PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Mengikuti Cia


__ADS_3

Pagi harinya Cia sudah lebih dulu bangun dari suaminya, wanita menatap wajah tampan yang terlihat begitu damai saat sedang tidur. Perlahan Cia memindahkan tangan suaminya dari pinggangnya.


Gerakan itu membuat Arnold membuka matanya."Sudah jam berapa, Sayang?"


"Masih malam, tidur aja lagi," kata Cia.


"Hem." Arnold kembali lagi terlelap.


Cia hanya tersenyum, wanita itu segera turun dari ranjang. Ia keluar dari kamar karena merasa begitu haus. Saat sampai di dapur, hanya lampu remang-remang yang dinyalakan.


"Kenapa aku merasa tubuhnya begitu mudah lelah," ucap Cia lirih.


Cia duduk di kursi tidak jauh dari meja makan. Wanita itu memejamkan matanya, ia merasa begitu lapar. Namun, wanita itu tidak ingin membangunkan pelayan.


Cia membuka kulkas, wanita itu melihat ada telur dan bahan lainnya. Ia membuka lemari. Matanya seketika berbinar saat melihat dua bungkus mie instan.


Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung merebus air. Tidak lupa menyiapkan sayur cabe dan telur. Cia begitu asik hingga tidak menyadari seseorang sedang memperhatikannya dengan senyum mengembang di pipinya.


"Sayang, aku pikir kamu kemana," ucap Arnold.


"Ar, kenapa terbangun?" tanya Cia.


"Bagaimana aku tidak terbangun, istriku tidak cepat kembali." Arnold memeluk tubuh Istrinya dari belakang.


Velicia tersenyum, wanita itu begitu senang. Dulu ia begitu berharap bisa seperti ini, walaupun dulu rasanya tidak mungkin.


Namun, kini rasanya begitu nyata. Ia dicintai dan mencintai suaminya.


"Apa kamu mau?" tanya Cia.


Arnold melepaskan pelukannya, pria itu menatap apa yang sedang disusun oleh istrinya? Kedua alisnya berkerut, ia tidak tahu apa yang sedang dimasak oleh Cia.


Makanan yang ada di dalam mangkuk itu yang terlihat hanya hijau, penuh dengan sayuran."Sayang, kamu masak sayur. Kenapa tidak membangun pelayan saja."


"Ini hanya masak mie saja, kenapa  harus membangunkan pelayan segala." Dia membawa dua mangkok berisi mie untuk dirinya dan Arnold.


"Makanlah lagi panas," kata Cia.


Arnold menatap sang istri,  wanita itu terlihat begitu lahap makan mienya." Apa seenak itu, Sayang?"


"Iya, cobalah."


Arnold perlahan mengambil sendok, pria itu mulai mengantuk mie yang dihiasi tobing sayur di atasnya, lali ada  telur mata sapi.


Arnold mencicipi kuahnya terlebih dahulu, matanya seketika membulat. Membuat siap terkejut." Kenapa?"


"Sayang ini enak." Arnold segera memakannya begitu lahap.

__ADS_1


Cia mengangguk, keduanya makan hingga mangkok itu kering, kuah pun sama sekali tidak tersisa.


"Ah, Kenyang," ucap Arnold.


Velicia hanya tersenyum, wanita itu segera mengambil mangkuk kotor millik suaminya. Setelah itu segera membawanya ke dapur.


Arnold duduk sambil melihat istrinya mencuci perabotan yang tadi di pakainya. Setelah selesai, wanita itu mengajak suaminya kembali ke kamar.


Saat sampai di kamar, Cia duduk di di tepi ranjang. Sedangkan Arnold pergi ke balkon kamarnya. Velicia melihat suaminya keluar ke balkon hanya menarik napas karena tahu pasti akan merokok.


Wanita itu membiarkan saja, karena ia juga lelah kalau karena sudah mengingatkan. Namun, Arnold lagi-lagi tidak mendengarkannya.


Cia karena merasa sudah mengantuk, wanita itu tidur lebih dulu. Tidak butuh lama Cia langsung terlelap.


Satu jam kemudian, Arnol masuk kamar. Dilihatnya istrinya sudah tidur kembali, pria itu segera Menganti pakaiannya karena bau asap rokok.  Setelah itu Arnold membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


******


Pagi harinya, suara ribut terdengar di ruang keluarga. Cia yang baru bangun, segera mandi. Wanita itu sudah bisa menebak kalau itu pasti ulah Aura dan Andreas ribut jika Pagi.


Setelah menyelesaikan ritualnya, Cia segera keluar dari kamar.


"Pagi," sapa Cia.


"Pagi sayang," ucap Maria.


"Sedang mandi, Kak." Cia menatap kakak angkatnya sambil tersenyum.


Semua melihat ke arah Arnold, pria itu terlihat begitu berbeda. Bisa pagi akan Langsung pakai jas. Namun, pagi ini hanya mengenakan kemeja yang digulung lengannya sampai ke siku.


Bagi Cia, suaminya itu terlihat begitu tampan. Ia tahu, banyak rekan bisnisnya memperkenalkan putri  mereka untuk Arnold. Namun, Arnold sama sekali tidak tertarik kepada wanita manapun. Bagi Arnold, ada sang istri di sampingnya sudah lebih dari cukup.


"Sayang, jangan sering melamun." Arnold mengusap punggung tangan Cia.


"Kakak ipar apa sedang ada masalah?" tanya Aura.


"Tidak ada," jawab Cia.


"Tapi kakak sering melamun beberapa hari ini," ujar Aura.


Cia hanya tersenyum, wanita itu segera mengambilkan sarapan untuk suaminya. Setelah itu mengambil untuk ibu mertuanya. Mereka makan hanya terdengar dentingan sendok saja.


"Apa kamu hari ini ke kantor?" tanya Jack.


"Tidak, tapi aku akan melihat pembangunan apartemen langsung." Arnold menatap Jack dan Selly tersenyum.


"Jack mobil ada di Vila kita." Cia  mengulurkan kunci vila milik keluarganya itu.

__ADS_1


"Kalau tidak pakai mobilku saja, Biar aku memakai mobil Cia," tawar Arnold.


Selly dan Jack saling pandang, kemudian keduanya mengangguk. Cia melihat itu merasa lega. Setidaknya Jack masih menganggap suaminya itu ada.


Jack segera pamit pagi itu juga, sedang Selly tinggal karena hanya ingin di Vila saja.


Setelah Jack pergi, Selly segera masuk dan melihat Cia sedang bersiap-siap lalu bertanya" Kalian mau kemana?"


"Maaf, Kami sudah terlambat."


"Cia apa yang sedang kamu sembunyikan?" tanya Selly.


Wanita itu menatap Cia." Jangan katakan kamu ingin meninggalkan Arnold hanya karena tidak memiliki anak."


Cia terdiam, ia kemudian tersenyum menatap kakak iparnya itu." Kakak aku mau bertemu Merry."


Mendengar apa yang dikatakan adiknya, Selly menatap curiga." Apa boleh aku ikut."


Cia begitu terkejut, wanita itu terlihat begitu gugup saat ini. Sedangkan Selly tersenyum devil.


"Aku ikut ya?" tanya Selly sekali lagi.


"Bukannya kakak ingin istirahat saja di villa?" Cia sengaja mengingatkan sang kakak ipar.


Selly kini yakin, setelah mendengar apa yang dikatakan Cia. Adik iparnya itu sudah menyembunyikan sesuatu dari yang lainnya.


" Iya , bisa-bisa Jack nanti marah kalau pulang aku tidak berada di rumah." Selly menatap Cia sambil tersenyum.


Cia merasakan lega, saat mendengar kalau Selly hanya ingin di Vila. Cia sebagai masuk taksi yang sudah dipesan tadi.


Setelah Cia keluar, tidak berapa lama Selly keluar." Pak ikuti mobil itu."


"Baik Nona."


Taksi yang ditumpangi Selly kini  berjarak begitu dekat dengan taksi yang dinaiki Cia.


Mata Selly membulat,.saat taksi berhenti di salah satu rumah sakit. Ya , rumah sakit tempat dokter Herman diperiksa.


Apa yang dilakukan Cia, kenapa pria itu melihat sekeliling karena ada hal yang mencurigakan, seorang perawat langsung mengajak Cia."Maaf  Nona kalau Anda sudah ditunggu."


Selly segera turun dari taksi, wanita itu mengikuti Veli. Sedangkan Selly terlihat jalan terburu -buru.


Selly tidak ingin kehilangan jejak adik iparnya itu, wanita itu kini melihat dengan jelas jika Cia masuk ke ruangan dokter Herman.


Selly kini berdiri di depan  pintu ruangan tersebut. Tidak mungkin ia bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.


Selly kini menunggu tidak jauh dari ruang dokter Herman, karena tidak ingin menjadi perhatian pengunjung dan perawat.

__ADS_1


__ADS_2