
Setelah Clara keluar dari ruangan itu , wanita itu mengusap air matanya. rasa sakit di hatinya begitu dalam. Permintaan terakhir suaminya merupakan, Merupakan Sesuatu yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
Clara mengendarai motor, wanita itu akan mengambil barangnya di mansion suaminya. Setelah sampai di mansion ia langsung menghentikan motornya.
Wanita itu dengan cepat masuk mansion, ia naik ke lantai dua untuk mengambil barangnya. Setelah itu wanita itu memesan taksi. Ia keluar dari kamar, saat sampai di ruang keluarga. Ia bertemu dengan mertuanya.
“Mau ke mana?” tanya Jimmy.
"Maaf, Pa. Aku harus pulang ke Indonesia," kata Clara.
Jimmy terdiam, pria itu menatap wanita itu dengan wajah datar.
"Apa dengan kamu pergi, masalah akan selesai?" tanya Jimmy.
Clara menatap pria paruh baya itu. Wanita itu merasa bingung, tapi keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Bagaimana ia bisa menerima pria yang sudah menghianati dengan wanita murahan di luar sana.
"Maaf, saya harus segera pergi," kata Clara.
"Kamu keluar dari pintu, Jhon bukan suamimu lagi. “kata Jimmy.
"Anda salah, Tuan. Dengan senang hati saya akan meninggalkan putra Anda." Clara keluar dari mansion .
Wanita itu begitu terkejut, saya sampai di gerbang anak buah suaminya menghalanginya.
"Bukan pintunya!" pinta Clara dingin.
"Silakan Anda masuk, Nona!"
Clara menatap kelima orang itu dengan daftar, saat akan melanjutkan langkahnya. Seseorang menahannya.
"Nona aku mohon menurutlah," kata Pria itu
Clara yang merasa geram., Wanita itu langsung menyerang anak buah Jhon. Perkelahian pun tidak dihindarkan. Clara menyerang dengan tendangan mautnya, hanya butuh sepuluh menit. Lima pengawal itu berhasil dilumpuhkan.
Wanita itu tersenyum tipis, entah kebodohan Suminya bisa-bisanya mengutus penjaga yang begitu lemah.
Wanita itu tersenyum saat melihat taksi yang di pesannya sudah datang. Clara langsung memasukkan barang ke dalam bagasi.
Setelah itu, ya masuk mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan, Clara terdiam menatap ke arah jendela mobil. Wanita itu menarik nafas panjang, bukan wanita lemah. Yang hanya bisa diam saja saat ditindas.
__ADS_1
Diusapnya perutnya, ia akan menjaga anak ini sendiri. Wanita itu tahu ini salahnya, wajar jika suaminya begitu marah.
Namun, tidak harus dengan menyewa wanita-wanita murahan itu. Benar apa kata Alex, bisa dibicarakan dengan tenang.
Namun, Clara sadar. Selama ini suaminya begitu perhatian kepadanya. Keputusannya sudah bulat, menjauh dari pria itu.
Jika John menanyakan apa ia mencintainya, tapi jawabnya kan iya. Namun, Clara begitu susah untuk menyampaikan rasa coba kepada suaminya.
Baginya, dengan melayani begitu ikhlas sebagai seorang istri. Itu adalah tindakan sayang dan cinta kepada suaminya.
Mobil melaju jalannya begitu sepi, wanita itu sengaja mencari penginapan yang tidak begitu mewah. Semua barang pemberian dari suaminya sudah iya letakkan di atas nakas.
Clara tidak menekan jejak, tidak lama mungkin ditumpangi Clara sudah sampai di sebuah penginapan. Letak penginapan terbang begitu jauh di pinggir kota.
Ia yakin besok pagi suaminya akan mencarinya, atau bisa jadi tidak. Besok Clara akan minta bantuan Erik dan Leon. Namun , wanita itu berpikir. Ada rasa takut, jika aurat tahu ia minta tolong kepada suaminya.
Clara segera mengirimkan pesan kepada Eric, hanya dalam hitungan menit pria pun langsung membalasnya.
Saat Clara akan membalas pesan pria itu, handphonenya bergetar tanda ada panggilan masuk.
Wanita itu menarik nafas panjang, akhirnya yang angkat teleponnya." Halo."
"Di mansion," jawab Clara.
Erick diam, pria itu akan curiga. Wanita yang sedang meneleponnya itu, sedang ada masalah.
Entah kenapa tiba-tiba Erik merasa was-was, ada rasa takut jika Clara kenapa-kenapa?
Pria itu melihat ponselnya, telepon Clara langsung mati tadi. Membuat Erc begitu khawatir.
Sedangkan di penginapan, Clara sengaja mematikan ponselnya. Wanita itu sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Baik itu mertua atau suaminya.
Clara ingin hatinya tenang terlebih dahulu, wanita itu dan tidak ingin memikirkan pengkhianatan oleh suaminya. Namun, wanita itu lebih mendekatkan kepada yang sang pemberi hidup.
Bohong jika Clara pulang ke Indonesia, wanita itu kini, sedang mencari tiket untuk ke Paris besok pagi.
Di sana iya kamu buka lembaran baru, tetapi ia ingat akan Nonanya. Hanya wanita itu yang mengerti gimana dirinya. Namun, tengah malam di sini. Seperti sama dengan di sana, walaupun hasilnya berbeda.
Clara membaringkan tubuhnya di atas kasur yang agak tipis, wanita itu melihat langit-langit penginapan untuk dirinya.
__ADS_1
Bukan Clara tidak ingin menyewa hotel bintang lima, Jika ia melakukan hal itu. Pasti dengan mudah anak buat suaminya akan mendapatkan.
Clara memanjangkan matanya, dadanya masih terasa sesak. Mengingat Bagaimana permintaan suaminya yang terakhir kali. Ia harus melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana suamimu itu bercumbu dengan wanita lain.
Clara ara semakin yakin untuk menjauh dari pria brengsek itu, hati nalurinya seakan sudah mati.
Ingin menangis, air mata yang tidak mau keluar. Ingin teriak, rasanya tidak mungkin ia lakukan.
Setelah membayangkan semuanya itu, para perolehan memejamkan matanya. Terlihat jelas dari wajah wanita itu begitu lelah.
****
Tepat pukul empat, Alek pembawa tuannya untuk pulang ke manisannya. Pria itu tidak ingin menjadi amukan bosnya itu saat sabar nanti.
Alex begitu paham, Bagaimana jika bosnya sedang mabuk. Jhon akan ingat semua yang ia katakan atau dilihatnya saat mabuk.
Hal itu membuat Alek begitu khawatir, jika pria dingin dan data itu akan mengamuk menghajarnya habis-habisan.
Lebih baik pria itu pulang ke apartemennya. Seorang pelayan membantu Alex membawa tuannya naik ke lantai atas.
Setelah selesai Alek memanggil salah satu pelayan, untuk menjaga tuannya. Setelah itu, pria tampan itu meninggalkan mansion tuannya.
Di salah satu kamar di mansion, tampak seorang pria sedang menggeliatkan tubuhnya. Pria itu tidak lain adalah tuan Jhon.
Jhon memijit pelipisnya yang begitu sakit. Pria itu kini mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ada rasa lega di hatinya. saat menyadari jika dirinya berada di kamarnya sendiri.
John bangun dari tidurnya, pria itu duduk. Anda yang berbeda di kamarnya. Pria itu melihat meja rias, biasanya penuh dengan barangnya dan Clara. Namun, kini tinggal miliknya saja.
John terlihat belum menyadari, jika istrinya sudah tidak ada di kamar bahkan di mansionnya.
Pria itu beranjak dari tepi ranjang, ya berjalan dengan sempoyongan menuju ke kamar mandi. keningnya berkerut, saat melihat kamar mandi kosong.
Bayangan-bayangan di mana kejadian. ia dan istrinya bertengkar. Jhon begitu terkejut, setelah mengingat semuanya.
Pria itu segera keluar dari kamar, dengan langkah yang begitu cepat ia menuju ke meja makan. Namun, apa yang terjadi membuat pria itu dia membeku. Saat melihat hanya ada papanya saja. " Papa, melihat istriku keluar dari sini?".
"Ada,," jawab Tuan Jimmy.
Jimmy menatap putranya yang buru-buru keluar dari mansion.
__ADS_1