
Aura menatap kesal orang kepercayaan Papanya itu dan berkata." Kakak pria yang paling nyebelin yang aku kenal."
"Hati-hati Nona, bisa jadi saya jodoh Anda!" Leon bicara tanpa Ekspresi.
Aura menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang kepercayaan Papanya, gadis itu membuang wajahnya ke arah jendela mobil. Sedangkan Leon begitu menggerutui mulutnya yang tidak bisa diam itu.
Kini mobil sampai di perusahan Grup Setyawan, Leon turun langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah lobby dan naik lift, Aura mengumpati pria kaku yang meninggalkannya itu.
"Asisten gila," umpat Aura begitu geram.
Gadis itu masuk lobby para karyawan sebagian ada yang tahu siapa dirinya. Kini Aura masuk dalam lift dan langsung menekan lantai 10 di mana ruangan Papanya.
Leon sudah duduk di sofa untuk menyiapkan berkas, sedangkan Aura mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran papanya.
"Mari Nona," ajak Leon.
Mata Aura melebar karena ia baru duduk. Namun, pria itu sudah mengajaknya untuk pergi ke ruang meeting. Leon berdiri di pintu sedangkan Aura menatap kesal. Namun, ia berdiri juga untuk mengikuti pria kaku itu.
Setelah dua jam begitu membosankan kini berakhir, Aura kini ia bisa bernapas lega karena meeting sudah selesai. Leon keluar melewatinya begitu saja, hingga Aura mengumpatinya mengatakan gila.
Leon hanya mendengus ingin sekali ia ganti memaki gadis itu kalau enggak ingat anak dari Tuan Besar Setyawan.
"Nona, sebaiknya Anda kerjakan laporan meeting tadi!" perintah Leon.
"Hah, di sini siapa yang asisten!"seru Aura menatap kesal kepada pria yang langsung keluar ruangan.
Tak lama Aura mendapat pesan dari papanya, meminta bawakan hasil meeting siang ini, Aura menghempaskan tubuhnya di sofa di mana sudah ada laptop yang di siapkan oleh Leon.
Aura mulai membuka laptop dan mengerjakan apa yang dipinta Papanya, hingga waktu menunjukan pukul lima sore. Gadis itu mulai membereskan berkas yang berserakan di atas meja dan memasukan dalam tas laptopnya.
Saat membuka pintu bertepatan dengan Leon yang sedang berdiri di depannya. Leon tersenyum tipis nyaris tidak terlihat karena melihat Nonanya itu membawa barangnya sendiri.
"Kita langsung ke Villa Nona," kata Leon.
"Jumpa Papa saja duku, Om," ucap Aura membuat Leon menatap tajam dan mencengkeram kemudinya dengan kuat.
Selama diperjalanan hanya ada keheningan, setelah tiga puluh menit mobil sampai di kediaman Tuan Besar Setyawan. Aura turun begitu saja sambil melenggang menuju pintu masuk.
__ADS_1
"Anda pikir saya akan membawakan tas, Mimpi!" seru Leon lirih.
Saat Leon keluar, bersamaan dengan Arnold sampai, pria itu lewat begitu saja seakan Leon tidak ada di depannya. Sampai ruang keluarga Arnold dan Leon ikut bergabung.
"Bagaimana meetingnya apa kerjasamanya berhasil?" tanya Tuna Besar.
"Berhasil Tuan, untuk laporan ada sama Nona Aura," ujar Leon.
"Mana?' tanya Tuan besar.
Aura melihat Leon dengan tatapan tajam, gadis itu baru sadar jika tasnya tidak dibawa oleh asisten gila kepercayaan Papanya itu.
Aura berjalan keluar sambil menghentakan kakinya ke lantai, melihat itu Leon dan Tuan besar saling pandang. Andreas yang baru keluar dari kamarnya melihat adik dinginnya itu.
"Ar, ada yang mau aku bicarakan," ujar Andreas.
"Bicara saja," jawab Arnold acuh.
Andreas menarik napas dalam melihat tingkah adiknya itu. Tuan besar hanya menarik napas dalam, ia merasa kalau sikap anak anak-anaknya itu semua karenanya. Pria paruh baya itu menarik napas kasar, hal itu membuat Aura dan Leon menatapnya.
"Leon antar saya ke kamar!" pinta Tuan Besar Setyawan.
Andreas dan Aura terdiam, kenapa papanya tidak meminta tolong kepada anak-anaknya. Leon mendorong kursi roda masuk ke kamar. Maria datang membawakan bubur dan air putih hangat untuk mantan suaminya itu.
"Jangan terlalu memikirkan yang berat," kata Maria sambil duduk di tepi ranjang bersama Tuan Besar Setyawan itu.
"Hem," jawab Tuan Besar Setyawan.
"Leon selama Aura di sini tolong kamu ajarkan ia masalah perusahan!" pinta Tuan Besar.
Leon hanya menganggukan kepalanya, ada rasa ragu jika mengingat bagaimana putri dari bosnya itu. Namun, saat ini ia harus melapangkan dadanya untuk membimbing Aura. Kalau anaknya menurut Leon tidak akan masalah, tapi gadis yang akan ia bimbing nanti seperti anak pembangkang.
"Jangan terlalu dipaksakan," kata Maria sambil menyuapkan bubur ke mantan suaminya itu.
"Kapan lagi ia akan belajar," ujar Tuan Besar.
Maria hanya diam, ia tidak ingin ribut dengan ayah dari anak-anaknya itu. Tak lama pintu terbuka muncul Andreas yang bikini ikut bergabung.
__ADS_1
"Nak, kapan kamu akan kembali ke Jerman?" tanya Tuan Besar.
Andreas menatap Papanya, ada rasa sesak di dadanya saat ditanya akan kembali. Maria yang melihat putranya hanya diam akhirnya angkat bicara.
"Anak baru sampai kenapa ditanya kapan kembali!" seru Maria kesal.
Tuan besar mantap istrinya, dan berkata." Bukan maksudku untuk mengusir, dari tadi malam kepikiran Velicia."
"Sebaiknya kita jujur saja apa yang terjadi, mau sampai kapan kita tutup-tutupi semuanya itu," kata Andreas.
"Apa maksudmu, Nak?" tanya ? Tuan Setyawan.
"Pa, aku lelah harus menjadi Arnold di depannya, aku juga banyak kerja di sana!" seru Andreas.
Deg, pria paruh baya itu memegang dadanya, apa yang sudah ia lakukan kepada anak-anaknya. Demi kerjasama dengan jack ia mengorbankan semaunya. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf, sekarang lakukan apa yang menurut kalian baik, dan jangan pedulikan Papa," ujar Tuan besar memejamkan matanya.
Leon melihat itu hanya bisa menarik napas kasar, Andreas mengepalkan kedua tangannya. Ia kesal, marah dan benci dengan keluarga yang tidak bisa bersatu untuk menjadi keluarga yang hangat.
"Leon, kalau Jack minta batal, ya sudah kamu urus kerugiannya berapa!"perintah Tuan Besar
Di pintu yang tidak tertutup ada Aura yang sudah menangis, gadis itu merasa dadanya sesak. Leon tidak sengaja melihat Aura yang mengusap air matanya kemudian pergi meninggalkan kamar Papanya.
Leon keluar dari kamar, ia mencari Aura. Namun, tidak menemukannya. Hingga ia berjalan naik ke lantai dua. Pria itu perlahan membuka pintu, dilihatnya Aura menangis sambil duduk di lantai beralaskan karpet.
Leon masuk dan ikut duduk di samping Aura, gadis itu menatap pria kaku di sampingnya. Ia sudah begitu lelah kalau harus mengusir dari kamarnya.
"Tuan cuma ingin anak-anaknya bahagia, tapi kalian berpikir kalau itu salah," ujar Leon.
"Apa kamu tahu, kenapa Tuan besar ingin kamu belajar di kantor?" tanya Leon.
Aura hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu masih terisak. Ia tidak ingin keluarganya menjadi seperti ini.
"Nona, saya harap Anda belajar yang benar, ingat jangan selalu merepotkan saya!" kata Leon tegas.
Bersambung ya...
__ADS_1