PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
aku kotor


__ADS_3

Aura mengusap air matanya, gadis itu masih merasakan kalau itu tadi seperti mimpi rasanya begitu takut jika mengingat ia disiksa dan akan merenggut kesuciannya.


"Kak," panggil Aura kepada Leon.


Leon beranjak dari duduknya, kini pria itu duduk di tepi brankar dan bertanya."Ada apa, katakanlah?"


"Aku tidak ingin bertemu yang lainnya," kata Aura kembali air matanya menganak sungai.


Aura merasa dirinya begitu kotor, rasanya tidak sanggup untuk bertemu dengan orang tuanya. Leon mengusap air mata Aura dengan lembut.


"Apa alasannya?" tanya Leon.


"Aku kotor," kata Aura.


Aura duduk, ditatapnya netra pekat di depannya dengan intens dan berkata."Kakak pulanglah, biarkan aku sendiri di sini."


Leon tanpa ragu memeluk tubuh rapuh Aura, ia begitu iba. Tangis Aura pecah saat itu juga di dada bidang orang kepercayaan Papanya itu.


"Jangan pernah merasa sendiri, ada aku yang akan menemanimu," kata Leon berbisik di telinga Aura.


"Aku sudah kotor, Kak." Aura melepaskan pelukan Leon.


Leon mengangkat tubuh Aura membuat gadis itu memekik, kini gadis itu di dudukannya di pangkuannya.


"Jangan berpikir dirimu kotor, aku yakin kamu belum disentuh," ujar Leon menenangkan Aura.


Aura menatap wajah tampan yang kini juga menatapnya dan berkata, "Aku harus bagaimana?"


"Jadilah Aura yang bisa, ingat ada aku di belakangmu, Nona." Leon mengecup kening Aura.


Aura mengangguk, besok ia akan menemui Mama dan yang lainnya. Ia tidak boleh terlihat lemah saat ini.


"Terimakasih," kata Aura,


"Sama-sama, sekarang istirahatlah," kata Leon.


Aura mengangguk karena sudah mengantuk efek yang diberikan Leon kepadanya, setelah Aura terlelap Leon keluar dari ruang rawat. Sampai di luar ada lima anak buahnya yang langsung siap untuk menjaga Aura.


Leon keluar dari rumah sakit, dilihatnya Erik sudah menunggunya. Keduanya masuk mobil dan tanpa menunggu lama mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Kita ke jumpa Tuan Arnold!" kata Leon.


Mobil langsung meluncur ke arah rumah sakit di mana Velicia selama ini dirawat. Leon tanpa menunggu Erik langsung menuju ruang rawat Cia.


Perlahan dibukanya pintu, Cia yang baru siap makan menatap Leon yang sendirian masuk dan bertanya."Leon, yang lain kemana?"

__ADS_1


"Maksud Nona?" tanya Leon Balik.


"Arnold dan Andreas belum kembali dari tadi," jawab Cia.


"Sebentar lagi mereka sampai," ucap Leon.


Benar apa yang dikatakan Leon jika kedua kakak beradik itu akhirnya muncul, Arnold duduk di samping Leon sedangkan Andreas menghampiri gadis kecilnya.


"Apa sudah sadar?" tanya Arnold.


"Sudah Tuan, saya harap jangan dibahas jika di depannya," ujar Leon,


"Cih, kamu semakin dekat dengannya!"cibir Arnold.


Leon hanya tersenyum, entah sekarang ia begitu nyaman saat bersama Aura. Walau awalnya Leon tertarik dengan Clara gadis mandiri dan begitu cuek seakan cocok dengan pribadinya.


Arnold hanya mengangguk, dilihatnya Cia dan Andreas sedang mengobrol  sekali-kali terdengar  tawa dari keduanya.


Arnold menatap istrinya yang terlihat  begitu bahagia saat bersama dengan kakaknya. Ia akui tidak pernah melihat senyum  Cia saat bersamanya.


Dipinjamkannya matanya  menatap wanita yang dicintainya. Ada rasa sesak di dadanya. Rasa cemburu saat melihat  Cia tertawa dengan pria lain walaupun  itu kakaknya sendiri.


Tanpa sengaja  mata Arnold dan Cia saling bertemu. Mata indah itu berbinar dan tidak ada luka saat ini. Arnold yang tidak kuat menahan gemuruh di hatinya saat Andreas mengusap pipi istrinya langsung  beranjak  dan keluar dari ruang  rawat tanpa pamit.


Andreas menatap Leon dan bertanya."Bagaimana keadaan Aura?"


Leon menatap dingin pria yang kini sedang tersenyum menatapnya, ada rasa tidak suka karena kondisi Aura sekarang tidak bisa ia tinggalkan lama-lama. Leon tanpa menjawab langsung keluar dari ruang rawat.


"Kak apa ada yang terjadi?" tanya Cia.


"Apa kamu tidak tahu kalau Aura diculik dan kata anak buah Leon ia sempat akan dilecehkan," jawab Andreas .


Cia menutup mulutnya tidak percaya, wanita itu menggelengkan  kepalanya sedangkan di dekat pintu Maria mendengar apa yang dikatakan Andreas terlihat shock hingga bubur di tangannya jatuh membuat mangkuk kecil itu hancur dan pecahan kaca berserak.


"Mama," kata Andreas ia tidak tahu jika ada Mamanya di sana.


"Kamu tadi hanya bercandakan, Aura mana dia, jangan katakan itu nyatanya!"seru Maria dengan air mata yang sudah menganak sungai.


"Mama tenang dulu. Semua baik-baik saja," jawab Andreas begitu menyesali jika sampai terjadi sesuatu dengan Mamanya.


Maria duduk di sofa, Sedangkan Cia hanya menatap sendu wajah Maria yang terlihat begitu shock itu. Wanita itu heran kenapa Arnold tidak mengatakan apa-apa tentang Aura kepadanya.


"Bawa Mama ke tempat Aura, Nak!"pinta Maria dengan air mata yang sudah berlinang.


"Iya Mam," jawab Andreas.

__ADS_1


"Cia apa kamu tidak apa-apa aku tinggal," kata Andreas merasa tidak enak.


"Santai saja, Kak." Cia tersenyum walau hatinya begitu nyeri membayangkan Aura diculik orang jahat dan hampir dilecehkan.


Andreas setelah mendapat alamat di mana Aura dirawat ia pamit kepada Cia. Setelah Andreas dan Maria keluar Cia merebahkan tubuhnya. Baru saja akan memejamkan mata lagi-lagi pintu ruang rawatnya terbuka.


"Ar," panggil Cia.


"Kenapa bangun, hem?" tanya Arnold.


"Kamu dari mana? apa benar apa kata Andreas kalau Aura diculik dan akan dilecehkan?" tanya Cia beruntun.


Wajah Arnold yang tadi santai kini terlihat tegang, tanpa menjawab apa yang pertanyaan dari istrinya Arnold langsung menghubungi Leon.


"Halo Tuan," kata Leon


"Kamu bawa pergi Aura, Mama akan shock melihat kondisinya nanti," kata Arnold.


"Maksud Anda mereka akan kemari?" tanya Leon.


"Iya, Andreas menceritakan kepada Mama," jawab Arnold sambil menatap Cia yang diam memandangnya.


Cia yang melihat Arnold sudah siapa menelpon menatap pria itu kesal dan bertanya."Apa kondisinya parah?"


"Tidak hanya bekas lembab di wajahnya saja yang masih terlihat jelas," jawab Arnold.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Arnold.


"Aku lebih baik dari sebelumnya, Ar." Cia begitu bahagia saat ini.


Arnold tersenyum dan bertanya."Apa rencanamu setelah ini?"


Cia menatap Arnold, andai boleh memilih ia ingin bersama mantan suaminya ini dan membina rumah tangga yang normal. Namun, ia sadar tidak akan bisa memberikan keturunan kepada suaminya kelak.


"Kenapa melamun?" tanya Arnold.


"Ar, apa yang aku rasakan mungkin aku terlalu kekanak-kanakan karena cintaku padamu tidak akan pernah terbalas," ujar Cia.


"Maksudnya siapa?" tanya Arnold.


"Sebesar apa pun aku mencintai kamu. Namun, rasanya tidak mungkin kita bisa bersatu lagi," kata Cia sambil menunduk.


"Kenapa dan alasannya apa?"


bersambung ya….

__ADS_1


__ADS_2