
Arnold menatap istrinya, hal itu membuat Cia langsung memalingkan wajahnya. Pria itu menghela napas panjang, ini alasannya untuk mengajak istrinya pindah.
"Mam, aku akan pindah ke Jakarta dua Minggu lagi." Arnold menatap wanita yang sudah melahirkannya itu.
Maria terlihat begitu terkejut, ditatapnya putranya itu. Ada raut rasa sedih dari matanya." Jika itu sudah keputusan kalian pergilah, Mama tidak akan mencegahnya."
"Ar." Cia menatap tajam suaminya itu.
Bagaimanapun Maria, orang tua satu-satunya saat ini. Wanita itu tidak ingin sampai suaminya salah langkah.
"Mam, kami masih lama untuk pindah. Itu juga baru rencana." Kata Cia.
Cia tidak ingin sampai mama mertuanya itu sakit, apa lagi sekarang lebih memilih ikut dengannya karena ada Langit. Setidaknya putranya masih merasakan kasih sayang seorang nenek saat ini.
Arnold langsung beranjak dari duduknya, pria itu ingin menenangkan hatinya. Jujur ia merasa Mamanya selalu banyak menuntut. Rasanya sudah begitu lelah saat ini, cukup saat ada papanya hidupnya diatur seperti robot.
Arnold merasa mamanya ikut-ikutan seperti Papanya dulu. Tujuan Arnold mengatakan hal tadi, supaya mamanya tidak semena-mena dengan istrinya.
Arnold kini berdiri di balkon kamarnya, pria itu mengambil rokok untuk merilekskan pikirannya. Masalah kantor dan rumah, rasanya membuat kepalanya ingin meledak.
Saat sedang asyik dengan rokok yang dihisapnya, Cia sudah berada di sampingnya.
"Kenapa sih kalau ada apa-apa harus merokok?"
Arnold terkekeh, saat istrinya datang dengan bicara bernada marah. Pria itu langsung mematikan rokoknya.
"Maaf," kata Arnold .
Cia hanya menarik napas panjang, wanita itu merasa jika ada yang ditutupi oleh mertuanya saat ini.
"Ar, kenapa tadi mengatakan hal. Kasihan Mama," ucap Cia.
Arnold terdiam, itu bukan tidak ingin mengurus mamanya, tapi karena mamanya selalu membuat istrinya terluka, karena ingin menginginkan cucu darinya.
Arnold mengajak sang istri untuk istirahat, keduanya masuk kamar
Pria itu melihat Langit sudah tidur nyenyak.
Cia masuk kamar mandi, Tidak lama ia keluar dan langsung ikut berbaring di samping Arnold.
*****
Di Berlin, Clara yang kini sudah berada di apartemen Alek. Wanita itu bingung harus melakukan apa. Sejak kemarin ia dijemput oleh pria yang kini sudah menganggap sebagai adik itu.
Clara keluar dari kamarnya, wanita itu begitu terkejut. Sejak kapan ada Alex di dalam.
__ADS_1
"Tuan kapan Anda datang?" tanya Clara.
Alek menatap Clara, pria itu menyodorkan teh yang di buatnya. Wanita itu mengambil dan membawanya ke ruang keluarga.
"Tuan John sedang mencarimu," kata Alek.
Clara menarik napas panjang." Saya akan minta cerai."
Alek menarik napas panjang." kalau ia temui dia. Suruh urus surat perceraian kalian."
"Bagaimana caranya?"
"Aku akan menghubunginya, kamu istirahatlah dulu."
Clara menurut apa kata Alek, wanita itu masuk kamar dan membaringkan tubuhnya. Tidak berapa lama ia terlelap. Sedangkan Alek mengirimkan pesan kepada Jhon untuk datang ke apartemennya.
Awalnya pria itu tidak mau, tapi karena dibilang Alek ada hubungannya dengan Clara. Akhir Jhon mengatakan akan datang.
Alek menarik napas panjang, bukan ia tega. Namun, melihat penyesalan Jhon saat ini merasa pria itu sudah berubah.
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya bel apartemennya berbunyi. Pria itu segera beranjak dari duduknya. Ia membuka pintu dan sosok yang ditunggunya menatap dengan datar.
Alek segera menyingkir dari pintu, pria itu memberikan jalan untuk Tuannya masuk.
"Cih." Jhon berdecak marah.
Demi informasi istrinya, pria yang bisa tidak mau mengalah itu. Mau tidak mau akhirnya duduk di samping Orang kepercayaannya itu
"Katakan."
Alek menarik napas panjang dan berkata," Nona ada di kamar itu."
Jhon mengeraskan rahangnya, Hampir dua Minggu pria seperti orang gila lari sana sini mencari istrinya. Namun, dengan mudah Alek mengatakan jika istrinya ada di apartemennya.
Kedua tangan Jhon mengepal, bukan ini yang ia mau. Ia sudah tidak tahan lagi langsung memberikan bogeman mentah kepada orang yang selama ini dipercayainya itu.
Alek yang tidak ada persiapan langsung tumbang, pria itu menatap nanar tuannya itu." Apa yang Anda lakukan, Tuan?"
"Bajingan! Kau tanya apa, Hah?" Teriak Jhon dengan begitu keras melampiaskan kekesalannya kepada Alek.
Pria itu dengan napas memburu hendak memukul Alek kembali langsung terhenti saya seseorang mencekal tangannya.
Jhon menatap Clara dengan tatapan dingin, pria itu tidak menyangka jika Alek menyembunyikan istrinya." Jadi selama dua Minggu kamu di sini?"
"Tidak, saya baru dua hari di sini," jawab Clara dengan melihat Alek dengan sudut mata.
__ADS_1
"Di mana selama ini?" tanya Jhon lagi.
"Apa peduli Anda Tuan?" tanya Clara.
"Kamu istriku, Clara!"
Jhon memberikan kode kepada Alek untuk keluar dari apartemennya , hal itu membuat pria itu menggelengkan kepalanya. Seharusnya Tuanya yang pergi membawa istrinya kenapa harus dirinya yang pergi.
Namun, Alek tidak ingin terkena amukan Jhon dengan berat hati keluar dari apartemen. Sedangkan Clara hanya diam, ia duduk dengan mengganti Chanel televisi.
Jhon perlahan duduk di samping istrinya, pria itu ingin sekali memeluk Tubuh wanita itu. Namun, ia mengurungkan karena takut sang istri akan marah dan mengusir dirinya seperti saat mengusir Alek tadi.
"Sayang," panggil Jhon.
Clara menatap wajah tampan, walaupun terlihat begitu lelah itu.
"Sudah makan?" tanya Clara .
"Belum," jawab Jhon jujur.
Pria itu selama istrinya pergi tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri, ia terus mencari istrinya. Terkadang saat sampai mansion, Jhon bukan makan. Namun, langsung meneguk alkohol sampai tumbang. Lagi-lagi Alek yang dibuat susuh olehnya.
Saat dirinya mabuk , Alek akan selalu menjaganya. Itu semua atas perintah dari Papanya.
Apa lagi saat Clara menghilang, papanya benar-benar marah dan tidak ingin bertemu dengan dirinya jika membawa Clara pulang.
Clara menatap pria di sampingnya, tidak lama beranjak dari duduknya. Wanita itu menujuw dapur untuk membuat makanan untuk suaminya itu.
Jhon duduk di kursi meja makan, pria itu menatap gerakan istrinya begitu lincah. Seakan Clara sehari-hari selalu di dapur. Setelah lima belas menit, nasi goreng sudah tersedia di depan Jhon.
"Kamu sudah makan?" tanya Jhon.
"Sudah makan dengan kak Alek," jawab Clara datar.
Ada rasa panas di dadanya, wanita itu di depannya itu benar-benar mengujinya sekarang. "Sayang, kenapa dengan Alek kamu bisa panggil Kakak, tapi denganku Tuan."
"Alek sudah aku anggap kakakku," jawab Clara .
"Lalu aku?" tanya Jhon.
"Calon mantan suamiku," jawab Clara santai.
"Tidak akan terjadi!" kata Jhon.
Clara menatap manik coklat itu,ada rasa marah yang ditahan suaminya itu." Kenapa?"
__ADS_1