PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
PERCERAIAN


__ADS_3

Pintu UGD terbuka, Dokter  keluar menatap dua orang pria yang diyakini  keluarga  dari pasien.


Tuan Besar  Setyawan  melihat itu beranjak  dari duduknya dan bertanya." Bagaimana  keadaan menantu saya, Dok?"


"Nona belum sadar, Taun. Harap tunggu hasil tes darahnya," kata Dokter.


Tuan besar dan Arnold masuk ke dalam ruangan untuk melihat Velicia. Pria paruh baya itu duduk di samping branker Velicia.


Velicia bermimpi, dia kembali ke momen hangat di mana kedua orang tuanya masih hidup. Seakan mereka sedang merayakan pesta ulang tahun untuknya, perlahan-lahan semua itu menjauh darinya.


Velicia terbangun karena kaget, dan melihat dirinya berbaring  di atas kasur rumah sakit dengan gaun yang sama, ia melihat di sampingnya berdiri Arnold yang dingin dan Tuan Besar Setyawan yang sangat khawatir.


"Apa yang kamu rasakan, apa masih pusing?" tanya Tuan Besar.


Velicia hanya mengangguk, matanya menatap wajah dingin itu tanpa merubah ekspresinya seakan dia tidak peduli dengan dirinya sekarang.


"Velicia, kamu jaga suamimu, dan kamu juga Arnold sudah Papa bilang jauhi wanita itu. Viona bukan wanita baik-baik tidak pantas untukmu!" seru Tuan besar menatap tajam ke anaknya.


"Maaf, Saya dan Arnold sudah bercerai," kata Velicia.


Tuan besar terdiam, walau dirinya tidak rela wanita itu berpisah dari anaknya dia berkata,"Velicia, kamu sama saja memberikan milikmu untuk orang lain."


Deg, hati Velicia merasa nyeri jika mengingat bagaimana rumah tangganya selama tiga tahun ini, bukan ini yang dia inginkan. Dia ingin memiliki keluarga yang utuh, suami yang mencintainya dan anak-anak yang begitu lucu. Namun, semua itu hanya angan semata.


Velicia merasakan tubuhnya lemah, seorang perawat dan dokter menghampirinya, "Nona ini hasil tes darah Anda."


Saat Tuan besar akan mengambil amplop itu, dengan cepat Velicia mengambilnya sambil mengatakan," Terimakasih , Sus."


Arnold dan Tuan Besar menatap wanita yang masih terbaring lemah itu, apa yang dilakukan Velicia itu tadi membuat kedua pria itu merasa ada yang disembunyikan oleh istrinya.


"Sus, apa saya boleh pulang?" tanya Velicia.


"Seharusnya Anda di rawat inap," jawab Suster itu.


"Tidak, saya akan istirahat saja di rumah," kata Velicia.


"Nanti saya bicarakan terlebih dahulu dengan dokter," jawab Suster itu langsung keluar.

__ADS_1


Velicia memejamkan matanya, walaupun ada dua orang yang menjaganya. Namun, dia merasakan hanya ada hening. 


Arnold sedari tadi menatap wanita yang kini sedang memejamkan matanya, pria itu berniat akan mengambil amplop yang berada di samping tubuh istrinya. Namun, saat dia akan mengambilnya Velicia membuka matanya.


"Ada apa?" tanya Velicia yang melihat tangan Arnold terulur ke arahnya.


"Ada nyamuk," jawab Arnold langsung merubah raut wajahnya dengan datar.


Velicia mengernyitkan keningnya, tapi dia tidak peduli. Sekarang dia harus menunggu sampai cairan infus itu habis. Tuan besar duduk di sisi ranjang. sedangkan Arnold masih setia dengan ekspresi datarnya.


"Apa kamu sering pingsan?" tanya Tuan besar.


"Tidak, ini hanya karena kelelahan saja," jawab Velicia sambil tersenyum.


Tuan besar hanya menganggukan kepalanya, tapi melihat wajah pucat ada agak merah seperti luka bakar. Namun, pria paruh baya itu enggan untuk bertanya.


Setelah satu jam cairan infus sudah habis, Velicia duduk di tepi brankar, saat ia akan turun Arnold mencegahnya. Mata keduanya beradu, tapi dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Mau kemana, Velicia?" tanya Tuan besar beranjak berdiri dari duduknya.


Velicia hanya menggelengkan kepalanya, Tuan besar keluar dari ruangan dan mencari suster karena infus milik mantan menantunya sudah habis.


"Tidak, saya akan istirahat di rumah saja," jawab Velicia.


"Baiklah, jika itu mau Anda," ucap suster itu.


Velicia turun  dan keluar dari ruang UGD, melihat itu Arnold mengikutinya dan bertanya," Mau kemana?"


Velicia menghentikan langkahnya, ia membalikan badannya. Kini keduanya saling berhadapan dengan wajah Arnold tetap terlihat dingin.


"Aku mau pulang," jawab Velicia.


"Aku antar,"  kata Arnold tegas.


"Tidak perlu, aku bawa mobil," tolak Velicia kemudian wanita itu berjalan menuju mobilnya.


Arnold merasa marah karena mantan istrinya itu menolaknya, dilihatnya tubuh Velicia yang kian menjauh sampai  wanita itu masuk mobil dan pergi meninggalkan area rumah sakit barulah Arnold pergi untuk menemui Viona.

__ADS_1


Velicia tahu kalau Arnold masih melihatnya saat mobil sampai keluar dari rumah sakit, ia tersenyum tipis kenapa setelah ia bercerai pria itu mulai perhatian dengannya.


Mobil yang dikemudikan Velicia melaju dengan kecepatan sedang, kini dia akan menuju ke rumah yang ia tempati dengan Arnold. Setelah tiga puluh menit dia sampai depan rumah yang terlihat besar itu.


Tanpa menunggu lama Velicia masuk dan langsung menuju ke kamarnya, ia begitu merasa gerah walau tubuhnya masih terasa lemah. Perlahan dia membuka pakaian dan masuk kamar mandi,  diisinya bathtub dengan air hangat tidak lupa dia memasukan aroma terapi.


Velicia ingin menenangkan dirinya, ia berendam sambil memejamkan matanya. Wanita itu merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya, saat dia membuka matanya perlahan tubuhnya membeku saat melihat air berubah warna merah.


Apa yang ditakutkan Velicia terjadi, kini dia mulai pendarahan karena kanker serviks yang ia derita. Ia mengosongkan air dan segera berdiri menuju shower untuk membersihkan badannya.


Velicia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan kimono, wanita itu mengambil ponselnya dia menghubungi pengacara keluarga Arista untuk datang nanti malam membawa berkas akte perceraiannya. 


*


Malam harinya, seperti apa yang diperintahkan Velicia pengacara datang membawa berkas, Romy memberikan akte perceraiannya dengan Arnold.


"Pak, urusan perusahan saya serahkan semua ke Arnold," kata Velicia.


"Apa Anda yakin, Nona?" tanya Romy menatap wanita yang kini tersenyum kepadanya.


"Iya , Pak. Saya yakin dan villa ini juga akan diserahkan kepada Arnold setelah  3 bulan kemudian," ujar Velicia.


Romy hanya diam, kemudian dia mentransfer uang sebelas miliar ke rekening Velicia, tapi dia begitu penasaran untuk apa uang sebanyak itu untuk clientnya. Namun, pria itu hanya bisa mengikutinya.


Setelah Romy keluar Velicia menyadarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia memejamkan matanya ini akhir dari pernikahanya bersama Arnold. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya.


Velicia berharap ini terakhir sia menangisi nasibnya di rumah ini, wanita itu masuk kamar dan melihat sekelilingnya, ia mulai membereskan barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan villa dan pulang ke rumah keluarga Arista.


Velicia menatap rumah yang sudah lama tidak ia tempat ini hanya ada asisten rumah tangga dan tukang kebun saja yang tinggal. Di rumah inilah banyak kenangan dengan kedua orangtuanya. 


Saat Velicia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga seakan-akan dia masih bisa merasakan kehangatan dari kedua orang tuanya, Hingga ia ketiduran di sofa dan bermimpi seakan dia bertemu dengan kedua orang tuanya.


Velicia menatap nanar foto keluarganya yang besar dipasang di dinding, senyumnya mengembang saat dia melihat foto Mamanya.


Velicia berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada, wanita itu membersihkan diri dan mencari gaun yang indah untuk dia kenakan, pada akhirnya dia keluar rumah dengan membawa kartu bank berisi sebelas miliar, dia ingin membeli seseorang untuk mencintainya hanya untuk 3 bulan saja.


"Ar, lihat saja aku akan mendapatkan  cinta dari pria lain!" Velicia  menatap wajahnya di depan cermin dengan senyum sinisnya

__ADS_1


Bersambung  ya 


__ADS_2