
Jack mantap sendu adiknya itu, di saat umurnya yang tidak lagi panjang Velicia masih mengingat bahkan membantu sahabatnya, Pria itu begitu kagum dengan wanita yang kuat menghadapi kenyataan.
"Baiklah aku akan mengurusnya," jawab Jack membuat senyum Velicia mengembang di bibirnya.
Kini keduanya pulang dari pesta itu, Velicia berjalan beriringan dengan Jack. Pria itu heran kenapa perceraian keduanya tidak dipublikasikan di media. Namun, ia tidak ingin terlalu ikut campur sebelum adiknya yang memintanya.
Esok harinya Jack menepati apa yang dijanjikan kepada adik angkatnya, dia bersama asisten pribadinya langsung menuju kantor polisi untuk mengurus Merry.
Setelah urusan Merry selesai Jack menuju ke Villa keluarga Arista, pria itu harus segera pulang ke kotanya dan meninggalkan kota yang indah akan panorama yang susah untuk dilupakan.
"Cia, saat aku sudah pergi, jangan pernah merendahkanmu di depan pria itu dan jalangnya!" pesan Jack.
Velicia hanya tersenyum, baginya sekarang itu tidak penting lagi dari apapun kedua orang itu. Jack memeluk adiknya itu dengan erat membuat hati Velicia merasa ada pelindung untuknya.
"Cia, kamu itu wanita terhormat di kota ini, aku akan melindungimu selamanya!" janji Jack
Mendengar apa yang dikatakan Jack membuat Velicia sangat bersyukur pada ibunya sudah memberikan seorang kakak sebaik ini padanya.
Jack pamit, tapi Velicia si kekeh ingin mengantarkan kakaknya itu, selama di perjalanan keduanya tertawa dan banyak bercerita.
"Cia, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memberitahuku," kata Jack.
"Jangan terlalu berlebihan, itu prediksi dokter saja! karena hidup dan mati sudah ada yang menentukan, Jack!" kata Velicia sambil tersenyum.
Jack ikut tersenyum, dia begitu kagum dengan adiknya itu, di usia yang masih muda harus operasi pengangkatan rahim gara-gara saat keguguran dua tahun yang lalu tidak semua dibersihkan. Hingga menimbulkan infeksi dan beberapa bulan yang lalu dia harus divonis kanker serviks stadium tiga.
Tidak lama mereka sampai di bandara, setelah Jack masuk barulah Velicia meninggalkan bandara, saat dia sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang ponselnya berdering senyumnya melebar saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Halo," kata Velicia.
__ADS_1
"Hai Cia, boleh saya minta tolong, Cia?" tanya Dosen itu.
Velicia terkekeh, dia begitu geli dengan gaya dosennya itu meminta tolong dan sambil berkata," Apa Anda tidak salah minta tolong kepada saya!"
Keduanya tertawa, dan dosen itu mengatakan kalau butuh bantuan Velicia untuk mengajar kelas sore, dengan senang hati ia menyanggupinya. Dulu dia juga sering membantu mengajar.
Velicia langsung menuju ke kampus, saat dia sedang berada di depan kelas ponselnya berdering, matanya melebar karena mendapat telepon dari komisaris Setyawan.
"Halo," sapa Velicia.
"Halo Nak," jawab suara yang tidak asing untuknya itu.
"Papa apa kabar?" tanya Velicia.
"Baik, tapi perusahan Papa sedang ada masalah," jawabnya.
Tuan Besar Setyawan membahas masalah kontrak dengan keluarga Jack dan ingin meminta bantuan pada Velicia untuk membujuk keluarga Jack untuk tidak membatalkan kontrak.
Valicia hanya diam, dia ingat pesan jack 'jangan pernah kamu berurusan dengan mantan suamimu dan ****** itu'.
"Kalau kamu bisa membantunya, Papa pastikan kamu akan menikah lagi dengan Arnold," katanya penuh keyakinan.
"Maaf, Pa. Aku tidak bisa!" tolak Velicia
Hanya terdengar helaan napas panjang dari seberang sana, setelah itu hubungan telepon terputus. Velicia sebenarnya tidak tega, tapi dia lelah selama ini seperti diperalat oleh keluarga mantan mertuanya itu hanya karena uang dan bisnis.
Velicia masuk ke kelas dan mulai menjelaskan secara detail, hal itu disambut antusias dari para murid-muridnya. Dan bertanya," Hari ini mau belajar lagu apa?"
" Sleep in the Deep Sea," jawab Velicia.
__ADS_1
Dalam alunan piano, semua perasaannya dulu seperti lenyap perlahan-lahan, rasa suka, rahasia, pernikahan, kebencian, kebahagiaan, cinta, semuanya dimulai seperti alunan piano ini, lalu berakhir saat alunan ini selesai.
Velicia mengingat saat ia akan menikah dengan Arnold, rasa bahagia karena pria di masa kecilnya mengajaknya menikah, gadis itu tidak perduli walau umurnya terpaut delapan tahun dari suaminya.
Dia begitu merindukan suara lembut itu, saat dia masih kecil, tapi harapannya pupus saat pria itu berubah dingin dan tidak berperasaan kepadanya.
Ingin dimanja, dicintai oleh pria yang diharapkannya bisa membimbing dan melindungi suatu saat nanti hanya kebohongan semata.
Sebesar apapun dia mencintai suaminya dulu, tidak sedikit pun Arnold ada rasa simpati kepadanya. Yang ada hanya kekecewaan yang diberikan pria itu.
Velicia tahu kalau bukan dia yang dicintai suaminya, tapi wanita lain saat ingat itu tiba-tiba dadanya kembali sesak, seakan luka itu kembali basah dan tidak akan pernah untuk mengering.
Jika diberi kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, tak akan berarti apapun, karena tidak sepenuhnya memperbaiki sekali dua kali terluka dan selebihnya tidak akan lagi percaya.
Velicia mengusap air matanya, ia bersyukur menghadap ke dinding hingga para muridnya tidak tahu kalau dirinya sedang menangis.
Jika menangis akan menjadi teman baiknya selama tiga tahun dia berumah tangga, tapi sekarang tangisan itu akan diganti menjadi teman bahagia. Bahagia saat menjalani hidup dan mampu berbagi dengan sesama itu yang kini Velicia pikirkan.
Velicia yakin, kalau mantan mertuanya itu tidak akan diam saja, pastinya akan menghubunginya lagi untuk membujuk Kakaknya Jack supaya tidak membatalkan kerjasamanya, tapi sampai sekarang baik dari Jack dan Arnold tidak ada yang menghubunginya.
Setelah selesai, Velicia tidak langsung keluar ruangan, wanita itu masih duduk dengan tenang sambil memejamkan matanya. Banyak yang hadir dalam pikirannya. Namun, lagi-lagi dia harus optimis untuk menjalani hidup yang tidak lama lagi ini.
Velicia tidak tahu kapan hari itu akan tiba, tapi dia berharap tidak akan ada air mata yang mengiringi kepergiannya. Wanita itu masih asyik dengan pikirannya sendiri. Hingga dia tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan sedari tadi.
Dia pria yang begitu dibencinya, matanya masih setia terpejam. Kini dia menyandarkan kepalanya di dinding, rasa nyaman saat seperti ini membuat kepalanya terasa dingin. Terkadang ia bertanya kepada dirinya sendiri, ada takut saat divonis umurnya kurang tiga bulan lagi.
Jika dia memikirkan kematian, itu karena dia tidak ingin memikirkan sedikitpun. Dia sehat, ada rasa sakit ia meminum obat dari dokter. Bawa istirahat setelah itu segar kembali, sakit lagi ulangi lagi.
Velicia yang merasa lelah perlahan membuka matanya, seketika melotot melihat siapa yang sedang duduk di depannya.
__ADS_1
"Arnold!" katanya lirih.
Arnold tersenyum pria itu menggenggam, tangannya dan berkata, "Velicia Arista, aku menyesal sudah bercerai denganmu.”