PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Kabar Viona kembali


__ADS_3

Pagi ini, sesuai apa yang direncanakan Leon. Pria itu akan pindah ke apartemen. Walau awalnya Maria begitu keberatan, tapi wanita paruh baya itu akhirnya memperbolehkannya anak dan menantunya untuk pindah.


Kalau hanya alasan lebih dekat dari kantor, dulu Leon tiap hari antar jemput suaminya. Maria merasa menantunya itu kurang nyaman tinggal bersamanya.


Andreas sudah bersiap untuk mengantarkan Aura dan Leon, pria itu langsung pamit untuk mengganjar les piano. Setelah kepergian Aura dan Leon, Maria dan Cia masuk.


Arnold yang dari ruang kerjanya melihat istri dan Mamanya saling diam. Sejak kejadian waktu itu, Cia seakan menjaga jarak. Entah apa bisa kedua wanita yang begitu berharga itu akan seperti dulu lagi


"Ar, ayo," ajak Cia karena suaminya hanya diam menatapnya.


Maria menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan sendu, ia tahu sudah salah saat ini. Namun, sepertinya menantunya belum bisa memaafkan dirinya.


Arnold yang sudah berada di mobil mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan biak Cia dan suaminya hanya diam. Hingga Arnold bertanya, "Apa nanti bisa makan siang bersama."


"Aku ada urusan dengan Aura, Ar."


"Apa begitu penting?" tanya Arnold.


"Shinta tidak ada di apartemen kata Aura, adikmu itu kahwatir jika Sahabatnya itu pergi karena Andreas."


Arnold hanya mengangguk, pria itu tahu dari dulu Shinta menyukai Andreas sejak ia ke Singapore untuk mendonorkan ginjaI.


*****


Sementara itu di sebuah kamar hotel, Shinta duduk di kursi yang berada di balkon kamarnya. Wanita itu belum tahu apa keputusannya ini benar atau salah pergi meninggalkan Andreas begitu saja. Ia hanya ingin menenangkan diri dan tidak gegabah untuk mengambil keputusan untuk menikah.


Namun, jika ia pergi ke Apartemennya. Andreas akan mudah menemukannya nanti.


Shinta ingin menenangkan dirinya, keputusan apa yang nanti akan diambilnya ia juga belum bisa memutuskan, tapi menikah rasanya ia belum siap karena banyak yang harus ia pertimbangkan.


Wanita itu merasa bosan, akhirnya masuk dan saat akan membaringkan tubuhnya. Terdengar ketukan pintu. Wanita itu merasa heran karena tidak memesan apa-apa.


Perlahan Shinta menuju pintu wanita itu mengintip. Namun, tidak ada siapa-siapa di depan pintunya. Saat akan kembalikan badan terdengar ketukan pintu lagi.


Shinta merasa begitu kesal, wanita itu langsung buka pintu. Saat melihat Siapa yang dari depannya, menutup mulutnya.


"Kakak," kata Shinta saya melihat Cia dan Aura berada di depanya.


"Dasar bodoh kalau kabur itu jangan aktif di sosial media." Cia langsung menerobos kamar Shinta.

__ADS_1


Mendengar apa yang katakan Cia, Shinta memanyunkan mulutnya. Wanita itu merasa kesal karena dimarahi oleh Cia tadi. Namun, ada benarnya juga apa kata wanita itu.


Tak seharusnya ya tadi membuka sosial medianya, karena itu mereka mudah menemukannya saat ini.


Aura ikut bergabung duduk di kursi yang berada di sudut ruang kamarnya.


"Apa rencanamu setelah kabur, Shinta?" Cia menatap Shinta begitu tajam.


Mendapat tatapan seperti itu, ada rasa takut di hati Shinta.


"Aku belum tahu, Kak," jawab Shinta.


Cia mendengar jawaban dari wanita itu begitu geram, ia tidak habis pikir dengan cara Shinta melarikan diri dari Andreas. Seharusnya Wanita itu sudah tahu arah ke mana sekarang dia akan pergi. Dengan bodohnya ia tidak tahu apa rencana selanjutnya.


Aura hanya tersenyum, ia tidak banyak berkata. Baginya apa yang dilakukan Shinta adalah benar. Dulu ia ragu dengan suaminya, tapi Leon dengan gigih mencari dan membuktikan. Walau saat ini apa suaminya mencintainya atau tidak


"Apa aku boleh bertanya?" tanya Aura.


Cia dan Shinta langsung menatap ke arah Aura.


"Apa yang kamu takutkan untuk menikah dengan Andreas?" tanya Aura.


Setelah menceritakan apa yang dirasakannya, Shinta menatap Aura dan Cia bergantian. Jujur ia takur dan tidak ingin mengalami hal sama dengan Cia. Walau Andreas sudah mengatakan yang sejujurnya.


Cia menatap handphone yang sedang digemggamnya. Ada pesan masuk dari suaminya memintanya pulang dengan segera karena ada sesuatu.


Cia hanya menarik napas panjang, ia tahu itu hanya alasan suaminya saja saat ini.


"Aura kamu antar Shinta langsung saja," ucap Cia.


"Kakak, aku di sini dua hari," kata Shinta.


Cia yang sudah mau membuka pintu, Langsung membalikkan badannya.


"Kamu akan aman di sana, aku pastikan Andreas tidak akan bisa menemukanmu. Biarkan ia mencarimu dan harus kerja lebih keras lagi.


Wanita itu yakin, suaminya akan banyak bertanya nantinya. Namun, untuk apa dirinya harus berbohong karena memang benar ia ke hotel mencari Shinta. Leon tidak bisa diragukan lagi kalau masalah mencari orang.


Setelah dua puluh menit, Cia sampai di depan Vila. Saat sampai gerbang , ia bertemu dengan Andreas. Pria itu terlihat santai.

__ADS_1


Cia sampai depan pintu di sambut oleh Maria. wanita paruh baya itu menatapnya dengan heran


"Apa ada yang tertinggal, Nak?" tanya Maria


Cia hanya tersenyum, kini keduanya masuk dan dari tanga terlihat Arnold menatap istrinya dengan tatapan datar.


"Mam Cia ke atas dulu," kata Cia.


Maria hanya mengangguk, wanita itu berharap Cia bisa menjelaskan apa yang terjadi kepada suaminya.


Saat Cia naik ke lantai dua, wanita itu melewati suaminya begitu saja. Arnold melihat itu semakin geram.


Pria itu segera naik ke lantai dua lagi dan langsung masuk ke kamar. Sedangkan Cia langsung masuk kamar Mandi.


Di lain sisi Arnold semakin kesal karena sang istri tidak juga lekas masuk ke kamar. Pria itu membuka pintu kamar mandi, tapi sayang dikunci.


Cia hanya diam karena ia kesal tiba-tiba disuruh pulang, pada hal suaminya tahu kemana ia pergi. Tak berselang lama Cia keluar dari kamar mandi.


Arnold duduk di samping istrinya, di mana Cia sedang membacakan buku.


"Sayang, " kata Arnold


Cia menarik napas panjang, wanita itu segera beranjak dari duduknya. Arnold mengikutinya sampai Cia naik ke ranjang.


"Kamu tahukan aku kemana?" tanya Cia dengan melipat kedua tangannya di dada.


Arnold tersenyum, pria itu langsung memeluk istrinya dari belakang." Apa kamu tahu, saat aku pulang kamu tidak ada rasanya hatiku kosong."


Arnold sebisa mungkin istrinya jangan sampai marah karena pasti pria itu tidak akan sanggup.


"Maaf," Arnold semakin erat memeluk sang istri.


Cia membalikan badannya. Ia juga merasa jika suaminya semakin posesif sekarang.


Wanita itu membalas pelukan suaminya, ia tidak seharusnya marah saat suaminya memintanya pulang karena seharusnya darinya berada di rumah.


"Kenapa harus berbohong?"


"Maaf ." Arnold mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Cia hanya tersenyum, tapi ada rasa kecewa karena suaminya mengatakan jika harus cepat pulang, Cia takut sesuatu terjadi di rumahnya. Kini Cia segera melepaskan pelukannya."Apa kamu jadi bertemu Viona?"


__ADS_2