PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Perasaan Hangat


__ADS_3

Setelah mobil yang dikemudikan Arnold pergi meninggalkan kafe, Viona menghubungi seseorang untuk mencari di mana keberadaan Velicia. Ia akan membuat perhitungan kepada wanita itu. Setelah selesai menghubungi orang suruhannya wanita itu keluar dari cafe dengan langkah angkuhnya, walau beberapa pengunjung mencibirnya.


Viona mengendarai mobil yang dibelikan Arnold untuk hadiah pertunangannya, wanita itu kini menuju ke Villa milik Setyawan. Setelah menempuh dua puluh menit ia sampai. 


"Villa ini akan menjadi milikku sebentar lagi," kata Viona lirih sambil melihat sekeliling.


Viona menahan napas saat dilihatnya mobil Arnold tidak ada, rumah juga terlihat begitu sepi, ia tahu kalau Aura adik bungsu calon suaminya itu memilih tinggal di Jerman bersama sang Kakak yang tak lain Andreas.


Viona memilih pergi meninggalkan Villa milik keluarga Setyawan, ia begitu kecewa tujuannya untuk bertamu Arnold pun gagal.


****


Di rumah sakit semau sudah bersiap, Andreas juga sudah menghubungi sang adik kalau ia akan pulang. Jack dan Andreas sudah berada di bandara, mereka pergi dengan jet pribadi milik keluarga Arista. Tentunya hal itu tanpa sepengetahuan Arnold.


Kini semua sudah berada di jet pribadi, Dokter Herman dan beberapa perawat ikut untuk menjaga kemungkinan yang ada. Jack menatap tubuh yang kian kurus itu. Andreas menepuk pundaknya. 


Kini Jet milik keluarga Arista mulai take of dari Bandara Sultan Babullah. Perjalanan selama enam belas jam yang harus mereka tempuh. selama di perjalanan Andreas sama sekali tidak pernah meninggalkan gadis kecilnya itu.


Tanpa terasa enam belas jam berlalu, rombongan itu sampai di bandara Berlin Jerman tepat pukul 10 pagi. Dari pihak rumah sakit di mana Velicia akan dirawat sudah standby dengan ambulan yang akan membawa pasien. Aura juga datang dengan dua mobil untuk membawa keluarganya.


Velicia akan dirawat di salah satu rumah sakit multi-spesialisasi dan sudah mendapatkan penghargaan rumah sakit terbaik di jerman untuk penyakit kanker. Semua langsung menuju ke rumah sakit, walau tadinya Andreas meminta Mamanya pulang lebih dulu bersama adiknya Aura.


Jack dan Dokter Herman langsung menemui Dokter James, sambutan hangat dari pria itu begitu membuat jack dan Andreas merasa puas. Velicia langsung di diistirahatkan di ruang rawat yang sudah dipesan oleh Jack untuk senyaman mungkin untuk adiknya.


Tepat pukul dua siang Velicia perlahan membuka matanya, ia merasa lebih baik. Dilihatnya sekeliling. Wanita itu menyadari kalau ia kini berada di ruang rawat, saat akan bangun tubuhnya begitu merasa lemah. 


Velicia mencoba untuk merubah posisinya, tak lama terdengar pintu terbuka. Mata wanita itu membulat saat melihat siapa yang masuk dengan tersenyum hangat kepadanya. 


"Ar, kamu tahu dari mana aku ada di sini?" tanya Velicia gugup karena ia bertemu mantan suaminya saat sedang kacau seperti ini.


"Kenapa? apa aku salah kalau tahu sebenarnya, hem?" Andreas mengusap kepala Velicia lembut.

__ADS_1


"A- aku hanya tidak ingin kamu ada di sini!" kata Velicia dingin.


Andreas tersenyum lembut, pria itu kini duduk di tepi ranjang menatap mata Velicia dengan hangat. Dada Velicia berdetak begitu cepat, tatapan yang selalu ia rindukan itu. Apa ini Arnold mantan suaminya yang biasanya dingin dan datar itu. 


"Jangan pernah mengusirku lagi, karena aku akan merawatmu," ujar Andreas sambil mengusap wajah pucat Velicia dengan lembut.


"Ar, aku hanya ta-!"kata-kata Velicia terhenti karena Andreas meletakan jarinya di bibir Velicia.


"Aku tidak menerima penolakan apa pun itu, di sini aku tidak sendiri," kata Andreas.


Pintu terbuka muncul sosok wanita yang pernah Velicia kunjungi waktu Arnold mengajaknya ke desa yang terpencil itu.


"Ibu," suara Velicia tercekat.


"Panggil Mama, Sayang," kata Maria lembut.


Velicia tersenyum saat wanita itu memeluknya, ada rasa hangat dalam hatinya saat ini, Tuan Besar Setyawan melihat itu merasa senang, seandainya dulu Andreas yang dijodohkan dengan pewaris utama keluarga Arista itu mungkin wanita itu tidak akan mengalami apa yang ditorehkan putranya itu.


"Ada apa?" tanya Jack.ung 


"Aku enggak mau berobat keluar negeri," kata Velicia dengan cemberut.


"Oke, tapi kamu harus mau berobat di sini, nanti ada dokter James yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Ingat kamu harus menurut apa kata Dokter!" kata Jack tegas.


Velicia menarik  napas dalam, mungkin ini lebih baik dari pada harus keluar negeri. Tanpa ia sadari kalau sekarang berada di salah satu rumah sakit di Berlin. Jack dan lainnya tersenyum, apalagi ada keluarga dari mantan suaminya yang kini sudah tahu akan penyakitnya. Walau sejujurnya Velicia tidak mau dikasihani karena ia bukan orang lemah.


Tuan besar Setyawan menatap sendu menantunya itu, ia tidak peduli walau Arnold dan Velicia sudah bercerai, karena kini wanita yang sedang berbaring di ranjang itu sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


Tuan besar dan Maria begitu terpukul saat Velicia pernah keguguran, ia tidak bisa menyalahkan wanita itu. Namun, keduanya yakin itu karena ulah Arnold. Maria mengusap punggung tangan Velicia dengan lembut, air matanya menetes dan berkata."Maafkan anak Mama."


Deg, Velicia terkejut, ditatapnya pria yang disangkanya kalau itu Arnold. Andreas merasa diperhatikan menoleh dan tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. Ada rasa yang ingin ia ungkapkan, tetapi itu tidak sekarang.

__ADS_1


"Apa Papa enggak kerja?" tanya Velicia karena ia tahu mantan mertuanya itu akan menghabiskan waktunya untuk di kantor.


"Tentu kerja, kalau enggak bagaimana aku bisa membayar karyawan," katanya seakan sedang memikirkan sesuatu yang berat.


Velicia tergelak, ada kehangatan saat ini, seakan ia dan Arnold adalah pasangan suami-istri yang sedang berkumpul dengan keluarga besarnya.


"Sayang, Mama tidak bisa lama-lama," kata Maria sambil tersenyum menatap Velicia.


"Iya Ma, terima kasih sudah datang," kata Velicia.


"Aku juga pamit ya ada kerjaan," pamit Jack karena ia akan bertemu dokter James.


"Iya Kak, oh, iya boleh minta tolong hubungi Merry untuk datang ke sini!" pinta Velicia.


"Nanti Kakak hubungi, semoga gadis itu tidak sibuk dengan kafenya," kata jack sambil tersenyum.


Velicia hanya mengangguk, ia tahu kafe Teh hijau itu kini sedang ramai. Namun, kalau sahabatnya itu tidak bisa  enggak masalah bagi Velicia.


Setelah Jack keluar, kedua alis Velicia berkerut saat melihat Arnold masih asyik bermain ponselnya.


"Ar," panggil Velicia.


"Apa ada yang kamu butuhkan ?" tanya Andreas sambil beranjak dari duduknya menghampiri arah branker.


"Tidak, apa kamu tidak pergi?" tanya Velicia menatap mata pria yang kini terlihat begitu teduh itu.


"Kenapa, apa kamu tidak nyaman aku ada disini, hem?" tanya Andreas dengan menangkup kedua pipi Velicia dengan kedua tangannya.


Mata keduanya saling beradu, Velicia memejamkan matanya, ia kembali merasakan disaat empat belas tahun lalu. Banyak yang ingin ia tanyakan, salahkah jika dirinya tidak ingin waktu ini pergi begitu saja.


bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2