PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Ancaman Viona


__ADS_3

Pintu ruang rawat terbuka, dokter James menatap dengan tatapan sendu, melihat itu Jack langsung bertanya," Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"


"Untuk sementara saya kasih obat tidur, tadi sudah sadar. Namun, ia terlihat begitu terguncang. Kalau bisa jauhkan dari berita yang membuatnya banyak pikiran," jelas dokter James.


Jack mengangguk tanda mengerti, pria itu kini duduk dan berkata."Aura sebaiknya bawa Mama pulang!"


Aura yang melihat wajah Mamanya terlihat lelah, gadis itu menghampirinya dan berkata."Mam, kita istirahat di rumah ya."


Maria beranjak dari kursi tunggunya, ia melangkah menuju ruang rawat Velicia. Digenggamnya tangan menantunya itu dan berkata."Mama enggak peduli siapa yang kamu cintai, Nak. Namun, kamu akan tetap menjadi putri Mama selamanya."


Selly masuk dan mengusap bahu wanita paruh baya itu, air matanya menetes mengetahui apa yang terjadi. Diajaknya Mama Maria untuk keluar dari ruang rawat adik iparnya itu.


"Nanti kalau ada apa-apa, pasti akan mengabari Mama," kata Selly.


"Titip anak Mama," kata Maria sambil berjalan melewati lorong rumah sakit bersama putri bungsunya.


Andreas masih tak bergeming dari duduknya, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Masalah semakin rumit, ia tidak tahu apa gadis kecilnya itu masih mau menemuinya jika tahu kalau ia pria yang dicintainya.


Jack dan Selly saling pandang, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Andreas. Tatapan pria itu terlihat begitu kosong.


"Dre, sebaiknya kamu istirahat, biar aku dan istriku yang menungguinya," ujar Jack.


"Tidak, aku tidak ingin ia akan semakin membenci Arnold. Walau adikku sudah beberapa kali menyakiti hatinya," jelas Andreas.


Selly mengusap bahu suaminya sambil menggelengkan, wanita itu seakan memberikan kode jangan memaksanya. Ia yakin kalau Andreas juga masih shock dengan apa yang baru ia ketahui.


Jack mengajak istrinya untuk istirahat di ruang rawat Velicia. ia juga begitu lelah ingin membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di sudut ruangan itu. Selly sesekali menguap karena rasa kantuk yang menderanya. 


Andreas masuk ruangan, ia melihat sepasang suami istri itu sedang terlelap hanya tersenyum. Diambilnya kursi dan ia duduk di samping ranjang di mana tubuh wanita itu sedang terbaring lemah.


Andreas menatap wajah pucat itu, diusapnya pipi yang semakin tirus. Banyak pertanyaan yang hadir dalam benaknya. Apa sampai sekarang Velicia masih begitu mencintainya. Ini takdir, apa adiknya itu lebih dari darinya. Hingga Tuhan lebih memilihkan gadis kecilnya dengan adik dinginnya itu.

__ADS_1


Andreas, menatap intens mata yang masih setia memejamkan matanya itu, ia genggam tangan yang masih ada jarum infusnya, tak lama pria itu menjatuhkan kepalanya di ranjang dekat dengan Velicia. Andreas terlelap dengan tangan tidak lepas dari tangan gadis kecilnya itu.


****


Di Indonesia, setelah perjalanan panjang yang ditempuh Tuan Besar Setyawan sampai di Bandara Sultan Babullah. Pria paruh baya itu terlihat begitu lelah terlihat dari raut wajahnya.


Pria itu keluar sudah disambut asistennya, lalu keduanya langsung masuk mobil. Pria seusia Arnold itu yang kini mengemudikan dengan kecepatan sedang.


"Tuan apa ke dokter dulu, wajah Anda terlihat pucat," ujar Leon.


"Tidak. Langsung pulang saja!" tolak Tuan Besar Setyawan.


Leon hanya mengangguk, pria berwajah datar itu kembali fokus untuk mengemudikan mobilnya. Walaupun tidak jarang melihat  Tuannya dari spion.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit mobil sampai di kediaman Tuan Besar Setyawan. Pria itu keluar dari mobil dan menuju ke pintu utama.


Sesampainya  di depan pintu villa, Tuan besar membalikan  badannya.  Pria itu menatap mobil yang terparkir di sebelah mobilnya.


"Tidak Tuan," jawab Leon.


Pria paruh baya itu masuk, saat sampai ruang keluarga  matanya  melebar  melihat  siapa yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Leon!"seru Tuan Besar Setyawan. 


Leon yang mengerti apa perintah  dari Tuannya, langsung  meminta anak buahnya  untuk mengusir Wanita  yang kini terlihat  shock  akan kedatangan  calon mertuanya.


Sebelum  anak buah Leon datang Wanita itu langsung  beranjak  dari duduknya dan menyapa Tuan Besar Setyawan."Apa kabar Tuan?"


Tuan Setyawan  tidak menjawab, pria itu menatap tajam ke arah wanita yang begitu berani  masuk ke rumahnya.


"Besar juga nyalimu untuk datang ke sini!"hardik Tuan Besar Setyawan dengan sinis.

__ADS_1


"Apa salah kalau saya datang ke rumah tunangan saya, "jawab Viona sambil tersenyum  melihat  calon mertuanya  itu.


"Mimpi kamu, sampai  kapanpun saya tidak akan merestui hubungan  kalian!"bentak Tuan besar Setyawan.


Viona merasa tersinggung, ia mendekatkan jarak dengan  Tuan Besar dan berkata."Anda atau tidak Arnold tidak akan peduli."


Tuan besar mengepalkan kedua tangannya, ia begitu muak atas apa yang dikatakan  Viona kepadanya. Pria itu menatap dengan penuh kebencian, karena ia tahu kalau wanita di depannya ini hanya mencintai harta  saja.


"Pergi!" usir Tuan besar kepada Viona.


Viona hanya tersenyum meremehkan pria paruh baya di depannya, dan berkata, "Saya akan pergi jika kekayaan Anda sudah berpindah atas nama  saya, Tuan!"


Tuan besar Setyawan begitu terkejut, wajahnya begitu merah menahan amarah. Wanita di depan kini begitu licik. Tiba-tiba tubuhnya huyung ke samping melihat itu Leon langsung memapahnya untuk  membawa ke kamar dan meminta anak buahnya untuk menyeret keluar Viona.


Setelah memberikan obat dan membantu Tuan besar untuk berbaring, Leon mendengar keributan di luar. Pria itu pamit sebentar dan menutup pintu kamar Bosnya itu.


Leon berjalan ke arah ruang tamu, anak buahnya sedang berdebat karena Viona tidak mau keluar baik-baik.


"Seret saja kalau tidak mau!" titah Leon terdengar dingin, rahangnya mengeras dan tatapannya bak pisau seakan siap mencabik tubuh Viona. Wanita itu bergidik ngeri, baru kali ini ia melihat sosok yang begitu di kagumi kaum hawa kalau asisten dari grup Setyawan begitu tampan, tapi saat ini begitu mengerikan seakan siap mencabut nyawanya.


Viona langsung berlari ke luar menuju mobilnya sebelum ia di cabik-cabik pria arogan yang baru dilihatnya hari ini.


Setelah kepergian Viona, Leon meminta anak buahnya untuk berjaga di gerbang karena khawatir wanita gila itu akan datang lagi.


Leon membalikan badan, dan berjalan menuju ke arah kamar Tuan besar. Pria itu membuka pintu perlahan. Matanya melebar saat melihat Tuan besar sudah terlangkup di  lantai.


"Tuan," pekik Leon dan langsung menghampirinya.


Perlahan ia memegang denyut nadi Tuan besar, pria itu menarik napas lega. Saat ia akan berdiri untuk memanggil anak buahnya untuk memindahkan Tuan besar ke ranjang. Tuan besar membuka matanya sambil memegang dadanya. 


"Tuan, bertahanlah!" kata Leon terlihat panik.

__ADS_1


Bersambung ya jangan lupa sambil menunggu pernikahan aliansi up, bisa baca karya saya yang lainnya.


__ADS_2