
Arnold menatap tajam ke arah Clara, tetapi wanita itu tidak bergeming ia menatap datar pria itu. Velicia merasa kasihan. Namun, Saat ia akan berbicara tiba-tiba Arnold berdiri dan mengecup keningnya.
Clara mengepalkan kedua tangannya, dan berbicara."Silahkan Tuan."
"Cih, dasar menyebalkan!" cibir Arnold membuat Velicia mengulum senyum karena baru kali ini melihat sikap kekanak-kanakan Arnold.
Arnold berjalan menuju ke mobilnya, sebelum masuk mobil pria itu menatap Velicia dan tersenyum tipis, karena kedua matanya beradu. Ia masuk mobil, dan membunyikan klaksonnya sebelum pergi.
Clara mengajak Velicia untuk masuk, karena udara sudah mulai terasa dingin. Keduanya kini duduk di ruang keluarga. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul enam lewat, tetapi Jack belum juga pulang.
"Nona, silahkan istirahat saja," kata Clara karena melihat wajah Nonanya itu terlihat pucat.
Velicia menatap jengah asistennya itu, karena tidak suka dikasihani. Ia beranjak dari duduknya, tetapi saat berdiri pandangannya mulai buram dan seisi rumah seperti memutar, dipegangnya kepalanya yang semakin berdenyut.
Clara yang melihat Nonanya akan terjatuh langsung menangkap tubuh lemah itu, dan berteriak."Nona, Nona!"
"Bik Imah!" teriak Clara memanggil pelayan.
Jack yang baru sampai pintu terkejut, karena mendengar teriakan Clara. Pria itu dengan langkah cepat langsung menghampirinya.
Mata Jack melebar saat melihat Velicia yang kini tidak sadarkan diri di pangkuan Clara. Tanpa bicara apa-apa ia mengangkat tubuh lemah adiknya menuju ke mobil yang langsung diikuti oleh Clara.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Jack mengusap kepala adiknya, dari raut wajahnya terlihat begitu khawatir akan kondisinya. Setelah tiga puluh menit mobil sesampai di depan UGD. Jack mengangkat tubuh lemah itu yang diikuti oleh dokter.
"Silahkan Tuan tunggu di luar," kata salah satu perawat dan dua orang dokter terlihat berlari menuju ruang UGD.
Clara dan Jack menunggu di luar dengan cemas, ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada adiknya. Namun, ia ingat hanya 5% untuk kesembuhan Velicia.
Dari jauh Jack melihat Dokter Herman jalan tergopoh-gopoh karena mendapat telepon kalau pasiennya dalam keadaan gawat.
"Dokter," kata Jack.
Dokter Herman tidak menjawab, tetapi pria itu hanya menatapnya dengan tatapan yang susah di artikan dan langsung masuk ruang UGD. Sudah lebih satu jam belum ada tanda -tanda kalau Dokter Herman keluar.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, Jack dan Clara masih setia menunggu kabar dari Dokter. Tepat jam sembilan lima belas menit pintu UGD terbuka keluar dokter Herman dengan wajah lelahnya.
__ADS_1
"Kita keruangan saya," kata Dokter Herman.
Jack mengangguk dan mengikuti dokter itu menuju ruangannya, keduanya sudah sampai ruangan pria itu mempersalahkan jack untuk duduk. Jack hanya diam, ia menunggu apa yang akan disampaikan oleh dokter Herman.
"Nyonya Setyawan sekarang koma, walau sudah melewati masa kritisnya. Sebaiknya lebih cepat dibawa ke Jerman. Saya juga sudah menghubungi dokter James." Dokter Herman memberikan kertas kepada Jack.
"Apa ini Dokter?" tanya Jack perlahan membuka berkas yang baru di terimanya.
"Surat semua sudah lengkap, tinggal persetujuan keluarganya saja," ujar Dokter Herman.
"Secepatnya saya urus, Dok." Jack langsung pamit dengan membawa berkas yang diberikan dokter Herman.
Jack langsung menuju ruang ICU di mana Velicia sudah dipindahkan sesuai pesan yang dikirimkan oleh Clara. Pria itu langsung menuju di mana asisten adiknya itu berada.
"Tuan," kata Clara sambil mengusap air matanya.
Jack hanya menarik napas dalam, ia juga sedih. Namun, baru kali ini ia melihat wanita di depannya ini menangis.
"Clara kamu jaga di sini dulu, "kata Jack.
"Ada urusan sebentar," jawab Jack langsung berlalu meninggalkan Clara yang hanya diam mendengar jawaban pria itu.
Jack yang sudah sampai mobil, menghubungi seseorang. Setelah itu ia masuk mobil dan langsung tancap gas.
"Cia apa pun akan aku lakukan untuk membuatmu sembuh," katanya Lirih sambil mencengkram kemudi.
Jack sudah sampai di depan villa milik keluarga Setyawan, ia langsung menuju ke arah pintu bersamaan seseorang keluar dari mobil yang tidak lain Andreas.
Andreas tersenyum melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat pintu, tetapi ia tidak menghampirinya. Ia lebih memilih masuk lewat pintu samping.
Jack sudah duduk di ruang keluarga bersama Tuan Besar Setyawan.
"Ada apa, Jack? Sepertinya penting?" tanya Tuan besar.
Jack menceritakan bagaimana Velicia menjalani rumah tangga bersama Arnold.
__ADS_1
Tuan Besar Setyawan begitu terkejut, karena selama ia hanya melihat anak dan menantunya itu baik-baik saja.
"Maaf Jack, selama ini saya tidak pernah tahu atas apa kelakuan Arnold kepada istrinya." Tuan Besar merasa begitu malu atas sikap putranya itu.
"Ada satu lagi, sekarang Velicia sedang koma," kata Jack dengan suara yang bergetar.
Tuan Besar Setyawan terdiam, pria itu menatap anak muda di depannya. Apa benar apa yang dikatakan oleh Jack kalau Velicia koma.
"Jack, apa yang terjadi?" tanya Tuan Besar Setyawan.
Jack menceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi, ia juga berharap keluarga Setyawan ikut berperan untuk kesembuhan adiknya
Tuan Besar Setyawan mengangguk, ia setuju dan akan memberikan pelajaran kepada putranya itu. Setelah mendapat tanda tangan dari pihak keluarga Jack langsung pamit karena besok pagi Velicia akan langsung di bawah untuk berobat di luar Negeri.
Setelah kepergian Jack, Tuan besar Setyawan beranjak dari duduknya, pria paruh baya hendak istirahat, tetapi saat sampai ruang keluarga ia melihat putra pertamanya sedang memainkan handphonenya.
"Kapan pulang, Nak?" Tuan besar duduk di samping putranya.
"Apa ada masalah, Pa?" tanya Andreas tanpa menjawab pertanyaan pria paruh baya itu.
Tuan besar menceritakan apa yang terjadi kepada putranya, Saat begini ia memerlukan sosok yang bisa mendengar isi hatinya dan itu hanya Maria sang istri dan Aura putri bungsunya.
Sekarang yang ada di rumah hanya Andreas, anaknya itu sudah waktunya harus tahu apa yang selama ini ia sembunyikan dari putranya.
Andreas terdiam, ia memang tidak pernah bertemu dengan istri dari adiknya itu, tapi yang ia tahu wanita itu pewaris tunggal dari keluarga Arista. Pria itu merasa iba atas apa yang dilakukan Arnold kepada istrinya.
"Nak, apa boleh Papa minta tolong!" pinta Tuan besar kepada putranya itu.
"Apa Pa?" tanya Andreas.
"Selama Velicia di rawat kamu jaga dia di Jerman. Papa ikut, tapi tidak bisa lama," ujar Tuan Besar sambil menarik napas panjang.
"Kenapa tidak Arnold saja?" tanya Andreas.
Tuan Besar Setyawan menarik napas, ia akan membuat anaknya itu menyesali perbuatannya. Dan pria itu berkata."Kita Rahasiakan apa yang terjadi dengan Velicia, Nak."
__ADS_1
Andreas mengerti, pria itu mengangguk, karena ia juga akan kembali ke Jerman tidak lama lagi, pria itu di sana dunianya. Ia ke Indonesia karena mendapat undangan untuk ikut mengisi salah satu acara yang bergengsi di kota tempat orang tuanya berada.