PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Perhatian Jack


__ADS_3

Jika penyesalan itu datang sebelum terjadi perceraian mungkin Velicia masih bisa mempertimbangkannya. Namun, kini sudah terlambat.


Ditatapnya Arnold yang masih menggenggam tangannya, membuat Velicia menarik napas dalam dan berkata."Pulanglah, Ar."


"Cia, apa tidak ada kesempatan kedua untukku?" tanya Arnold dengan wajah sendu.


"Semua sudah berakhir, Ar. Raihlah bahagiamu dengan Wanita yang kau cintai," jawab Velicia.


Arnold terdiam, mungkin ia sekarang belum bisa mendapatkan cinta mantan istrinya lagi. Pria itu mengingat apa yang dikatakan Papanya kalau kerjasama dengan jack dibatalkan sepihak begitu saja.


Arnold yakin ini bukan karena kerjasama, ia datang untuk menemui mantan istrinya itu. Kini pria itu merasa kesepian saat memasuki Villa. Dulu saat masih ada istrinya saat pulang ada yang menanyakan sudah makan atau yang lainya. Kini hanya ada rasa sepi dalam Rumahnya.


Villa itu rasanya sudah tidak ada kehidupan lagi, walaupun ada beberapa pelayan dan tukang kebun di sana. Arnold menatap lekat wajah cantik Velicia.


"Cia, aku tidak akan berhenti sampai di sini," kata Arnold.


Velicia tersenyum sinis, dan berkata." Itu bukan urusanku."


Deg, dada Arnold terasa sesak saat mendengar jawaban singkat dari mantan istrinya. Velicia kini bersikap dingin padanya. Ini bukan Cia yang dikenalnya.


Velicia beranjak dari duduknya, wanita itu berjalan menuju pintu. Arnold mengikutinya dari belakang. Ia ingin mengantar mantan istrinya itu untuk pulang.


"Cia, biarkan aku antar pulang," ucap Arnold.


"Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri!"tolak Velicia


"Cia, aku mohon!" pinta Arnold dengan menatap wajah yang beberapa malam itu mengganggu pikirannya.


Velicia hanya diam, wanita itu tak bergeming dari tempatnya saat Arnold mengambil kunci mobilnya. Ia membuka pintu mobil untuk Velicia, tapi wanita itu hanya diam menatap tidak suka kepada mantan suaminya itu.


Velicia merasa pria itu menyesal dan berharap rujuk, hanya karena kerjasama perusahaan dengan jack dibatalkan. Jika ia kembali kepada Arnold pastinya Jack tidak akan melakukannya.


"Ar, biarkan aku pergi," kata Velicia.


Arnold menatap mantan istrinya itu intens, ia berjalan menghampiri Velicia dan berkata, "Ayo aku antar sekali ini saja."

__ADS_1


Velicia merasa tidak tega karena baru sekali ini pria itu berkata seperti itu, keduanya kini sudah berada di dalam mobil Arnold. Selama perjalanan hanya ada keheningan. Arnold sesekali melihat wanita di sampingnya itu dengan ekor matanya.


"Cia, sejak kapan kamu mengajar?" tanya Arnold untuk memecahkan keheningan.


"Itu tidak penting!"jawab Velicia ketus.


Arnold tersenyum tipis, setidaknya Velicia masih menjawabnya. Setelah satu jam akhirnya mobil  sampai di depan villa keluarga Arista.


Velicia turun, tanpa mengatakan apa-apa kepada Arnold. Hal itu membuat pria itu keluar dari mobil dan berkata."Cia, apa kamu tidak menyuruhku masuk dulu?"


Velicia menghentikan langkahnya sambil menggelengkan kepala  dan berbalik badam masuk ke dalam villanya. Setelah pintu tertutup diintipnya mantan suaminya itu masih berdiri sambil menatap ke arahnya. Seakan pria itu tahu kalau ia sedang mengintipnya. Setelah mobil Arnold tidak terlihat lagi barulah ia bisa bernapas lega.


Senyum mengembang di bibir Velicia, apa benar pria itu tulus kepadanya, saat sedang duduk di ruang keluarga. Tak lama handphonenya berdering, dilihatnya nomer Jack.


"Halo, apa kau begitu merindukanku?" tanya Velicia dengan suara cerianya.


"Cih, aku bukan hanya merindukanmu, Tapi begitu khawatir!" cibir Jack walaupun adiknya tidak melihatnya.


"Ada apa menghubungiku?" tanya Velicia.


"Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Jack terdengar begitu khawatir.


"Cia, apa kamu mau berobat di luar Negeri?" tanya Jack.


Velicia tersenyum getir, apa keajaiban itu akan datang kepadanya. Dokter sudah mengatakan hidupnya tidak lama lagi. Tidak ada lagi yang harus ia takuti kini tinggal  waktu itu tiba.


"Jack, itu percuma saja. Kamu tahu, kan apa kata Dokter kemarin?" tanya Velicia.


Jack hanya diam, pria itu begitu sesak dadanya. Wanita itu merasa tidak ada apa-apa, pasti kini dia sedang menahan sakit yang luar biasa. Ia sampai mencari di google gejala yang dirasakan saat stadium akhir.


Air mata Jack mengalir begitu saja, ia begitu iba dengan apa yang terjadi kepada adiknya itu. Apa yang dilakukan salah membatalkan kerja sama dengan Tuan besar Setyawan untuk membalas apa yang telah mereka lakukan kepada Velicia.


"Jack," panggil Velicia


"Hem," jawab Jack dari seberang sana.

__ADS_1


"Jangan terlalu memikirkanku," kata Velicia sambil mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Sorry," kata Jack dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Velicia tidak menjawab, Jack tanpa pamit mematikan teleponnya. Wanita itu tangisnya langsung pecah. Hanya Jack yang sekarang peduli kepadanya, hanya dia yang menanyakan kabarnya. Wanita itu berjalan menuju ke kamarnya, karena merasa lelah Velicia tak lama terlelap.


***


Di Vila Tuan Besar Setyawan, Seorang pria berwajah tampan, senyum ramah kepada semua pelayan yang dilewatinya. Ya, dia Andreas Setyawan yang baru saja sampai di kediaman orang tuanya. Andreas bertolak belakang dengan sikap adiknya. Pria itu baik dan ramah persis seperti mama Maria.


Sesampai  di ruang  keluarga Andreas tersenyum, dilihatnya pria yang sedang duduk santai sambil menatap laptop di depannya.


"Pagi Pa," sapa Andreas.


"Eh, pagi. Wah ... siapa ini yang baru jenguk Papanya?" tanya Tuan Besar Setyawan sambil memeluk putra sulungnya itu. Walau Andreas dan Arnold wajahnya miirp, tapi sikap keduanya sangatlah berbeda.


Andreas tersenyum dan membalas pelukan hangat dari Papanya itu, sudah lama ia tidak mendapatkan pelukan hangat dari pria paruh baya yang selalu mendukungnya itu.


"Apa kabar, Pa?" tanya Andreas.


"Hah ... seperti yang kamu lihat, Nak. Kenapa enggak kasih kabar kalau kamu sudah kembali, hem?" tanya Tuan Besar kepada putranya itu.


Andreas tergelak atas pertanyaan Papanya, ia tahu pria di sampingnya itu sibuk dan tidak ingin mengganggunya. Melihat tawa Andreas membuat Tuan Besar Setyawan begitu senang.


"Pa, Arnold mana?" tanya Andreas karena ia begitu rindu dengan adik dinginnya itu.


"Paling sedang jalan bersama wanita tidak jelas itu," kata Tuan besar sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Andreas hanya diam, karena saat pernikahan adiknya ia tidak datang sedang membawa Mamanya berobat ke Jerman, Negara dimana ia bisa menjadi pianis sesuai impiannya.


"Istrinya," kata Andreas.


Tuan besar hanya terdiam, ia tidak ingin menceritakan Arnold kepada putra sulungnya itu. Entah apa kata Andreas saat tahu kalau adiknya kini berstatus duda.


"Jangan pikirkan anak itu, kapan kamu akan bantu Papa di perusahan, Nak?" tanya Tuan besar sengaja mengalihkan pertanyaan anaknya.

__ADS_1


"Pa, maaf, aku tidak suka dibidang bisnis. Papa tahu, kan kalau aku menyukai dunia seni!" kata Andreas.


Tuan besar hanya menarik napas panjang, karena dari kecil Andreas sudah terlihat begitu tertarik untuk menjadi pianis berbeda dengan adiknya Arnold dan Aura anak bungsunya.


__ADS_2