PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Arnold bertemu Clara


__ADS_3

Jack yang terkejut  hampir menjatuhkan pigura itu. 


"Maaf "kata Jack sambil kembali meletakkan  pigura itu.


Andreas masuk dan duduk di depan piano, ia tahu kalau Jack sedang mencurigakan.


"Ada yang mau Anda tanyakan, Tuan?" tanya Andreas.


Jack duduk di tepi ranjang, ditatapnya  pria yang kini duduk menghadap ke arahnya.


Jack menarik napas panjang, ia ingin menanyakan kepada Andreas apa mencintai  Velicia.


"Jelaskan  dengan foto itu!"kata Jack.


Andreas tersenyum, ditatapnya  foto yang kini berada di atas nakas mejanya.


"Gadis kecil, ia ceria dan mau belajar dengan sungguh-sungguh." Andreas tersenyum  dan mengambil  pigura itu.


Jack  mengangguk, adiknya dulu seka ceria dan jarang sekali  bersedih. Bahkan ia begitu pandai menutupi rasa sedih dan sakit hatinya selama ini.


"Kalau tidak ada yang ditanyakan  lagi saya mau pergi sebentar," kata Andreas sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


Jack keluar dari kamar, pria itu berjalan menuju ruang tamu, tetapi  langkahnya  terhenti saat ia melihat Aura sedang santai duduk di balkon arah menuju ke area  dapur.


"Aura," panggil Jack.


"Iya Kak, ada apa?" tanya Aura langsung membenarkan  duduknya.


"Apa kamu ada acara hari ini?" tanya Jack.


Aura terdiam, gadis bermata hitam pekat itu  mengernyitkan dahinya, seakan sedang  berpikir keras untuk mengingat  hari ini ada acara atau tidak.


"Malam jaga kakak Veil aja," jawab Aura.


"Ayo antar kakak  jalan," kata Jack langsung menarik tangan Aura untuk keluar apartemen.


Aura mengikuti  langkah Jack yang lebar, kaki gadis  itu berusaha  mengimbanginya.


"Kak, kita mau kemana?" tanya Aura.


"Tempat yang menyenangkan," jawab Jack.


Aura hanya mengangguk, gadis  itu memberikan  kunci mobilnya berada pria Yang tinggi  di sampingnya.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, Jack menatap Aura sebentar


"Kita perginya  ke arah rumah sakit, cari tempat yang nyaman  buat santai," kata Jack.


"Kak, di kantin dekat rumah  sakit aman ada tempat temannya," ujar Aura.

__ADS_1


Jack hanya mengangguk, rumah sakit tempat Velicia  dirawat  memang difasilitasi taman yang begitu asri dan udaranya sejuk.


Mobil melaju  membelah jalanan  kota Berlin. Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit keduanya sampai di taman, Aura memesan cemilan lebih dulu setelah itu menghampiri  Jack.


"Ini buat, kakak," kata Aura sambil memberikan  cup es cream untuk Jack.


"Aura kakak  kurang suka dengan yang manis-manis," ujar Jack.


"Ya sudah buat aku aja," ucap Aura mengambil alih cup yang berada di depan Jack.


Jack hanya terkekeh  melihat  itu, kemudian  ia menarik  napas panjang.


Jack menanyakan  foto Andreas dan Velicia yang berada di kamar tadi.


"Itu hanya kenangan  saja, katanya gadis kecil itu selalu ceria sama sekali tidak pernah melihat  bersedih." Aura mengingat  apa yang disampaikan  Andreas kepadanya.


"Apa kakaknya menyukai gadis itu?" tanya Jack.


Aura terkekeh, dan menjawab  pertanyaan  Jack."Andreas, tidak ingin membuat wanita tersakiti  seperti  yang Mama rasakan, makanya ia tidak ingin jatuh cinta."


Aura menceritakan  rumah tangga  kedua orang  tua, mendengar itu  Jack tertegun. Ia tidak menyangka  badai rumah tangga  Tuan besar Setyawan  membuat anak-anaknya mengalami trauma  yang begitu dalam.


Entah mengapa Jack tiba-tiba  mengingat  istri cerewetnya itu.


"Apa kamu  juga trauma?" tanya Jack.


"Gadis nakal, jangan mencoba menggoda. Karena ada istri galakku yang sedang  menungguku di rumah." Jack sengaja memberitahu  Aura supaya nantinya gadis  itu tidak kecewa.


****


Di Indonesia tepatnya  di kota Ternate. Seorang pria yang kini  terlihat  begitu frustasi  karena sudah hampir satu minggu lebih  ia tidak bisa menjumpai  Velicia.


Arnold  yang terlihat begitu berantakan  kini keluar  dari Villa  dan langsung menuju mobilnya, udara siang ini tidak begitu panas karena langit terlihat  sudah berubah mulai berwarna  gelap tandanya sebentar lagi akan turun hujan.


Arnold mengemudikan  mobilnya menuju ke salah satu rumah, jalanan terlihat  lengan mungkin karena  hari weekend  banyak yang memilih  santai di apalagi di siang hari.


Mobil yang dikemudikan  oleh Arnold sampai di depan  rumah yang bercat warna biru muda. Dilihatnya ada mobil yang biasa digunakan  oleh Clara.


Arnold lang keluarga  dari mobil dan menekan  bel rumah, tak lama wanita paruh baya  berjalan tergopoh-gopoh melihat siapa yang datang.


"Maaf  Tuan, mau cari siapa?" tanya wanita itu menatap takut ke arah Arnold.


Wajah Arnold terlihat  begitu dingin dan sombong  dengan rahang  yang tegas.


"Clara," jawab Arnold  singkat.


Clara yang merasa namanya dipanggil  merasa  penasaran  siapa tamunya  yang datang di siang bolong.


Mata Clara  membola melihat siapa yang kini duduk berdiri  sambil bersandar mobil yang tidak asing untuknya.

__ADS_1


"Untuk apa Tuan mencari saya?" tanya Clara dingin.


Arnold  diam, ia melihat  wanita sombong dan dingin yang kini melihat tangannya dada.


"Di mana Velicia?" tanya Arnold  tanpa ada basa-basi.


"Cih, untuk apa Anda mencarinya!"seru Clara  membuat Arnold menatap  tajam ke arah Clara.


Arnold  belum sempat  bertanya  lagi, tetapi orang kepercayaan  Velicia  itu sudah masuk ke dalam rumah.


"****," umpat Arnold menendang ban mobilnya.


Arnold  tidak henti-hentinya untuk mengumpat, bahkan ia melajukan  mobilnya dengan kecepatan  tinggi, jika ada mobil yang menghalangi mobilnya tidak segan dibunyikan klaksonnya.


Arnold  berpikir  keras  kemana  lagi ia mencari mantan istrinya itu. Mobil yang dikemudikan  oleh Arnold  melaju dengan kecepatan  sedang saat memasuki  jalan menuju keluarga Arista. 


Penjaga yang melihat itu langsung berbuka pagar karena setahu mereka kalau Arnold masih suami dari majikannya.


Arnold  langsung keluar dari mobil dan mengetuk pintu. Wanita paruh baya  itu terkejut saat membuka pintu ada wajah dingin dari  Arnold.


"Cia sudah pulang, Bik?" tanya Arnold yang langsung masuk ke dalam dan kini duduk di ruang keluarga.


"Belum Tuan, Nona juga tidak ada menghubungi," kata Bik Imah sambil menunduk.


"Kemana Cia pergi, Bik?" tanya Arnold.


"Maaf Tuan, saya juga tidak tahu. Apa Anda ada menghubungi  Tuan Jack?" tanya Bik Imah.


Arnold menarik napas panjangnya, ia ingat sudah menghubungi  Jack, tetapi pria itu tidak ada menjawabnya.


"Bik aku mau istirahat  disini, "kata Arnold  langsung berbaring di sofa karena  merasa begitu lelah.


"Tuan istirahat  di kamar saja," kata Bik Imah  merasa iba karena  melihat  wajah pria itu begitu terlihat  lelah.


Saat Arnold sudah mau terlelap, tiba-tiba  ponselnya  bergetar di dalam saku celananya. Pria itu mengambil  dan melihat siapa yang menghubunginya, keningnya  berkerut karena nomor itu tidak ada dalam kontaknya.


Arnold ragu untuk menjawab, dan ia kembali menyimpan  ponselnya ke saku celananya.


Arnold memiringkan  tubuhnya  untuk mencari posisi  aman untuk istirahat. Matanya tiba-tiba  terbuka ia begitu geram siapa yang menghubunginya.


Diraihnya ponselnya  lagi, tanpa menunggu lama Arnold  langsung  mengangkat ya.


"Halo!"teriak Arnold.


"Ar," panggilnya lembut


Deg, tubuh Arnold  membeku mendengar suara itu.


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2