PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
mengingatkan suami


__ADS_3

Cia tahu, wanita itu menginginkan suaminya untuk menikah lagi. Namun, tidak begini caranya. Namun, wanita itu berusaha tegar. Ia kini kembali lagi menunggu taksi. Ia tidak tahu mau kemana?


Cia kini pergi ke pengacara keluarganya, wanita itu sudah berjanji untuk mengeluarkan ibu dari Meli. Setelah menceritakan semuanya, Cia bertemu dengan Meli jika tidak jadi menikah dengan suaminya.


Namun, Cia mengatakan besok ibunya sudah bisa pulang." Kamu jangan khawatir karena aku akan tetap  mengeluarkan ibumu."


Meli mendengar itu begitu senang, setidaknya ia tidak perlu lagi harus menikah muda dengan pria yang tidak dikenalnya." Terima kasih, Kak."


Cia tersenyum, ia sebenarnya tidak masalah karena Meli gadis baik. Begitu sayang dengan ibunya.


Cia segera pamit, ia sebenarnya malas bertemu dengan Arnold. Namun, wanita itu akan pura-pura tidak tahu apa-apa. 


Ia ingin melihat sejauh mana Arnold menyembunyikan istrinya nanti darinya.


Saat taksi berhenti depan rumah, Arnold menatap Cia dengan tatapan datar. Pria itu entah kenapa istrinya sekarang tidak mau mendengar apa yang dipesannya untuk jangan keluar sendirian.


"Dari mana?" tanya Arnold.


"Cari wanita yang mau menikah denganmu," ucap Cia.


Dada Arnold merasa sesak, haruskah ia mengatakan kepada istrinya. Namun, pria itu tidak ingin membuat Cia terluka akan dirinya lagi. Tanpa Arnold sadari sikapnya itu sudah membuat hati Velicia kembali lagi sakit.


"Sayang, aku mohon berhenti mencari wanita untukku." 


Cia menatap wajah tampan suaminya itu." Kenapa? Apa kamu punya calon sendiri?" 


Arnold terlihat begitu gugup, pria itu sampai sekarang tidak tahu siapa wanita yang akan ia nikahi nanti karena hatinya  hanya mencintai Velicia, walaupun nantinya istri keduanya itu akan menjadi ibu dari anaknya.


"Apa bisa kita tidak membicarakan hal itu, Sayang."


Cia hanya tersenyum tipis, kini ia tahu Arnold begitu munafik." Kalau kamu ada calon aku tidak masalah asal jangan menikah diam-diam!"


Arnold mendengar apa kata istrinya itu, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Pria itu merasa jika istrinya sudah tahu apa rencana Mamanya.


"Sayang, apa maksudmu?" tanya Arnold.


Cia tersenyum manis, wanita itu tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Namun, ia masih menunggu suaminya untuk mengatakan apa yang sesungguhnya, jika pria itu benar-benar mencintainya.


Arnold menatap wanita yang kini terlihat sedang merahasiakan sesuatu darinya.


Cia segera masuk kamar mandi, wanita itu menatap pantulan wajahnya dari cermin. 


Wajah yang dulu sempat terlihat begitu tirus sudah mulai terlihat chubby. Badannya juga sudah kembali seperti semula karena ia begitu perhatikan asupan makanan yang masuk dalam tubuhnya.

__ADS_1


Namun, itu belum juga membuat Arnold benar-benar mencintainya. Buktinya saat ia memintanya untuk menikah lagi, suaminya itu menolak begitu tegas.


Ia begitu tidak habis pikir, langkah Apa selanjutnya akan diambilnya saat ini. Jujur hatinya begitu sakit, seharusnya Arnold meminta izin kepadanya untuk menikah lagi.


Setelah hampir satu jam ia berada di kamar mandi, wanita itu perlahan membuka pintu. Dilihatnya suaminya sedang sibuk dengan laptopnya, Cia hanya cuek saja.


Arnold melihat istrinya sudah selesai, pria itu segera meletakkan laptopnya.


Dihampirinya Cia yang berada di depan cermin meja rias.'Sayang, apa yang terjadi?" 


Arnold begitu tidak enak hati, pria itu tidak ingin ada  rahasia di antara ia dan istrinya. Namun, tanpa Arnold  sadari. Pria itu sudah membuka luka lama istrinya.


Velicia tersenyum menatap suaminya dari cermin, Entah kenapa tidak sesakit awal ia dulu menikah dengan Arnold. Apa mungkin dirinya sudah merasa kebal, akan sakit hati yang selama ini ditorehkan oleh suaminya.


"Sayang, apa boleh aku ngantor lagi?" tanya Cia.


Arnold begitu terkejut mendengar apa permintaan sang istri." Kenapa?"


"Aku hanya bosan di rumah terus." Cia harus segera mengambil alih perusahaan Arista dari tangan suaminya.


Arnold mengecup kening istrinya."Boleh saja, tapi jangan sampai terlalu lelah sayang. Ingat kita akan satu ruangan."


"Ar, kita seperti dulu saja." Cia menarik lengan suaminya. 


Cia dibuat tidak berkutik, wanita itu akan susah berkerja jika satu ruangan dengan Arnold. 


Apa lagi tidak ada Clara , apa boleh ia meminta orang kepercayaannya itu untuk bekerja lagi. Namun, apa Jhon akan mengabulkannya.


"Ar, aku besok akan bertemu Clara." Cia menatap wajah suaminya itu.


"Aku antar besok."


"Ar!" rengek Cia.


Arnold terkekeh mendengar suara Cia yang sudah lama tidak didengarnya itu. Pria itu kini menarik tubuh wanita yang begitu dicintainya itu.


Ada rasa bersalah dalam benaknya, rasanya Arnold ingin membatalkan pernikahan rahasianya itu.


"Sayang," kata Arnold dengan lembut.


"Hem."


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" 

__ADS_1


"Ar, apa kita bisa saling jujur?" Cia menatap wajah suami tampannya itu.


"Tentang apa?" tanya Arnold.


Cia menarik napas panjang, sebagai seorang istri seharusnya ia mengingatkan suaminya. Namun, kalau ia mengatakan mendengar apa yang dikatakan suami dan mertuanya pagi ini. Apa Arnold akan tetap menikah atau sebaliknya.


"Kamu dulu, Sayang." Arnold menggenggam tangan istrinya itu erat.


"Ar, apa kamu mencintaiku?" 


Arnold melepaskan pelukannya, pria itu kini menatap wajah cantik istrinya." Apa yang membuatmu ragu?"


Velicia tersenyum tipis, wanita itu kini duduk di tepi ranjang."Mari kita berpisah?"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Istrinya, membuat pria itu begitu terkejut.


"Sayang, kamu jangan bercanda!" kata Arnold.


"Bercanda kamu bilang, Ar. Dulu saat kamu menduakanku aku hanya diam, tapi tidak sekarang Arnold Setyawan!" Cia menatap tajam wajah suaminya itu.


"Sayang," kata Arnold lembut.


"Kamu jahat, Ar. Kamu bilang mencintaiku, saat aku memintamu untuk menikah lagi kamu marah. Kamu bilang tidak butuh anak, tapi siang tadi aku mendengar semua apa yang kamu bicarakan dengan Mama. Kamu menginginkan anak, Ar. Aku tidak bisa memberikan padamu. Aku kasih izin kami menikah lagi, Ar. Namun, apa yang aku dengar. Kalian akan menikah diam-diam. 


"Sayang, aku akan jelaskan." kata Arnold.


Mendengar itu Cia langsung mengangkat tangannya, air matanya sudah menganak sungai.


Hingga ketukan pintu terdengar dari luar. Arnold menatap istrinya. Setelah itu membukakan pintu.


"Mama, ada apa?" tanya Arnold.


"Malam ini kamu bertemu dengan calon istrimu ya," bisik Maria.


"Ma," kata Arnold lirih.


Maria mengangguk, setelah itu ia berkata," Ar, malam nanti jam tuju kamu temani mama ya." 


"Mama!" seru Arnold.


Maria langsung pergi begitu saja, sedang Velicia menatap Arnold dengan sengit." Pergilah, tapi sebelum kalian menikah tolong lepaskan aku, Ar."


Arnold mendekati Velicia. Pria itu kini duduk di samping istrinya. Malam ini kamu harus ikut, Sayang."

__ADS_1


Mata Cia langsung melebar,  ia  rasanya ingin sekali membuangnya suaminya itu ke laut biar di makan hiu. 


__ADS_2