PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Arnold rindu Cia


__ADS_3

Setelah minum Arnold kembali memejamkan matanya, Maria langsung memanggil Perawat lewat tombol di sampingnya.


Perawat  dan dokter datang, langsung mengecek Arnold. Dokter Marcel  tersenyum menatap Maria.


"Bagaimana putra  saya, Dok?" tanya Maria.


"Tuan Arnold  sudah stabil, tinggal menunggu kondisinya pulih," ujar Marsel.


Setelah Marsel  pergi, Maria kembali lagi masuk ke ruang rawat Arnold.


"Mam, bantu Arnold  mau duduk!" pinta Arnold.


Maria membantu putra keduanya itu untuk duduk, dan memberikan bantal supaya punggungnya nyaman.


"Berapa lama aku nggak sadar, Mam?" tanya Arnold  kepada Maria.


"Hampir dua minggu, Sayang," jawab Maria.


Arnold hanya menarik napas dalam, pria itu kembali  menatap  wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Andreas apa masih di Singapura, Ma?" tanya Arnold.


Maria menatap putranya itu, apa ia harus jujur atau tidak mengatakan kebenarannya.


"Sayang kamu harus sehat dulu, jangan banyak berpikir yang tidak-tidak," ujar Maria.


Arnold memejamkan matanya, ia tahu jika Mamanya tidak ingin dirinya bersedih. 


"Ma, ponselku mana?" tanya Arnol.


Maria menarik napas dalam, wanita itu sudah tidak tahu harus mengatakan apa.


"Maafkan Mama, Nak," ucap Maria sambil meneteskan air matanya.


"Mama kenapa?" tanya Arnold melihat wanita yang dicintainya itu menangis.


"Andreas ke Jerman karena ingin bertemu Cia, Nak," jawab Maria.


Arnold memejamkan  matanya, hatinya begitu nyeri saat mendengar jika Kakaknya sekarang sedang ingin menemui istrinya.


Ingin berteriak. Namun, hatinya kelu. Ia merasa  ini karna karena dulu dengan santai sering membuat istrinya itu kecewa.


Maria menangis sampai terisak, dipeluknya putranya dan bertanya."Apa kamu masih mencintai, Cia?" 


Arnold hanya mengangguk, dan itu dirasakan oleh Maria dan bertanya lagi."Apa kamu mau rujuk?"


Armold melepaskan  pelukannya, dan menjawab."Tidak Ma, aku tidak akan pernah rujuk  dengan Cia. "


'Bagaiman aku akan rujuk, kalau saja Mama tahu kami masih resmi suami istri sampai sekarang," batin Arnold sambil mengusap dadanya yang kian sesak.


"Apa maksudnya, apa kamu akan melepaskannya di saat masih ada namanya dalam hatimu." Maria mengusap dada Arnold.


"Apa Andreas mencintai, Cia dan akan membahagiakannya,Mam?" tanya Arnold.


"Seperti  yang kamu tahu, Nak. Jika Andreas pria yang dicintai  Cia yang sebenarnya," ujar Maria.


Arnold hanya menunduk, andai saja sekarang boleh keluar dari rumah sakit pasti akan langsung terbang ke Berlin untuk melihat istrinya.

__ADS_1


"Mama istirahat  saja,aku bisa nanti untuk baring," ucap Arnold


Maria hanya mengangguk karena ia juga merasa  begitu lelah, lelah hati dan lelah pikiran  karena kedua anaknya mencintai wanita yang sama


Arnold yang melihat Mamanya sudha terlelap  di sofa mengambil ponselnya. Setelah ponselnya  hidup dicarinya nomor Aura.


Sambungan  telepon pun tersambung , tidak lama terdengar suara  adiknya.


"Halo," ucap Aura.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Arnold.


"Kak," suara Aura terdengar terisak.


"Dasar cengeng!"cibir Arnold walau Adiknua tidak melihatnya.


"Huwaaa, kakak sudah sadar kenapa Mama tidak memberitahukan," tangais Aura pecah.


"Hai, kakak hanya tanya," goda  Arnold.


"Tuan, ini saya," ucap Leon.


"Kau!"seru Arnold.


"Maaf, Nona Aura sedang menangis," ujar Arnold.


"Hah, baiklah. Apa Cia baik-baik  saja?" tanya Arnold.


"Baik Tuan, kapan Anda kembali?" tanya Leon.


"Nanti aku kabari, kamu jaga Aura selama aku tidak ada!" perintah Arnold.


Disandarkannya kepalanya, tidak lama pintu terbuka perawat masuk dan tersenyum kepada  Arnold.


"Tuan, ini bubur untuk Anda," kata perawat itu.


"Terimakasih," jawab Arnold.


Setelah perawat itu pergi, Arnold menatap bubur yang masih terlihat berasal itu.


Ia merasakan lapar, saat mencoba akan mengambil bubur entah kenapa kakinya rasanya kaku untuk diberikan.


Arnold yang kurang menjaga keseimbangan  tubuhnya, langsung jatuh dan tanganya menyengol mangkuk  berisi  bubur panas.


Maria yang merasa  terusik, mencoba membuka matanya. Wanita itu bagus, seketika matanya  melebar saat melihat  putranya tergeletak di lantai.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi," kata Maria  langsung  membantu putranya.


Maria memanggil perawat karena jarum infus Armold lepas hingga darah keluar dari tanganya.


Perawat langsung bergerak  cepat untuk membantu  menghentikan darah dan memasang jarum yang baru di tangan  Arnold.


Bersamaan  Dokter  Marsel  dan seorang petugas kebersihan  datang.


"Dokter kenapa kaki saya terasa kaku?" tanya Arnodl.


Dokter Marsel  langsung memeriksa  dan tidak lama pria itu tersenyum.

__ADS_1


"Sering digerakkan  saja, Tuan," ujar Dokter  Marsel.


Arnold  merasa lega, ia pikir tadi kakinya kenapa-napa.


Setelah  dokter pergi, sepuluh menit kemudian  perawat  membawakan  bubur ganti buat Armold.


Maria tanpa di pinta langsing menyuapi putranya dan berkata."Mama jadi ingat waktu kamu masih kecil."


"Kenapa?" tanya Arnold mantap Mamanya yang senyum kepadanya.


"Kamu kalau sakit selalu minta suap, ini sudah mau tua juga masih disuap," goda Maria.


"Aku tetap anak kecil Mama," jawab Arnold dnegan senyum di bibirnya.


"Ya … ya … sampai kapanpun kami anak kecil Mama," balas Maria hingga tanpa terasa  bubur di mangkuk  habis.


"Yah, habis Ma," ucap Arnold.


"Apa kamu masih lapar?" tanya  Maria sambil menaikan kedua alisnya.


Arnold hanya mengangguk, membuat Maria tersenyum.


"Mama akan beli keluar, kamu tidak apa kalau Mama tinggal sebentar, Nak." Maria walau ragu tapi tidak akan membiarkan  putranya kelaparan.


Maria keluar  dari ruang  rawat Arnold, setelah pintu tertutup, pria itu mengirimkan pesan kepada Aura untuk mengirimkan foto atau video  Cia kepadanya.


Senyum  mengembang, saat melihat wajah istrinya tersenyum bersama Adiknya. Semua itu membuatnya yakin jika ponsel Aura masih dipegang  Leon.


Bukan hanya satu foto dan Video  yang dikirimkan  kepada  Arnold tapi hampir ada dua puluh lebih. Hal itu membuat pria  itu merasa  heran.


Namun, Arnold membairkan saja. Karena semua  ada cia dan adiknya  yang begitu ia sayangi.


"Aku harus  cepat sehat karena kalau begini terus tidak akan bisa secepatnya bertemu Istriku," kata Arnodl lirih.


Pintu terbuka, Maria tersenyum karena melihat putranya baik-baik  saja.


Maria mengeluarkan  semua belanjaanknya, dan menyimpan  di dalam  lemari kecil.


"Kamu jus ini, Nak?" tanya Maria.


'Apa boleh, Mam." Arnold matanya berbinar karena Mamanya memberikan jus alpukat.


"Tentu saja boleh, karena Mama sebelumnya sudah bertanya kepada perawat," ujar Maria.


"Makasih Mam, Mama orang yang terhebat dalam hidup Arnold," ucapnya.


"Kamu itu," kata Maria gemas dengan putranya. 


Keduanya  menikmati minum jus bersama, masa yang sudah lama tidak do rasakan Arnodl maupun  Maria karena anak-anaknya sudah sibuk.


"Mam, kalau ada Aura dan Andreas pasti makin seru," ujar  Arnold.


"Sabar sayang, pasti nanti kita berkumpul lagi," hibur Maria.


Saat sedang asik mengobrol, Maria merasakan  jika ada pesan masuk. Wanita itu membaca pesan dari  Andreas 


"Ada apa Mam?" 

__ADS_1


Bersambung ya….


__ADS_2