PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Kedatangan Leon


__ADS_3

Velicia mengerutkan keningnya merasa heran dengan sikap Aura saat ini, entah kenapa ekspresi gadis itu terlihat dibuat-buat.


"Aura!" pekik Cia karena gadis itu suaranya begitu berisik.


"Eh, iya ada apa?" tanya Aura yang terkejut atas teriakan Velicia.


Velicia hanya mendengus dan berkata."Aku bermimpi, ada cahaya putih. Namun, semakin lama cahaya itu membawa Arnold kian menjauh!"


Mendengar apa yang dikatakan Cia Aura langsung keluar dari kamar rawat mantan Kakak iparnya itu. Gadis itu berlari ke arah taman. Tangisnya langsung pecah, setelah agak tenang ia menghubungi Mamanya. Namun Sayang, tidak angkat. 


Aura tidak habis akal ia menghubungi Shinta, tidak lama sahabatnya itu mengangkat telpon sambil menangis membuat Aura semakin panik.


"Ada apa Shinta, apa operasinya sudah selesai?" tanya Aura.


"Sudah, dua jam yang lalu. Tapi-," kata Shinta terhenti membuat Aura semakin khawatir.


"tapi apa, katakan Shinta!"seru Aura.


"Kak Arnold sekarang kritis," jawab Shinta lemah.


Tubuh Aura luruh ke rumput, gadis itu terduduk dengan tatapan kosong. Ia ingat baru saja Cia mengatakan mimpi kakaknya.


Air mata Aura terus mengalir membasahi kedua pipinya, kini ia begitu rapuh. Saat seperti ini ia begitu membutuhkan keluarganya, Tetapi kini kedua kakaknya sedang berjuang untuk bertahan hidup.


Aura terkejut saat ada yang menepuknya dari belakang, Gadis itu mendongak untuk bisa melihat siapa yang berada di belakangnya.


Wajah dingin dan datar itu sama sekali tidak merubah ekspresi wajahnya melihat Aura yang begitu sedih, Aura menatap tajam. Namun, setelah itu ia berdiri dan langsung berhambur di pelukan Leon membuat pria itu langsung menegang.


Aura tidak peduli jika nanti pria kaku yang kini sedang dipeluknya akan memarahinya, tetapi dugaannya salah Leon mengusap bahu Aura walau tidak membalas pelukannya.


"Nona lepas!" kata Leon tetap dingin.


Aura cemberut menatap orang kepercayaan Papanya itu dan bertanya." Kenapa Kakak bisa ke sini?"


"Tuan Besar, kalau bukan perintah beliau saya juga malas." jawab Leon langsung melangkah meninggalkan Aura yang  sedang bersungut-sungut mantap kepergian pria kaku itu.


Aura yang baru ingat jika Arnold alasan pergi untuk membantu Leon langsung mengejar asisten Papanya itu. Ternyata pria itu sedang menuju ke arah kantin.

__ADS_1


Leon mengernyit saat ia duduk tiba-tiba Aura juga langsung duduk di depannya sambil mengatur napasnya.


"Kak, apa mau bertemu Velicia?" tanya Aura menatap netra pekat nan tajam itu.


"Untuk apa?" tanya Leon sambil  menatap Aura


"Cih, dasar kaku!" cibir Aura.


Leon hanya diam, pria itu cukup lelah pulang kerja langsung berangkat. Jika bukan Tuan besar yang memintanya pasti sudah malas untuk menemani gadis manja di depannya.


"Kak, Cia tidak tahu kalau Arnold sedang kritis sekarang." Aura mengatakan sambil mengusap air matanya membuat Leon sebenarnya iba. Namun, pria itu tidak ingin terlalu memperlihatkannya.


Aura menarik napas dalam, sepertinya percuma ia berbicara dengan pria kaku di depannya sekarang. Gadis itu beranjak dari duduknya karena sudah begitu lama meninggalkan Velicia.


Leon sama sekali tidak memperdulikan Aura yang pergi begitu saja, perlahan ia menarik napas dalam jika mengingat bagaimana Tuan Besar Setyawan begitu berjasa atas apa yang ia capai selama ini.


Leon menatap ke arah Aura yang semakin menjauh darinya, pria itu selama ini berpikir haruskah ia menikahi gadis manja itu untuk membalas budi kepada keluarga Setyawan.


Seandainya kedua orang tuanya masih ada, ia mungkin tidak akan merasa kesepian seperti ini. Namun, ada rasa beruntung karena selama ini ia begitu menurut dengan apa yang di ajaran Tuan Setyawan kepadanya. 


Leon beranjak dari duduknya, pria itu berjalan melewati lorong rumah sakit, kemudian ia duduk di depan ruang rawat Velicia  Arista.


Dua orang pria datang menghampiri Leon dan langsung memberikan hormat dan berkata." Tuan semua sudah siap." 


"Terimakasih," kata Leon dan dua pria itu langsung pergi begitu saja.


Aura yang baru saja membuka pintu hendak keluar, matanya langsung melotot dan langsung menarik tangan Leon untuk menjauhi ruang rawat kakak iparnya itu. 


"Nona lepas!" Leon menyentakkan tangan Aura hingga membuat gadis itu terkejut.


"Kakak kenapa?" tanya Aura merasa bingung karena tiba-tiba Leon terlihat begitu marah dengannya.


"Jaga sikap Anda yang seperti wanita murahan itu!" kata Leon dengan begitu dingin menatap tajam Aura.


Air mata tidak tahu diri itu menetes begitu saja membasahi kedua pipinya, ini pertama kalinya ada yang mengatakan dirinya wanita murahan. Aura mengusap air matanya dengan kasar. Kemudian ia pergi berlalu begitu saja meninggalkan Leon yang tanpa ekspresi.


Leon mengusap wajahnya kasar, Pria itu ingin sekali langsung meninggalkan Negara ini dan kembali sibuk dengan pekerjaannya di tanah air.

__ADS_1


Aura berjalan ke taman, ia tidak ingin Velicia sampai melihatnya bersedih seperti ini, tidak lama ponselnya berdering. gadis itu menarik napas dalam saat melihat Papanya menghubunginya.


"Halo Pa," kata Aura mencoba membuat suaranya setenang mungkin.


"Nak, apa kamu baik-baik saja? Papa minta Leon untuk menemanimu di sana," ujar Tuan besar Setyawan yang begitu khawatir akan putrinya itu.


"Iya Pa," jawab Aura.


"Andreas ginjalnya sudah bekerja dengan normal, kita sedang menunggu semoga Arnold segera membaik," kata Tuan Besar dengan suara parau.


"Papa dan Mama jaga kesehatan jangan sampai drop!" pesan Aura.


"Kamu juga jangan terlalu lelah." Tidak lama sambungan telepon tertutup.


Aura menundukkan kepalanya, gadis itu yakin jika kakak iparnya itu pasti sudah terbangun. Ia berjalan menuju ke ruang rawat Cia, dari jauh ia bisa melihat Leon bersama dua orang pria yang tidak dikenalnya.


Dua pria itu menatap Aura, begitu juga Leon. Namun, Aura sama sekali tidak menganggap kalau ada orang di depannya.


Leon menautkan kedua alisnya melihat sikap tidak sopan anak Bosnya itu, dan tidak lama anak buahnya berkata."Cantik, tapi sombong amat."


"Jaga mulut kalian!" suara bariton Leon membuat kedua pria itu langsung menunduk.


Kedua pria itu pergi, tinggallah Leon sendiri sibuk dengan ipadnya, tak lama dua orang perawat masuk ruang rawat Velicia membuat pria itu menatap datar.


Leon langsung berdiri saat melihat dua orang pria datang terburu-buru menuju ruang rawat pewaris tunggal Arista itu.


Seorang perawat keluar dengan buru-buru diikuti Aura yang panik begitu terlihat di mimik wajah gadis itu.


"Suster apa yang terjadi?" tanya Leon.


"Anda siapa?" tanya Suster karena baru melihat Leon.


"Saya temannya," kata Leon sambil menatap Aura yang kini sedang mondar-mandir depan ruang rawat Cia.


Perawat itu menatap Aura dan berkata." Pasien tiba-tiba drop dan detak jantungnya melemah."


Bersambung ya….

__ADS_1


__ADS_2