona." Leon tersenyum tipis.
"Hanya aku yang mencintainya," jawab Cia sambil menatap Leon kesal.
"Nona kalau masih mencintai Tuan Arnol sebaiknya sembuh dulu," kata Leon.
Cia hanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kasar. Wanita itu menatap Leon dengan tatapan sendunya." Kami sudah cerai."
"Bisa rujuk," ujar Leon.
Cia hanya mencibir Leon, pria kaku itu akhirnya banyak bicara setelah mengungkapkan isi hatinya.
"Aura menatap?" tanya Cia karena sudah hampir satu jam adik Arnold itu belum kembali.
Tiba-tiba pintu terbuka, dengan suara Aura yang mengumpat tidak jelas.
"Dasar pria brengsek, dikira aku wanita murahan!"umpat Aura langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Siapa pria itu?" tanya Cia.
"Kakak sudah bangun, itu pria di kantin tadi," ujar Aura tanpa melihat Cia.
Leon yang mendengar itu langsung berdiri dan menghampiri Aura.
"Siapa pria itu?" tanya Leon dengan mengepalkan kedua tangannya.
Aura tertegun, ia begitu terkejut karena ada pria kaku di ruangan Cia.
"Tidak ada lupakan," jawab Aura dan kembali membaringkan tubuhnya.
"Katakan atau saya akan mencari sendiri, Nona!" seru Leon membuat Kedua wanita merinding karena asli singa sudah bangun.
Aura salah tingkah ia berdiri dan mengajak Leon keluar ruangan. Sampai di luar ia menarik orang kepercayaan Papanya itu.
"Jangan buat ribut ya," kata Aura lembut.
Leon tidak perduli, pria hendak berbalik. Namun, Aura dengan cepat langsung menghadangnya.
__ADS_1
Aura yang ditatap tajam langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Leon walau harus berjinjit.
"Lepas Nona!"seru Leon.
Melihat emosi si kaku yang begitu mengerikan, tanpa ragu Aura mengecup bibir tebal Leon.
Mata Leon melebar karena terkejut, sedangkan Aura memejamkan matanya walau bibirnya hanya menempel, saat gadis itu akan menarik kepalanya dengan cepat Leon menahan tengkuknya.
Leon mulai memberikan sentuhan lembut di bibir tipis Nonanya itu. Merasa Aura sudah kehabisan oksigen pria itu melepaskan pagutan bibirnya.
Aura membuka matanya, ia begitu malu. Perlahan dilepasnya tangannya yang berada di leher Leon.
Leon tersenyum, membuat gadis tertegun karena baru kali ini melihat pria di depannya itu tersenyum begitu manis.
"Katakan siapa pria tadi," kata Leon lembut sambil membetulkan rambut Aura ke belakang telinganya.
"Aku tidak kenal, Kak." Aura merasa gugup.
"Apa kamu yakin, hem. Tidak mengenalnya?" tanya Leon sekali lagi.
Aura hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak ingin ada keributan karena tadi ia sudah menampar pria yang menggunakan.
Leon menyentuh bibir tipis Aura dan berkata."Rasanya manis."
Wajah Aura langsung merona dan langsung lari karena malu jika mengingat sikapnya tadi.
Leon hanya tersenyum menatap punggung Aura yang kian menjauh.
"Itu karena Anda sedang jatuh cinta, Tuan," sahut Samuel yang sedari 5adi berdiri di belakang bosnya itu.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Leon.
"Sejak seorang gadis melingkarkan tanganya ke leher si kaku." Samula langsung tergelak karena wajah Leon tersipu.
"Anda imut sekali, Tuan," goda Samuel.
Mata Leon langsung melotot, ia begitu kalah telak oleh asistennya itu.
"Masih butuh ini, Tuan?" tanya Samuel sambil memperlihatkan cincin membuat mata Leon membulat.
"Cih, jauh-jauh kamu ke Jerman hanya mulung," ejek Leon.
Kini giliran Samuel yang mati kutu di buat oleh bosnya.
****
Di salah satu rumah sakit di Singapura, Andreas terlibat sudah semakin sehat. Ia berencana ingin cepat pulang ke Jerman.
Shinta yang melihat itu hanya bisa menarik napas panjang, dadanya begitu sesak karena sampai sekarang begitu susah untuk melupakan pria yang hari-hari bersamanya itu.
"Apa Kakak yakin akan pulang hari ini, nanti pasti ya di sana cek up," kata Shinta.
Andreas hanya tersenyum, ia sudah rapi. Namun, yang membuatnya heran kenapa Mamanya masih mau tinggal di Singapura.
__ADS_1
"Shinta, apa ada yang disembunyikan Mama selama aku tidak sadar?" tanya Andreas.
"Ti-tidak ada, Kak." Shinta terlihat gugup membuat Pria di depannya curiga.
"Benarkah!" Andreas semakin menatap lekat Shinta karena ia tahu jika gadis itu tidak bisa membohonginya.
"Yakin, Kak." Shinta langsung menatap ke arah lain.
Andreas menarik tangan Asistennya itu, kini keduanya saling berhadapan.
"Katakan apa yang Mama lakukan disini?" tanya Andreas dingin membuat shinta bergidik ngeri.
"A-aku …." Shinta menghentikan ucapannya karena Maria sudah ada di belakang Andreas.
"Kenapa tidak kamu tanyakan langsung ke Mama?" tanya Maria.
"Mama!" Andreas terkejut dan langsung membalikan badannya menghadap wanita yang begitu disayanginya itu.
"Apa yang mau kamu tanyakan, apa dengan jawaban Mama kamu bisa membatalkan kepergianmu ke Jerman, hem?" tanya Maria.
"Mam, aku begitu merindukan gadis kecilku," ujar Andreas.
"Pergilah Nak!" Maria langsung berbalik meninggalkan putranya. Maria mengusap air matanya.
Ia tahu jika Arnold begitu mencintai Cia berharap akan rujuk, tetapi ada putra sulungnya yang kini begitu mencintai Mantan menantunya itu.
Maria begitu dilema, kedua putranya kini mencintai wanita yang sama. Pengorbanan Armod begitu besar ia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Kakaknya.
Ditatapnya tubuh putranya yang masih setia dnegan tidur panjangnya.
"Ar, sadarlah. Kakakmu sudah sembuh. Sekarang ia akan ke Jerman untuk menemui mantan istrimu. Bangun Nak, jika kamu mencintai Cia perjuangan," kata Maria.
Maria duduk sambil menunduk, wanita itu tidak menyadari jika Arnold sudah membuka matanya di saat ia masuk tadi.
Arnold saat mendengar pintu terbuka kembali memejamkan matanya, hatinya begitu hancur saat mendengar ucapan Mamanya tadi.
"Mam, " kata Arnold lirih.
Maria mengangkat kepalanya air matanya langsing mengalir begitu deras saat melihat putra sudah sadar.
"Kamu sadar, Nak. Terimakasih Tuhan," kata Maria begitu bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk melihat putranya berbicara.
"Mam, aku haus," ucap Arnold pelan.
Maria dengan cepat mengambil air mineral dan membantu putranya untuk minum.
Setelah minum Arnold kembali memejamkan matanya, Maria langsung memanggil Perawat lewat tombol di sampingnya.
Perawat dan dokter datang, langsung mengecek Arnold. Dokter Marcel tersenyum menatap Maria.
"Bagaimana putra saya, Dok?"
Bersambung ya...
__ADS_1