
Sesampainya di ruang Dokter Jame mereka disambut dengan hangat dan dipersilahkan duduk.
"Nona Anda begitu cantik," puji dokter James tulus.
"Terimakasih Dokter," jawab Cia.
"Dokter bagaimana hasil tesnya?" tanya Arnold.
"Kalian sudah siap, termasuk Anda Nona Cia?" tanya Dokter James.
"Siap Dok," jawab Cia sambil menggenggam tangan Arnold semakin erat.
"Baiklah, Hasilnya adalah!" Dokter James mengandung.
"Apa Dok?" tanya Arnold.
Doktor tersenyum dan menjawab." Sel kankernya sudah tidak ada."
Velicia langsung menutup mulutnya dan memeluk Arnold erat.
"Terimakasih Tuhan," kata Cia.
"Ingat enam bulan sekali harus tetap kontrol ke Dokter Herman." Dokter James tersenyum.
"Maksudnya adik saya bisa pulang ke Indonesia lagi!" kata Jack untuk memastikan.
"Iya Benar, " jawab Dokter James.
Jack berjalan menghampiri adiknya, cia langsung berhambur dan tangisnya pecah kalau bukan karena Jack ia mungkin sekarang sudah tinggal nama.
Cia begitu bersyukur ambil diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Arnold beranjak dari duduknya, sebelum keluar ia menjabat tangan Dokter James dan berkata." Terimakasih banyak, Dokter. "
"Sama-sama, secepatnya kasih tahu istrimu, " kata Doktor James.
Arnold yang tahu maksud dari Doktor James hanya mengangguk dan tersenyum.
Kini mereka keluar dari ruangan Dokter James dengan raut wajah bahagia, sedangkan saat masuk tadi dengan raut muka tegang.
Sesampai di ruangan rawat Cia sudah ada Andres, Aura, Leon dan Maria.
Andreas melihat ada Arnold yang terlihat tersenyum bahagia memicingkan matanya." Kamu kapan datang Ar?"
"Kemarin, Kak," jawab Arnold langsung duduk di sampingnya Leon sedang Cia memeluk Maria karena sudah lama tidak bertemu.
"Kak apa kata Doktor?" tanya Aura begitu penasaran.
"Kakak dinyatakan sembuh, walaupun nanti harus sering kontrol," jawab Cia.
"Beneran Sayang, wah Mama ikut senang," ucap Maria langsung memeluk Velicia begitu erat.
"Cia juga mengucapkan terimakasih banyak, karena Mama dan yang lainnya selalu memberikan semangat kepada Cia," ujar Cia dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Andreas sedari tadi senyum tidak pernah luntur dari senyumnya. Apalagi Cia hari ini terlihat begitu berbeda.
__ADS_1
"Cia," panggil Anderas.
"Iya Kak," jawab Cia.
"Selamat ya kamu sudah sembuh," kata Andreas.
"Terimakasih, Kak," jawab Cia sambil tersenyum.
"Jadi rencana kapan mau pulang?" tanya Maria.
Cia dan Arnold saling pandang, sedangkan Jack asik bersandar di bahu istrinya.
"Nanti Jack dan Arnold akan mengurus," jawab Arnold.
"Biar Kakak saja yang mengurusnya," kata Andreas.
"Biarkan Arndol saja, Nak," sela Maria.
Andreas hanya bisa menarik napas dalam. Ada rasa cemburu saat Cia dan Arnold saling mencuri pandang.
"Kalau Aura minggu depan harus sudah masuk kuliah, kemungkinan sabtu harus sudah berangkat," ujar Aura.
"Kamu pulang dengan Leon saja,!" perintah Arnold.
"Kak Leon lusa pulangnya, Kak!" tolak Aura karena masih ingin di Berlin.
"Nanti pas libur kamu bisa ke sini lagi," ucap Andreas.
Aura hanya memanyunkan bibirnya, ia begitu kesal karena selalu diatur oleh kedua kakaknya itu.
Leon hanya tersenyum, saat ia akan menyusul Aura ponselnya yang akan ia simpan bergetar ada pesan masuk.
Mata Leon melebar saat melihat Aura dipaksa dimasukkan mobil dengan tangan diikat dan mulut di lab band.
"****," umpat Leon.
"Ada apa?" tanya Arnold dan Andreas bersamaan.
Leon memberikan kode kepada dua pria itu untuk keluar, awalnya Leon keluar dan diikuti oleh Arnold sedang Andreas keluar setelah sepuluh menit kemudian.
Tiga wanita yang sedang mengobrol itu tidak menyadari jika ada bahaya sedang terjadi.
Jack yang merasa curiga langsung keluar tanpa pamit. Sampai di luar ia tidak melihat ketiga pria itu.
Jack berjalan menuju lorong dan berbelok baru bertemu Leon, Arnold dan Andreas terlihat panik.
"Ada apa?" tanya Jack.
Leon memberikan video yang di kirimkan anak buah Samuel.
"Apa Aura punya musuh?"Jack menatap ketiga pria itu bergantian.
Leon akhirnya menceritakan apa yang menimpa Aura mendengar itu Arnold dan Andreas begitu marah karena adiknya dilecehkan.
"Kenapa kamu tidak bilang, Leon?' tanya Anderas menahan amarahnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan," jawab Leon.
"Cukup kini bukan waktunya kita saling menyalahkan jika pria itu yang menculik Aura kita harus bergerak cepat," ujar Jack.
"Kalau kita melapor akan menunggu waktu 24 jam, kita tunggu Samuel sedang mencari titik karena saya memasang GPS di jam cincin Aura," jelas Leon.
Leon sudah berjaga-jaga, karena setiap ia keluar dengan Aura seakan ada yang mengikutinya, tidak lama anak buah Samuel mengirimkan titik di mana Aura diculik.
"Ayo," ajak Leon.
"Tunggu apa kita keluar semua, bagaimana dengan Cia dan yang lainnya?" tanya Jack,
"Anak buah Samuel sudah berjaga dekat kamar Nona Cia," jawab Leon.
Mereka langsung keluar menuju di mana mobil Leon sudah bersiap untuk menuju lokasi di mana Aura di bawa.
"Samuel apa ini pria yang kemarin?" tanya Leon.
"Iya Tuan, sepertinya ia tidak terima waktu akan melecehkan Nona kita hajar lebih dulu," ujar Samuel.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, sosok Samuel sudah berubah sangar, para penculik itu ibarat sudah membangunkan singa tidur.
"Tuan Erika sudah sampa lokasi, tepatnya di kawasan bawah tanah," ujar Samuel saat mendengar instruksi dari Erik
Leon hanya mengangguk, pria itu mengambil tas yang berada dibawa jok dan bertanya ,"Apa Anda bisa menembak?"
"Bisa," jawab ketiganya kompak.
"Silahkan pakai ini, dan ini," Leon memberikan rompi anti peluru dan senjata api kepada Arnold, Andreas dan Jack.
"Leon kamu pastikan kepada anak buahmu kalau Aura tidak luka sedikit pun," kata Arnold.
"Baik Tuan," jawab Leon.
Leon tidak akan pernah memaafkan jika sampai terjadi sesuatu kepada wanitanya. Mobil sudah mendekati titik lokasi.
"Bagaimana?" tanya Samuel kepada Erik yang keluar dari tempat persembunyiannya.
"Anak buah kita ada yang sudah menyusup pertahan musuh," ujar Erik.
Erika mengajak yang lain ya untuk masuk hutan dimana ada anak buahnya untuk memastikan target yang akan di selamatkan.
"Tuan camera sudah on," kata salah satu anak buah Erik.
Samuel dan lainya langsung menatap monitor di mana kondisi markas yang begitu dijaga ketat. Leon mengapalkan tangannya saat matanya menangkap sosok pria berwajah codet dan tato di lengannya.
Leon perlahan mundur, Samuel yang lima belas menit baru sadar langsung mengumpati sahabatnya itu yang suka bertindak sendiri saat melihat Aura di masukan ke ruang gelap.
"Ada apa?" tanya Jack melihat Samuel mengumpat tidak jelas.
"Leon bergerak sendiri," jawab Samuel.
"Erik cari tahu di mana Leon menyusup!" perintah Samuel menatap anak buahnya yang sedang mengotak-ngatik keyboard laptop.
Bersambung ya..
__ADS_1
Kita main Mafia dulu sama pria yang melecehkan Aura waktu itu. jangan lupa kasih Like dan votenya.