
Pagi ini Clara terbangun lebih dulu, Wanita itu tiba-tiba merasakan mual yang luar biasa saat ini. Perlahan Ia mulai turun dari ranjang, dengan berlari kecil langsung masuk kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
Clara merasakan tubuhnya lemas, ia duduk di lantai dan bersandar di dinding.
Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Clara merasakan jika tubuhnya tidak ada lagi tenaga. Sedangkan Jhon yang mendengar keran air di kamar mandi hidup perlahan duduk dan pria itu baru sadar jika istrinya sudah tidak berada di sampingnya lagi.
"Clara, Sayang kamu di mana?" tanya Jhon sambil berjalan menuju ke kamar mandi karena melihat pintunya terbuka.
Sesampai kamar mandi Jhon begitu terkejut karena melihat Clara yang kini sedang terduduk di lantai kamar mandi.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Jhon begitu panik karena saat menyentuh sang istri ,suhu tubuhnya begitu panas.
Tanpa berpikir panjang Jhon langsung mengendong sang istri, ia mengantikan pakaian Clara. Setelah selesai pria itu membawanya ke mobil.
Jhon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi apalagi kini istrinya tubuhnya menggigil. Hanya butuh tiga puluh menit mobil yang dikemudikan Jhon sudah sampa di depa UGD.
Tanpa menunggu perawat, Jhon langsung mengendong sang istri dan dengan suara lantang memanggil dokter.
"Dokter, tolong istri saya!" seru Jhon.
Dua orang perawat langsung membantu Jhon untuk membaringkan tubuh Clara di atas brankar.
"Tuan silahkan menunggu di luar," kata seorang perawat.
Jhon dengan tubuh lemah keluar dan kini memarkirkan mobilnya lalu menuju ke depan UGD lagi. Pria itu mondar-mandir depan pintu. Entah kenapa Jhon begitu ragu untuk menghubungi mertuanya jika Clara sedang diperiksa di rumah sakit.
Setelah selama satu jam Jhon menunggu, pintu UGD terbuka seorang dokter perempuan keluar dengan tersenyum.
"Dengan keluarga Clara," kata Dokter itu.
"Iya, Dok. Saya suaminya," jawab Jhon.
"Tuan, Nona Clara harus di rawat. Selamat ya, Tuan. Nona Clara juga sedang hamil. Namun, lebih detailnya nanti diperiksakan ke dokter kandungan," ujar dokter itu begitu jelas di telinga Jhon.
Seorang perawat mengajak Jhon untuk mengurus administrasi untuk ruang rawat Clara. Setelah semua selesai akhirnya Clara dipindahkan ke ruang rawat.
Jhon kini merasakan jika perasaannya bercampur menjadi satu, ada rasa sedih saat melihat sang istri terbaring lemah tidak berdaya. Namun, rasa yang membuncah di dadanya karena sebentar lagi rumah tangganya akan memiliki keturunan.
Jhon duduk di samping brankar Clara, digemggamnya tangan Clara."Sayang, ayo bangun. Di perutmu sudah buah hati kita."
Perlahan Jhon merasakan pergerakan di tangannya, pria itu tersenyum sat melihat sang istri mengerjapkan matanya. Clara mencoba membuka matanya perlahan.
Wanita itu merasa heran karena hanya nuansa putih sedangkan kamarnya catnya biru. Ia merasa tangannya digenggam seseorang. Kini ada rasa lega karena tidak hanya sendiri ada suaminya yang sedang tersenyum menatapnya.
"Tuan," sapa Clara dengan lemah.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tunggu sebentar lagi dokter datang," ujar Jhon.
Clara hanya mengangguk karena masih merasakan kepalanya begitu pusing saat ini. Tidak berapa lama dokter dan dua orang perawat datang untuk memeriksa Kondisi Clara.
“Bagaimana, Dok?” tanya Jhon menanyakan akan kondisi istrinya.
“Baik, mual itu wajar terjadi dengan di kehamilan tri semester awal.”
Dokter langsung pergi dari ruang rawat Clara setelah menjelaskan semua kepada Jhon.
“Tuan, itu tadi katanya aku hamil?” tanya Clara dengan masih tidak percaya akan apa yang di katakan dokter itu.
“Iya, kita sebentar lagi akan menjadi orang tua,” ucap Jhon sambil mencium kening istrinya.
Clara begitu terharu, wanita itu sampai meneteskan air matanya.
Jhon tersenyum, jujur ia begitu bahagia diusapnya perut sang istri yang masih rata itu.
“Baik-baik anak Daddy ,” kata Jhon membuat Clara tersenyum tipis.
“Makasih sayang ini kabar yang begitu membahagiakan untuk kita,” ujar Jhon.
Clara tersenyum, ia juga begitu bersyukur karena masih diberi kepercayaan untuk bisa memiliki amanah.
“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Jhon.
“Nanti kalau ingin sesuatu jangan sungkan ya.” Jhon keluar dari kamar rawat karena akan mencari makan sebentar.
Saat akan berjalan ke arah restoran depan rumah sakit, Jhon melihat Aura masuk menuju rumah sakit.
Jhon jantungnya berdegup kencang entah kenapa begitu perasaan itu lain sekarang.
Namun, saat ini Jhon bernafas lega karena Aura masuk ke poli dokter kandungan.
"Aku pikir Aura tahu," kata Jhon lirih.
Namun, sialnya saat akan berjalan menuju mobilnya seseorang menghentikan langkahnya.
"Tuan Jhon." Suara yang tidak asing buat Jhon.
__ADS_1
Itu suara Leo, pria itu was-was dan membalikkan badannya." Leon?" tanya Jhon sudah terlihat tidak tenang.
"Tidak. Mana, Clara?" tanya Leon
Jhon seketika bingung untuk menjawabnya apa ia harus jujur jika Clara kini sedang dirawat. Namun, yang Jhon takutkan jika sang istri bertemu dengan Leon karena pria itu tahu jika Leon menyukai Clara.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Tuan Jhon. Kenapa terlihat gugup, hem!" kata Leon tegas.
"Clara hamil, " kata Jhon.
Leon terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi saat ini. Pria itu langsung keluar dari rumah sakit.
Jhon melihat Leon keluar dan tanpa mengatakan apa-apa membuatnya sakit hati.
" apa tidak senang akan kehamilan Clara," kata Jhon lirih.
Pria itu langsung menuju ke restaurant untuk membeli makanan untuk istrinya karena sedari tadi Clara belum makan apa-apa.
****
Di tempat parkir. Mobil berwarna abu-abu itu belum juga meninggalkan area parkir karena sekarang sedang begitu bingung dengan perasaannya sendiri. Ada rasa bahagia saat Jhon mengatakan jika Clara hamil, itu artinya Jhon benar-benar mencintai Clara. Namun, rasa egonya begitu tinggi hingga mengalahkan rasa harunya sedari tadi.
Leon kini mengemudikan mobilnya, ia berharap Clara dan anaknya akan baik-baik saja. Senyum tipis dan air mata yang mengalir di kedua pipinya menandakan jika Leon memendam sesuatu yang begitu besar. Sejak Clara memutuskan untuk menikah dengan Jhon dan memilih ikut suaminya.
Sejak saat itu juga pria itu tidak pernah lagi datang memikirkannya. Menyesal tentu ia yang kini dirasakan olehnya. Cinta Leon nyatanya masih sama.
Leon akan mencari tahu di mana kamar Clara, tapi kenapa Jhon hanya sendirian saja tadi, lalu Clara ke mana.
Digemggamnya ponsel untuk menghubungi Jhon. Namun, rasa egonya kembali mengalahkan semunya saat ini.
"Seandainya Clara dan Jhon tidak menikah, mungkin sekarang ia akan bisa memeluk wanita itu. Namun, jodoh Tuhan yang menentukan.
Leon tersenyum membayangkan Clara hamil anaknya, pasti akan begitu mirip Clara anaknya jika wanita.
"Clara, Aku kangen." kata Leon lirih.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, tadi tujuannya hanya ingin mengantar Aura cek up kandungan dan nanti akan menjemputnya lagi.
__ADS_1