
Velicia menatap jengah pria di depannya yang selalu membuatnya terbuai itu. Rasa benci itu seakan menguap begitu saja.
Ditatapnya pria di depannya itu tidak ada lagi ketus, tetapi tiba-tiba wajah cantik itu berubah murung. Melihat itu Andreas mengusap pipi Velicia dengan lembut.
"Ada apa, gadis kecil?" tanya Andreas.
Deg, Velicia terkejut. Menatap tidak percaya kalau mantan suaminya itu memanggilnya gadis kecil lagi.
Velicia merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya, Rasa yang dulu ia kubur dalam-dalam kini dapat dirasakan dan nyata di depannya.
"Ar, apa boleh aku memelukmu lagi?" tanya Velicia sambil tersenyum malu.
Andreas beranjak dari duduknya, kemudian ia menarik tubuh yang kian kurus itu dalam pelukannya.
Rasa nyaman kian ia rasakan. Namun, ada sesuatu yang berbeda saat Velicia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arnold.
Banyak pertanyaan yang singgah di hatinya. Aroma parfum yang dipakai Arnold ini berbeda dari yang biasanya. Selama tiga tahun berhubungan dengan suaminya pria itu belum pernah mengganti parfumnya.
Velicia mendongakkan kepalanya ke atas, Andreas masih tersenyum melihat wajahnya.
"Ar, sejak kapan kamu ganti parfum?" tanya Velicia dengan menautkan kedua alisnya.
Andreas terlihat gugup, tetapi pria itu dengan mudah langsung menjawab." Ini parfum hadiah dari Aura."
Velicia merasa lega, ia takutnya Arnold ganti parfum karena permintaan dari Viona. Entah mengapa ia mengingat wanita itu lagi sekarang.
"Ar, apa Viona tidak marah kamu ada di sini?" tanya Velicia sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh mantan suaminya itu.
Andreas menarik napas panjang, entah bagaimana caranya memberitahu kepada gadis kecilnya itu jika ia buka Arnold.
Andreas merasa heran karena Velicia tidak bisa membedakan dirinya dan Arnold. Padahal jelas dari sifat dan tai lalat di wajahnya. Jika Arnold ada tai lalat di sebelah pipi kiri, maka dirinya di pipi sebelah kanan.
"Selama kamu dirawat jangan memikirkan wanita itu, karena hanya kamu yang ada di hatiku sekarang, Cia," ujar Andreas dengan jujur walau ia begitu mencintai wanita yang kini beberapa hari bersamanya itu.
Tidak ada jawaban dari gadis kecilnya, yang terdengar hanya dengkuran halus dari wanita yang kini bersandar di dadanya.
Andreas tersenyum tipis, begitu nyaman dadanya sampai Velicia terlelap.
Perlahan Andreas membaringkan tubuh kecil wanita yang sudah membuat jantungnya berdebar dibatasi normal itu.
__ADS_1
Seorang perawat masuk dan mengatakan kalau nanti tepat pukul 2 siang akan diadakan tes darah dan pemeriksaan lainya.
Andreas hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih karena sudah mengingatkan dirinya.
"Kamu harus sembuh," kata Andreas sambil mengecup kening gadis kecilnya itu.
Setelah memastikan Velicia sudah tertidur nyenyak Andreas segera keluar dan meminta salah satu perawat untuk menjaga gadis kecilnya itu.
***
Di salah satu apartemen di Berlin, keluarga Tuan besar Setyawan sedang mengobrol di ruang keluarga, ada Jack dan Aura serta dokter Herman yang kini berkunjung.
"Dokter apa menantu saya nanti bisa sembuh dan normal kembali," tanya Tuan besar.
Dokter Herman hanya tersenyum, dan berkata." Kita hanya bisa berusaha, Tuan. Dan yang Mahakuasa yang menentukan-nya."
Mama Maria ikut bergabung, ia merasa tertarik saat pria itu sedang membicarakan menantunya.
"Saya harap Velicia bisa sembuh, saya tidak perduli kalau nantinya ia akan bersama Arnold atau Andreas," ucapnya membuat Jack yang sedang membantu Aura mengerjakan tugas kuliahnya menatap datar ketiga orang yang sedang membicarakan adiknya itu.
"Kak, ini gimana?"tanya Aura saat melihat wajah Jack sudah bersikap dingin itu.
Jack kembali lagi fokus kepada Aura, sedangkan pikirannya ke adiknya.
"Pasti Kak," janji Aura sambil tersenyum.
Jack merasa lega, diacaknya poni Aura gemes, tanpa Jack sadari kalau gadis yang kini duduk di depannya itu menjadi terbuai akan kehangatannya selama tinggal beberapa hari ini.
"Sudah selesai, sekarang rapikan tugas-tugasmu gadis kecil," kata Jack sambil beranjak dari duduknya.
Jack ikut bergabung dengan Tuan besar dan doktor Herman. Sedangkan Mama Maria melihat Jack hanya tersenyum sambil mengusap bahunya.
"Jack kapan kamu pulang?" tanya Tuan besar sambil mengusap bahu Jack.
"Setelah melihat hasil tes hari ini, sudah sejauh mana kanker itu menyebar dalam tubuh Velicia," kata Jack.
"Tuan, saya rasa pengobatan itu akan berhasil, apa lagi selama di sini Nyonya Setyawan tidak ada mengkonsumsi obat peredaran nyeri.
"Saya harap juga begitu, Dok," jawab Jack sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
__ADS_1
"Pa, apa ada kabar dari Arnold?" tanya Maria.
"Sejauh ini belum, anak itu masih sibuk mencari Velicia," ujar Tuan besar.
Dokter Herman segera pamit karena siang ini ia dan Dokter James akan melakukan serangkaian tes kepada Velicia menggunakan alat yang lebih canggih.
Setelah kepergian doktor Herman, Jack menatap Tuan besar dan istrinya bergantian.
"Jika Velicia sembuh, dan Arnold masih menyakitinya saya pastikan kesepakatan batal! kata Jack tegas.
"Jangan khawatir masalah itu, saya rasa anak itu kini menyesalinya, Jack," ujar Tuan Besar.
"Kita lihat saja nanti," kata Jack tak acuh.
Tuan besar berharap Arnold tidak mengabaikan apa yang sudah dikatakan istrinya waktu itu.
Seumur hidup dalam penyesalan itu membuatnya tidak ingin sang putra mengalami hal yang sama dengan dirinya.
Maria yang melihat suaminya hanya diam dan melamun sebenarnya merasa kasihan. Perceraiannya sama sekali tidak terendus media, begitu juga dengan Perceraian Arnold dan Velicia.
Ditatapnya Jack yang sedang namanya Tuan besar dengan tatapan yang berbeda.
"Nak, sebaiknya istirahat saja dulu," kata Maria karena melihat Jack yang terlihat begitu lelah saat ini.
"Iya, terimakasih," kata Jack langsung beranjak dari duduknya menuju kamar yang beberapa hati ia tempat, walau ia tahu itu kamar Andreas. Dilihatnya ada piano dan beberapa penghargaan di pigura yang ditempel di dinding.
Jack menatap foto yang tak asing baginya. Itu foto Velicia saat masih ada kedua orang tuanya.
Jack mengambilnya dan menatapnya lewat. Adiknya itu sedang bermain piano dengan Andreas. Namun, ada sesuatu yang membuat pria itu mengetahui fakta yang sebenarnya.
Jack ingat jika adiknya itu pernah bercerita menyukai seorang pria yang lebih tua darinya.
"Ya Tuhan, Cia. Apa ini hanya kebetulan saja, atau takdir yang mempermainkanmu," ujar Jack sambil menyugar rambutnya.
Jack hampir tidak percaya, tetapi ia akan menyelidiki terlebih dahulu, ia akan mendekati Aura untuk mengorek keterangan tentang Andreas yang sebenarnya.
Jack mengambil ponselnya, dan memfoto pigura itu.
"Cia, aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan, jika selama ini salah menikahi pria yang sebenarnya," kata Jack lirih.
__ADS_1
Jack yang sedang asik memegang pigura dikejutkan dengan suara bariton."Letakkan pigura itu, Tuan!"
Bersambung ya…