PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
menangkap basah suami


__ADS_3

Cia pergi meninggalkan adik iparnya. ia tidak boleh sedih saat ini, masih bisa hidup sampai sekarang saja wanita itu harus bersyukur. Takdir, Cia akan ikhlas akan takdir.


Setelah Cia sudah naik ke lantai dua, Aura baru menyadarinya. Wanita itu menatap Andreas yang kini hanya menatap jengah.


"Kak, aku nggak sengaja," ucap Aura.


Leon yang melihat istrinya itu merasa bersalah hanya mengusap bahunya. Sedangkan Maria sedari tadi diam.  


Terkadang ia tega melakukan hal ini kepada Velicia. Namun, bagaimanapun ia ingin memiliki cucu dari  Arnold. Bukan cucu adopsi.


Ditatapnya  Kedua anaknya." Andreas, kapan kamu menikah, Nak?"


Mendengar pertanyaan Mamanya , Andreas hanya tersenyum tipis. Pria itu tidak mengerti, ada masalah apa antara Mamanya dan Cia. Sejak seminggu ini Cia dan Mamanya seakan menjaga jarak .


Pria itu berharap itu hanya perasaannya  saja. Iya tidak ingin sesuatu terjadi dengan rumah tangga adiknya. Aku kirimin dulu menjadi masalah.


Ditatapnya Aura hanya diam saja sedari tadi, ia Tahu adiknya tuh ada rasa bersalah yang begitu besar kepada Cia. Namun, Andreas tahu. Iparnya itu tidak akan memasukkan dalam hati kata-kata Aura tadi.


Terdengar derap langkah menuruni tangga, Andre langsung melihat ke arah tangga. Dilihatnya dia sudah begitu rapi lalu ia bertanya,"Mau kemana?"


Cia hanya melempar senyuman kepada kakak iparnya itu, wanita itu menatap aurat dengan tersenyum manis. Iy


a tahu adik iparnya tuh merasa bersalah kepadanya.


"Kakak mau ke mana," tanya Aura.


"Aku mau bertemu dengan Clara sebentar,  sebelum dia pulang ke Berlin bersama suaminya." Cia menatap ke arah Leon.


Cia tahu jika kalian tuh begitu mencintai Clara selama ini, tetapi jodoh berkehendak lain. Apalagi sekarang Clara sudah menikah dengan Tuan Jhon.


"Apa aku antar," kata Andreas.


Cia menggelengkan kepalanya, wanita itu hanya ingin sendiri sekarang. Ia tidak ingin berpikir begitu dalam akan masalah dalam rumah tangganya. Jika ia dan Arnold jodoh hanya sampai di sini. Itu adalah takdir yang tidak bisa ditolaknya.


Wanita itu keluar dari Vila, ia sudah memesan taksi online. Rencananya akan bertemu di sebuah cafe, tidak jauh dari hotel tempat Clara dan suaminya menginap.


Hanya butuh waktu tiga puluh lima menit, Cia sudah sampai di depan kafe. Dari jauh ke arah melambaikan tangan ke arahnya. Dia melihat di samping Clara ada suaminya, wanita itu merasa lega Tuan Jhon begitu menyayangi istrinya.


"Apa kabar, Tuan Jhon?" tanya Cia.


"Baik Nona Arista," ucap Jhon datar. 

__ADS_1


Cia terkekeh mendengar suara dari pria di depannya itu, Clara yang dikenalnya begitu datar dan dingin. Wanita itu sekarang dibuat takjub oleh tingkah suaminya yang tidak beda dengannya.


Setelah Cia datang, Jhon segera pamit karena ia tahu istrinya akan membicarakan sesuatu yang penting dengan mantan bosnya itu.


Cara menatap mobil yang sudah menjauh dari kafe, duduk menghadap ke Cia.


"Apa ada yang akan ibu tanyakan?" Clara masih memanggil dia dengan sebutan ibu. 


"Kamu panggil namaku saja," pinta Cia.


Clara hanya tersenyum tipis, wanita itu sekarang menatap Cia dengan begitu intens.


Cia melihat sekeliling kafe." Apa kamu yakin jika Arnold dan Mama akan bertemu di sini dengan wanita itu, Clara?"


"Iya Nona," jawab Clara.


"Panggil namaku saja, jangan terlalu sungkan karena kamu bukan Karyawanku lagi."


Clara hanya mengangguk, tapi baginya Cia adalah malaikat untuknya saat ini.


Cia dan Clara sedang menunggu kedatangan Arnold dan mertuanya, tapi wanita itu melihat sosok yang tidak asing. 


"Meli," panggil Cia.


"Nona di sini juga?" tanya Veli begitu senang karena bisa berjumpa dengan sosok yang begitu berjasa dengan ibunya itu.


"Kamu mau bertemu dengan siapa atau kamu kerja di sini?" tanya Cia.


"Maaf, saya memutuskan menerima tawaran Majikan ibu saya, Nona."


"Tawaran untuk apa, Meli?" tanya Cia penasaran.


Meli menatap Cia dan wanita yang baru dilihatnya itu."Untuk menikah dengan putra majikan ibu saya, Nona."


Cia dan Clara saling pandang, tidak lama terdengar suara handphone berdering.


Melly yang merasa handphonenya berbunyi, gadis itu segera mengambil dari dalam tasnya.


Terdengar helaan nafas dari Meli, itu membuat dia dan Clara curiga."Kenapa tidak kamu angkat, Meli?"


"Apa Nona tahu, Sebenarnya saya tidak ingin menikah dengan anak majikan ibu saya itu. sekolah, Nona."

__ADS_1


Cia yang mendengar apa kata Meli merasa bersedih, wanita itu begitu iba melihat nasib Meli yang harus berkurban demi majikannya.


"Siapa nama majikanmu Itu Nona?" tanya Clara karena merasa begitu curiga.


Meli menatap Clara, gadis itu merasa heran karena wanita tidak dikenalnya itu menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi.


Cia yang melihat Meli seperti ragu untuk menjawab, wanita itu segera mengusap bahu gadis yang ditolongnya kemarin."Jangan takut Meli, hanya ingin tahu saja. Ya ini asistenku selama ini."


Melly mendengar apa yang  dikatakan Cia, menarik nafas panjang."Maria Setiawan Nona."


Mendengar jawaban itu, Cia merasa dadanya begitu sesak. Gadis yang kemarin ia pinta untuk menikah dengan suaminya. Kini diam-diam bertemu dengan mertuanya untuk membicarakan pernikahan Arnold dengan gadis yang sekarang duduk di depannya ini.


Cia menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa. Entah kenapa ia berpikir jika Ibu Meli masuk penjara kemarin hanya gertakan atau jebakan dari Maria.


Clara yang melihat Cia menundukkan kepalanya itu merasa iba, wanita itu kini menatap Meli dengan tatapan tajam.


"Apa kamu sebelummya sudah pernah bertemu dengan anak dari majikanmu itu?" Suara Clara terdengar begitu dingin saya menanyakan hal itu kepada Meli.


Meli terlihat begitu ketakutan, gadis itu menatap Cia yang sedang menunduk.


"Nona apa ada yang salah," kata Meli.


Mendengar apa kata gadis itu, Cia langsung tersenyum. Wanita itu tidak ingin terlihat lemah di depan calon adik madunya itu.


Mata Clara memicing saat melihat mobil yang tidak asing berhenti di depan kafe.


Mata Clara melebar, saat melihat siapa yang keluar dari mobil warna hitam itu.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, saat melihat Arnold,.Maria, Aura dan Leon.


"Meli apa orang itu." Tunjuk Clara.


"Ah, iya Nona. Saya pamit dulu untuk menemui mereka." Meli terlihat berjalan dengan begitu malas.


Tanpa sepengetahuan Meli, Clara menempelkan alat penyadap di tas Meli. Wanita itu langsung memeluk Cia yang sedari tadi menahan tangis.


"Clara apa yang sedang mereka bicarakan?"


"Nona sebaiknya kita jangan di sini." Clara melihat sekelilingnya.


Wanita itu akhirnya memesan ruang VIP. Kini baik Clara  dan Cia duduk saling berdampingan.  Tidak lama mantan asistennya itu mengotak-atik ponselnya.

__ADS_1


Kini baik Clara dan Meli terdengar sedang membicarakan Velicia."Nona apa kita bereskan Sekarang?"


__ADS_2