
Cia entah kenapa perasaannya tidak enak. Wanita itu merasa ada sesuatu dengan orang kepercayaannya dulu.
Cia mencoba untuk menghubungi nomor Clara, tetapi nomornya sekarang tidak aktif. Itu menatap Aura dan Leon bergantian.
"Ada apa, Kak?" tanya Aura.
"Nomor Clara tidak bisa dihubungi."
Mereka semua saling pandang, tetapi Leon terlihat begitu berbeda dari raut wajahnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu.
Leon mengambil ponselnya, Tidak lama pria itu mengambil ponselnya. Pria itu matanya membulat membaca pesan dari Eric. Aura dan Cia merasa curiga dengan tingkah Leon.
"Ada apa, kenapa kamu begitu terkejut?" tanya Cia.
Menceritakan kepada kedua wanita di depannya itu, apa yang dikirim oleh Eric. Tentang penyergapan dan yang meledakkan markas isi anak buah John yang begitu banyak.
Mendengar itu Cia begitu terkejut. Wanita itu yakin, sekarang Clara sedang berada dalam masalah. Cia segera menghubungi Clara lewat nomor darurat, biasa ia gunakan untuk saling berhubungan antara mereka berdua.
Benar saja nomor itu aktif, tidak lama Clara mengangkatnya." Halo Nona, ada apa?"
"Kamu bagaimana sekarang?"
"Bagaimana apanya, Nona. Saya baik-baik saja. Nona jangan khawatir." Clara terdengar begitu tenang saya berbicara.
"Clara kamu ke sini, kami akan melindungimu."
"Nona Jangan khawatir, saya bersama tuan Jhon sudah selesai. Saat ini saya akan membuka lembaran baru."
"Baiklah jika itu keinginanmu, tapi ada yang harus kamu ketahui. Kapanpun kamu butuh bantuan jangan segan untuk menghubungiku." Cia segera mengakhiri sambungan teleponnya.
Kini hanya ada keheningan, Cia Tidak habis pikir kenapa Clara Tidak memilih kembali kepadanya. Namun, Jhon begitu tega dalam keadaan hamil istrinya dilepas begitu saja.
Arnold yang baru bergabung merasa curiga, saat melihat sang istri yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat.
Pria itu duduk di samping sang istri, tapi Cia terlihat begitu tak acuh.
Arnold menatap adiknya, tapi Aura hanya menaikkan kedua bahunya. Hal itu membuat Arnold mendengus. Pria itu menyentuh tangan istrinya.
Cia yang terkejut, ia tersenyum menatap suaminya entah sejak kapan pria itu berada di sampingnya.
"Sudah selesai kerjanya, Ar?" tanya Cia.
Arnold mengangguk, pria itu menatap istrinya dengan intens." Apa ada masalah?"
Cia menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Arnold merasa kecewa karena istrinya tidak mau jujur dengannya.
__ADS_1
Aura menatap kedua kakaknya, wanita itu mengajak suaminya untuk pulang karena tidak ingin melihat kakaknya bertengkar. Nantinya.
Setelah kedua adiknya pergi, Arnold dengan begitu sabar menggenggam tangan istrinya. Apapun yang terjadi hanya Cia istrinya.
"Sayang," kata Arnold.
Cia menarik napas panjang, wanita itu akhirnya menceritakan apa yang sedang terjadi dengan Clara. Mendengar itu Arnold terkejut. Setahunya Jhon itu begitu posesif terhadap istrinya.
Namun, takdir siapa yang tahu. Arnold menatap wanita di sampingnya.
"Kita doakan semoga semua akan baik-baik saja," kaya Arnold.
Cia mengangguk, wanita itu tersenyum saat Meli mengantarkan putranya.
****
Pagi ini Alek bangun lebih cepat karena akan pergi ke hotel untuk memastikan jika Clara baik-baik saja. Iya juga bertemu dengan Jimmy pagi ini. Pria itu merasa heran karena Tuannya sering memberikan kode.
Tuan pergi ke belakang, tidak lama Alek mengikutinya.
"Ada apa?" tanya Jimmy.
"Clara demam, saat dokter memeriksa kemungkinan karena banyak pikiran dan kecapekan," ucap Alek
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jimmy
"Sementara harus kita bawa ke rumah sakit karena sempat flek," kata Alek.
"Setelah kita pergi, kita langsung ke rumah sakit. Jaga Clara jangan sampai Jhon tahu di mana keberadaannya," ujar Jimmy.
"Baik."
Jimmy akan bersikap hangat dengan Alek jika berkumpul dengan keluarga besar Tuannya itu. Namun, sedang membicarakan tentang hal penting. Pria itu kan bersikap tegas.
Kini Jimmy dan Alek masuk ke dalam, kedua pria itu ikut bergabung di ruang keluarga. Tidak lama pelayan memanggilnya jika sarapan sudah siap.
Pelayan seperti biasa menyajikan makanan kepada Tuannya, Begitu juga dengan Alek ikut makan bersama.
Sarapan pagi ini ada yang berbeda, Jhon tidak ikut sarapan bersama. Pria agak tidak enak badan, karena itu pelayan membawakan sarapan untuk ke kamar.
Semenjak Clara pergi, terlihat sepi kediaman rumah besar. Alek yang selalu mengawasi para pelayan dan pekerja lainnya.
Sedangkan tiga orang yang menjaga Jhon agar tidak keluar dari Mansion,
Setelah elah selesai sarapan Jimmy duduk di ruang keluarga, Begitu juga yang dilakukan oleh Alek.
__ADS_1
Setelah lima belas menit Jimmy sudah bersiap, dua pria itu memakai jaket dan celana panjang. Saat keduanya akan keluar, tiba-tiba dihentikan oleh Jhon
"Mau kemana?" tanya Jhon
"Papa, ada sesuatu yang harus kami urus. Maaf kami buru-buru," kata Jimmy langsung menatap Alek.
Jhon hanya mengangguk dan kemudian tersenyum menatap Kedua pria hebat itu. Ia begitu beruntung bisa memiliki orang kepercayaan seperti Alek.
Jhon keluar, tapi ia begitu terkejut saat sudah sampai di depan. Ia kira kedua Pria itu akan menggunakan mobil sama, tapi ternyata mereka naik mobil yang berbeda.
Jhon mengusap dadanya, bisa-bisa jantungan dirinya lama-lama melihat Papanya itu. saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Di rumah sakit, Jimmy yang baru sampai dengan Alek langsung menuju ke ruang rawat Clara. Apa lagi saat di jalan dihubungi dokter jika harus mengambil tindakan karena janin yang Clara kandung begitu lemah dan rasanya tidak mungkin untuk dipertahankan.
Mendengar itu Jimmy hanya bisa menarik napas panjang, apa lagi dokter menanyakan suami Clara
Mau tak mau Jimmy harus menghubungi Jhon, kebetulan rumah sakit Clara di rawat lumayan jauh.
"Ada apa, Pa?" tanya Jhon saat sampai
Jimmy tidak menjawab, Pria itu menatap Jhon.
"Ada kabar baik dan ada kabar buruk," kata Jimmy.
Jhon langsung menatap ke arah Jimmy. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Papanya itu.
"Clara ketemu," ucap Jimmy.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya, Jhon tersenyum. Terlihat begitu bahagia.
"Ayo kita temui Clara, Pa," ajak Jhon
"Tapi," kata Jimmy terdiam lama membuat Jhon menatap Papanya." Tapi apa?"
"Maaf, janin Clara lemah. Ini ada berkas yang harus kamu tandatangani," ucap Jimmy sambil mengusap air matanya.
Jhon mengambil berkas itu. Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan katakan itu benar, Pa," kata Jhon.
Jimmy menepuk bahu putranya itu. Awalnya Jimmy juga tidak percaya kalau anak buah Alek tidak melaporkan jika Clara di larikan ke rumah sakit.
Mungkin ini teguran untu Jhon dan istrinya karena tidak adanya komunikasi yang seimbang.
Jhon masuk ke kamar rawat istrinya. Pria itu mematung dan berkata, "Maafkan aku."
__ADS_1