
Melihat Cia sudah meneteskan air matanya, tidak lama Arnold menangis sambil mengusap bahu Cia. Suster dan Dokter James terharu melihatnya.
Tiba-tiba tubuh Cia kejang dalam pelukan Arnold membuat Pria itu panik.
"Dokter!"teriak Arnold.
Suster membantu membaringkan Cia, sedangkan dokter James menyuntikkan obat ke lengan Cia. Tidak lama tubuh wanita itu mulai tenang, Arnold melihat itu bisa bernapas lega.
"Apa setiap kemo seperti itu?" tanya Arnold menatap wajah istrinya yang begitu pucat.
"Baru kali ini, karena saya naikkan dosisnya. Namun, ini aman." Dokter James menjelaskan kepada Arnold.
"Sampai kapan keluar dari sini?" tanya Arnold tanpa menatap Dokter James.
"Tiga jam lagi, Anda boleh tetap di sini," ujar Dokter James yang begitu paham kalau pria itu begitu mencintai Cia.
Arnold mengambil kursi yang baru dikasih suster untuk ia duduk, pria itu menatap sendu wajah istrinya. Rasanya ia ingin menggantikan rasa sakit yang selama ini diderita oleh Cia. Dadanya sesak mengingat apa yang dirasakan oleh wanita itu.
Dikecupnya punggung tangan Cia, dan selalu menggenggam tangannya. Setelah tiga jam suster memindahkan ke ruang rawat. Arnold tetap setia di sampingnya. Hingga wanita itu mulai membuka matanya, Cia merasakan tubuhnya lemah dan perutnya begitu mual.
"Sayang," kata Arnold langsung terhenti saat Cia memuntahkan isi perutnya ke dada mantan suaminya itu.
Arnold terkejut, tetapi dengan cepat ia memijat tengkuk istrinya hingga Cia berhenti memuntahkan isi perutnya dan berkata."Maaf."
Arnold tersenyum, dan menjawab."Kamu udah enakan?"
Cia hanya mengangguk, Tak lama Arnold memanggil suster untuk minta tolong untuk menemani istrinya sebentar, Suster itu menatap Arnold terkejut. Namun, ia dengan cepat memanggil petugas kebersihan.
Lima belas menit kemudian Arnold keluar dari kamar mandi karena ia yang akan membantu istrinya untuk membersihkan muntahan di badannya.
"Ar, apa kamu yakin?" tanya Cia.
"Sayang, aku suamimu," ujar Arnold menatap wajah istrinya sambil tersenyum.
Cia tidak bisa menolak, karena mantan suaminya begitu manis kepadanya. Selama dua puluh menit Arnold membantu Cia dari membersihkan badan dan membantu mengganti baju. Saat keluar dari kamar mandi Arnold dan Cia terkejut karena sudah ada Jack dan Selly.
"Apa yang kalian lakukan di kamar mandi?" tanya Jack dengan rahang mengeras.
"Menurutmu!" seru Arnold sambil membaringkan Cia yang masih terlihat lemah.
Jack yang merasa kalau Arnold sudah melakukan hubungan yang seharusnya tidak dilakukan lagi kepada adiknya langsung ,melayangkan bogem mentahnya tepat mengenai pipi mantan suaminya adiknya itu.
"Jack!" teriak Cia dan Selly bersamaan.
__ADS_1
"Bajingan kamu, tahu adikku sakit kau memaksanya untuk melayanimu di kamar mandi, hah!" murka Jack saat akan kembali mau memukul wajah Arnold.
Pukulan itu kembali mendarat dengan sempurna, tetapi sedetik kemudian mata Jack dan Arnold terbelalak karena Cia kini terkulai ke lantai karena pukulan Jack tadi.
"Cia!" Arnold begitu khawatir.
Arnold mengangkat tubuh Cia, wanita itu pingsan karena pukulan Jack begitu keras mengenai wajahnya.
Dokter datang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Arnold yang babak belur, sedangkan Cia pingsan dengan wajah yang memar.
Suster datang membawa kain basah untuk mengompres wajah Cia, setelah itu ia mengoleskan salep di wajah Pasien malang itu karena ia yakin ada yang berkelahi hingga wanita itu kini pingsan.
Dokter dan suster keluar, kini Selly menatap suami dan Arnold dengan tajam dan berkata."Kalian pria yang tidak berguna, keluar dari ruangan Ini."
Jack dan Arnold saling tatap, dan berdua kompak menggelengkan kepalanya. Melihat itu Selly memijat pelipisnya karena merasa pusing oleh tingkah kedua pria itu.
"Keluarlah tenangkan diri kalian!" usir Selly.
Arnold keluar lebih dulu sambil menutup pintu dengan keras, membuat Selly terkejut. Jack menatap istrinya dengan iba supaya tetap tinggal di dalam dan berkata."Yang."
"Keluarlah!" hardik Selly.
Jack dengan langkah gontai membuka pintu, tetapi sebelum menutup pintu ia melihat istrinya berharap wanita yang begitu dicintainya itu memanggilnya. Namun, Sayangnya itu tidak terjadi.
Setelah kedua pria itu keluar, Cia membuka matanya. Selly melihat itu tersenyum dan berkata."Apa masih pusing?"
"Hem," jawab Selly sambil duduk di samping brankar Cia.
Cia menatap ke arah sofa, tetapi yang dicarinya tidak ada. Selly yang tahu kalau adik iparnya itu sedang mencari dua pria yang diusirnya tadi hanya menarik napas dalam.
"Kak, kemana mereka?" tanya Cia.
"Aku usir keluar," jawab Selly santai.
"Hah!" seru Cia terkejut.
Selly hanya menatap Cia sambil memutar bola matanya malas.
"Biar mereka tenangkan diri duku," kata Selly.
"Kalau keduanya bertengkar lagi bagaimana, Kak?" tanya Cia terlihat khawatir.
Pintu terbuka, masuk sosok yang sudah membuatnya khawatir itu.
__ADS_1
"Ar, kamu enggak apa-apa?"tanya Cia sambil menatap wajah tampan itu yang kini terlihat jelas babak belur.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir," kata Arnold sambil mengusap wajah Cia yang membiru.
Cia mengambil salep, lalu wanita itu meminta Arnold untuk duduk di depannya.
Perlahan ia mengoleskan ke pipi Arnold dan bibirnya yang terluka. Kita mata semua tertuju ke arah pintu. Jack masuk sambil tersenyum mantap istrinya.
"Jack, kamu salah sangka. Kami tidak melakukan itu, Arnold hanya membantu membersihkan muntahanku," ujar Cia sambil menatap sendu kakaknya itu.
Jack hanya mengangguk, pria itu enggan meminta maaf sama Arnold. Itu akan menjatuhkan harga dirinya.
"Kalau sudah tahu minta maaf," sindir Selly membuat Jack menatap tajam istrinya.
Cia terkekeh, karena ia tahu kalau kakaknya itu gengsinya besar.
"Ar, apa kamu mau memaafkan Jack?"tanya Cia lembut.
Arnold menaikan kedua alisnya karena istrinya yang mengatakan demikian kepadanya.
"Kenapa kamu yang minta maaf?"tanya Arnold lembut.
Cia tersenyum dan menjawab."Karena Jack Kakakku."
Deg, dada Jack begitu sesak saat Cia yang sedang sakit meminta Arnold untuk memaafkannya.
"Apa kamu sudah makan?"tanya Arnold saat melihat bubur Cia yang masih belum disentuh.
Cia menggelengkan kepala, hal itu membuat Arnold tersenyum. Pria itu mengambil mangkuk dan mengadukan bubur yang masih terasa hangat itu.
Jack yang melihat keduanya sedang asik sendiri, ia mengajak istrinya untuk keluar ruang rawat Velicia.
"Kamu harus istirahat, Cia," kata Arnold sambil mengambil wig untuk menutup kepala istrinya itu.
Cia hanya tersenyum, ia menurut saja saat Arnold memberikan obat untuknya.
Arnold mengecup kening istrinya lembut, setelah itu membantunya untuk berbaring.
"Apa masih mual?"tanya Arnold.
Cia hanya menggeleng, hal itu membuat Arnold lega. Berarti reaksi obatnya sudah habis.
Cia yang diusap punggung tangannya, tidak lama mulai menutup matanya.
__ADS_1
Saat istrinya sudah terlelap, Arnold tersenyum lalu mengecup kening istrinya dan membetulkan selimut sampai ke dadanya.
"Aku mencintaimu, Cia," kata Arnold.