
Arnold akhirnya menyerah untuk menghubungi pria kaku itu, Tak lama nomor tersambung dan diangkat oleh Leon.
"Leon, Apa semua baik-baik saja," kata Arnold tanpa basa-basi.
Arnold terdiam, ia langsung menatap istrinya. Cia merasa ada sesuatu yang terjadi dan bertanya." Ar, ada apa?"
Arnold hanya diam, pria itu masih terlihat shock mendengar jika Kakaknya kini dirawat di Singapura.
Ditatapnya Cia yang sedang menunggu jawaban darinya. Arnold berjalan menghampiri Velicia.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya tanya kepada Leon keadaan Papa." Arnold mencoba setenang mungkin saat ini.
Jika kedua orang tuanya dan Aura ikut tes ginjal itu artinya ia juga harus cek di sini. Namun, jika ia pergi siapa yang akan menemani istrinya.
"Ar, apa Papa baik-baik saja?"tanya Cia.
"Baik, beliau sedang liburan ke Singapura," jawab Arnold.
Ada rasa bersalah dalam hatinya, karena sudah berbohong. Andai Cia tahu apa ia akan begitu khawatir dengan kakaknya dan sekaligus cinta pertamanya itu.
"Cia, apa kamu ingin menghubungi Andreas?" tanya Arnold.
"Apa boleh, Ar?" tanya Cia terlihat dengan menunjukkan raut wajah bahagia saat mendengar itu.
"Tentu," jawab Arnold walau hatinya begitu sakit saat melihat mata istrinya begitu berbinar menatapnya.
"Apa begitu merindukannya?"tanya Arnold lagi.
Cia terdiam, ditatapnya wajah tampan yang selama beberapa hari ini bersikap hangat kepadanya.
"Aku merindukannya, padahal baru juga ia pergi," ujar Cia tanpa menyadari perubahan di wajah Arnold.
"Baiklah, kamu telepon dulu, aku mau keluar sebentar ya," pamit Arnold yang langsung menuju ke tempat perawat untuk bertanya tentang prosedur mengecek ginjal untuk didonorkan.
Setelah satu jam, Arnold kini duduk di dekat ruang tunggu setelah selesai pengambilan darah.
Ia tidak ingin mendengar Cia dan Kakaknya saling bercanda itu. Dadanya terasa begitu sesak karena namanya sudah tidak ada lagi di hati istrinya.
Jika ginjalnya cocok dengan Andreas ia berjanji akan memberikannya kepada kakaknya demi kebahagiaan istrinya itu untuk bersatu dengan cinta pertamanya.
Seorang perawat keluar dari ruangan Cia membuat Arnold khawatir, pria itu langsung membuka pintu dengan keras membuat Cia yang sedang makan buah terperanjat.
"Kamu kenapa?" tanya Cia yang melihat wajah pias mantan suaminya itu.
"Kamu enggak apa-apakan, Cia?" tanya Arnold.
"Aku baik-baik saja, Ar." Cia meletakan piring buahnya.
"Katakan kenapa kamu begitu khawatir?" tanya Cia lembut.
Arnold menarik napas dalam, kemudian ia duduk di tepi ranjang Cia," Tadi aku melihat Suster terkeluar dari sini."
Cia terkekeh, diusapnya tangan Arnold dengan lembut dan berkata."Kamu berlebihan."
__ADS_1
Arnold hanya mendengus menatap istrinya itu, wanita itu tidak tahu kalau jantungnya rasanya mau berhenti berdetak saat melihat suster keluar tadi.
"Ini ponselmu," Cia memberikan ponsel kepada Arnold.
"Apa sudah selesai?" Arnold bertanya sambil menyambut ponselnya.
"Sudah, Andreas sedang istirahat tadi. Ia juga titip salam kepadamu," ujar Velicia.
Arnold hanya tersenyum tipis menanggapi cerita Cia yang terlihat ada cinta untuk kakaknya itu. Sebisa mungkin ia tidak memperlihatkan kesedihannya pada istrinya.
"Cia kamu nanti pukul dua akan kemoterapi lagi." Arnold mengingatkan.
Cia menatap Arnold yang kini sedang menatap dirinya. Wanita itu tersipu malu karena pria di depannya itu menatapnya intens.
"Aku nanti akan menemanimu untuk kemoterapi," ujar Arnold.
"Terimakasih. Ar, kenapa semua ada di Singapura. Ada Mama dan Aura juga?"tanya Cia.
"Hanya liburan untuk menyenangkan Aura yang sudah bekerja keras mengurus kantor Papanya," jelas Arnold.
"Apa kamu yakin, aku merasa ada yang disembunyikan oleh Mama. Tadi saat bicara beliau menangis," ujar Cia.
"Karen kangen padamu," kata Arnold sesantai mungkin.
Cia hanya mencibir mantan suaminya itu, wanita itu terkejut karena Arnold tiba-tiba berbaring di sampingnya sambil memeluk pinggang istrinya membuat Cia terkejut dan bertanya."Ada apa?"
"Hanya ingin seperti ini sayang," kata Arnold lembut sambil memejamkan matanya.
"Cia, apa kata dokter waktu itu?"tanya Arnold membantu wanita yang dipelukan membalikan badan.
"Saat dokter mengatakan kalau kamu terkena kanker," kata Arnold.
Cia hanya menarik napas dalam., haruskah ia menceritakan kepada pria yang bukan siapa-siapa lagi dalam hidupnya.
"Apa kamu sangat ingin tahu?"tanya Cia.
"Iya sayang, karena setelah Andreas datang aku akan pergi," kata Arnold tanpa merubah posisinya.
Cia menarik napas dalam dan menceritakan kepada mantan suaminya itu. Arnold mendengar tanpa ada melewatkan satu pun. Dadanya rasanya sesak karena ini Cia menceraikannya.
"Kenapa kamu berpikir kita harus bercerai?" tanya Arnold.
Velicia tersenyum, wanita membetulkan tangan Arnold yang mulai mengusap perut ratanya.
"Aku kamu bahagia bersama wanita yang kamu cintai, Ar," kata Cia tulus.
"Dari mana kamu yakin, jika Viona dan aku akan bahagia," kata Arnold.
Cia hanya tersenyum, dan menjawab." Bukannya dulu kamu begitu mencintainya."
Arnold menatap masam wajah cantik istrinya itu, perlahan diusapnya pipi Cia dengan lembut membuat wajah wanita itu merona.
"Aku bahagia akhirnya kamu mendapatkan cinta pertamanya," kata Arnold.
__ADS_1
Deg, Cia terkejut dari mana Arnold tahu. Wanita itu menatap netra pekat di itu intens.
"Dari mana kamu tahu, Ar?" tanya Cia.
"Itu tidak perlu kamu tahu, aku harap kalian bisa bersatu," kata Arnold sebisa mungkin menahan rasa sesak di dadanya.
Cia menatap Arnold lekat, ia heran siapa yang sudah memberitahu mantan suaminya itu.
Arnold tersenyum saat Cia hanya menunduk, perlahan Ia mengusap tangan Istrinya itu dan berkata," Aku mencintaimu, tapi jika kamu mencintainya aku akan melepaskan."
Air mata Cia menetes membasahi kedua pipinya yang putih itu. Dadanya sakit saat Arnold mengatakan hal itu."Apa kamu akan kembali ke Viona?"
Arnold kembali lagi tersenyum dan menjawab singkat." Tidak."
"Kenapa, kalian sudah berhubungan lama, tidak ada salahnya saling memperbaiki diri," ujar Cia.
Arnold menatap Cia tidak suka saat wanita itu mengatakan jika ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Viona.
Cia yang melihat mantan suaminya cemberut begitu gemas. Ini masa-masa yang ia inginkan saat masih menjadi istri Arnold.
"Cia, apa kita bisa selama hanya berdua kalau kita masih suami istri," kata Arnold.
Cia terdiam, ia merasa ada yang sudah terjadi. Wanita itu sampai sekarang belum ada akte cerai dari pengacaranya.
Namun, ia yakin kalau ia dan Arnold sudah bercerai. Arnold menatap istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu itu.
"Apa kamu keberatan?" tanya Arnold.
Cia menggelengkan kepalanya, toh ini hanya untuk membahagiakan dirinya saja. Karena walau Arnold sekarang mencintainya ada rasa takut kalau akan jatuh ke lubang yang sama lagi.
Tak lama pintu terbuka dua orang perawat siap membawa Cia untuk kemoterapi. Arnold dengan setia mendorong kursi roda milik istrinya.
Setibanya di ruangan yang banyak peralatan digendongnya tubuh Cia dan membaringkan begitu hati-hati di brankar.
"Sus, apa saya boleh di dalam sini," kata Arnold.
Suster menatap dokter James, pria itu hanya menghela napas lalu memberikan pakaian khusus dan masker.
Velicia mengerjapkan matanya, selama ini yang lain hanya akan berdiri menatapnya dari jendela. Namun, mantan suaminya itu sedang berada di sisinya. Air mata itu sudah tidak bisa ia tahan lagi mengalir di kedua sudut matanya.
Arnold melihat itu mengusap air matanya sambil tersenyum hangat dan memberikan kecupan di kening dan kedua pipi istrinya.
Arnold sebisa mungkin menahan air matanya supaya tidak keluar. Saat dokter James menyanyikan berbagai obat ke tubuh Cia, Arnold merasa hatinya diremas begitu kuat.
Saat itu juga Tubuh Cia mulai berkeringat, Rasa sakit itu mulai membuat tubuhnya bergetar, dokter James memberikan kepada Arnold supaya tenang itu terjadi karena obat.
Velicia memejamkan matanya, Arnold menarik tubuh lemah itu ke pelukannya.
Melihat Cia sudah meneteskan air matanya, tidak lama Arnold menangis sambil mengusap bahu Cia. Suster dan Dokter James terharu melihatnya.
Tiba-tiba tubuh Cia kejang dalam pelukan Arnold membuat Pria itu panik.
__ADS_1
Bersambung ya….