PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Maria Dilema


__ADS_3

Beberapa kali Leon menepis kalau ia menyukai anak dari Tuannya itu. Namun, saat Aura meninggalkannya saat sedang melamarnya tadi hatinya sakit bak ditusuk sembilu.


"Saya tidak tahu Nona, tapi saat Nona Aura mengabaikan lamaran saya dada saya sesak," jawab Leon dengan wajah polosnya.


Cia rasanya ingin menenggelamkan pria di depannya kini, wanita itu hanya mengepalkan kedua tangannya karena begitu geram.


"Kenapa Nona Cia terlihat marah, apa saya salah jawab?" tanya Leon.


"Tuan Leon sepertinya Anda harus berjuang lagi jika benar-benar  mencintai Aura," ujar Cia.


Leon hanya mengangguk, ia saja tidak tahu apa benar-benar  mencintai  Nona muda bosnya itu.


Leon menarik napas  panjang, andai ia bisa mencintai Aura pasti begitu senang jika dijodohkan  dengan gadis itu.


"Kenapa diam?" tanya Cia.


"Saya takut akan mengecewakan  Nona Aura, bukankah menikah harus saling mencintai, Nona." Leon tersenyum  tipis.


"Hanya aku yang mencintainya," jawab Cia sambil menatap Leon  kesal.


"Nona kalau masih mencintai Tuan Arnol sebaiknya sembuh dulu," kata Leon.


Cia hanya menarik napas dalam-dalam  dan menghembuskan dengan kasar.  Wanita itu menatap Leon dengan tatapan sendunya." Kami sudah cerai."


"Bisa rujuk," ujar Leon.


Cia hanya mencibir Leon, pria kaku itu akhirnya  banyak bicara setelah mengungkapkan  isi hatinya. 


"Aura menatap?" tanya Cia karena sudah hampir satu jam adik Arnold itu belum kembali.


Tiba-tiba  pintu terbuka, dengan suara Aura yang mengumpat tidak jelas.


"Dasar pria brengsek, dikira aku wanita  murahan!"umpat Aura langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Siapa pria itu?" tanya Cia.


"Kakak sudah bangun, itu pria di kantin tadi," ujar Aura tanpa melihat Cia.


Leon yang mendengar  itu langsung berdiri dan menghampiri  Aura.


"Siapa pria itu?" tanya Leon dengan mengepalkan  kedua tangannya.


Aura tertegun, ia begitu terkejut  karena ada pria kaku di ruangan Cia. 


"Tidak ada lupakan," jawab Aura dan kembali membaringkan tubuhnya.


"Katakan atau saya akan mencari sendiri, Nona!" seru Leon membuat Kedua wanita merinding  karena asli singa sudah bangun.


Aura salah tingkah ia berdiri dan mengajak Leon keluar ruangan. Sampai di luar ia menarik  orang kepercayaan  Papanya itu.


"Jangan buat ribut ya," kata Aura lembut.


Leon tidak perduli, pria hendak berbalik. Namun, Aura dengan cepat langsung menghadangnya.

__ADS_1


Aura yang ditatap tajam langsung melingkarkan  kedua tangannya ke leher  Leon walau harus berjinjit.


"Lepas Nona!"seru Leon.


Melihat emosi si kaku yang begitu mengerikan, tanpa ragu Aura mengecup bibir tebal Leon. 


Mata Leon melebar  karena terkejut, sedangkan Aura memejamkan matanya walau bibirnya hanya menempel, saat gadis itu akan menarik kepalanya dengan cepat Leon menahan  tengkuknya.


Leon mulai memberikan  sentuhan  lembut di bibir tipis Nonanya itu. Merasa Aura sudah kehabisan  oksigen  pria itu melepaskan pagutan bibirnya.


Aura membuka matanya, ia begitu malu. Perlahan  dilepasnya  tangannya  yang berada di leher  Leon.


Leon tersenyum, membuat gadis tertegun karena baru kali ini melihat pria di depannya itu tersenyum begitu manis.


"Katakan siapa pria tadi," kata Leon lembut sambil membetulkan  rambut Aura ke belakang telinganya.


"Aku tidak kenal, Kak." Aura merasa gugup.


"Apa kamu yakin, hem. Tidak mengenalnya?" tanya Leon sekali lagi.


Aura hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak ingin ada keributan karena tadi ia sudah menampar pria yang  menggunakan.


Leon menyentuh bibir tipis Aura dan berkata."Rasanya manis." 


Wajah Aura langsung  merona  dan langsung lari karena malu jika mengingat sikapnya tadi.


Leon hanya tersenyum  menatap punggung Aura yang  kian menjauh.


"Itu karena Anda sedang jatuh cinta, Tuan," sahut Samuel  yang sedari 5adi berdiri  di belakang bosnya itu.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Leon.


"Sejak seorang gadis melingkarkan  tanganya ke leher si kaku." Samula langsung tergelak  karena wajah  Leon tersipu.


"Anda imut sekali, Tuan," goda Samuel.


Mata Leon langsung melotot, ia begitu kalah telak oleh asistennya itu.


"Masih butuh ini, Tuan?" tanya Samuel  sambil memperlihatkan  cincin membuat mata Leon membulat.


"Cih, jauh-jauh kamu ke Jerman  hanya mulung," ejek Leon.


Kini giliran Samuel yang mati kutu di buat oleh bosnya.


****


Di salah satu rumah sakit di Singapura, Andreas  terlibat sudah semakin sehat. Ia berencana  ingin cepat  pulang  ke Jerman. 


Shinta yang melihat itu hanya bisa menarik napas panjang, dadanya begitu sesak karena sampai sekarang  begitu susah untuk melupakan  pria yang hari-hari bersamanya itu.


"Apa Kakak yakin akan pulang hari ini, nanti pasti ya di sana cek up," kata Shinta.


Andreas  hanya tersenyum, ia sudah rapi. Namun, yang membuatnya  heran kenapa Mamanya masih mau tinggal di Singapura.

__ADS_1


"Shinta, apa ada yang disembunyikan  Mama selama aku tidak sadar?" tanya Andreas.


"Ti-tidak ada, Kak." Shinta terlihat gugup membuat Pria di depannya  curiga.


"Benarkah!" Andreas semakin menatap lekat Shinta  karena ia tahu jika gadis itu tidak bisa membohonginya.


"Yakin, Kak." Shinta langsung menatap ke arah lain.


Andreas menarik tangan  Asistennya itu, kini keduanya saling berhadapan.


"Katakan apa yang Mama lakukan disini?" tanya Andreas dingin membuat shinta bergidik ngeri.


"A-aku …." Shinta menghentikan ucapannya  karena Maria sudah ada di belakang Andreas.


"Kenapa tidak kamu tanyakan langsung ke Mama?" tanya Maria.


"Mama!" Andreas terkejut dan langsung membalikan badannya menghadap wanita yang begitu disayanginya itu.


"Apa yang mau kamu tanyakan, apa dengan jawaban  Mama kamu bisa membatalkan  kepergianmu ke Jerman, hem?" tanya Maria.


"Mam, aku begitu merindukan gadis kecilku," ujar Andreas.


"Pergilah Nak!" Maria langsung berbalik meninggalkan putranya. Maria mengusap air matanya. 


Ia tahu jika Arnold  begitu mencintai Cia berharap akan rujuk, tetapi ada putra sulungnya yang kini begitu mencintai  Mantan menantunya itu.


Maria begitu dilema, kedua putranya kini mencintai wanita yang sama. Pengorbanan  Armod begitu besar ia mempertaruhkan nyawanya  untuk menyelamatkan  Kakaknya.


Ditatapnya tubuh putranya yang masih setia dnegan tidur panjangnya.


"Ar, sadarlah. Kakakmu sudah sembuh. Sekarang ia akan ke Jerman  untuk menemui  mantan istrimu. Bangun Nak, jika kamu mencintai Cia perjuangan," kata Maria.


Maria duduk sambil menunduk, wanita itu tidak menyadari jika Arnold sudah membuka matanya di saat ia masuk tadi. 


Arnold saat mendengar pintu terbuka kembali memejamkan matanya, hatinya begitu hancur  saat mendengar ucapan Mamanya tadi.


"Mam, " kata Arnold lirih.


Maria mengangkat kepalanya air matanya langsing mengalir begitu deras saat melihat putra sudah sadar.


"Kamu sadar, Nak. Terimakasih  Tuhan," kata Maria begitu bersyukur karena masih diberikan kesempatan  untuk melihat putranya berbicara.


"Mam, aku haus," ucap Arnold pelan.


Maria dengan cepat mengambil air mineral dan membantu putranya untuk minum.


Setelah minum Arnold kembali memejamkan matanya, Maria langsung memanggil Perawat lewat tombol di sampingnya.


Perawat  dan dokter datang, langsung mengecek Arnold. Dokter Marcel  tersenyum menatap Maria.


"Bagaimana putra  saya, Dok?" 


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2