PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Melepaskan rindu


__ADS_3

Kini Cia dan suaminya sudah berada di depan UGD, sedangkan Shinta masih bingung siapa yang sakit.


Saat dokter keluar dari ruang UGD, Arnold langsung menghampirinya." Bagaimana dengan kakak saya, Dokter?" 


Mendengar itu jantung Shinta berdebar, Arnold mengatakan kakak. Itu artinya Andreas yang berada di dalam sana.


"Pasien tidak apa, karena sudah waktunya saja." Dokter itu lalu pergi meninggalkan Arnold.


Shinta tiba-tiba menegang tangan Cia, tidak lama tubuh gadis itu luruh ke lantai. 


"Astaghfirullah, Shinta." Cia begitu terkejut karena tiba-tiba tubuh Shinta sudah tergeletak di lantai.


"Suster tolong!" teriak Arnold sambil menggendong Shinta.


Shinta segera di baringkan di atas brankar. Tidak lama pintu UGD terbuka." Ah, syukurlah kalian datang."


Andreas masuk setelah mendaftar wanita yang akan melahirkan, saat Andres akan menuju Bandara ia melihat mobil yang berhenti.


Seseorang membuka jendela dan minta tolong karena perutnya mulas. Di sinilah sekarang, Andreas rela ketinggalan pesawat karena menolong wanita yang mau melahirkan itu.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Arnold.


"Cih, kamu pikir aku akan meninggal dalam keadaan belum menikah." Andreas membalikkan badannya.


Matanya melebar,  melihat sosok yang tidak asing di depannya."Shinta, sayang kamu kenapa?"


"Sayang," kata Arnold dan Cia bersamaan.


Cia dan Arnold saling pandang, tapi merasa ada yang aneh pada kakaknya itu." Apa kalian sudah jadian?"


"Dokter, bagaimana dengan kekasih saya." Andreas langsung menghampiri dokter yang baru selesai memeriksa Shinta.


"Tenang saja, sebentar lagi pasti sadar." Dokter itu tersenyum dan pergi meninggalkan Andreas yang kini terlihat khawatir melihat Shinta yang belum sadarkan diri.


"Sayang, kenapa kamu sampai pingsan." Andreas mengecup tangan Shinta.


Seorang perawat menutup tirai, setelah itu Arnold dan Cia pamit karena mereka mengira terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Andreas menatap wajah Shinta yang belum sadar juga, hingga pria itu merasakan pergerakan ditangan yang digenggamnya.


Shinta mengerjapkan matanya, gadis itu merasakan kepalanya begitu pusing saat ini.


"Kak," kata Shinta dengan begitu lemah.


"Kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Andreas.


"Kakak tidak apa-apa, mana Cia dan suaminya?" tanya Shinta melihat sekelilingnya kosong.


Andreas menatap Shinta, dari dulu wanita itu lebih khawatir dengan orang lain daripada dirinya sendiri.


"Sayang, apa yang kamu rasakan. Apa perlu dirawat saja?"


"Tidak, aku pulang saja. Apa yang terjadi?" tanya Shinta.

__ADS_1


Andreas menjelaskan kepada kekasihnya itu, apa yang sebenarnya terjadi. 


Shinta menarik napas panjang, entah mengapa ia berpikir jika sudah terjadi sesuatu dengan Andreas.


"Kak, apa aku sudah boleh pulang?" tanya Shinta.


Andreas mengangguk, pria itu izin untuk melunasi administrasi.


Keduanya jalan beriringan, tapi tangan Andreas sama sekali tidak lepas dari tangan Sinta.


Ada rasa yang begitu mambuncah di hatinya, rasa yang tidak pernah ia rasakan selama ini.


Namun, saat dirinya menyerah. Ia bisa menggapai cintanya.


Saat sampai di mobil, Andreas membukakan pintu untuk Shinta. Wajah Shinta langsung merona.


Melihat itu wanita yang dicintainya itu salah tingkah, membuat pria itu begitu gemas 


"Kakak jadi kapan berangkatnya?" tanya Shinta.


"Besok, kamu langsung ke apartemen saja ya," kata Andreas


"Tapi kak, ini masih siang. Kasian Kak Cia sendirian." 


"Mereka juga sudah pulang, Arnold mana membiarkan istrinya untuk kerja sendiri."


Shinta hanya mengangguk, wanita itu kini menatap arah jendela. 


Mobil yang dikemudikan oleh Andreas sampai di apartemen milik Shinta.


Shinta terkejut karena Andreas ikut turun, tapi ada rasa senang dalam hatinya.


Shinta mempersilahkan Andreas masuk, tapi tiba-tiba pria itu memeluk pinggangnya.


"Kak."


"Aku merindukanmu," kata Andreas.


Shinta juga begitu merindukan, wanita itu membalik badan. Kini keduanya saling berhadapan. Andreas tidak melepaskan pelukannya dari pinggang Shinta.


Keduanya saling pandang, entah siapa dulu yang lebih dulu mencium. Keduanya sama-sama melepaskan rindu.


Ciuman yang tadi begitu lembut, semakin lama semakin menuntut. Shinta yang merasa pasokan oksigennya kian menipis. Shinta memukul dada Andreas.


Setelah melepas pagutannya, keduannya terengah-engah. 


Andreas mengusap bibir Shinta begitu menggodanya itu.


Andreas menarik tubuh kekasihnya dalam dekapannya. Hingga gadis itu langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Andreas.


Andreas tidak ingin sampai khilaf, pria itu langsung pamit dari pada nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.


Setelah Andreas keluar, Shinta tersenyum. Wanita itu menyentuh bibir. 

__ADS_1


Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Shinta merasa nyaman, tapi gadis cantik ini heran kepada Andreas. Kenapa pria itu tiba-tiba pulang.


Shinta hanya menarik napas panjang, rasanya tidak ingin ia jauh dari pria yang sudah membuatnya begitu bahagia itu.


Shinta tersenyum, ia segera berlari kecil ke kamar. Setelah itu ditatapnya bibinya yang agak sedikit membengkak itu.


Entah kenapa rasanya ingin kembali merasakan hangatnya bibir kekasihnya itu.


Merasa begitu lelah akhirnya Shinta lelap. Sedangkan di villa milik keluarga Arista. 


Andreas yang baru sampai,pria itu langsung masuk dan setelah itu merasa heran karena Auta dan ibu tidak tahu.


Andreas kembali lagi menceritakan kepada wanita yang sudah melahir dulu.


Maria ada rasa bangga dalam hatinya, putranya sudah mulai buka hati untuk wanita lain. 


Sebagai seorang ibu, tidak ada yang menginginkan hal ini. Andreas umurnya sudah matang untuk menikah. Apa lagi kedua adiknya sudah menikah semua.


Tinggal hanya putra sulungnya itu.


Maria jika anak-anaknya sudah menikah semua ada rasa lega jika waktu itu tiba.


Setidaknya ketiga anaknya sudah menikah semua, biar hidup hanya dengan istri dan anak-anaknya mereka nantinya.


Maria belum tahu, sikap putranya itu ada hubungan dengan cinta sekarang.


Wanita itu tahu jika Andreas hanya Sedang sendiri, Maria menata putranya itu begitu dalam.


Andreas begitu mirip dengan suaminya, yang berbeda hanya suaminya lebih pendek dari putranya itu.


Perpaduan antara Arnold dan Andreas begitu berbeda, walau tidak ada maksud membedakannya.


Bagi Maria anak-anak yang memiliki keunikan sendiri-sendiri, baik itu Arnold, Aura dan Andreas.


Namun, ada rasa bahagia di hati wanita paruh baya itu.


Leon begitu mencintai putrinya sekarang, walau menantunya itu begitu dingin kepada wanita. Namun , tidak kepada Aura.


Leon sering memanjakan Aura, dengan alasan karena istri yang sedang hamil.


Maria tidak bisa berkata apa-apa lagi, dari dulu ya mengenal Leon memang pendiam. Tetapi pria itu, begitu bertanggung jawab dalam pekerjaannya. 


Almarhum suaminya tidak salah pilih, perusahan yang  dipegang oleh Leon maju dengan pesat.


Bahkan keduanya untung dua kali lipat dari hasil kerjasama itu, Jika ada yang berbuat curang dengan keluarga Arista atau Setiawan. Arnold tidak bisa diam saja.


Tidak ada kata ampun bagi semua yang melakukan kecurangan dengan perusahaannya.


Mereka akan diproses sesuai hukum.


 

__ADS_1


__ADS_2