
Setelah minum Arnold kembali memejamkan matanya, Maria langsung memanggil Perawat lewat tombol di sampingnya.
Perawat dan dokter datang, langsung mengecek Arnold. Dokter Marcel tersenyum menatap Maria.
"Bagaimana putra saya, Dok?" tanya Maria.
"Tuan Arnold sudah stabil, tinggal menunggu kondisinya pulih," ujar Marsel.
Setelah Marsel pergi, Maria kembali lagi masuk ke ruang rawat Arnold.
"Mam, bantu Arnold mau duduk!" pinta Arnold.
Maria membantu putra keduanya itu untuk duduk, dan memberikan bantal supaya punggungnya nyaman.
"Berapa lama aku nggak sadar, Mam?" tanya Arnold kepada Maria.
"Hampir dua minggu, Sayang," jawab Maria.
Arnold hanya menarik napas dalam, pria itu kembali menatap wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Andreas apa masih di Singapura, Ma?" tanya Arnold.
Maria menatap putranya itu, apa ia harus jujur atau tidak mengatakan kebenarannya.
"Sayang kamu harus sehat dulu, jangan banyak berpikir yang tidak-tidak," ujar Maria.
Arnold memejamkan matanya, ia tahu jika Mamanya tidak ingin dirinya bersedih.
"Ma, ponselku mana?" tanya Arnol.
Maria menarik napas dalam, wanita itu sudah tidak tahu harus mengatakan apa.
"Maafkan Mama, Nak," ucap Maria sambil meneteskan air matanya.
"Mama kenapa?" tanya Arnold melihat wanita yang dicintainya itu menangis.
"Andreas ke Jerman karena ingin bertemu Cia, Nak," jawab Maria.
Arnold memejamkan matanya, hatinya begitu nyeri saat mendengar jika Kakaknya sekarang sedang ingin menemui istrinya.
Ingin berteriak. Namun, hatinya kelu. Ia merasa ini karna karena dulu dengan santai sering membuat istrinya itu kecewa.
Maria menangis sampai terisak, dipeluknya putranya dan bertanya."Apa kamu masih mencintai, Cia?"
Arnold hanya mengangguk, dan itu dirasakan oleh Maria dan bertanya lagi."Apa kamu mau rujuk?"
Armold melepaskan pelukannya, dan menjawab."Tidak Ma, aku tidak akan pernah rujuk dengan Cia. "
'Bagaiman aku akan rujuk, kalau saja Mama tahu kami masih resmi suami istri sampai sekarang," batin Arnold sambil mengusap dadanya yang kian sesak.
"Apa maksudnya, apa kamu akan melepaskannya di saat masih ada namanya dalam hatimu." Maria mengusap dada Arnold.
"Apa Andreas mencintai, Cia dan akan membahagiakannya,Mam?" tanya Arnold.
"Seperti yang kamu tahu, Nak. Jika Andreas pria yang dicintai Cia yang sebenarnya," ujar Maria.
Arnold hanya menunduk, andai saja sekarang boleh keluar dari rumah sakit pasti akan langsung terbang ke Berlin untuk melihat istrinya.
__ADS_1
"Mama istirahat saja,aku bisa nanti untuk baring," ucap Arnold
Maria hanya mengangguk karena ia juga merasa begitu lelah, lelah hati dan lelah pikiran karena kedua anaknya mencintai wanita yang sama
Arnold yang melihat Mamanya sudha terlelap di sofa mengambil ponselnya. Setelah ponselnya hidup dicarinya nomor Aura.
Sambungan telepon pun tersambung , tidak lama terdengar suara adiknya.
"Halo," ucap Aura.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Arnold.
"Kak," suara Aura terdengar terisak.
"Dasar cengeng!"cibir Arnold walau Adiknua tidak melihatnya.
"Huwaaa, kakak sudah sadar kenapa Mama tidak memberitahukan," tangais Aura pecah.
"Hai, kakak hanya tanya," goda Arnold.
"Tuan, ini saya," ucap Leon.
"Kau!"seru Arnold.
"Maaf, Nona Aura sedang menangis," ujar Arnold.
"Hah, baiklah. Apa Cia baik-baik saja?" tanya Arnold.
"Baik Tuan, kapan Anda kembali?" tanya Leon.
"Nanti aku kabari, kamu jaga Aura selama aku tidak ada!" perintah Arnold.
Disandarkannya kepalanya, tidak lama pintu terbuka perawat masuk dan tersenyum kepada Arnold.
"Tuan, ini bubur untuk Anda," kata perawat itu.
"Terimakasih," jawab Arnold.
Setelah perawat itu pergi, Arnold menatap bubur yang masih terlihat berasal itu.
Ia merasakan lapar, saat mencoba akan mengambil bubur entah kenapa kakinya rasanya kaku untuk diberikan.
Arnold yang kurang menjaga keseimbangan tubuhnya, langsung jatuh dan tanganya menyengol mangkuk berisi bubur panas.
Maria yang merasa terusik, mencoba membuka matanya. Wanita itu bagus, seketika matanya melebar saat melihat putranya tergeletak di lantai.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi," kata Maria langsung membantu putranya.
Maria memanggil perawat karena jarum infus Armold lepas hingga darah keluar dari tanganya.
Perawat langsung bergerak cepat untuk membantu menghentikan darah dan memasang jarum yang baru di tangan Arnold.
Bersamaan Dokter Marsel dan seorang petugas kebersihan datang.
"Dokter kenapa kaki saya terasa kaku?" tanya Arnodl.
Dokter Marsel langsung memeriksa dan tidak lama pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Sering digerakkan saja, Tuan," ujar Dokter Marsel.
Arnold merasa lega, ia pikir tadi kakinya kenapa-napa.
Setelah dokter pergi, sepuluh menit kemudian perawat membawakan bubur ganti buat Armold.
Maria tanpa di pinta langsing menyuapi putranya dan berkata."Mama jadi ingat waktu kamu masih kecil."
"Kenapa?" tanya Arnold mantap Mamanya yang senyum kepadanya.
"Kamu kalau sakit selalu minta suap, ini sudah mau tua juga masih disuap," goda Maria.
"Aku tetap anak kecil Mama," jawab Arnold dnegan senyum di bibirnya.
"Ya … ya … sampai kapanpun kami anak kecil Mama," balas Maria hingga tanpa terasa bubur di mangkuk habis.
"Yah, habis Ma," ucap Arnold.
"Apa kamu masih lapar?" tanya Maria sambil menaikan kedua alisnya.
Arnold hanya mengangguk, membuat Maria tersenyum.
"Mama akan beli keluar, kamu tidak apa kalau Mama tinggal sebentar, Nak." Maria walau ragu tapi tidak akan membiarkan putranya kelaparan.
Maria keluar dari ruang rawat Arnold, setelah pintu tertutup, pria itu mengirimkan pesan kepada Aura untuk mengirimkan foto atau video Cia kepadanya.
Senyum mengembang, saat melihat wajah istrinya tersenyum bersama Adiknya. Semua itu membuatnya yakin jika ponsel Aura masih dipegang Leon.
Bukan hanya satu foto dan Video yang dikirimkan kepada Arnold tapi hampir ada dua puluh lebih. Hal itu membuat pria itu merasa heran.
Namun, Arnold membairkan saja. Karena semua ada cia dan adiknya yang begitu ia sayangi.
"Aku harus cepat sehat karena kalau begini terus tidak akan bisa secepatnya bertemu Istriku," kata Arnodl lirih.
Pintu terbuka, Maria tersenyum karena melihat putranya baik-baik saja.
Maria mengeluarkan semua belanjaanknya, dan menyimpan di dalam lemari kecil.
"Kamu jus ini, Nak?" tanya Maria.
'Apa boleh, Mam." Arnold matanya berbinar karena Mamanya memberikan jus alpukat.
"Tentu saja boleh, karena Mama sebelumnya sudah bertanya kepada perawat," ujar Maria.
"Makasih Mam, Mama orang yang terhebat dalam hidup Arnold," ucapnya.
"Kamu itu," kata Maria gemas dengan putranya.
Keduanya menikmati minum jus bersama, masa yang sudah lama tidak do rasakan Arnodl maupun Maria karena anak-anaknya sudah sibuk.
"Mam, kalau ada Aura dan Andreas pasti makin seru," ujar Arnold.
"Sabar sayang, pasti nanti kita berkumpul lagi," hibur Maria.
Saat sedang asik mengobrol, Maria merasakan jika ada pesan masuk. Wanita itu membaca pesan dari Andreas
"Ada apa Mam?"
__ADS_1
Bersambung ya….