
Aura menatap kakak iparnya itu, wanita itu menarik napas panjang.
"Shinta dan Andreas," jawab Aura.
Sedangkan Leon dari tadi tetap diam, pria walaupun sedang berkumpul dengan keluarga istrinya tetap sama.
"Kalian istirahatlah, kemungkinan Jack dan istrinya akan sampai siang nanti," ucap Cia.
Aura mengangguk, wanita itu beranjak dari duduknya sambil memegang perutnya. Ya, Aura saat ini sedang hamil lima empat bulan.
Leon begitu posesif kepadanya, pria itu akan melarang sang istri jika mengerjakan pekerjaan rumah, semua itu hanya untuk kebaikan sang istri dan anak yang kini masih dalam kandungan Aura.
Saat sampai di kamar tamu, Aura memperhatikan sekeliling tidak ada yang berubah dari kamar yang dulu pernah ditempatinya. Namun, yang berubah hanya ranjang. Dulu seingatnya ranjang kecil. Namun, kini sudah berganti size super.
Saat baru akan membaringkan tubuhnya, pintu kamar terbuka. Sosok yang membuatnya kesal, tapi dicintainya itu sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Ada apa, kak?" tanya Aura.
"Aku akan keluar sebentar dengan Jack," ucap Leon.
"Apa Kak Jack sudah sampai?" tanya Aura.
"Kenapa kamu semangat sekali pertanyaannya?" Wajah Leon terlihat datar menatap wajah istrinya.
Aura hanya menarik napas panjang, ia hampir lupa dilarang keras membicarakan pria lain di depan suaminya." Maaf."
Leon tidak menjawab, pria itu menghampiri Aura dan berkata," Kamu tahu apa yang tidak aku suka."
Aura hanya mengangguk, setelah itu Leon keluar dari kamar.
Wanita itu segera membaringkan tubuhnya, hingga tidak menunggu lama langsung terlelap.
**
Di ruang keluarga, ada Selly , Jack dan Cia. Sedangkan Arnold dan Leon sedang mengerjakan laporan di ruang kerjanya.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Jack.
"Apanya?" tanya Cia.
"Selama ini kamu rajin cek up, kan?" tanya Selly.
"Iya, tapi dokter bilang semua aman," ucap Cia.
__ADS_1
Jack merasa senang, itu berarti mimpinya kemarin malam tidak perlu ditakutkan. Jack bermimpi Cia pergi untuk selamanya. Setelah itu ia mengajak istrinya untuk mengunjungi adik angkatnya minggu depan.
"Kenapa kamu khawatir begitu, Jack?" tanya Cia.
"Tidak ada, aku harap jangan pernah melupakan untuk selalu cek up!" pinta Jack.
"Arnold selalu mengingatkanku, dia juga tidak pernah absen menemaniku," ujar Cia.
"Syukurlah aku senang mendengarnya," jawab Jack.
Cia tersenyum, dari dulu sampai sekarang Jack begitu memperhatikannya. Namun, sekarang yang berbeda. Kakak iparnya itu tidak marah jika suaminya memberikan perhatian lebih, sejak dirinya dinyatakan sembuh dan kembali ke tanah air.
Saat ketiganya sedang mengobrol, Arnold dan Leon ikut bergabung. Jack menatap Arnold dan Leon, kedua pria itu sama-sama bersikap dingin. Padahal sudah menjadi keluarga Setyawan.
"Aura mana?" Arnold melihat sekeliling sang adik tidak ada bersama yang lainnya.
"Saya suruh istirahat, Tuan," jawab Leon.
"Cih, sampai kapan kamu panggil aku tuan, Leon?"
Leon hanya diam, membuat Cia yang melihatnya begitu gemas dengan adik iparnya itu. Entah kenapa sekarang antara Leon dan Arnold akan berbicara hanya saat perlu saja.
Entah kapan kedua pria itu akan bersikap hangat satu sama lainnya. Begitu juga dengan Arnold dan Andreas.
Arnold yang melihat istrinya melamun, pria itu beranjak dari duduknya. Kini pindah duduk di samping Cia.
"Ada apa?" tanya Arnold.
Membuat yang lain ikut memperhatikan Cia. Wanita itu terlihat bingung karena semua melihatnya.
"Ada apa? tanya Cia karena semua melihat ke arahnya.
Arnold hanya menarik napas panjang, entah kenapa sang istri beberapa kali ini sering melamun. Namun, setiap ditanya akan kebingungan.
Jujur hal itu membuat Arnold khawatir , pria itu nanti akan konsultasi dengan Dokter Herman apa ini salah satu efek kemo.
"Sayang, kalau lelah sebaiknya kamu istirahat," kata Arnold.
"Tidak, aku akan bosan jika berada di kamar terus," kata Cia sambil menatap Arnold.
Arnold tidak ingin istrinya sampai kenapa-napa, pria itu kini hanya bisa mengangguk. Sedangkan jack sedari tadi memperhatikan pasangan di depannya.
Semua yang berada di ruang keluarga, langsung melihat ke arah tangga. Saat terdengar derap langkah menuruni tangga. Leon melihat istrinya menuruni tangga, pria itu berjalan cepat untuk menghampiri Aura.
__ADS_1
Jack dan lainnya saling pandang, saat melihat pria dingin dan datar itu begitu posesif terhadap Aura dengan raut wajah dingin.
"Kenapa kalian tidak bisa romantis dengan istri kalian?" tanya Selly.
"Siapa?" tanya Aura.
"Astaga, apa kamu juga tidak sadar Aura. Suamimu itu tidak ada hangatnya," kata Selly.
"Kakak salah, kalau suamiku tidak hangat bagaimana aku bisa hamil," jawab Aura sambil memeluk lengan Leon.
Cia mendengar apa kata adik iparnya, wanita itu merasa tercubit karena ia seakan kata-katanya itu ditunjukkan untuknya. Ia begitu sadar bukan wanita sempurna lagi untuk suaminya.
Cia sempat berpikir meminta Arnold untuk menikah lagi, tapi apa ia bisa dan rela berbagi hati dengan wanita lain. Namun, Cia tidak ingin begitu egois. Rasanya tidak mungkin suaminya tidak menginginkan anak di tengah-tengah keduanya.
Ia harus mencari cara agar suaminya mau menikah lagi, tentunya dengan wanita baik-baik. Ah, rasanya apa ada wanita yang mau dijadikan sebagai istri kedua.
"Cia." Arnold lagi-lagi melihat sang istri melamun.
"Apa selalu seperti itu, Ar?" tanya Selly.
"Satu bulan ini, tepatnya terakhir cek up. Namun, aku dilarang ikut masuk," kata Arnold.
Jack mendengar itu begitu terkejut lalu bertanya," Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrimu, Ar?"
Arnold mengangguk, tapi pria itu tidak ingin membuat sang istri nanti sampai tertekan akan pertanyaannya. Hingga ia memilih untuk menyelidiki sendiri apa sebenarnya yang sedang disembunyikan oleh istrinya saat ini.
"Wah semua sudah datang."Andreas langsung duduk samping Arnold.
Maria yang baru masuk dengan Shinta tersenyum melihat semua sudah berkumpul.
"Mama apa kabar?" Cia berdiri langsung memeluk wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu.
"seperti yang kamu lihat, Nak." Maria memeluk menantunya begitu tulus.
Aura menatap wanita yang sudah melahirkannya itu, begitu sayang dengan kakak iparnya begitu lega.
"Mama, kangen."Aura merentangkan kedua tangannya ingin dipeluk juga.
Maria hanya menggelengkan kepalanya, putrinya itu sudah punya suami masih juga manja dengannya. Walaupun Aura sudah menikah, baginya wanita itu tetap putri kecilnya.
Andreas melihat ke arah Shinta, pria itu kini menatap wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Maaf, berhubung kita sedang berkumpul. Sekalian aku ingin mengatakan ingin mengajak Shinta menikah," kata Andreas.
__ADS_1
Semua yang berada di ruang keluarga itu begitu terkejut akan apa yang dikatakan Andreas. Begitu juga dengan Shinta, gadis itu hanya bengong. Sudah hampir satu bulan tidak bertemu dengan pria yang dulu dicintainya itu. Tiba-tiba ingin mengajaknya menikah, di saat Shinta sudah bisa move on.