
Andreas menggelengkan kepalanya, ia merasa dibodohi karena setahunya Cia sudah berpisah dengan Adiknya makanya ia berani melamarnya.
"Tuan!" teriak Leon saat tiba-tiba Setyawan jatuh ke lantai tidak sadarkan diri.
"Papa!" teriak Aura, Arnold bersamaan.
Leon langsung mengangkat tubuh mertuanya dibantu anak buahnya, pria paruh baya itu di baringkan di sofa. Dokter dan perawat yang diminta Leon untuk beberapa hari di markas langsung memberikan pertolongan pertama kepada Tuan besar.
Dokter menatap Leon dan berkata."Kita harus bawa ke rumah sakit."
Aura yang sudah menangis karena Papanya dinyatakan kritis, gadis itu begitu kecewa karena ia yakin karena ini ulah Kakaknya Andreas.
Tuan Besar Setyawan dipindahkan ke ambulan, Aura, Leon dan Andreas ikut ke rumah sakit. Tadinya Arnold mau ikut ke rumah sakit. Namun, Maria tidak ingin Cia nantinya ditemani oleh Anderas.
Suara sirine ambulan menggema lambat-lambat mulai hilang suaranya, Arnold mengajak Mamanya masuk.
"Mama istirahatlah," kata Arnold kepada Maria.
Maria menatap putranya dan berkata." Bahagikan Cia, Nak."
"Pasti Mam, jangan khawatir." Arnold memeluk Mamanya erat.
Maria tersenyum, wanita itu masuk kamarnya untuk istirahat karena malam kian larut.
Arnold perlahan memutar handle pintu dan membukanya. Cia yang mendengar pintu terbuka tersenyum menyambut suaminya
"Kenapa belum tidur, hem," kata Arnold lembut sambil mengusap pipi istrinya.
"Aku takut kalau Papa kenapa-napa, Ar." Cia memeluk tubuh kekar suaminya.
Arnold menarik napas dalam, ia tahu ini karena Andreas. Ia tidak menyangka jika pria itu melamar istrinya di depan semuanya.
"Kalau saja aku katakan kepada semuanya jika kita belum bercerai mungkin tidak akan terjadi seperti ini." Arnold menunduk menyesali akan sikapnya.
"Sayang, ini bukan salahnya. Jika waktu itu aku tahu kita belum bercerai pasti aku akan memaksanya untuk tanda tangan," ujar Cia.
"Karena itu aku merahasiakan semuanya," kata Arnold sambil mencium kening istrinya.
Cia tersenyum, mungkin tiga tahun yang lalu itu hanya mimpi. tapi kali ini adalah asli kebahagiaannya untuk Cia dan Arnold. Tidak lama ponsel Arnold berdering, pria itu menatap istrinya dan berkata." Leon."
__ADS_1
Cia meminta suaminya untuk mengangkat teleponnya, tapi Arnold ada rasa takut sesuatu terjadi kepada Papanya.
"Ar. angkat." kata Cia.
Arnold mengangkat teleponnya walau hatinya begitu ragu.
"Halo," kata Arnold mencoba menekan kata hatinya.
"Tuan, Tuan besar ingin berbicara dengan Anda," kata Leon dari seberang sana.
"Sayang aku akan ke rumah sakit, apa kamu mau istirahat bersama Mama?" tanya Arnold.
"Aku di sini saja, pergilah hati-hati ya," kata Cia memberikan kecupan hangat pada bibir pria yang kini hatinya sepenuhnya sudah menjadi miliknya.
Arnold keluar dari markas dan langsung masuk mobil bersama Samuel, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota Ternate. Tidak ada percakapan diantar Arnold dan Samuel.
Mobil sampai di rumah sakit kedua pria berbadan tegap itu berjalan terburu-buru melewati lorong rumah sakit untuk sampai di ruang ICU.
Arnold melihat sang adik menangis dipelukan suaminya, ada rasa sesak dalam dadanya. Andreas kini menundukan kepalanya. Pria itu mengangkat kepalanya saat adiknya datang, Mereka semua berdiri dan masuk ruang ICU untuk melihat kondisi Tuan Besar Setyawan.
Pintu terbuka melihat Papanya terbaring lemah Arnold langsung meraih tangannya, walau dalam keadaan lemah pria paruh baya itu mencoba untuk kuat di depan anak dan menantunya.
"Pasti Pa," jawab Arnold.
Tuan besar menatap putri bungsunya itu sambil tersenyum dan berkata."Aura, suamimu itu sebagai pengganti papa yang harus kamu dengar dan patuhi."
"Iya Pa, "jawab Aura.
"Leon tolong jaga putri Papa dan kamu Andreas jangan minta lebih dari Arnold. Cia itu istri adikmu jangan minta kepadanya untuk melepaskan cintanya."
"Maaf," jawab Andreas.
"Papa harap kalian akan saling jaga, nanti Leon dan Aura yang akan memegang perusahan Setyawan, sedangkan Arnold masih memegang Grup Arista."
"Iya Pa," jawab Aura dan Arnold bersamaan.
"Andras kamu anak kebanggaan Papa, untuk kamu papa sudah buka sekolah pianis yang akan kamu kelola nantinya.
Andreas hanya mengangguk, tidak lama suara napas berat terdengar dan suara monitor menadahkan jika pria paruh baya itu sudah tiada. Dokter yang berada di dalam untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi langsung bertindak.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Arnold.
"Tuan Setyawan sudah tidak ada, Tuan."
"Papa …." teriak Aura langsung memeluk tubuh papanya yang sudah tidak bernyawa lagi itu.
Leon memeluk istrinya dari belakang. Pria itu begitu kehilangan sosok yang sudah begitu banyak membantunya hingga ia bisa di posisi sekarang ini.
Arnold menatap wajah pucat Papanya, rasanya ia tidak percaya. Pria yang begitu tegas kini terbujur kaku di depannya.
Andreas menundukkan kepalanya, ia yakin adik-adiknya akan menyalahkan dirinya.
Arnold berjalan menghampiri kakaknya, keduanya saling tatap. Kemudian berpelukan untuk saling menguatkan.
Leon meminta Samuel untuk mengurus semuanya. Pria itu dengan cepat mengarahkan anak buahnya untuk mengurus pemakaman besok dan sebagian menjemput ke markas.
Satu jam kemudian jenazah Setyawan sudah dimasukkan di mobil jenazah.
Anderas dan Arnold ikut dalam mobil jenazah, sedangkan Leon dan istrinya naik mobilnya sendiri. Di kediaman sudah penuh dari tetangga dan kerabat Tuan besar Setyawan. Tidak lama mobil ambulan datang.
Maria sedari tadi menangis saat tahu jika mantan suaminya sudah lebih dulu mendahuluinya. Cia yang bersama Clara kini duduk tidak jauh dari jenazah mertuanya itu.
Arnold memeluk istrinya dan menyadarkan kepala Cia ke dadanya, "Kenapa bisa?"
Arnold hanya menggelengkan kepalanya walau ia sadar hidup dan mati itu milik yang Sang Pencipta. Andreas datang dan langsung bersujud di kaki Maria.
Tangis Maria kian pecah karena ia tahu jika ini bukan salah dari putranya, tapi awalnya karena rasa terkejut jika putra sulungnya melamar adik iparnya sendiri yang masih berstatus istri Arnold.
Andai waktu dapat diulang, ingin rasanya Maria memberi tahu ke semua orang jika Arnold dan Cia belum bercerai mungkin saja suaminya masih hidup dan sedang berkumpul bersama anak-anaknya.
Penyesalan seberat apapun yang dirasakan Andreas tidak akan mengubah takdir yang sudah digariskan kepada hamba-hambanya.
Hidup mati sudah ada jalannya masing-masing, karena itu kita diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Sang pencipta, Maria melihat Aura yang begitu terlihat terpukul atas kepergian papanya.
"Aura!" seru Leon.
Aura pingsan hal itu membuat Leon begitu panik, hingga matanya bertemu sosok yang duku berlabuh di hatinya, ya itu Clara.
Leon kembali fokus menatap istrinya, ia mengoleskan minyak ke hidung istrinya berharap agar cepat sadar
__ADS_1