
Arnold merasa dadanya berdetak, walau ia dan tiga orang itu sudah agak jauh, Leon yang sudah menunggu di mobil membantu Arnold.
Leon yang melihat tiga orang pria itu memperhatikan sekeliling menunduk kepalanya supaya tidak kelihatan.
Melihat sekeliling aman. Leon mengemudikan mobilnya melewati jalan yang sepi. Pria itu sengaja supaya tidak mudah terlacak oleh musuhnya karena lawannya bukan orang sembarangan.
"Kita mau kemana?" tanya Cia karena sekarang ia melewati jalan yang banyak pohon besar di kanan dan kirinya.
Arnold menggenggam tangan istrinya, seakan mengatakan kalau semua baik-baik saja.
Cia tersenyum, sampai sekarang ia merasa dibodohi oleh Arnold dan Pak Romy. Melihat Aura hanya diam Arnold merasa ada perubahan pada adik cerewetnya itu.
"Aura apa kamu baik-baik saja?" tanya Arnold.
"Aku baik-baik saja, kak. Dan maaf nanti aku belum bisa bertemu Mama dan yang lainnya," ujar Aura.
"Kenapa apa kalian sudah bertemu Mama?" tanya Arnold kepada adik dan orang kepercayaan papanya itu.
Aura hanya menggelengkan kepalanya, melihat itu Arnold hanya menarik napas dalam adiknya itu pasti sedang trauma.
Setelah hampir satu jam lebih mereka sama di villa yang terlihat nyaman. Cia dan Arnold keluar dari mobil, sedangkan Leon langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah yang terlihat sederhana.
Selama dalam perjalanan hanya asa keheningan. Leon sengaja membiarkan Aura untuk diam dan akan merasakan nyaman.
Sesampainya di rumah yang sederhana Aura dan Leon turun dari mobil.
"Apa kamu yakin akan tinggal di sini?" tanya Leon.
"Iya Kak, apa yang aku takutkan toh aku sudah kotor," jawab Aura dengan air mata membasahi kedua pipinya.
Leon menarik napas panjang, dipeluknya tubuh gadis yang sedang begitu rapuh itu dan berkata." Katakan mana yang sentuh bajinhan itu. Biar aku hapus."
Tangis Aura semakin pecah karena Leon yang sekarang masih mau menemaninya.
Aura melepaskan pelukannya, dan berkata." Aku akan tetap jadi kotor."
Leon langsung mengecup bibir ranum Aura. Pria itu yakin jika gadis yang berada di pelukannya ini masih perawan.
Leon melepaskan pagutan bibirnya dan bertanya." Mana lagi yang disentuhnya?"
Aura menggelengkan kepalanya saat matanya dan Leon beradu.
"Katakan yang mana?" tanya Leon lembut.
__ADS_1
Aura menatap kebawa melihat itu Leon paham, pria itu kembali ******* dan menghisap bibir tipis yang sudah menjadi candunya itu. Kini Leon dengan memainkan benda kembar yang membuat tubuh Aura menegang dan beberapa kali terdengar Gadis itu mendesah.
Keduanya larut dalam kenikmatan dunia, Leon berbisik," Anda siap."
Aura yang sudah diliputi oleh gairah hanya mengangguk, Leon dengan perlahan menyatukan asa untuk memiliki seutuhnya gadis yang kini sudah pasrah. Dalam hitungan detik Leon menghentikan aksinya.
"Nona Anda masih-,"kata-kata Leon terhenti saat Aura mengangguk.
Tanpa ragu Leon berbisik ditelinga Aura, siang ini kita menikah. Pria itu turun dan mengangkat tubuh Aura ke kamar mandi.
Air mata Aura mengalir membasahi kedua pipinya, ada rasa syukur karena pria itu tidak melanjutkannya dan ingin mengambilnya setelah ia menjadi istrinya nanti.
"Mandilah, sekarang bisa saya tahan. Tidak untuk malam nanti," kata Leon.
Wajah Aura merona, ternyata pria kaku itu bisa begitu manis kepadanya. Entah kenapa rasa jijik akan tubuhnya tidak ada lagi.
Setelah lima belas menit Aura keluar dari kamar mandi dnegan memanyunkan bibirnya ke arah Leon yang sudah terlihat rapi.
"Kenapa?" tanya Leon menatap Aura yang hanya memakai handuk sebatas dada.
"Ini bekas Kakak' kan?" tanya Aura sambil menunjuk dada dan lehernya.
Mata Leon membulat, ia tidak sadar sudah membuat maha karya yang indah di dada dan leher Aura.
Leon membawa Aura ke depan cermin dan berkata." Lihat ini masih warna merah itu artinya baru. Jika ada bekas bajinhan itu pasti warnanya sekarang sudah pudar warnanya.
Kini keduanya menuju ke arah markas karena ia akan menikahi Aura di sana.
"Kakak, kenapa nggak dijawab?" tanya Aura.
"Jawab Apa sayang," ucap Leon sambil menggenggam jemari lentik Aura.
"Kakak sebelumnya pernah melakukan kepada siapa?" tanya Aura Leon tidak menjawab dari tadi.
"Ini pertama kali, tapi belum gold," jawab Leon sambil menarik napas dalam.
Leon hanya tersenyum mantap gadis yang sekarang terlihat lebih santai saat ia sudah menghapus jejak pria sialan itu.
Hatinya merasa lega, harapannya Aura bisa menjadi istrinya sampai akhir hayat nanti.
Diliriknya Aura sedang tertidur,ia berharap sampai sana persiapan sudah siap. Tidak ingin menunda lagi.
Setelah satu jam lebih mobil sampai dan Maria dan Setyawan sudah berdiri untuk menyambut putrinya yang begitu malang itu.
__ADS_1
Air mata Maria sudah membanjiri kedua pipinya, dipeluknya Aura. Tangis keduanya langsung pecah. Tuan Besar Setyawan mengusap bahu orang kepercayaannya itu.
Iya, tidak tahu mau bicara apa setelah Arnold mengatakan jika putrinya dilecehkan.
"Saya percaya kepadamu, jaga putri saya, " ujar Tuan Besar Setyawan.
"Baik Tuan, saya akan menjaganya.
"Cih, pengantin baru," goda Samuel sambil mengusap bahu Leon
Maria mengajak putrinya untuk di rias,.Cia yang berada di kursi roda tersenyum saat melihat Aura keluar dari salah satu ruangan dan akan siap melaksanakan janji suci sehidup semati.
"Penghulunya sudah datang?" tanya Arnold.
"Sudah Tuan," jawab salah satu anak buah Samuel.
Acara ijab kabul dimulai, seruan kata-kata sah membuat Leon dan Aura sudah resmi menjadi suami istri.
Air mata Tuan Besar Setyawan mengalir, pria paruh baya itu hatinya begitu hancur karena harus menikahkan putrinya dengan keadaan seperti ini.
Andreas yang tahu kesehatan orang tuanya kian menurun langsung mengajaknya untuk istirahat.
"Papa jangan terlalu banyak pikiran?" tanyan Andreas.
"Papa memikirkan dua putra yang tidak menikah," kata Tuan Besar.
"Secepatnya Andrea akan melamarnya Pa, hanya butuh doa dan restu dari Mama dan Papa saja," ujar Andreas.
"Siapa wanita yang berhasil membuat putra Papa ini ingin menikah,hem?" tanya Tuan Besar kepada putranya.
Andreas hanya mengulum senyum karena Papanya tidak pernah sebahagia ini.
"Apa Papa seneng?" tanya Andreas.
"Tentu, apa Shinta karena sedari awal kalau diperhatikan gadis itu menyukaimu,Nak," ujar Tuan besar.
Tuan besar tidak akan mengulangi apa yang sudah ia lakukan kepada Arnold menjodohkan putranya hanya demi harta dan kekuasaan.
"Kapan-Kapan pertemukan gadis itu dengan Papa!"pinta Tuan Besar.
Andreas hanya tersenyum, ia sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada keluarganya saat makan malam nanti.
"Papa jadi curiga? Siapa gadis itu?" tanya Tuan Setyawan.
__ADS_1
Andreas tergelak, ia sebenarnya tidak sabar untuk menunggu malam ini apalagi saat kalau bisa langsung menikahinya.
Bersambung ya….