PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Wanita misterius


__ADS_3

Arnold terdiam, pria itu terlihat begitu terkejut karena tiba-tiba sang istri memintanya untuk menikah lagi.


"Sayang, kamu ini bicara apa?" tanya Arnold.


"Ar, kamu tahukan aku tidak bisa punya anak," ujar Cia.


"Aku sudah pernah berkata tidak masalah akan hal itu."Arnold mengusap punggung tangan istrinya penuh rasa sayang.


Ada rasa bersalah begitu besar dalam hatinya saat ini, Cia harus menanggung semua yang dulu dilakukannya. Dadanya kian sesak saat ini sang istri memintanya untuk menikah lagi.


Arnold mengakui jika dirinya dulu begitu brengsek, tapi kali ini ia hanya ingin hidup dengan istrinya.


Jack menatap adiknya itu dengan tatapan dingin, pria itu tidak setuju jika Arnold menikah lagi.


"Kalian ingin anak?" tanya Sheryl.


Arnold dan Cia langsung menoleh ke arah Sheryl, begitu juga dengan Jack. Pria itu menatap istrinya sambil menautkan kedua alisnya.


"Anak ini bisa jadi anak kalian," kata Sheryl.


"Apa maksudmu?" tanya Jack dengan tatapan tajam ke istrinya.


Sheryl mengusap air matanya, wanita itu beranjak dari duduknya lalu menarik tangan suaminya ke luar dari vila milik Tuan Setiawan.


Cia dan Arnold masih shock karena Sheryl akan memberikan anaknya kepada mereka. Sedangkan di luar pasangan suami dan istri itu sedang berdebat.


"Apa maksudmu memberikan anak kita!" seru Jack lirih supaya tidak didengar orang lain.


"Sayang kalau sampai Cia meminta Arnold untuk menikah lagi pasti hatinya akan hancur walau itu atas kemauannya sendiri," ucap Shery.


Jack mengusap wajahnya kasar, Entah apa yang sekarang dipikirkan oleh istrinya.


“Kamu tahu aku juga wanita bagaimana jika posisi Cia ada padaku, mungkin aku tidak akan kuat menjalani hidup ini,” ujar Serly.


Jack terdiam kini pikirannya berselancar di saat adiknya sedang terpuruk. Keduanya hanya diam.


“Ayo kita masuk,” ucap Jack.


“Sayang, kamu harus ikhlas,” ucap Serly.


Kini keduanya masuk, Cia menatap Keduanya dengan tatapan yang berbeda.


“Aku hanya mau anak darah daging Arnold,” ucap Cia.

__ADS_1


Semau kini menatap wanita itu dengan tajam, Arnold mengepalkan kedua tangannya.


“Sampai kapan pun hanya kamu istriku, Cia!” seru Arnold membuat semua terkejut.


Air mata Cia mengalir begitu saja, tapi tidak lama wanita itu meninggal ruang keluarga dan masuk kamar tamu.


Arnold mengusap wajahnya dengan kasar, ia begitu menyesal sudah membentak wanita yang kini menjadi prioritasnya.


Pria itu berjalan menuju ke arah di mana sang istri mengunci diri."Cia, buka sayang. Maaf."


Arnold mengetuk pintu sedari tadi, sedangkan Jack dan istrinya hanya melihatnya. Makin ke sini ia yakin jika pria itu benar-benar berubah.


"Kasihan Arnold," kata Sheryl.


Arnold yang kini terduduk di lantai langsung berdiri saat mendengar pintu terbuka, Cia keluar dengan mata sembabnya.


"Sayang maafkan aku, bukan maksudku berkata kasar." Arnold memeluk tubuh kurus istrinya.


"Apa kamu tidak ingin punya anak?" tanya Cia lirih.


"kita bisa adopsi tanpa membuat Sheryl dan Jack pisah dengan anaknya, banyak di luar sana anak-anak yang membutuhkan kita," ujar Arnold.


Mendengar itu Cia tersenyum. ia tahu suaminya tidak ingin dirinya bersedih. Kini keduanya berjalan menghampiri Jack dan istrinya.


"Kami akan mengadopsi anak dari panti mereka butuh kasih sayang," ujar Cia.


Mendengar apa kata istrinya Jack menautkan kedua alisnya, ada perasaan yang janggal ia tangkap harusnya sang istri senang karena Cia tidak jadi menerima anaknya nanti.


"Iya, Kak," jawab Cia sambil tersenyum.


Sheryl menarik napas dalam."Kalau kamu berubah pikiran bisa hubungi kami."


Setelah mengatakan itu baik Sheryl dan Jack pamit karena mereka masih ada urusan tempat lain. Kini tinggal Arnold dan Cia yang duduk di ruang keluarga. 


***


Di Berlin, Leon yang baru siap dari kamar mandi kini menatap sang istri yang sedang melamun, Aura matanya ke arah televisi. Namun, tatapannya terlihat begitu kosong saat ini.


Pria itu perlahan menghampirinya, diusapnya pipi Aura lembut membuat wanita itu menoleh dan kini tersenyum menatap suaminya.


"Apa yang mengganggu pikiranmu, sayang?" tanya Leon.


"Kak, apa ada kabar dari Kak Arnold?" tanya Aura.

__ADS_1


Leon tersenyum. Istrinya itu tidak pernah memikirkan akan dirinya sendiri, andai Aura tahu jika kini nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan mungkin tidak akan memikirkan orang lain.


"Arnold dan yang lainnya baik-baik saja," jawab Leon.


Aura menatap ke arah suaminya, memang tidak ada kebohongan di sana. Namun, entah kenapa perasaan tidak enak saat ini. Saat keduanya sedang asik mengobrol tiba-tiba pintu kamarnya didobrak begitu kuat membuat keduanya terkejut.


Anak buah Alek langsung menodongkan senjata api ke arah Leon, sedangkan Erik dan Sam sedang berkelahi melawan anak buah Alek yang jumlahnya lumayan banyak.


"Nona Aura ikut kami," ucap pria berbadan tegap itu.


Leon mengangkat tangannya dan memberikan kode kepada sang istri untuk tidak ikut. Namun, saat bersamaan seseorang menendang dari arah belakang anak buah Alek. Pertarungan tidak terelakkan.


"Tuan Leon silahkan lewat belakang ada helikopter untuk membawa Nona Aura," ucap wanita yang tidak asing bagai Leon.


Leon dengan cepat menarik sang istri untuk meninggalkan tempat itu, saat anak buah Alek akan mengejarnya langsung dihadang dan dalam hitungan menit kelima pengawal itu langsung dilumpuhkan.


Senyum tipis terbit dari bibirnya, tidak lama ia segera turun ke lantai bawah dan langsung melempar smoke bomb, asap putih langsung membuat jarak pandang mereka terhalangi.


Erik dan Sam saling padang, tapi sedetik kemudian keduanya dikejutkan wanita  berambut panjang dan mengenakan masker.


"Kau!" kata Erik.


Wanita itu tersenyum terlihat dari matanya yang menyipit."Kalau mau mati sia-sia tinggallah di sini."


Erik dan Sam saling pandang, apalagi saat wanita itu kini sedang memegang remote kecil. Tanpa menunggu lama kedua pria itu keluar mengikuti wanita itu.


Saat sampai di luar ketiganya langsung naik helikopter, Erik memperhatikan wanita yang kini duduk di depannya.


Begitu juga dengan Leon, Ada rasa curiga siapa sebenarnya wanita itu. Tidak lama Sam menatapnya tajam.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Sam.


Wanita itu tidak lama menatap sengit kepada Sam membuat pria itu terpancing emosi. 


"Apa tujuanmu, Nona?" tanya Erik kini memperhatikan pilot yang sedang fokus.


"Apa itu penting?" tanya wanita itu.


Sam semakin geram, kenapa ada wanita begitu keras kepala yang tidak mau mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Siapa pun kamu, aku ucapkan terima kasih," ucap Aura tulus.


Wanita memakai masker itu langsung mengangguk, tapi ia kini menatap Leon sebentar. Ia tahu suami Nona yang ia selamatkan itu mengenali dirinya saat ini. Tidak lama ia membuka maskernya perlahan membuat keempatnya menatap lekat ke arahnya. Saat masker terbuka semua terkejut.

__ADS_1


"Kau!" kata Aura sambil menutup mulutnya.


Wanita itu hanya mengangguk dan kini wajahnya terlihat dingin kembali."Jadi kalian tahu siapa yang menyuruhku!"


__ADS_2