
Leon mengambil sesuatu dari saku celananya dan kemudian ia ingat pernah melihat pria yang melamar wanita sambil berlutut. Walau agak ragu, ia berlutut di depan Aura sambil membuka kotak berwarna biru itu.
Mata Aura melebar melihat cincin yang indah di tangan pria kaku itu, tanpa kedua pasangan itu sadari Cia tersenyum sambil menatap Leon yang selama ini dingin terlihat begitu romantis walau wajahnya tidak berubah masih sama dengan datarnya.
"Apa Anda mau menjadi istri saya, Nona?" tanya Leon dengan menatap wajah Aura yang terlihat begitu shock.
Aura merasa tidak percaya jika pria kaku itu tertarik kepada dirinya, air matanya menganak sungai saat melihat cincin yang begitu indah. Namun, saat melihat mimik wajah Leon yang datar membuatnya menjadi curiga.
Aura sering melihat di film jika pria yang melamar wanitanya akan senyum supaya diterima, tetapi melihat wajah Leon rasanya ia ingin sekali memukul wajah tampan di depannya.
Aura langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan dingin, ia ingat kalau beberapa kali Leon mengatakan kalau dirinya wanita murahan.
"Tuan, apa Anda sedang sakit?" tanya Aura dengan senyum mengejek.
"Shiit." Leon ingin sekali membuang cincin yang kini berada di tangannya.
Jika bukan karena Tuan besar ia tidak ingin berbuat seperti ini, rasanya harga dirinya diinjak-injak oleh gadis keras kepala di depannya.
Cia yang melihat kedua orang itu akan berseteru langsung berdehem membuat Leon dan Aura menatap ke arahnya.
"Maaf," kata Cia sambil tersenyum canggung.
"Kakak sudah bangun." Aura pergi begitu saja meninggalkan Leon yang masih berlutut.
Leon yang merasa diabaikan kini keluar dari ruang rawat Cia, Pria itu langsung melempar cincin itu dalam tong sampah dan berlalu pergi begitu saja.
Samuel melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Pria berkulit putih itu mengambil cincin yang dibuang Leon langsung diambilnya cincin itu dan membuang kotaknya.
Samuel mengira kalau Leon ditolak cintanya oleh wanita yang kini sedang berada di ruang rawat itu.
****
Velicia yang melihat Leon keluar begitu saja menatap tidak percaya karena baru tadi ia melihat aura terlihat begitu shock dan mengira akan menerima lamaran Pria kaku itu. Nyatanya itu hanya bualan semata.
"Kenapa kamu tolak?" tanya Cia kepada Aura yang kini sedang menatap wajah cantik mantan adik iparnya itu.
__ADS_1
Aura menarik napas dalam, sepertinya tidak ada salahnya jika ia berbagai dengan kakak iparnya itu walau dulu ia tidak sedekat ini.
"Aku tidak yakin dia mencintaiku, Kak." Aura mengusap air matanya.
"Kamu tahu dari mana, Aura. Jelas Leon melamarmu tadi," ujar Cia merasa heran.
Hanya terdengar gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Mana mungkin dirinya menerima lamaran pria yang selama ini mengatakan kalau dirinya murahan.
Cia diam menunggu jawaban dari anak bungsu keluarga Setyawan itu. Namun, tidak ada juga jawaban dari Aura. Wanita itu tersenyum, mungkin belum ada rasa cinta yang dirasakan gadis itu.
"Kalau kamu mencintainya, kenapa harus ragu untuk menerimanya?" tanya Cia sambil tersenyum.
Aura hanya diam, tidak mungkin ia mencintai pria kaku itu. Namun, alasan apa Leon sampai melamarnya. Gadis itu menarik napas dalam karena sekarang ada yang harus ia pikirkan ya itu Kakaknya masih koma di salah satu rumah sakit di Singapore.
Ditatapnya Cia yang terlihat masih pucat yang baru sadar dari komanya itu, Entah karena ikatan batin atau cinta keduanya bisa merasakan satu sama lain.
Aura memejamkan matanya dan kini bayangan wajah Leon sangat lembut saat menenangkan dirinya. Namun, saat melamarnya tadi wajahnya begitu terlihat terpaksa.
"Kak, aku keluar sebentar ya!" pamit Aura kepada Cia yang hampir memejamkan matanya.
Aura keluar dari ruang rawat Velicia gadis itu saat akan berbelok menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang tidak asing sedang berbicara dengan seseorang.
"Bos, ada apa?" tanya Samuel yang berdiri di samping Leon sambil bersandar di tiang.
"Aku terpaksa mengikuti apa kata Tuan Setyawan untuk melamar putrinya yang keras kepala itu. Kamu tahu dia tidak menolak, tapi juga tidak menerimanya!" seru Leon mengusap wajahnya kasar.
"Jadi bos digantung." Samuel terkekeh yang langsung ditatap tajam oleh Leon.
"Aku melakukan karena untuk membalas budi saja, cinta juga tidak sukur-sukur tadi gadis itu tidak menerimanya." Leon tersenyum getir, tapi ada rasa sesak saat mengatakan itu.
Aura mengusap air matanya, ia tidak menyangka kalau papanya hendak menjodohkannya dengan orang kepercayaannya.
Aura mencoba cuek saja saat harus melewati dua pria itu. Namun, gadis itu memasang headsetnya di telinga saat melewatinya. Mata Leon dan Samuel melebar saat melihat wanita yang sedang dibicarakan melewatinya begitu saja.
Leon menatap Samuel dengan tatapan yang berbeda, entah mengapa pria itu takut jika gadis itu mendengar apa yang dikatakan tadi.
__ADS_1
"Apa Aura mendengarnya?" tanya Leon kepada Asistennya itu.
Samuel hanya menaikan bahunya tanda ia juga tidak tahu. Leon semakin frustasi menyugar rambutnya hingga kini terlihat berantakan. Namun, terlihat lebih menawan.
Leon berjalan menuju ke tempat Velicia dirawat, pria itu perlahan membuka pintunya bersamaan dengan wanita yang sedang terbaring itu membuka matanya.
Cia mengerutkan keningnya saat melihat Leon yang musuk sendirian, pria itu kini duduk di samping brankarnya.
"Nona, maaf Anda melihat semuanya tadi," kata Leon datar.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Cia menatap netra pekat itu dalam.
Leon menarik napas sebelum menjawabnya bukan jawaban melainkan pertanyaan yang ia lontarkan."Apa saya harus mengikuti kata hati atau Bos saya, Nona?"
Cia terkekeh karena pria yang begitu disegani oleh para pengusaha di Ternate kini terlihat dilema akan isi hatinya.
"Ikuti apa kata hatimu, Tuan Leon!" kata Cia dengan nada tegas.
Leon yang tadinya sudah menunduk, kini mengangkat kepalanya untuk menatap wanita yang sedang berjuang dari penyakitnya.
"Apa itu bisa?" tanya Leon karena ia berhutang budi kepada Tuan Setyawan.
Cia hanya menggelengkan kepalanya, pria dingin di depannya ini kalau kerjaan dan bisnis nomor satu. Namun, soal hati begitu mines.
"Apa kamu mencintai Aura?" tanya Cia karena pertanyaannya tadi belum dijawab Leon.
Leon tidak menjawab, tetapi ia menggelengkan kepalanya karena sampai sekarang ia tidak tertarik kepada gadis manja itu. Meskipun Leon Akui saat sedang memeluk Aura jantungnya bekerja lebih cepat dari sebelumnya.
Beberapa kali Leon menepis kalau ia menyukai anak dari Tuannya itu. Namun, saat Aura meninggalkannya saat sedang melamarnya tadi hatinya sakit bak ditusuk sembilu.
"Saya tidak tahu Nona, tapi saat Nona Aura mengabaikan lamaran saya dada saya sesak," jawab Leon dengan wajah polosnya.
Cia rasanya ingin menenggelamkan pria di depannya kini, wanita itu hanya mengepalkan kedua tangannya karena begitu geram.
"Kenapa Nona Cia terlihat marah, apa saya salah jawab?"
__ADS_1
Bersambung ya...