PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Berita Duka


__ADS_3

Kabar kehamilan Shinta langsung menyebar di keluarga besarnya begitu pulan di keluarga Tuan Jimmy. Cia yang tahu itu berusaha tersenyum. Hanya dirinya yang tidak bisa memiliki anak. Namun, dengan adanya Langit itu membuat hatinya begitu senang.


Cia merasa heran karena sampai sekarang belum ada kabar dari Aura bagaimana kabar Clara. Bahkan Leon mengatakan istrinya sedang mengobrol dengan wanita itu. 


Arnold yang melihat istrinya sedang gelisah, merasa ada sesuatu yang sembunyikan Cia darinya.


“Sayang,” panggil Arnold.


“Iya, ada apa, Ar?” tanya Cia.


“Ada masalah, Hem?”


Cia tersenyum. Wanita itu selalu ketahuan jika sedang melamun di depan suaminya. “Tidak ada aku hanya menunggu kabar dari Aura.”


Arnold mengangguk, pria itu begitu paham akan apa yang dipikirkan oleh istrinya. Sedangkan Maria yang duduk tidak jauh dari Cia menatap menantunya itu.


"Cia," panggil Maria.


"Iya Mam," jawab Cia.


Maria diam sejenak, wanita itu menatap Cia dan berkata." Mama akan tinggal dengan Andreas. Shinta sedang hamil, Mama ingin menjaganya." 


Cia menatap wanita paruh baya itu, kemudian ia tersenyum." Mama, mau di sini dan Tempat Andreas atau Aura itu sama saja, nanti mama kalau rindu Langit bisa datang."


Maria hanya mengangguk, setelah itu beranjak dari duduknya. Setelah dua puluh menit. Cia dan Arnold terkejut karena Maria keluar dengan membawa dua Koper besar.


“Mama, kenapa?” tanya Arnold.


“Mama sudah bilang akan tingal bersama Andreas,” jawab Maria.


Arnold menarik napas panjang dan mengangguk, pria itu mengikuti wanita yang sudah melahirkannya itu. Sedangkan Cia segera bersiap-siap untuk mengantarkan mertuanya itu.


Wanita itu tidak masalah Maria mau tinggal di mana saja, asalkan bahagia dan nyaman. Kini mobil Arnold kemudian sudah melunjur menuju Vila milik Papanya. Tidak butuh waktu lama pria itu kini sudah sampai.


“Tunggu,” kata Cia menghentikan Maria dan suaminya yang akan keluar dari mobil.


“Ada apa, Sayang?” tanya Arnold.


“Shinta dirawat di rumah sakit,” jawab Cia.


“Ya sudah kita ke rumah sakit aja. Ar, kamu masukkan koper Mama dulu,” pinta Maria.


Arnold tanpa menunggu lama, pria itu segera membawa dua koper Mamanya untuk diletakkan dulu di Vila.


Setelah selesai, pria itu segera masuk kembali ke mobil. Cia menatap suaminya merasa heran akan sikap Mamanya itu, 


“Mama apa baik-baik saja?” tanya Cia.


“Hanya lelah sedikit, Nak,” jawab Maria. 

__ADS_1


“Apa kita sebaiknya istirahat saja, Mam,” kata Arnold.


Maria hanya mengangguk, Arnold dan Cia segera keluar dari mobil. Entah kenapa perasaannya tidak enak. 


“Ar, Apa sebaiknya panggil dokter saja,” ucap Cia.


“Iya, Sayang.” Arnold segera menghubungi dokter pribadi.


Setelah selesai ia meminta istrinya untuk menemani anaknya saja, karena ia akan masuk ruang kerja.


Maria tidak ingin ditemani, wanita itu ingin istirahat. Namun, Arnold meminta salah satu pelayan untuk sesekali melihat apa dokter sudah datang. Arnold kini mengambil Laptop papanya. Setelah itu membawa ke kamar mamanya.


Arnold menatap wanita yang kini, sedang tidur nyenyak, setelah tiga puluh menit pintu di ketuk. Arnold membuka pintu dan mempersilahkan dokter untuk masuk.


"Apa kabar, Ar?” tanya Leo


“Baik, tolong cek mama,” kata Arnold.


Leo menoleh, pria itu mengerutkan keningnya.


Leo jalan dengan cepat menghampiri Maria, pria itu langsung mengecek denyut nadi. Untuk memastikan sekali lagi, Leo menggunakan teleskop. 


Pria menatap Arnold dan menggelengkan kepalanya. Arnold yang kurang paham menaikkan kedua alisnya." Ada apa? Bagaimana Mama?" 


"Tante sudah lebih dulu pergi, ucap Arnold.


"Enggak, enggak mungkin, Leo. Mama hanya ingin tidur." Arnold mengerek-gerakkan tubuh Maria.


Pintu terbuka, Cia merasa heran karena suaminya memeluk Mama Maria ." Ar, ada apa ini. Dokter ada apa?" 


"Maaf, Tante Maria sudah pergi untuk selamanya," ucap dokter Leo


Cia menutup mulutnya, wanita itu menggelengkan kepalanya. Air matanya luruh begitu saja.


Perlahan ia melangkah mendekati di mana Suami masih mencoba untuk membangunkan Maria.


“Ar,” kata Cia.


“Sayang, Mama.” Arnold mencoba membangunkan mamanya lagi.


Arnold terlihat begitu menyesal. Cia mengusap punggung suaminya. Saat pria itu sedang rapuh, ia harus kuat.


Leo meminta kepada pelayanan untuk memberitahu tetangga dan keluarga yang lainnya. Kini jenazah di pindahkan di ruang tengah yang sudah diubah. Sofa dikeluarkan, begitu  juga dengan ruang tamu.


Arnold duduk di samping Cia, pria itu tidak berhenti menangis. 


"Mama!" seru Andreas.


Tangisan terdengar begitu pilu, Andreas meninggalkan istrinya yang sedang dalam perawatan saat membaca pesan dari Leo.

__ADS_1


Sesuai rapat keluarga, besok Maria baru di makamkan karena menunggu Aura yang langsung terbang Jerman ke Indonesia.


Leon sengaja tidak memberitahu sang istri kenapa harus kembali dengan buru-buru. Itu jug Tuan Jimmy meminjamkan jet pribadinya, setelah mendengar apa yang terjadi.


Jhon , Jimmy, Alek dan Clara ikut bersama di jet pribadi itu. Aura merasa heran karena semua terlihat sedih, sedang saat ia bertanya? Suaminya hanya menggelengkan kepalanya.


Leon sengaja melakukan hal itu karena tidak ingin sang istri histeris sekarang.


Setelah menempuh perjalanan yang begitu lama, rombongan Leon sampai di di bandara. Anak buah Leon yang sudah setanbay langsung mengarahkan Tuannya untuk masuk mobil yang sudah disiapkan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Aura merasa heran karena mobil yang ditumpanginya di kawal polisi depan dan belakang.


Leon menggenggam tangan Istrinya, seakan memberikan kekuatan. Tidak lama mobil  sampai di depan Vila. 


Aura menatap heran, tapi wanita itu kini diam mematung saat melihat ucapan bela sungkawa di pinggir jalan ada nama Mamanya di sana.


"Tidak, Mama…."


Tubuh Aura langsung terhuyung, Leon dengan singap langsung menangkapnya.


Pria itu membawa istrinya, Cia yang melihat itu hanya bisa mengusap air matanya.


Wanita itu serba salah, di sini lain suaminya sedang sedih. Namun, adik iparnya kini sedang tidak sadarkan diri.


Cia memberitahu dokter Leo kalau Aura pingasan, dokter muda itu segera mengikuti arahan pelayan.


Clara memeluk Cia, wanita itu menatap nonanya itu dengan sendu. 


Arnold dan Jhon duduk bersebelahan, sedang Clar membawa mertuanya untuk menjauhi karena posisi di kursi roda.


Wanita itu duduk di kursi samping Tuan Jimmy, pria itu menatap sendu wanita yang kini terbaring kaku." Sakit apa Maria, Nak?"


"Kurang tahu juga, Pa." Clara melihat Leon keluar dengan memapah istrinya.


Aura terlihat menatap wanita yang semalam masih menghubunginya itu.


"Mama, kenapa jadi seperti ini," tangis Aura pecah dengan tangan memeluk tubuh Maria. 


Andreas yang baru datang dengan mendorong kursi roda istrinya, dengan jarum infus masih terpasang.


Leo melihat itu segera membantu Shinta. 


Shinta menangis, Tuan Jimmy melihat putrinya itu minta Clara untuk mendorong kursi rodanya.


Andreas melihat adiknya, pria itu menghampiri wanita itu. Sedangkan Leon langsung keluar untuk mengurus pemakaman mertuanya di bantu anak buah dan warga setempat.


"Kakak." Aura memeluk Andreas.


Arnold hanya diam, tangannya tidak lepas dari tangan Cia. Beruntung Langit diam bersama Meli.

__ADS_1


Aura menatap Cia, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya."Kakak, katakan apa yang terjadi?" 


__ADS_2