
Jack yang terkejut hampir menjatuhkan pigura itu.
"Maaf "kata Jack sambil kembali meletakkan pigura itu.
Andreas masuk dan duduk di depan piano, ia tahu kalau Jack sedang mencurigakan.
"Ada yang mau Anda tanyakan, Tuan?" tanya Andreas.
Jack duduk di tepi ranjang, ditatapnya pria yang kini duduk menghadap ke arahnya.
Jack menarik napas panjang, ia ingin menanyakan kepada Andreas apa mencintai Velicia.
"Jelaskan dengan foto itu!"kata Jack.
Andreas tersenyum, ditatapnya foto yang kini berada di atas nakas mejanya.
"Gadis kecil, ia ceria dan mau belajar dengan sungguh-sungguh." Andreas tersenyum dan mengambil pigura itu.
Jack mengangguk, adiknya dulu seka ceria dan jarang sekali bersedih. Bahkan ia begitu pandai menutupi rasa sedih dan sakit hatinya selama ini.
"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi saya mau pergi sebentar," kata Andreas sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Jack keluar dari kamar, pria itu berjalan menuju ruang tamu, tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat Aura sedang santai duduk di balkon arah menuju ke area dapur.
"Aura," panggil Jack.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Aura langsung membenarkan duduknya.
"Apa kamu ada acara hari ini?" tanya Jack.
Aura terdiam, gadis bermata hitam pekat itu mengernyitkan dahinya, seakan sedang berpikir keras untuk mengingat hari ini ada acara atau tidak.
"Malam jaga kakak Veil aja," jawab Aura.
"Ayo antar kakak jalan," kata Jack langsung menarik tangan Aura untuk keluar apartemen.
Aura mengikuti langkah Jack yang lebar, kaki gadis itu berusaha mengimbanginya.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Aura.
"Tempat yang menyenangkan," jawab Jack.
Aura hanya mengangguk, gadis itu memberikan kunci mobilnya berada pria Yang tinggi di sampingnya.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, Jack menatap Aura sebentar
"Kita perginya ke arah rumah sakit, cari tempat yang nyaman buat santai," kata Jack.
"Kak, di kantin dekat rumah sakit aman ada tempat temannya," ujar Aura.
__ADS_1
Jack hanya mengangguk, rumah sakit tempat Velicia dirawat memang difasilitasi taman yang begitu asri dan udaranya sejuk.
Mobil melaju membelah jalanan kota Berlin. Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit keduanya sampai di taman, Aura memesan cemilan lebih dulu setelah itu menghampiri Jack.
"Ini buat, kakak," kata Aura sambil memberikan cup es cream untuk Jack.
"Aura kakak kurang suka dengan yang manis-manis," ujar Jack.
"Ya sudah buat aku aja," ucap Aura mengambil alih cup yang berada di depan Jack.
Jack hanya terkekeh melihat itu, kemudian ia menarik napas panjang.
Jack menanyakan foto Andreas dan Velicia yang berada di kamar tadi.
"Itu hanya kenangan saja, katanya gadis kecil itu selalu ceria sama sekali tidak pernah melihat bersedih." Aura mengingat apa yang disampaikan Andreas kepadanya.
"Apa kakaknya menyukai gadis itu?" tanya Jack.
Aura terkekeh, dan menjawab pertanyaan Jack."Andreas, tidak ingin membuat wanita tersakiti seperti yang Mama rasakan, makanya ia tidak ingin jatuh cinta."
Aura menceritakan rumah tangga kedua orang tua, mendengar itu Jack tertegun. Ia tidak menyangka badai rumah tangga Tuan besar Setyawan membuat anak-anaknya mengalami trauma yang begitu dalam.
Entah mengapa Jack tiba-tiba mengingat istri cerewetnya itu.
"Apa kamu juga trauma?" tanya Jack.
"Gadis nakal, jangan mencoba menggoda. Karena ada istri galakku yang sedang menungguku di rumah." Jack sengaja memberitahu Aura supaya nantinya gadis itu tidak kecewa.
****
Di Indonesia tepatnya di kota Ternate. Seorang pria yang kini terlihat begitu frustasi karena sudah hampir satu minggu lebih ia tidak bisa menjumpai Velicia.
Arnold yang terlihat begitu berantakan kini keluar dari Villa dan langsung menuju mobilnya, udara siang ini tidak begitu panas karena langit terlihat sudah berubah mulai berwarna gelap tandanya sebentar lagi akan turun hujan.
Arnold mengemudikan mobilnya menuju ke salah satu rumah, jalanan terlihat lengan mungkin karena hari weekend banyak yang memilih santai di apalagi di siang hari.
Mobil yang dikemudikan oleh Arnold sampai di depan rumah yang bercat warna biru muda. Dilihatnya ada mobil yang biasa digunakan oleh Clara.
Arnold lang keluarga dari mobil dan menekan bel rumah, tak lama wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh melihat siapa yang datang.
"Maaf Tuan, mau cari siapa?" tanya wanita itu menatap takut ke arah Arnold.
Wajah Arnold terlihat begitu dingin dan sombong dengan rahang yang tegas.
"Clara," jawab Arnold singkat.
Clara yang merasa namanya dipanggil merasa penasaran siapa tamunya yang datang di siang bolong.
Mata Clara membola melihat siapa yang kini duduk berdiri sambil bersandar mobil yang tidak asing untuknya.
__ADS_1
"Untuk apa Tuan mencari saya?" tanya Clara dingin.
Arnold diam, ia melihat wanita sombong dan dingin yang kini melihat tangannya dada.
"Di mana Velicia?" tanya Arnold tanpa ada basa-basi.
"Cih, untuk apa Anda mencarinya!"seru Clara membuat Arnold menatap tajam ke arah Clara.
Arnold belum sempat bertanya lagi, tetapi orang kepercayaan Velicia itu sudah masuk ke dalam rumah.
"****," umpat Arnold menendang ban mobilnya.
Arnold tidak henti-hentinya untuk mengumpat, bahkan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jika ada mobil yang menghalangi mobilnya tidak segan dibunyikan klaksonnya.
Arnold berpikir keras kemana lagi ia mencari mantan istrinya itu. Mobil yang dikemudikan oleh Arnold melaju dengan kecepatan sedang saat memasuki jalan menuju keluarga Arista.
Penjaga yang melihat itu langsung berbuka pagar karena setahu mereka kalau Arnold masih suami dari majikannya.
Arnold langsung keluar dari mobil dan mengetuk pintu. Wanita paruh baya itu terkejut saat membuka pintu ada wajah dingin dari Arnold.
"Cia sudah pulang, Bik?" tanya Arnold yang langsung masuk ke dalam dan kini duduk di ruang keluarga.
"Belum Tuan, Nona juga tidak ada menghubungi," kata Bik Imah sambil menunduk.
"Kemana Cia pergi, Bik?" tanya Arnold.
"Maaf Tuan, saya juga tidak tahu. Apa Anda ada menghubungi Tuan Jack?" tanya Bik Imah.
Arnold menarik napas panjangnya, ia ingat sudah menghubungi Jack, tetapi pria itu tidak ada menjawabnya.
"Bik aku mau istirahat disini, "kata Arnold langsung berbaring di sofa karena merasa begitu lelah.
"Tuan istirahat di kamar saja," kata Bik Imah merasa iba karena melihat wajah pria itu begitu terlihat lelah.
Saat Arnold sudah mau terlelap, tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Pria itu mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya, keningnya berkerut karena nomor itu tidak ada dalam kontaknya.
Arnold ragu untuk menjawab, dan ia kembali menyimpan ponselnya ke saku celananya.
Arnold memiringkan tubuhnya untuk mencari posisi aman untuk istirahat. Matanya tiba-tiba terbuka ia begitu geram siapa yang menghubunginya.
Diraihnya ponselnya lagi, tanpa menunggu lama Arnold langsung mengangkat ya.
"Halo!"teriak Arnold.
"Ar," panggilnya lembut
Deg, tubuh Arnold membeku mendengar suara itu.
Bersambung ya...
__ADS_1