
Jhon yang baru saja keluar dari restoran melihat mobil Leon keluar dari area rumah sakit. Pria itu merasa tidak suka, saat pria menanyakan akan istrinya.
Menurut Jhon dengan begitu Leon masih ada hati dengan Clara. Pria itu tidak mungkin memberitahu istrinya dan setelah keluar dari rumah sakit akan mengajak sang istri untuk langsung ke Berlin.
Jhon segera menuju ke ruang rawat istrinya, pria itu tidak ingin Clara terlalu lama menunggunya saat ini. Saat sampai depan pintu ruang rawat istrinya, Jhon perlahan membuka pintu dan langsung disambut senyum dari bibir milik istrinya yang masih terlihat begitu pucat itu.
"Maaf lama," kata Jhon sambil mengecup kening Clara.
"Sayang, kamu mau tahu tidak tadi aku ketemu siapa?" tanya Jhon.
"Perawat, Dokter." Clara menatap suaminya yang kini tersenyum.
Jhon setelah membuka roti kesukaan istrinya, pria itu langsung membuak sop iga. Clara langsung menutup mulutnya karena tiba-tiba begitu mual saat aroma dari sop itu begitu menusuk indra penciumannya.
Jhon yang melihat istrinya mau muntah dengan cepat mengambil baki, tetapi Clara menunjuk sup yang berada di atas nakas.
"Mau sup?" tanya Jhon.
"Sayang, jauhkan sopnya ya. Aku sudah tidak tahan," kata Clara.
Jhon yang tadinya ingin makan dekat istrinya kini sudah tidak berselera, sedangkan Clara begitu merasa bersalah saat ini."Sayang, Maaf ya."
Jhon tersenyum, ia tidak ingin istrinya merasa bersalah akhirnya makan sopnya sampai habis.
"Sayang, kapan aku boleh pulang?" tanya Clara.
"Sayang kamu istirahat sini saja," kata Jhon sambil tersenyum.
Mendengar apa yang di katakan suaminya, Clara langsung marah. Hal itu m membuat Jhon merasa kalau istri hamil terus ngidam rasanya aneh,.
Namun, Jhon mencoba membuat Clara kembali menangis kencang.
‘Aku mau pulang, Tuan,” kata Clara terdengar begitu pilu.
Jhon yang tidak ingin membuat kandungan istrinya kenapa-napa akhirnya ia meminta dokter agar istrinya rawat jalan saja.
Setelah membuat surat pernyataan , Akhirnya Clara dan Jhon kini berada di dalam mobil. Jujur Jhon begitu kecewa karena istrinya tidak mau menurut kepadanya.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Jhon sampai di Hotel. Pria itu semarahnya dengan sang istri tetap ia tidak akan membiarkan sesuatu menimpa Clara.
"Sayang, kamu sudah janji untuk istirahat," kata Jhon.
"Iya, Sayang," jawab Clara lalu berbaring.
__ADS_1
Jhon masih duduk di ruang keluarga, pria itu sebenarnya begitu khawatir akan istri dan anaknya. Namun, jika ia tidak menuruti apa kata Clara akan lebih membahayakan karena sang istri begitu keras kepala.
Jhon yang begitu lelah sampai tertidur di sofa, sedangkan Clara di kamar sudah terlelap juga.
****
Andreas mengemudikan mobilnya, senyum mengembang tidak pudar dari bibir pria itu. Ada rasa bahagia dan yang begitu dirasakan saat ini.
Pria itu tidak menyangka jika akan jatuh cinta dengan wanita yang selama ini ia anggap sebagai adik.
Mobil yang dikemudikan oleh Andreas sudah sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dan tidak lama masuk.
"Shinta mana?" tanya Aura.
Andreas bukan menjawab, pria itu langsung duduk di samping Mamanya.
"Kak!" seru Aura.
"Di apartemen," jawab Andreas.
"Kenapa tidak diajak ke sini saja?" tanya Maria.
Andras hanya menggelengkan kepalanya, tidak lama Cia ikut bergabung. Wanita itu terlihat begitu lesu saat ini.
"Tidak, hanya lelah saja."
"Kalau capek jangan dipaksakan, Kak," kata Aura.
Cia tersenyum, wanita itu sebenarnya memikirkan bagaimana membujuk Arnold untuk mau menikah lagi. Apa ia minta tolong Mertuanya saja untuk membujuk suaminya itu.
Namun, takutnya kalau Maria tidak mau. Cia merasa lelah karena kalau membujuk Arnold, akan berujung dengan pertengkaran.
Setiap orang ingin pernikahannya langgeng sampai kakek Nenek, begitu juga dengan Cia. Ia berharap pernikahan ini tanpa gangguan dari pihak ketiga ataupun yang lainnya.
Nyatanya itu hanya isapan jempol semata, memiliki suami tampan dan seorang CEO. Membuat wanita itu harus lebih sabar untuk mendampingi Arnold dari para wanita di luar sana
Arnold berwajah tampan hidung mancung, kulit putih dan pipi jambang tipis. Merupakan paket komplit karena ia juga seorang CEO dari perusahaan yang Arista.
Memiliki otak yang cerdas, membuat Arnold dengan mudah memajukan perusahaan dan memiliki rekan kerja baik di luar dan dalam negeri.
Sifatnya yang begitu posesif kepada Istrinya membuat, Cia setiap keluar harus di ditemani. Arnold tidak mengizinkan Cia hanya pergi berdua saja dengan sopir.
Pagi ini, setelah pertengkaran dengan suaminya yang berujung Arnold yang mengalah untuk meminta maaf kepada Cia.
__ADS_1
"Ar, bangun. Bukannya ada meeting pagi." Cia menarik selimut yang menutupi tubuh atletis suaminya itu.
"Lima menit lagi Sayang," kata Arnold dengan kembali menutup kepalanya dengan selimut.
"Ar,. Kalau tidak bangun aku yang mengantarkan-." Cia langsung menghentikan ucapannya karena mulutnya langsung dibungkam dengan bibir Arnold.
"Nakal," kata Arnold setelah melepas lumatannya.
Cia tersenyum saat pintu kamar mandi sudah di tutup oleh Arnold. Wanita itu segera menyiapkan pakaian Arnold.
"Ar, aku turun duluan," teriak Cia agar suaminya mendengar.
Cia segera keluar dari kamar, saat wanita itu menuruni tangga. Ia melihat sudah ada Leon Di ruang keluarga, tapi yang menjadi perhatian dari Cia adalah perut Aura.
"Aura, wah...." Cia mengusap perut iparnya itu yang sudah terlihat menonjol.
"sudah kelihatan?" tanya Cia.
"Alhamdulillah, ini sudah berapa bulan?" Cia begitu antusias hingga tidak sadar tangannya terus mengelus perut Aura.
"Empat bulan, Kak," jawab Aura
Cia hampir lupa tujuannya turun lebih dulu tadi, wanita itu buru-buru beranjak dari duduknya karena kopi Arnold belum dibuatnya.
Leon dan Aura hanya menggelengkan kepalanya saja, Tidak berselang lama Arnold terlihat menuruni tangga dengan menenteng tas dan jasnya. pria itu terlihat terkejut karena masih pagi sudah ada adiknya.
"Tumben?" tanya Arnold.
"Aura kangen masakan Mama," jawab Leon.
Arnold yang paham hanya mengangguk, pria itu segera menuju meja makan untuk sarapan. Leon dan Aura ikut bergabung.
"Kakak kalau capek jangan dipaksa untuk bantu Andreas," kata Aura.
Cia hanya tersenyum, wanita itu akan stres kalau lama-lama di rumah saja nanti. Namun, selama Arnold masih mengizinkan apa salahnya.
Kini mereka sedang makan bersama, sedangkan Maria sudah pergi bersama putra sulungnya.
"Sayang aku duluan ya, ini sudah telat," kata Arnold.
Cia langsung beranjak dari duduknya, wanita itu ikut mengantar suaminya sampai mobil tidak terlihat lagi. setelah itu buru-buru masuk karena ia akan bertemu wanita yang rela mau hamil anak Arnold.
Cia yakin wanita itu sedang menunggu kabar darinya saat ini.
__ADS_1