
Cia menatap mertuanya itu. Ia bingung harus jawab apa karena tidak mungkin mengatakan jika Andreas dan Shinta masuk kamar. Saat wanita itu sibuk dengan memikirkan alasan apa. Dari pintu belakang muncul Shinta dan Andreas.
Maria melihat itu menautkan kedua alisnya. “Dari mana, Nak?”
“Dari belakang,” jawab Andreas.
Melihat pria itu menjawab dengan dingin Cia dan Maria langsung menatap Shinta. Sedangkan gadis itu menundukkan kepalanya. Cia yang paham akan apa yang dialami calon kakak iparnya itu lantas tersenyum.
“Shinta kamu besok kalau ada waktu kita makan siang di luar apa mau?” tanya Cia.
“Bisa Ka. Mama, Shinta pamit dulu,” kata Shinta dengan mencium tangan Maria.
Maria hanya tersenyum, setelah itu wanita paruh baya itu pergi begitu saja meninggalkan Shinta dan Cia.
"Shinta kalau kamu butuh teman cerita, jangan sungkan,” kata Velicia.
Shinta hanya mengangguk, wanita itu keluar diantar Cia sampai depan. Shinta melihat ke arah atas di mana Andreas menatapnya.
Melihat Shinta yang melihat ke atas dengan tatapan yang berbeda, Cia langsung berkata,” Shinta jangan lupa kamu besok harus bertemu dengan pria yang pasti kamu akan tertarik.”
Mendengar apa yang dikatakan Cia, Shinta langsung melotot. Wajah Shinta terlihat pias, saat melihat ke atas Andreas sudah tidak ada di balkon kamarnya.
“Kakak!” seru Shinta langsung naik ke lantai dua untuk menjelaskan kepada kekasihnya.
Cia hanya terkekeh, entah kenapa ia suka menggoda Andreas. Wanita itu ikut masuk dan duduk di ruang keluarga. Sedangkan di depan kamar Andreas. Shinta agak ragu untuk mengetuk pintu.
Namun, saat ia akan mengetuk pintu. Wanita itu dikejutkan karena pintu sudah terbuka lebih dahulu. Hingga tangannya mengantung di udara. Andreas hanya menaikan kedua alisnya melihat Kekasihnya yang sudah membuatnya kesal itu.
“Kak, aku bisa jelaskan apa yang dikatakan kak Cai,” kata Shinta.
“Yang mana?” tanya Andreas.
Shinta menatap pria itu, tapi tiba-tiba Andreas menarik tangan kekasihnya itu untuk masuk dalam kamarnya.
“Kak,” ucap Shinta yang kini sudah di dudukan Andreas ke tepi ranjang.
“Apa yang akan kamu jelaskan, siapa pria yang akan bertemu denganmu, Shinta. Jika tidak mau jangan memberikan aku harapan. Jujur saat ini aku mencari seorang istri, tapi kalau kamu hanya ingin bermain-main sepertinya aku salah jika masih melanjutkan hubungan ini.” Andreas menatap Shinta dan tersenyum.
“Apa maksud, Kakak?” Shinta merasa bingung.
__ADS_1
“Aku rasa tadi sudah jelas akan apa yang aku katakan kepadamu,” ucap Andreas.
“Apa sesempit itu hubungan kita, tidakkah Kakak bersebar sebentar saja?” tanya Shinta terlihat begitu kecewa akan apa keputusan Andreas.
“Berapa lama lagi, Shinta? Selama ini aku rasa sudah cukup. Namun, apa yang aku dapat kamu semakin meragu akan apa yang terjadi dengan rumah tangga Arnold. Aku mengatakan itu agar kamu tidak dengar dari orang lain.
Shinta terdiam, wanita itu menatap Andreas intens. Apa ia begitu takut, tapi jujur tidak akan sanggup jika menjadi Cia.
"Maaf, bukan aku ragu, Kak. Namun, aku hanya minta waktu saja." Shinta menggenggam tangan Andreas.
Mendengar apa kata Shinta, Andreas menatap kekasihnya itu dengan intens. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini.
"Jika itu keputusanmu mungkin kita tidak berjodoh, Shinta,” kata Andreas.
Shinta menatap Andreas, air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya. “Kenapa Kakak egois, kenapa tidak mau menunda sebentar saja.”
Andreas tersenyum, pria itu berlutut depan Shinta. Tangannya menggemgam tangan wanita yang dicintainya itu. “Di sini aku yang merasa berjuang sendiri, kamu hanya diam di tempat.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andreas air mata Cia langsung mengalir, wanita itu berhamburan di pelukan Andreas. Membuat pria itu tidak bisa menjaga keseimbangan. Akhirnya keduanya sama-sama tersungkur.
“Kakak, apa yang sakit?” tanya Shinta merasa bersalah.
“Kepalaku sakit,” kata Andreas sambil memejamkan mata.
“Kak, lepas,” kata Shinta.
“Apanya?” tanya Andreas sadari kalau masih memeluk pinggang Shinta.
“Tangan Kakak,” jawab Shinta kesal.
Saat keduanya sedang saling padang, terdengar ketukan pintu dan suara Aura memanggil Andreas.
“Kak Aura memanggil,” kata Shinta.
“Biarkan saja,” jawab Andreas ringan sambil mengusap kepalanya yang benjol akibat membentur lantai.
Shinta membantu kekasihnya bangun, kini keduanya berjalan ke arah pintu, saat pintu terbuka Aura membeo melihat kedua orang itu.
“Kalian habis nggapain?” tanya Aura.
__ADS_1
Andreas bukan menjawab, pria itu menarik tangan Shinta untuk keluar dari kamar. Sedangkan Aura hanya membeo saja melihat itu. “Kok aku yang ditinggal.”
“Kakak, Shinta tunggu.”
Saat Aura akan berlari, tiba-tiba tangannya di cekal seseorang. “Ceroboh.”
Leon yang baru keluar kamar melihat istrinya akan mengejar Andreas dan Shinta segera menghentikannya.
“Maaf, aku lupa,” jawab Aura melihat tatapan tajam suaminya itu.
“Lain kali hati-hati,” kata Loen Dingin.
Aura hanya mengangguk, wanita itu begitu beruntung memiliki suami seperti Leon. Walau dingin selalu perhatian dengannya.
Kini keduanya turun, Leon dengan sabar menuruni tangga dengan langkah lambat untuk menyamai langkah istrinya itu.
Saat sampai di ruang makan tidak ada Shinta dan Andreas, hal itu membuat Aura heran.
“Cari siapa?” tanya Cia saat mengambilkan nasi untuk suaminya.
“Shinta mana, Kak?” tanya Aura.
“Pulang diantar Andreas,” jawab Cia.
Aura segera mengambilkan nasi buat suaminya, sedangkan Cia mengambilkan buat mertuanya baru buat dirinya sendiri.
Semua apa yang dilakukan Cia tidak lepas dari perhatian Leon. Cia tidak berubah tetap menyayangi Maria walau sudah disakiti oleh wanita itu.
Setelah selesai makan malam Leon langsung menuju ke kamarnya karena ada banyak pekerjaan. Aura tidak heran karena suaminya tidak suka untuk berkempul di ruang Keluarga.
Saat Leon masuk kamar, pria itu memilih duduk di balkon kamar istrinya. Andai Tuan Setiawan masih ada ia tidak akan memimpin perusahan itu. Jujur ini beban untuk dirinya saat ini.
Leon akan membujuk Andreas untuk menggantikannya karena ia punya perusahaan sendiri butuh dirinya.
Leon mengusap wajahnya kasar, pria itu akan membicarakan dengan Aura Ia berharap istrinya itu mau membantu untuk membujuk Andreas nantinya. Rasanya sudah cukup pria itu melantarkan perusahaannya yang ia mulai dari nol itu.
Saat Leon sedang bingung dengan pikirannya sendiri, Aura tiba-tiba memeluknya. “Kakak memikirkan apa?”
“Sayang jadi kit besok pulang?” tanya Leon tanpa menjawab apa yang ditanyakan istrinya itu.
__ADS_1
Mendengar itu Aura melepaskan pelukannya, wanita itu menatap suaminya yang selalu mengabaikan pertanyaannya. Sedangkan Leon merasa tidak bersalah.
Aura terkadang ingin bertanya apa suaminya itu mencintainya atau hanya merasa tanggung jawab saja selama ini.