
Andreas hanya tersenyum, ia sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada keluarganya saat makan malam nanti.
"Papa jadi curiga? Siapa gadis itu?" tanya Tuan Setyawan.
Andreas tergelak, ia sebenarnya tidak sabar untuk menunggu malam ini apalagi saat kalau bisa langsung menikahinya.
"Papa aku tinggal dulu ya," pamit Andreas membuat Setyawan tersenyum bahagia.
Setelah pintu tertutup Pria itu mulai terlihat sendu karena ia sekarang memikirkan putrinya. Walau Leon sudah bertanggung jawab. Namun, jika sampai putrinya itu hamil bagaimana nantinya.
Dipejamkannya matanya, ada rasa sesak dalam dadanya, tidak lama pintu diketuk oleh seseorang. Tidak lama pintu terbuka muncul Leon dan Arnold.
"Apa kita perlu ke rumah sakit Pa?" tanya Arnold.
"Tidak, Papa hanya istirahat saja nanti juga akan baikan," ujar Setyawan.
Leon hanya diam saja, pria itu akan pamit karena pekerjakan banyak saat ini di kantor. Namun, entah kenapa ia segan untuk mengatakannya.
"Tuan, saya mau izin ke kantor," kata Leon.
"Kamu harusnya memanggil Papa juga karena kamu menantuku sekarang," kata Tuan besar.
Leon hanya menangguk, Sedangkan Arnold menatap Pria yang sekarang terlihat lemah itu."Papa kenapa bisa sampai drop?"
"Papa sudah tua. O ... iya nanti saat makan malam Anderas akan membawa kekasihnya," ujar Tuan besar.
"Benarkah?" tanya Arnold.
"Iya, akhirnya anak itu mendapatkan tambatan hatinya. Paling tidak jika Papa pergi kalian sudah memiliki pasangan. Kamu Arnold, apa tidak bisa membujuk Cia untuk rujuk, hem?" tanya Tuan Besar.
"Untuk apa rujuk, Pa. Kami tidak pernah cerai," jawab Arnold.
Tuan besar mengernyitkan keningnya dan bertanya."Maksudnya apa?"
"Kami tidak cerai karena Arnold tidak pernah tanda tangan," jawab Arnold santai padahal dalam hatinya takut kalau Papanya akan Shock.
Tuan Besar menghela napas panjang dan berkata."Dasar anak nakal," kata Tuan besar.
Arnold menarik napas dalam, ia juga bingung karena keluarganya yang tahu hanya Papa dan Mamanya saja. Ditatapnya Leon yang sedang serius dengan ponselnya.
__ADS_1
"Leon, sampai kapan kita di sini?" tanya Arnold.
"Dari laporan Erik, Johnson hari ini akan sampai ke Jakarta, mereka tidak tahu di mana keberadaan Aura." Leon membaca pesan dari Erik.
"Kenapa mereka mencarimu, Nak?" tanya Setyawan.
Leon hanya tersenyum dan menjawab."Hanya salah paham saja."
"Syukurlah, tapi kalau hanya salah paham kenapa kamu sembunyikan kami?" tanya Tuan besar.
Arnold dan Leon saling pandang. Melihat itu membuat pria paruh baya itu merasa heran karena yang ia tahu Arnold dan Leon begitu tidak suka. Namun, kenapa kali ini terlihat begitu kompak.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari Papa?" tanya Tuan Besar.
"Tidak ada, Aku mau lihat Cia, Pa."Arnold pamit sedangkan Leon masih duduk di samping pria yang kini menjadi mertuanya itu.
"Tuan," kata Leon.
Setyawan terkekeh mendengarnya, pria itu mencoba untuk duduk. Melihat itu Leon membantunya.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi, siapa pria itu?" tanya Setyawan.
"Ini bukan masalah kecil, sebaiknya kamu hubungi seseorang untuk meminta bantuan," kata Tuan Besar.
Leon terdiam, ia sadar jika John buka lawan sembarangan, kematian pria bercodet itu membuatnya murka. Namun, Leon tidak menyesali apa yang ia lakukan saat itu karena buka ia dan anak buahnya yang membunuh pria itu memilih mengakhiri sendiri hidupnya.
"Apa rencanamu?" tanya Tuan Besar.
"Selama dua minggu ini sebaiknya Tuan dan lainnya di sini dulu, urusan kantor biar saya handle dengan Nona Aura." Leon menatap mertuanya itu.
"Baiklah , aku setuju. Namun, ingat Aura dalam perlindunganmu!" kata Tuan besar tegas.
Leon mengambil jas dan kemeja untuk bosnya karena sekarang sudah pukul tujuh malam, sesuai rencana malam ini akan ada makan malam untuk merayakan pernikahan Leon dan Aura.
Leon berjalan beriringan dengan Tuan besar melihat itu Aura tersenyum, ia berharap kebahagiaan ini akan terus menyertai keluarganya.
Maria duduk di samping kursi mantan suaminya, sedangkan Aura dan Cia duduk bersebelahan. Arnold duduk tidak jauh dari sang istri karena mejanya terpisah. Andreas duduk tepat di depan Cia. Pria itu terlihat begitu bahagia malam ini. Tatapannya tidak pernah lepas dari gadis kecilnya yang begitu terlihat cantik.
Acara makan-makan pun dimulai, Tuan besar begitu senang karena anak dan kedua menantunya bisa berkumpul tidak lama Jack dan istrinya juga datang karena undangan Arnold.
__ADS_1
Andreas berdiri dari duduknya dan berkata."Maaf semuanya saya minta perhatiannya sebentar. Ini mungkin tidak penting untuk semuanya. Namun, ini begitu penting untukku."
Semua orang kini menatap Andreas, Maria entah kenapa perasaannya tidak enak. Filing seorang ibu yakin akan ada sesuatu yang terjadi.
"Saya mau semua yang ada di sini akan menjadi saksi," kata Andreas.
Tuan Besar Setyawan tersenyum lebar karena sedari tadi ini yang di tunggu-tunggunya, Dilihatnya Andreas berjalan ke arah Cia dan meminta wanita itu untuk berdiri.
Tuan besar memegang dadanya, melihat itu Leon berdiri dan memberikan obat kepada mertuanya.
"Saya rasa semua mengenalnya, seorang putri dari keluarga Arista, Velicia wanita yang mandiri dan tegas." Andreas memberikan pujian kepada gadis kecilnya itu.
Velicia hanya tersenyum, entah kenapa perasaannya tidak enak. Ditatapnya suaminya yang tersenyum menatapnya.
"Cia, mungkin akan mengejutkanmu. Di depan keluargaku dan kakakmu. Aku ingin menjadikanmu istriku dan akan berjanji untuk membahagiakanmu." Andreas berlutut dengan tangan terulur memegang kotak perhiasan, "jika kamu terima ambillah cincinnya. Namun, jika kamu tolak silahkan tutup kotaknya."
Arnold langsung berdiri kedua tangannya mengepal. Matanya menatap tajam Andreas yang masih berlutut di depan istrinya. Maria meneteskan air matanya, wanita itu beranjak dari duduknya.
Tamparan keras mendarat di pipi sebelah kanan Andreas membuat tubuh pria itu limbung ke kiri. Cia menutup mulutnya air matanya menetes membasahi pipinya. Maria menatap tajam putra sulungnya.
"Apa-apaan kamu ini Andres, mana pantas kamu melamar adik iparmu sendiri, hah!"teriak Maria karena begitu kesal, malu menjadi satu saat ini.
"Mam, Arnold dan Cia sudah bercerai," ujar Andreas.
"Kami tidak pernah bercerai dan itu akan terjadi sampai kami mati," sahut Arnold menarik istrinya dalam pelukannya.
"Apa maksudmu!" kata Andreas langsung berdiri.
"Kami tidak pernah bercerai, Kak." Arnold menatap Kakaknya tajam.
Andreas menggelengkan kepalanya, ia merasa dibodohi karena setahunya Cia sudah berpisah dengan adiknya makanya ia berani melamarnya.
"Tuan!" teriak Leon saat tiba-tiba Setyawan jatuh ke lantai tidak sadarkan diri.
"Papa!" teriak Aura, Arnold bersamaan.
Leon langsung mengangkat tubuh mertuanya dibantu anak buahnya, pria paruh baya itu di baringkan di sofa. Dokter dan perawat yang diminta Leon untuk beberapa hari di markas langsung memberikan pertolongan pertama kepada Tuan besar.
Bersambung ya...
__ADS_1