
Setelah Meli selesai menceritakan apa yang terjadi. Cia menatap gadis yang akan menjadi istri kedua dari suaminya itu.
Bukan ia tidak percaya, tapi ini seakan membuat suaminya masih mencarinya terus menerus. Ia bingung kalau harus membawa pergi kemana. Ada rasa salah kepada suaminya. Namun, jika tidak Arnold tidak akan mau menikah.
Wanita itu memijat kepala yang terasa pusing. Antara suami dan anak Arnold nantinya, ia harus memilih. Tidak lama Andreas berdiri di depan pintu Vila milik Arista itu.
Andreas melihat adik iparnya seperti itu merasa iba." Lebih baik kamu pergi ke Berlin, kalau Arnold nanti aku akan mengajak ke sana."
Cia menatap Arnold dan Meli, keduanya mengangguk karena kalau masih menetap di sini Arnold pasti akan susah untuk mengambil keputusan.
Cia mengangguk, mungkin ini terbaik untuk suaminya. Kini wanita itu mengerti kenapa Maria begitu ingin menikahkan Arnold lagi karena kalau tidak pria itu tidak akan memiliki anak..
Setelah memutuskan itu Andreas dan Meli pamit untuk segera menyiapkan keberangkatan Cia. Namun, diam-diam Andreas mengirimkan pesan kepada Jhon dan Clara yang berada di Berlin mengikuti suaminya.
Clara dengan senang hati menyetujui apa rencana Andreas setelah menjelaskan apa yang terjadi. Tidak hanya itu Aura juga akan diberangkatkan dengan beda jadwal penerbangan.
Jhon awalnya yang begitu terkejut atas informasi dari istrinya atas keputusan Cia, pria itu rencananya akan langsung pulang, tapi karena kondisi istrinya yang kurang sehat. Pria itu akhirnya meminta menundanya satu malam lagi.
Clara berharap Cia meninggalkan suaminya karena memang harus dirahasiakan dari Arnold.
**
Pagi ini sesuai rencana Cia akan langsung menuju ke Berlin, tapi sayang. Informasi itu ada yang membocorkan ke suaminya. Hingga Arnold langsung menuju Vila keluarga istrinya.
"Ar, ada apa?" tanya Cia yang begitu terkejut.
Arnold menatap sang istri dengan intens." Jangan tinggalkan aku, kita bisa bicarakan baik-baik dengan Mama dan yang lainnya."
Cia terdiam, wanita itu tidak menyangka jika suaminya sudah tahu akan rencananya. Apa mungkin ini Andreas yang mengatakannya. Namun, rasanya tidak mungkin.
"Kamu bicara apa, Ar?"
__ADS_1
"Sayang, aku akui ingin seorang anak ditengah-tengah kita. Bukan berarti kita berpisah," kata Arnold.
Cia terdiam, sebenarnya ia juga tidak ingin berpisah dengan Arnol. Wanita itu begitu mencintai pria itu, walaupun awalnya cinta yang salah. Namun, hati tidak bisa berbohong kalau kini Arnold yang membuat hatinya berdebar.
Netra ke-dua saling pandang, air mata Cia mengalir begitu saja. Melihat itu Arnold menarik tubuh itu dalam dekapannya.
"Berjanjilah, jangan meninggalkan aku." Arnold mengusap bahu Cia yang bergetar itu.
Melihat istrinya seperti itu, Arnold langsung menggendong istrinya. Pria itu menaiki tangga dengan begitu hati-hati. Sedangkan Cia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.
Saat sampai di kamar, Arnold merebahkan tubuh wanitanya. Pria itu mengusap pipi Cia. Satu kecupan mendarat di kening istrinya.
"Malam ini kita menginap di sini, aku menginginkanmu Sayang."
Wajah Velicia langsung merona, hal itu membuat Arnold tersenyum.
Perlahan dengan pasti ke-dua melakukan olahraga pagi, Arnold begitu dibuat candu oleh istrinya. Kini keduanya memeluk setelah suara erangan begitu memabukkan itu.
Arnold segera beranjak dari duduknya, pria itu menghubungi Jhon untuk mengatakan terimakasih banyak karena sudah memberitahu jika Cia akan terbang hari ini.
Jhon bukan tidak ingin menolong, tapi apa yang dilakukan Clara dan Cia itu bukan hal yang benar. Dengan kabur, masalah tidak akan selesai. Yang ada akan memperburuk keadaan.
Arnold mematikan ponselnya, Pria itu sedang tidak ingin diganggu siapa pun. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Cia.
****
Di Vila milik Setyawan,. Andreas menatap mamanya. Pria itu tidak habis pikir, Kenapa wanita yang begitu ia sayangi tega melakukan hal itu. Apalagi kepada Cia.
Maria hanya diam saja saat putranya itu marah kepadanya, wanita paruh baya itu merasa Jika ia tidak bersalah.
Sedangkan menantunya saja, tidak komentar apa-apa saat bertemu kemarin. Namun, kabar yang ia dengar barusan. Kalau menantunya akan pergi meninggalkan negara ini.
__ADS_1
Ada rasa yang begitu sesak di dadanya, tetapi wanita itu enggan untuk mengatakan kepada semua anak-anaknya. Sebelum mantan suaminya meninggal, Maria dititipin pesan kepada Setiawan.
Usahakan arah memiliki putra, tidak perlu itu dari rahim siapa. Maria hanya ingin mengatakan sebenarnya, kalau dia juga ingin cucu dari Arnold nantinya.
Andreas begitu marah menatap Mamanya yang hanya diam saja. Wanita itu masih tidak bersalah sama sekali. Sehingga membuat Ia turun tangan langsung.
"Ingat Mama, Arnold dan Velicia tidak akan pernah berpisah. Jadi aku mohon, berhenti mengurus rumah tangga Arnold dan Cia." Andreas menatap wajah Mamanya itu dengan intens.
"Sudah cukup Apa yang kamu katakan Andreas, kamu pikir mama tega melakukan ini, kepada Cia dan Arnold. Tidak Nak, Mama tidak sekuat itu melakukan ini kepada mereka berdua. Asal kamu tahu, sebelum papamu pergi beliau berpesan. Usahakan Arnold mempunyai putra atau putri dari daerah dagingnya sendiri."
Mendengar apa yang dikatakan mamanya panjang lebar, Andreas membeku di tempatnya duduk. Pria itu tidak terus berbicara apa lagi, lalu apa tujuan Papanya meminta Arnold memiliki putra dan putri dari darah dagingnya. Sedangkan Papanya tahu juga Cia tidak bisa memiliki anak kembali.
Andreas mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu berharap Mama yang benar-benar berubah.
Merubah dalam arti kata tidak ikut campur, baik di rumah tangga Aura ataupun Arnold.
"Lalu bagaimana dengan permintaan terakhir papamu, Nak?" tanya Maria.
"Kita doakan saja yang terbaik buat Papa di sana, tidak mungkin papa sampai marah akan hal ini. Aku ingin melihat Arnold Aura bahagia dan pasangan yang masing-masing."
Mendengar apa kata putranya itu, hati Maria terasa dicubit. Bagaimana tidak putra sulung yang sekarang menasehatinya.
Bukan tujuannya untuk memisahkan anak-anaknya dengan wanita yang dicintai, tetapi pesan suaminya itu membuatnya tidak tenang.
Maria menarik nafas panjang, ia berjanji tidak akan mengganggu rumah tangga putra dan putrinya lagi.
Jujurnya Maria ingin hidup tenang seperti dulu, saat di perbatasan kota ia tidak berpikir tentang masalah orang lain. Namun, wanita itu sadar. Tidak mudah mempertahankan apa yang sudah kita raih.
Andreas melihat mamanya seperti itu merasa lega, di peluknya tubuh Maria begitu erat.
"Terima kasih sudah mengingatkan mama, hanya wanita biasa. Memiliki rasa marah kecewa, tetapi benar apa yang dilakukan Arnold kepada istrinya."
__ADS_1
Mendengar apa yang diucapkan mamanya, Andreas segera keluar dari villa tersebut.