PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Viona kalah telak


__ADS_3

Pria itu dengan penuh kelembutan membantu sang istri untuk memakai baju, walau  begitu Cia masih begitu malu saat suaminya melihat tubuhnya yang sekarang.


Kini keduanya berjalan menuju ke ruang keluarga, Sedang asik santai tiba-tiba terdengar ada keributan di luar.


"Hati-hati, Sayang," kata Arnold  saat sang istri  tidak ingin dipegang tangannya.


"Ar, itu kenapa di luar ribut?" tanya Cia.


"Entahlah, biarkan saja ada pengawal," ujar  Arnold.


Arnold mengajak istrinya untuk duduk di ruang  keluarga, tidak lama anak buah Samuel masuk dan berkata." Tuan, ada wanita  ingin bertemu dengan Anda."


"Wanita?" tanya Cia.


"Iya Nona," jawab pengawal  itu.


Arnold menarik napas dalam, Disandarkannya kepalanya istrinya di dadanya.


"Aku pernah berhubungan dengan wanita manapun setelah putus dengan Viona," ujar Arnold.


Cia hanya diam, tidak lama terdengar suara langkah kaki.


"Dasar wanita murahan!"teriak  Viona  sambil menarik tangan Cia dari pelukan  Arnold.


Cia meringis menahan sakit karena tarikan Viona yang begitu kuat membuatnya jatuh, Arnold langsung membantu istrinya untuk duduk. 


Mata Arnold menatap tajam wanita yang kini sedang menangis menatapnya.


"Jadi karena ****** ini kamu putuskan hubungan  kita, Ar!"seru Viona.


"Jaga mulutmu Viona!" bentak  Arnold.


"Kamu bentak aku  hanya karena dia!" Viona menunjuk ke arah Cia.


"Orang yang kamu panggil dia itu Velicia  istriku," jawab Arnold dingin.


Dari lantai dua Leon dan Aura menuruni tangga dan bertanya."Ada apa ini?"


"Viona!" kata Aura terkejut.


Viona hanya mengangguk dan berkata." Ar, bukannya kamu dan ****** itu sudah bercerai."


"Viona … Viona … kamu ingat apa kataku dulu. Aku akan mengambil milikku!" seru Cia manatap wanita yang wajahnya sudah merah padam itu.


"Tidak! Arnold hanya milikku!" teriak Viona tidak terima.


"Cukup, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Viona." Arnold menatap  tajam Viona.


Viona menggelengkan kepalanya tidak percaya, bagaimanapun juga ia harus bisa merebut Arnold dari Velicia.

__ADS_1


"Ar, aku masih mencintaimu, kita akan menikahkan," kata Viona dengan penuh harap.


"Pulanglah!" usir Arnold.


"Kamu jahat, setelah apa yang kau punya semua untukmu,Ar. Bahkan kesucianku juga kamu rengut. Sekarang  apa dengan mudahnya kamu kembali kepadanya," kata Viona dengan derai air mata.


Cia mendengar  itu memejamkan matanya. Namun, apa ia akan kembali menyerah.


"Huff, kamu pikir aku bodoh. Sudah jelas waktu itu kamu sudah tidak suci lagi karena saat di luar negeri kamu sudah berubah dan saat aku menyentuhmu kamu sudah tidak suci lagi, camkan itu!" seru Arnold.


Leon yang melihat Cia hanya diam dan memejamkan matanya, segera memberikan kode kepada anak buahnya untuk membawa Viona keluar dari rumah Setyawan.


"Mari Nona," kata salah satu pengawal itu.


"Lepas!" seru Viona sambil menghempaskan tangan pria itu.


Pengawal itu akhirnya menarik Viona karena tidak bisa dibilang baik-baik, gadis itu meronta sambil berteriak."Aku pastikan kamu hanya milikku Ar."


Setelah semua sudah tenang dan Viona sudah diusir hanya ada keheningan.  Arnold hanya menatap istrinya yang kini hanya diam dan berkata."Kamu percaya kepadaku."


"Bukan hanya diucapkan, tapi buktikan Ar," kata Cia.


"Pasti sayang," ucap Arnold.


Seorang pelayan memberi tahu jika sarapan sudah siap, kini mereka sarapan bersama untuk pertama kalinya setelah meninggalnya Setyawan.


"Ada apa, Nak?" tanya Maria.


Leon mengeluarkan berkas dari tas kerjanya dan berkata."Selama ini Papa menitipkan ini kepada saya karena sekarang beliau sudah tiada saya kembalikan kepada keluarganya."


Arnold dan Andreas saling tatap, mereka baru tahu jika Papanya memiliki beberapa lahan kosong dan sudah ada sertifikatnya.


"Ini ada apartemen di Jakarta?" tanya Arnold.


"iya, rencana setelah Nona Cia sembuh beliau ingin membawa ke sana," ujar Leon.


Cia menatap Leon tidak percaya dan bertanya."Kenapa?"


Leon menarik napas dalam dan menceritakan karena saat Cia berada di Berlin Arnold mencarinya. Setyawan akan menyembunyikan Cia saat sehat nanti ke Jakarta.


Arnold menatap tajam ke arah orang kepercayaan papanya itu. Namun, Leon hanya tersenyum tipis ia tahu jika kakak iparnya itu marah padanya.


Velicia yang melihat itu tersenyum dan berkata."Itukan baru rencana."


"Mereka tidak tahu enam bulan aku cariin kamu, Sayang." kata Arnold menatap kelas kepada adik iparnya itu.


Aura mendengar kakaknya bicara enam bulan mencari Cia lalu berkata."Kakak nggak mikir apa, Kak Cia tiga tahun tidak dianggap."


Deg, Arnold langsung menatap sang istri merasa bersalah. Melihat suaminya yang menatapnya sendu Cia tersenyum.

__ADS_1


"Semua itu butuh proses," kata Cia.


"Terimakasih," kata Arnold memeluk istrinya.


Andreas melihat kemesraan gadis kecilnya langsung memalingkan mukanya, pria itu menarik napas untuk menghilangkan sesak di dadanya.


"Move on!"seru Aura yang langsung ditatap tajam oleh Andreas.


Melihat mata sang kakak yang akan mau keluar Aura sembunyi di balik punggung suaminya. Leon hanya tersenyum mengusap punggung tangan istrinya.


Maria melihat itu tersenyum, entah mengapa wanita paruh baya itu berharap jika putra sulungnya menikah dengan Shinta karena wanita itu baik selama ini.


Walaupun hatinya terpukul atas meninggalnya mantan suaminya Maria harus terlihat tegar di depan anak-anaknya. Ia ingat jika Andreas, Cia dan Arnold pulih berjanji akan rujuk walau umur sudah tidak muda lagi. Namun, manusia hanya bisa berencana dan Sang pencipta yang menentukan.


"Mama jangan melamun," kata Aura sambil memeluk wanita yang disayanginya itu.


"Mama hanya senang kalian sudah berpasangan, tapi itu kapan?" tanya Maria sambil menatap Andreas.


Andreas hanya mendengus karena lagi -lagi ia yang akan disudutkan kapan menikah. Pria itu beranjak dari duduknya. Ia keluar untuk mencari udara segar karena makin lama di dalam melihat Arnold bermanja dengan Cia dadanya kian sesak.


Saat keluar dilihatnya mobil warna hitam masuk , mata menyipit saat melihat  Shinta keluar dari mobil dan tersenyum menatap pria yang sampai sekarang masih dicintainya itu.


"Mau kemana, Kak?" tanya Shinta yang kini berdiri di depan Andreas.


Andreas tidak menjawab, tapi ditariknya tangan Shinta menuju ke mobil gadis itu dan berkata."Masuk." 


Shinta mencibir Andreas karena sudah membukakan pintu untuknya. Andreas hanya tersenyum saat melihat Shinta kesal dan bertanya." Mana kunci?"


"Kak aku mau ketemu Aura," kata Shinta karena ia tidak ingin pergi bersama Andreas lama-lama jantungnya lepas jika ia paksakan.


"Kunci," kata Andreas sambil mengulurkan tangannya.


"Kak!"seru Shinta.


Andreas menatap tajam kepada gadis di sampingnya itu dan berkata."Aura pengantin baru biar sama lakinya."


"Asal kakak tahu kami sudah janjian mau pergi, "ujar Shinta.


Andras yang belum mendapat kunci mobil Shinta mencoba mencarinya di tas Shinta membuat gadis itu memukul tangannya.


"Kak!"teriak Shinta tidak suka.


"Kasih kuncinya nggak!" hardik Andras.


Shinta hanya menarik napas kasar dan berkata."Kakak hanya bisa mengganggu aku kencan saja."


Andreas terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan gadis yang hari-hari bersamanya itu. Saat Shinta akan keluar mobil Andras langsung bertanya." kencan sama siapa?"


bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2