
Hidup mati sudah ada jalannya masing-masing, karena itu kita diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Sang pencipta, Maria melihat Aura yang begitu terlihat terpukul atas kepergian papanya.
"Aura," kata Leon.
Aura sudah pingsan hal itu membuat Leon begitu panik, hingga matanya bertemu sosok yang duku berlabuh di hatinya, ya itu Clara.
Leon kembali fokus menatap istrinya, ia mengoleskan minyak ke hidung istrinya berharap agar cepat sadar
Pagi harinya di rumah duka Setyawan para pelayat mulai berdatangan, bunga ucapan bela sungkawa berjejer rapi memenuhi jalan. Pengusaha sukses dan sudah banyak relasinya.
Dikenal dengan mertua dari ahli waris Arista, banyak pengusaha yang ingin bekerjasama dengan Setyawan
Aura yang kini terlihat pucat duduk tidak jauh dari Arnold dan Cia, sedangkan Leon dan Andreas menyambut para rekan kerja dari Setyawan dan Arista.
Mobil beriringan mengantarkan Tuan Besar Setyawan ke peristirahatan terakhir.
Aura menatap pusara Papanya itu dengan air mata yang sudah menganak sungai sedari tadi.
Selama ini Aura belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya saat ia akan mulai terjun ke perusahan sang Papa sudah pergi meninggalkan semuanya.
"Ayo kita pulang," ajak Leon sambil memapah sang Istri .
Maria dah Arnold lebih dulu ke mobil, sedangkan Cia tidak diizinkan ikut karena kondisinya masih lemah.
Setelah tiga puluh menit mobil sampai di kediaman Setyawan. Leon membawa istrinya untuk istirahat.
Sesampainya di kamar Aura membersihkan diri, sedangkan Leon karena tidak ingin meninggalkan sang istri ia juga membersihkan diri di kamar tamu.
Setelah lima belas menit pria itu sudah selesai dan langsung menuju kamar istrinya.
"Sayang," kata Leon lembut saat melihat Aura sedang menatap foto Papanya.
Dipeluknya wanita yang sedang terisak itu dan berkata." Jangan seperti ini, Papa juga akan sedih jika melihatmu menangis terus."
"Ini karena kak Andreas, kak," kata Aura.
"Semua sudah takdir, jangan saling menyalahkan siapapun," ucap Leon sambil mengusap bahu istrinya.
"Mama di mana?" tanya Aura.
"Sama Cia dan suaminya, kamu istirahat ya," kata Leon lembut.
Aura ingat akan pesan Papanya kalau ia akan menurut apa kata suaminya.
Direbahkannya tubuhnya, ia paham jika suaminya juga lelah. Tidak lama matanya terpejam karena begitu lelah.
Leon yang membuka matanya, diusapnya wajahnya cantik wanita yang sudah resmi menjadi istrinya dengan lembut.
"Aku harap besok kamu sudah bisa tersenyum dan galak seperti biasanya," kata Leon lirih.
__ADS_1
Pria itu keluar dari kamar, ia menuju kamar yang biasa digunakan saat menginap.
Leon duduk menatap lemari kecil di mana barang-barang berharga mertuanya berada di sana selama ini.
"Apa karena ini Anda menjodohkan saya dengan Aura, Tuan. Namun, di hari itu juga Anda meninggalkan kami semua." Leon membuka lemari kecil itu yang berisi sertifikat dan surat penting lainnya.
Leon memasukkan ke dalam tas kerjanya karena ia akan memberikan kepada yang berhak.
Pria itu keluar dari kamar, tapi ia berjumpa dengan Andreas.
"Leon, apa Aura juga menyalahkan aku juga, "kata Andreas.
"Sebaiknya besar jika Anda ingin bertemu dengan Nona," kata Leon
.
"Jangan sungkan kamar adikku sekarang," kata Andreas lalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah kepergian Andras pria itu turun lantai satu, lampu sudah padam ia keluar dimana ada Samuel sedang mengobrol dengan anak buahnya.
"Lah aku kira langsung belah duren," goda Samuel kepada Leon.
Leon hanya diam, pria itu ikut bergabung dan duduk santai di pos jaga.
"Istrimu sudah tidur?" tanya Samuel.
"Sudah, apa ada pergerakan dari John?" tanya Leon.
Leon hanya mengangguk karena yang mereka cari adalah dirinya.
John terkenal dengan kejam Tidak segan-segan menghabiskan keluarga musuhnya. Leon tidak ingin itu terjadi kepada keluarga barunya.
"Apa rencananya," kata Samuel.
"Kita harus melibatkan kedua kakak beradik itu," kata Leon.
Samuel mengacungkan jempolnya, ia juga pasti akan marah jika untuk keselamatan orang -orang yang dicintai tidak akan bisa diam saja.
"Kamu mau tidur dimana?" tanya Leon.
"Di kamarmu juga boleh," goda Samuel membuat sahabatnya melotot.
Samuel segera pamit karena ia juga sudah begitu lelah karena belum ada tidur dari kemarin.
Leon menatap kepergian mobil sahabatnya itu, setelah itu ia pamit kepada yang lainnya untuk istirahat. Leon sampai kamar terkejut karena sang istri sudah duduk bersandar memainkan ponselnya.
"Kenapa terbangun?" tanya Leon lembut.
Aura mengernyitkan keningnya saat pria kaku itu masih lembut dengannya, ,melihat hal itu Leon terkekeh karena istrinya sudah galak lagi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah kembali lagi," kata Leon.
"Kembali? kembali dari mana, Kak?" tanya Aura.
Leon tersenyum dan menjawab." kembali menjadi galak lagi."
"Cih, aku galak kakak salah, lihat aku melo di tinggal," kata Aura.
"Maaf," kata Leon memeluk sang istri.
"Kakak sudah janji sama Papa untuk jagain aku," kata Aura.
"Iya, terus apa yang kamu inginkan." Leon menatap wajah cantik di sampingnya.
Aura terdiam, ia juga bingung harus bagaimana nantinya. Kalau kuliah pasti akan tetap berlanjut.
"Sayang, aku mau kamu tetap menjadi Ceo dan aku asisten," kata Leon.
"Kenapa begitu?" tanya Aura.
"Karena aku ingin mencari siapa yang sudah bermain-main dengan perusahaan kita," ujar Leon.
Aura menatap suaminya, gadis itu mengerti sekarang dengan bergantian pemimpin lama dan baru pasti akan ada peraturan yang berbeda.
"Kak, apa Kak Arnold tahu masalah ini?" tanya Aura.
Leon hanya menggelengkan kepalanya, pria itu sudah begitu lelah malam ini, tidak lama ia tertidur dengan sang istri di pelukannya,
****
Pagi harinya Cia yang baru bangun tersenyum melihat suaminya masih tertidur lelap, melihat itu ia mencoba berjalan ke kamar mandi sendiri, Tubuhnya yang belum begitu pulih membuatnya ragu. Namun, mana tega ia membangunkan suaminya.
Arnold yang baru saja membuka matanya melihat istrinya berjalan pelan langsung bangun dan berkata. "kenapa enggak kamu bangunkan aku sayang."
"Ar, aku kira kamu masih tidur," kata Cia.
Arnold mengangkat tubuh istrinya dan membantunya untuk membersihkan diri, setelah dua puluh menit ia mengangkat tubuh sang istri dan mendudukkan di sofa.
"Jangan lakukan hal seperti tadi lagi," kata Arnold.
"Maaf,' jawab Cia merasa bersalah kepada suaminya.
Arnold membuka lemari hanya ada bajunya, untuk sementara ia meminta kepada istrinya untuk pakai bajunya dulu.
"Sayang pakai bajuku dulu ya," kata Arnold yang dianggukkan oleh istrinya.
Pria itu dengan penuh kelembutan membantu sang istri untuk memakai baju, walau begitu Cia masih begitu malu saat suaminya melihat tubuhnya yang sekarang.
Kini keduanya berjalan menuju ke ruang keluarga, Sedang asik santai tiba-tiba ada keributan di luar.
__ADS_1
Bersambung ya...