
Saat istrinya sudah terlelap, Arnold tersenyum lalu mengecup kening istrinya dan membetulkan selimut sampai ke dadanya.
"Aku mencintaimu, Cia," kata Arnold.
Arnold menatap wajah Cia, rasa sesal yang begitu besar jika mengingat apa yang dulu dilakukan kepada istrinya.
Rasanya ia sudah tidak pantas untuk memiliki istrinya lagi, wajar jika Cia nanti akan memilih sang kakak yang begitu lembut dengan wanita. Andreas begitu menyayangi mama dan Adiknya sedari dulu. Berbeda dengan dirinya, walaupun ia menyayangi Maria.
****
Singapore.
Tepat pukul sebelas Aura mengambil hasil tesnya dan milik kedua orang tuanya. Gadis itu berjalan menuju ruang dokter yang sudah disebutkan oleh seorang perawat.
Saat Aura akan mengetuk, pintu lebih dulu terbuka. Seorang wanita cantik menggendong anak kecil tersenyum ramah kepadanya.
"Masuklah Nona," Kata dokter itu sambil tersenyum hangat.
"Dokter ini hasil tes kami kemarin," kata Aura sambil menyodorkan tiga amplop yang masih di segel.
Dokter Marcel membuka ketiga amplop itu, Aura memperhatikan tidak ada perubahan dari raut wajahnya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Aura.
"Hanya satu yang cocok," jawab Dokter sambil menatap Aura .
"Siapa Dokter?" tanya Aura berharap bukan Mama dan Papanya melainkan dirinya.
"Nyonya Maria," jawab Dokter.
Deg, Aura menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin kalau sampai mamanya kenapa-napa. Air matanya mengalir begitu saja membuat Marcel menaikan ke kedua alisnya.
"Ini mungkin berat, Anda dan Tuan Setyawan hanya tujuh puluh persen saja cocoknya, sedangkan Nyonya Maria sembilan puluh delapan persen," jelas Dokter Marsel.
Aura keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai dan air mata yang membasahi pipinya, gadis itu selama ini kurang dekat dengan Arnold. Namun, kali ini ia akan menghubungi kakaknya itu.
Sambungan telepon terhubung, tetapi belum juga diangkat. Gadis itu mengirimkan pesan tidak lama Arnold menghubunginya.
"Hallo," kata Aura dengan suara terisak.
"Aura, ada apa?" tanya Arnold merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Kak, apa sudah tes ginjal juga?" tanya Aura sambil menutup mulutnya supaya tangisnya tidak pecah.
__ADS_1
"Sudah, sore ini keluar hasilnya. Aura katakan apa yang terjadi," kata Arnold tegas.
"Kakak, aku dan papa tidak cocok." Aura memegang dadanya yang terasa sesak.
"Jangan katakan jika Mama yang cocok," kata Arnold sambil memejamkan matanya walau adiknya tidak melihatnya.
"Iya," jawab Aura.
Gadis itu menatap ponselnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh Shinta sahabatnya yang kini menjadi asisten kakaknya itu.
"Ada apa?" tanya Shinta sambil memeluk Aura untuk menenangkannya
"Shin, ketiganya tidak ada yang cocok." Aura terpaksa berbohong.
Shinta mengurai pelukannya, ditatapnya Aura yang juga sedang menatapnya. Gadis itu mengusap air matanya yang hampir saja jatuh membasahi kedua pipinya.
"Percayalah, kita pasti bisa mendapatkannya," ujar Shinta walau dalam hatinya ragu.
"Amin," jawab Aura.
Kini keduanya berjalan menuju ruang rawat Andreas, Aura melihat Papanya sedang duduk di luar ruangan membuat gadis itu heran.
"Papa, kenapa tidak di dalam saja?" tanya Aura lembut.
Aura menunduk sambil mengangguk, hal itu membuat Papanya menarik napas panjang, diusapnya bahu putrinya.
"Pa, kita tidak ada yang cocok," jawab Aura.
Tuan Besar Setyawan tersenyum, walau dadanya sesak karena hasil tes begitu mengecewakan dirinya dan anaknya.
Tepat pukul empat sore waktu Singapura, Aura mendapatkan sampel hasil tes dari kakaknya. Gadis itu buru-buru keluar untuk menuju ke ruangan Dokter Marsel. Sesampainya di ruangan itu bertepatan dengan keluarnya dokter yang menangani kakaknya.
Marsel melihat Aura hanya menaikan kedua alisnya, karena gadis itu sedang mengatur napasnya.
"Dokter, ini dari kakak saya," kata Aura sambil memberikan foto yang dikirim Arnold.
"Ayo masuk," ajak Dokter Marsel.
Dokter itu kembali lagi duduk dan menatap foto yang sudah ia kirim ke laptopnya, senyum mengembang di bibirnya dan berkata."Ini cocok, sembilan puluh delapan persen."
Aura bernapas lega, kini ia harus langsung video call kepada Arnold. Setelah sepuluh menit pria itu menghubunginya kembali.
Arnold menatap adiknya yang kini berlinangan air mata itu dan berkata."Ada apa?"
"Jika kakak cocok, apa mau mendonorkan ginjal ke kak Andreas?" tanya Aura sambil menatap wajah kakaknya yang wajahnya tidak berubah ekspresinya itu.
__ADS_1
"Apa cocok?" tanya Arnold.
"Iya," jawab Aura.
"Nanti kakak hubungi lagi," kata Arnold langsung mematikan ponselnya.
Aura hanya bisa mengusap wajahnya kasar, ia sudah tahu apa efek samping setelah donor ginjal nanti, tanpa Aura sadari Papanya mendengar video call tadi. Pria itu kini merasa bersalah karena Andreas harus secepatnya operasi karena sekarang kondisinya kian menurun walau sudah cuci darah.
"Apa yang harus Papa lakukan, Aura?" tanya Tuan Besar Setyawan itu sambil duduk di samping Putrinya.
"Apa kita harus membujuk Kak Arnold, Pa?" tanya balik Aura.
Tuan Setyawan terdiam, pria itu merasa tidak adil kalau harus mengorbankan putranya untuk keselamatan putra yang lainnya. Namun, hanya itu yang cocok. Pria paruh baya itu mengusap air matanya yang hampir saja tumpah begitu saja di pelupuk matanya.
Dulu ia sudah membuat kesalahan hingga harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya tidak mendapatkan kasih sayang penuh darinya. Keluarga yang dulu hangat semakin hari semakin terasa asing hingga Arnold yang dulu periang menjadi dingin dan arogan.
"Jika Kakakmu ke sini, siapa yang menunggui Cia?" tanya Tuan Besar Setyawan.
"Aura yang akan menggantikannya," jawab Aura dengan tenang.
"Baiklah kita tunggu kabar dari kakakmu," ucap Tuan Besar.
*****
Berlin. Arnold yang baru selesai video call dengan adiknya kini duduk sambil menatap pintu ruang rawat istrinya.
Ia bingung apa akan meninggalkan istrinya yang sedang membutuhkannya atau tetap tinggal, sedangkan Andreas membutuhkannya. Arnold berjalan dan perlahan membuka pintu ruang rawat, Cia yang melihat mantan suaminya itu tersenyum.
"Sudah siap?" tanya Cia sambil menatap Arnold yang terlihat kalau sedang banyak pikiran.
"Cia, kalau aku tinggal sebentar apa tidak apa?" tanya Arnold menatap istrinya itu dalam.
"Mau kemana?" tanya Cia.
"Ada kerjaan yang harus ditangani, karena Leon sendiri di sana." Arnold terpaksa berbohong kepada istrinya.
Cia terdiam, entah kenapa ia begitu berat jika harus berjauhan dengan Arnold sekarang. Wanita itu memejamkan matanya.
"Ar, berapa lama?" tanya Cia walau hatinya berat.
"Kamu ya, berharap kali aku pergi." Arnold mencoba menggoda istrinya dan itu berhasil membuat wajah Cia memerah.
Arnold mengusap pipi istrinya lembut, ia ingin bertanya siapa pria yang dicintainya. Namun, ada rasa takut jika itu bukan dirinya. Dikecupnya kening Cia dengan lembut dan agak lama ia menempelkan bibirnya dan bertanya." Cia, siapa pria yang kamu cintai sekarang?"
bersambung ya….
__ADS_1