
"Apa yang terjadi?" tanya Jack.
"Velicia tubuhnya ngedrop lagi setelah kemoterapi, "ujar Dokter James.
Tak lama sambungan terputus, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
Ditatapnya sang istrinya yang kini juga sedang menatapnya, dan Selly bertanya."Ada apa?"
"Apa kamu mau temani aku ke Jerman, Velicia sedang drop!" Pinta Jack dengan nada memohon.
"Tapi kamu baru sampai, Kak." Selly menarik napas dalam.
"Aku tidak apa-apa asal kamu mau ikut," kata Jack sambil memegang tangan istrinya.
"Baiklah aku ikut," kata Selly.
Senyum Jack mengembang ia begitu senang karena istrinya tidak menghalanginya untuk merawat adiknya. pria itu beberapa kali mengucapkan terimakasih kepada istrinya.
Jack langsung menghubungi Clara untuk menyiapkan dua Tiket ke Jerman , setelah selesai ia dan istrinya akan makan lebih dahulu.
Keduanya masuk ke salah satu mall terbesar di kota itu, Selly dengan manja memeluk lengan suaminya dengan wajah ceria, Berbeda dengan Jack walau raganya sedang bersama istrinya, tetapi pikirannya selalu ke Velicia.
Seingat Jack kemarin kondisi Velicia baik-baik saja saat ia tinggalkan, pria itu menarik napas dalam karena sore ia akan kembali menempuh perjalan jauh. Namun, yang membuatnya bahagia ia akan di temani sang istri tercinta.
****
Siang ini cuaca begitu terik, seorang gadis sedang hilir mudik karena ramainya pengunjung Kafe. Merry yang sedang membantu karena dua karyawannya sedang sakit. Sebuah mobil berhenti di depan kafe.
Pria itu dibantu seorang pria untuk turun mobil, ia di atas kursi roda. Setelah sudah mendapat meja pria itu pergi meninggalkan pria yang berada di kursi roda itu.
Merry yang kurang memperhatikan menghampiri pria itu dan memberikan buku menu, dan berkata."Mau pe-."
Merry langsung diam, ia begitu terkejut saat melihat siapa yang berada di depannya sekarang mulutnya terbuka dan langsung di tutupnya pakai tangannya.
Pria itu Hansen yang baru sampai, ia sengaja ingin menemui wanita yang ia cintai dan rela mengorbankan nyawanya untuk Merry yang sekarang masih begitu shock saat melihatnya.
"Apa kabar?" tanya Hansen.
__ADS_1
"A-aku baik," jawab Merry gugup.
Hansen tersenyum hangat, dan berkata."Maaf saat kamu datang aku tak acuh padamu."
Merry meneteskan air matanya, ia sudah menduga jika itu yang terjadi, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa memaksakan kehendaknya.
"Apa kabar Nenek?" tanya Merry untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi.
"Nenek baik, ia menitip salam untukmu," jawab Hansen.
Tak alam seorang pelayan datang memberikan minum dan cemilan untuk tamu bosnya itu.
"Ada perlu apa kamu datang?" tanya Merry langsung mengatakan itu.
"Apa kamu masih mencintaiku seperti dulu, walau kondisiku sekarang seperti ini?" tanya Hansen.
Merry mengangkat kepalanya karena sedari tadi hanya menunduk, di tatapnya netra pekat milik pria di depannya kini. perasaan itu masih ada saat kedua mata itu beradu ke dengan matanya jantungnya terasa mau berlarian.
Merry memejamkan matanya, ia akan mengikuti kata hatinya dan menjawab."Aku sama seperti dulu."
Hansen tersenyum merasa lega, Merry beranjak dari duduknya, kemudian ia mendorong kursi roda itu menuju ke ruangannya. Ia berharap pria yang masih dicintainya itu bisa istirahat.
Saat Merry mau membalikan badan, tanganya di cekal oleh Hansen. Karen tubuhnya tidak imbang tiba-tiba Merry terjatuh di pangkuan Hansen. Wanita itu memekik karena terkejut dan terlihat wajah khawatir.
Hansen memeluk pinggang kekasihnya itu dadanya berdetak begitu kencang saat kedua mata itu kian mendekat dan menipiskan jarak keduanya. Saat benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Merry memejamkan matanya dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Hansen.
Sentuhan lembut yang diberikan Hansen membuat dunianya kian melayang, Merry mencoba untuk mengimbanginya, karena oksigen kian menipis pautan itu terlepas begitu saja. Dan keduanya terdiam dengan napas yang tersengal-sengal.
Hansen tersenyum, di usapnya bibir ranum milik kekasihnya itu, ia merasa lega cinta yang dulu bersemi sampai sekarang masih bertahan dan belum tergantikan oleh pria lain.
Betapa bodohnya dirinya waktu itu, kenapa tidak langsung muncul dihadapkan Merry, kini ia menyesal semua itu akibatnya ancaman dari Viona.
Ia ingat saat Viona mengancam akan menghabisi Merry jika ia tidak mengikuti perintahnya saat itu.
"Kak, kenapa waktu itu kamu pura-pura lupa?" tanya Merry yang kini masih duduk di pangkuan Hansen, Sedangkan pria itu bersandar di dada Merry.
"Apa kamu mau tahu apa yang terjadi waktu aku sadar sudah berada di rumah sakit?" tanya Hansen.
__ADS_1
Maria mengangguk sambil mengusap rambut kekasihnya yang dari dulu dicarinya itu, tak lama Hansen menarik kepalanya dan mendongak menatap wanita yang ia cintai itu.
"Viona tidak ingin aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, jika sampai aku mengatakan kalau wanita itu yang menabrakmu ia mengancam akan mencelakaimu." Hansen mengatakan itu sambil mengecup bibir Merry sekilas.
"Aku sudah tahu, karena waktu itu aku ada yang mengatakan padaku kalau wanita itu yang sudah menabrakmu," kata Merry.
Hansen terkejut ia tidak percaya kalau kekasihnya sudah lebih dulu tahu, lalu ia bertanya." siapa yang mengatakan?"
"Penjual roti yang menjadi saksi katanya ia diancam juga oleh Viona, wanita itu kekasih dari suaminya Velicia," jelas Merry
Hansen menaikan kedua alisnya, ia tidak tahu kalau Viona itu pelakor, Ia begitu penasaran tentang wanita itu.
"Gara-gara wanita itu aku mau dipenjarakan karena Viona berani menabrakmu, aku juga berani menabraknya. Semua itu berakhir di kepolisian karena Arnold kekasih dari Viona melaporkanku," jelas Merry sambil memeluk kepala Hansen.
"Kamu siapa yang bebaskan?" tanya Hansen.
"Kakak angkatnya Velicia, tapi aku harus lapor selama dua minggu," kata Merry sambil menunduk.
Hansen tersenyum , selama ini ia menyukai Merry karena sikap bar-barnya. Wanita itu tidak mudah ditindas karena tidak terlihat sisi lemahnya.
Obrolan keduanya berlanjut hingga malam, Merry rasanya tidak ingin malam ini berlalu begitu saja, kalau bisa selamanya akan seperti ini.
"Kak," panggil Merry mantap netra pekat milik kekasihnya itu.
"Iya sayang," jawab Hansen.
Wajah Merry langsung merona karena panggilan itu, hal itu membuat Hansen geli dan gemes sendiri.
"Katakan apa?" tanya Hansen lagi.
Merry hanya menunduk ia malu untuk mengatakan kepada kekasihnya itu, Hansen memegang dagu wanitanya ia ingin menatap wajah cantik natural yang selama ini begitu ia rindukan itu.
"Apa kita akan menikah nantinya?" tanya Merry malu-malu.
Hansen tersenyum, pria itu mengangguk dan berkata." Kita akan menikah, tapi tidak sekarang aku baru satu bulan kerja di bagian kasir di kafe sahabatku."
Merry melotot mendengar kalau kekasihnya sudah satu bulan bekerja dan ia menatap tidak percaya jika selama itu pria yang sekarang sedang memeluknya sama sekali tidak menemuinya. Meri menarik napas panjang dan bertanya." Kenapa tidak menemuiku?"
__ADS_1
bersambung ya...