
Rumah sakit di Berlin, Velicia kini merasakan tubuhnya begitu sakit efek dari kemoterapi yang dilakukannya.
Tubuhnya mengirim dan terasa begitu perih kulitnya jika tersentuh. Wanita itu masih ingat agar jangan ada yang masuk dulu ke ruangannya karena ia tak ingin berefek buruk kepada yang lain.
Jack yang baru sampai langsung menuju ke rumah sakit bersama Selly istrinya.
Selly menutup mulutnya tidak percaya melihat Velicia yang sekarang, tanpa terasa air matanya menetes. Wanita itu hidup seorang diri, walau harta berlimpah. Namun, kondisi tubuh seperti itu begitu miris.
Jack mengusap bahu istrinya isak tangis dari sang istri membuatnya kian sedih.
Jack melihat tubuh adiknya menggigit dalam selimut, ingin rasanya ia memeluknya, tepi pintu ruang rawat dikunci untuk mencegah orang masuk.
Velicia menatap ke arah kaca, dilihatnya Selly menangis melihat dirinya, ia juga melihat Jack sudah mengeluarkan air matanya.
Hati Cia begitu sedih, bukan ini yang ia minta. Wanita itu kembali menutup tubuhnya dengan selimut sampai menutupi kepalanya.
Jack tahu adiknya tidak sukai kalau ada yang kasihan kepadanya apa lagi ia melihat istrinya menangis saat menatapnya.
Jack mengajak Selly untuk duduk di bangku tidak jauh dituangkan Velicia. Mama Maria masih menangis dikeluarkan Andreas. Wanita itu begitu sedih melihat kondisi Velicia.
Tidak ada yang berbicara, semua larut dalam pikiran masing-masih. Jack mengusap air matanya ia tak ingin terlihat lemah oleh istrinya.
Tuan besar yang dari ruangan dokter James kini duduk menghadap ke arah Jack.
Ia melihat wanita muda di samping pengusaha muda itu sudah yakin kalau itu wanita spesialnya.
"Jack kata Dokter itu enggak apa-apa, karena efek obat yang masuk dalam tubuhnya," ujar Tuan Besar.
Jack hanya mengangguk, ia bisa merasakan betapa sakitnya tubuh velica sekarang. Jack berdiri untuk melihat adiknya.
Velicia tersenyum saat melihat kakaknya melihatnya dari jendela kaca yang transparan.
Wanita itu menulis sesuatu di kertas warna putih setelah selesai ia menatap Jack dan memperlihatkan tulisannya 'aku baik-baik saja' Jack mengangguk, mata pria itu sudah berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, Selly melihat Velicia memperlihatkan tulisan ikut tersenyum walau air matanya tidak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya.
Istri Jack itu mengambil kertas yang berada di meja, tak lama ia meminjam kepada perawat spidol. Setelah selesai ua buru-buru melihat ke arah Velicia.
__ADS_1
Ia memperlihatkan tulisannya 'Buktikan jika kamu baik-baik saja, Cia'.
Velicia terkekeh, hanya itu mereka berkomunikasi sampai dokter nanti mengizinkan dirinya untuk pindah ke ruang rawatnya.
Setelah menunggu selama empat jam akhirnya Velicia dipindahkan ke ruang rawat, Jack dan selly setia menunggunya. Kini jack dan Selly keduanya duduk di samping tubuh Velicia yang terbaring lemah, wanita itu sudah tidak lagi merasakan sakit seperti setelah siap Kemoterapi tadi.
Selly menatap wajah pucat Velicia, walau umurnya lebih muda dari adik angkat suaminya itu, Tetapi Velicia begitu hormat dan menghargainya sebagai Kakak.
Entah kenapa rasa benci itu berubah menjadi iba saat melihat kenyataan yang ada di depannya. Wanita yang dulu cantik dan terlihat seksi kadang membuatnya iri. Kini tubuhnya terlihat kurus dan wajah pucat.
"Kak, maaf sudah merepotkan Jack, aku sudah menyuruhnya pulang," kata Velicia merasa bersalah.
"Hust, jangan banyak berpikir, sekring kamu harus semangat untuk sembuh, aku tidak masalah kalau ia merawatmu, yang membuat aku marah ia tidak pernah jujur!" kata Selly sambil menatap tajam kepada suaminya.
Jack hanya tersenyum, karena ia tahu salah. Velicia terkekeh saat melihat Kakak iparnya menatap tajam Jack.
Entah mengapa hatinya kembali sesak jika ingat bagaimana ia menjalani rumah tangga yang tidak pernah bahagia. Sampai sekarang ia tidak tahu kenapa Arnold begitu membencinya.
Jack yang melihat wajah adiknya murung, melihat ke arah istrinya. Selly yang tahu akan kode itu tersenyum dan mengangguk.
"Mau kemana, kak. Biar diantar Jack, "kata Velicia.
"Tidak, aku ingin cuci mata tanpa Tuan posesif," bisik Selly sambil tersenyum menatap adik iparnya itu.
Velicia matanya membola saat Selly mengatakan kalau Jack posesif selama ini, kini matanya menatap Jack dengan sinis.
Jack yang ditatap seperti itu hanya menaikan bahunya karena ia tidak tahu apa yang dibisikkan oleh istrinya.
Selly langsung keluar ia tidak mau lama-lama di dalam karena aroma obat yang begitu menyengat di ruang Velicia.
Setelah istrinya keluar, Jack pindah kini ia duduk di tepi ranjang milik Velicia. Jack menatap sendu adiknya itu. lalu berkata." Cia apa kamu ingat foto ini?"
Velicia menatap foto yang di dalam ponsel Jack, matanya menyipit dan berkata." Ini fotoku waktu itu bersama Arnold."
Jack tersenyum tipis, ia menarik napas panjang."Apa kamu yakin jika itu Arnold?"
__ADS_1
Velicia menatap jack sambil menaikan kedua alisnya, ia kembali menatap foto yang kini diberikan kepada Velicia.
"ini Arnold Jack," kata Velicia.
"Apa kamu yakin, coba lihat foto ini dan bandingkan!" kata Jack.
Velicia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata." Arnold itu buka anak kembar, tetapi ia memiliki seorang kakak, aku juga belum pernah bertemu, Jack."
Jack hanya mengangguk, lalu ia menatap ke arah foto itu. Saat ia perhatikan banyak perbedaan lalu matanya membola saat melihat tahi lalat yang berbeda di wajah Arnold dan Andreas.
Pria itu mengambil kedua ponselnya, ia mencoba mencari perbedaan dari wajah keduanya. wajahnya yang begitu mirip itu yang membuat adiknya sudah membedakan.
Velicia hanya tersenyum, dan berkata."Jack kamu kurang kerjakan, itu foto orang yang sama untuk apa kamu cari perbedaannya?"
"Cia aku dapat perbedaannya.."Jack memperlihatkan dua ponselnya ke adiknya lagi.
Velicia langsung tergelak menatap wajah sang Kakak, seorang pengusaha sukses di Ambon itu kini sedang bermain dengannya. Walaupun ia baru tiga kali pergi ke kediaman Jack sudah hafal betul kalau pria itu berbeda dengan Kakaknya.
"Apa yang kamu temukan Jack?" tanya Velicia.
Jack hanya menarik nafas dalam, coba kamu lihat ini tahi lalat ini!" kata JAck.
Velicia memperhatikan dengan seksama, tetapi saat ia sedang memperhatikannya Andreas dan Tuan Besar masuk ke dalam ruang rawatnya.
"Apa yang kamu rasakan, Nak?" tanya Tuan Besar.
"Sudah lebih baik, Pa." Velicia mencoba untuk duduk dibantu oleh Andreas.
"Nak, Papa harus pergi keluar kota, karena ada kerjaan," kata Tuan besar karena mendapat kabar dari asistennya kalau ada masalah dengan kerjasama bersama Jack.
"Papa pergi sendiri?" tanya Velicia.
"Tidak, nanti bersama sekretaris Papa," jawab Tuan Besar.
"Papa harus hati-hati, jangan terlambat makan ya. Ingat jangan sampai sakit!" pesan Velicia.
__ADS_1
Tuan besar air matanya hampir saja jatuh kalau ia tidak cepat mengusapnya, hatinya begitu menghangat saat ada yang mengingatkan. Tuan Besar pamit, tetapi langkahnya terhenti saat Velicia memanggilnya."Pa, Kakak Arnold di mana sekarang?"