PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Rayuan Andreas


__ADS_3

Cia masih menangis, hingga ketukan pintu terdengar olehnya. Wanita itu merasa gugup. Ia tidak ingin suaminya tahu kau sedang menangis.


Wanita itu segera masuk kamar mandi, ia menghidupkan keran air. Setelah itu keluar, ia melihat Arnold menatapnya dengan penuh kekhawatiran." Sayang, kenapa pintu dii kunci. Aku begitu khawatir."


"Hah, masa terkunci. Perasaan aku tidak menguncinya."


Arnold mendengar itu hanya mengangguk, ia tidak mempermasalahkan kalau pintunya dikunci atau tidak. Namun, laporan dari pelayanan tadi justru membuatnya begitu takut.


Ditatapnya Cia begitu dalam, entah kenapa ia merasa jika sang istri ingin mengatakan sesuatu kepadanya."Ada apa?" 


Cia tersenyum, mungkin ini waktunya ia mengatakan kepada suaminya akan rencananya selama ini." Ar, aku mau kamu menikah lagi."


Wajah yang tadinya hangat itu, tiba-tiba berubah dingin menatap Cia. "Apa maksudmu, Cia. Selama ini aku kita sudah bicarakan masalah anak. Aku tidak masalah asal kamu terus bersamaku."


"Ar, aku wanita tidak akan bisa melahirkan keturunan kamu, apa salahnya kalau kamu menikah lagi. Aku tidak apa-apa kalau nanti akan di madu." Cia menatap suaminya itu penuh dengan permohonan.


"Kamu lebih baik istirahat, jangan pernah berpikir jika aku mau mengikuti apa rencanamu." Arnold langsung membuka pintu kamar.


"Kalau kamu tidak mau, mari kita pisah!" kata Cia.


Arnold menghentikan langkahnya, pria itu membalik badan. Ditatapnya mata indah itu. Tidak ada sedikit pun kebohongan dari raut wajah Cia.


"Apa yang kamu katakan, Cia. Selama ini kita sudah bahagia dengan seperti ini." 


"Ar, aku hanya ingin kamu punya akan. Aku tidak akan meninggalkan kamu dan maduku juga akan tinggal tempat terpisah, biar kami bisa adik."


Arnold menatap istrinya, entah kenapa hatinya begitu sakit melihat air mata milik Cia yang menetes membasahi kedua pipinya yang putih itu.


"Ini kita bicarakan nanti, sekarang kita istirahat ya. Kamu pasti begitu lelah." Arnold mengajak istrinya untuk berbaring di kasur.


Pria itu ikut berbaring di sisi Cia, dipeluknya tubuh kurus itu dengan erat. Arnold merasa tidak membutuhkan siapa-siapa lagi. Ia hanya ingin tetap bersama Cia buka wanita lain.


Namun, akan ancaman Cia itu, tadi seperti bukan main-main. Jangankan bercerai, tidak melihat Cia sebentar saja ia sudah begitu tersiksa. Apa lagi kalau sampai bercerai. Tidak , bukan itu yang diinginkan Arnold.


Mendengar dengkuran halus dari istrinya, membuat Arnold tersenyum. Pria itu segera bangun. Ia membuka pintu balkon kamarnya.


Pria itu,  saat sedang banyak pikiran ia akan selalu menghisap benda itu. Asap mengepul udara. 


Entah apa yang membuat istrinya tiba-tiba berubah pikiran, waktu itu ia pikir Cia bisa menerima semuanya. Namun, kini wanita itu tiba-tiba memintanya untuk menikah lagi. 


Arnold mengusap wajahnya dengan kasar. Mana bisa ia menikah dengan wanita lain, sedang hati Cia akan terluka. Bukan masalah nafkah yang dipikirkan oleh Arnold.


Mana bisa ia berbuat adil, sedangkan Cintanya hanya untuk Cia. Bukan untuk wanita lain.

__ADS_1


Arnold sudah tidak tahu, ia habis berapa batang rokoknya. Setelah sudah merasa sudah cukup baik hatinya. Arnold masuk ke kamar, pria itu mengunci balkon kamarnya.


Arnold segera mengambil handuk, pria itu tidak ingin saat tidur istrinya mencium asap yang menempel di tubuhnya.


Setelah lima belas menit, ia keluar dari kamar mandi sudah mengenakan piyama tidurnya.


****


Di tempat lain Andreas yang baru siap mengajar les piano. Pria itu segera masuk ke ruangannya.


Dilihatnya Shinta sedang sibuk dengan berkas di atas mejanya.


"Sayang," ucap Andreas langsung duduk di depan Shinta.


Shinta hanya menatap sebentar, setelah itu kembali lagi sibuk dengan pekerjaannya. Merasa di cuekin, Andreas tersenyum.


"Kenapa sih, sekarang sensitif banget."


"Kak, aku besok libur," kata Shinta.


"Mau kemana?" tanya Andreas.


"Mau jalan dengan pacarku." 


Jam sudah menunjukkan pukul lima, Shinta segera merapikan semua berkas dan ia begitu senang karena dengan mudah meminta libur saat ini.


Wanita itu keluar dari ruangannya, tidak lama Andreas juga keluar. Pria itu mendahului Shinta untuk menuju ke mobilnya. Sedangkan gadis itu menatap heran dengan Andreas.


Apa pria itu marah karena minta libur, tapi tadi jelas mengatakan ok. 


Shinta langsung masuk ke mobilnya, wanita yang kini di pikiran besok akan kencan buta dengan sosok orang yang baru dikenalnya lewat aplikasi kencan buta. Ia harus lebih cepat mendapatkan kasih.


Shinta ingin melihat bagaimana reaksi dari Andreas, saat melihat ia membawa pria yang dijadikan kekasih nanti.


Shinta sudah tidak sabar, ia besok akan tampil dengan cantik. Tidak ingin mengecewakan pria yang akan mengajaknya kencan  buta itu.


Mobil yang dikemudikan oleh Shinta sudah sampai di apartemennya. Wanita itu terlihat begitu senang. 


Tanpa gadis itu tahu, mobil warna hitam sedari tadi sudah lebih dulu sampai.


Shinta kini sudah di depan unit apartemennya, saat memasukkan password. Pintu terbuka, tapi tiba-tiba ada yang mendorongnya masuk ke apartemennya.


Saat Shinta menoleh, mata wanita biru membulat sempurna.

__ADS_1


"Andreas!" 


"Iya sayang." Andreas duduk di sofa sambil tersenyum menatap Shinta yang terlihat kesal menatapnya.


"Kamu kenapa di sini, Kak?" 


"Menemanimu, aku tidak ingin ada yang jahat kepadamu." Andreas beranjak dari duduknya.


Shinta hanya menatap Andreas sinis, wanita itu merasa jika bosnya itu sengaja mengikutinya barusan.


Namun, ada yang membuat Shinta heran. Kapan Andreas sampai, mobil pria itu tadi lawan arah dengan apartemennya.


Andreas membuka kulkas, pria itu mengeluarkan sayur dan ayam untuk ia olah.


"Sayang, kamu bersihkan diri dulu ya."  Andreas kembali lagi fokus dengan masakannya 


Shinta hanya pasrah, wanita itu meninggalkan pria yang begitu menyebalkan itu. Wanita itu segera masuk kamar. Ia membaringkan tubuhnya sebentar, rasanya badannya remuk karena pekerjaan begitu banyak.


Setelah lima belas menit, Shinta keluar dari kamarnya. Gadis itu kini terlihat begitu cantik . Walaupun hanya mengenakan pakaian rumahan. 


Andreas menatap Shinta begitu kagum, entah sejak kapan ia tertarik dengan gadis itu.


Padahal dulu, ia sama sekali tidak begitu memperhatikan Shinta. Bahkan pria itu tidak tahu, sejak kapan jatuh cinta dengan orang kepercayaannya itu.


Shinta melihat apa yang di masak oleh Andreas, wanita itu terlihat begitu senang karena menu kesukaannya yang kini sedang dibuat oleh Andreas.


"Bagaimana apa kamu suka?"


"Iya, apa masih lama masaknya, Kak?"


"Sabar, sayang. Sebentar lagi ya." Andreas mengaduk ayam yang di masaknya.


Andreas sedang membuat ayam bakar madu, di mana Shinta begitu menyukainya.


"Kakak, harum banget." 


"Benarkah , padahal aku belum mandi." Andreas mengedipkan matanya ke arah Shinta.


"Astaga, bukan Kakak. Ini ayam bakar yang harum." 


Andreas terkekeh, pria itu menggelengkan kepalanya. Saat melihat Shinta kesal." Untuk calon istriku akan aku masak yang paling enak."


Shinta menatap tajam ke arah Andreas." Siapa calon istri,Kakak?"

__ADS_1


__ADS_2