
Di sinilah sekarang di taman ini semua terkuak, Jack menceritakan yang sebenarnya jika pria yang dicintai Cia selama ini adalah Andreas kakak kandungku yang dari kecil sudah menjadi cinta pertamanya wanita yang masih berstatus menjadi istriku itu. Dadaku sesak, akankah aku lepas atau aku pertahankan wanita yang kini sudah memenuhi hatiku.
Pov Author.
Arnold terdiam menatap orang yang lalu lalang mulai beraktivitas seperti biasa, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang. Ia beranjak dari duduknya karena keluarganya akan sampai jerman saat pagi, bisa jadi sekarang sudah berada di rumah sakit.
Arnold berjalan melewati lorong rumah sakit, ia naik lift untuk menuju ruang rawat Velicia. Sesampai di ruang rawat wanita itu ia perlahan membuka pintu. Deg, dadanya terasa sesak saat melihat Andreas duduk di tepi ranjang sedang bercerita membuat istrinya itu terlihat bahagia.
Semua yang berada di ruang itu menatap Arnold yang berdiri di tengah pintu, mata Arnold masih menatap tangan Cia dan Andreas yang masih saling berpegangan.
Arnold dengan mudah merubah ekspresi wajahnya kembali lagi datar, Jack melihat itu hanya menatap dengan tatapan yang berbeda, begitu juga Andreas.
"Ar, kamu dari mana saja. Bukankah seharusnya kamu jaga anak Mama?" tanya Mama Maria.
"Arnold tadi ada perlu Mam," jawab Arnold lalu duduk di samping Jack.
"Kamu lihat betapa bahagianya Cia saat ini," bisik Jack di telinga Arnold.
Velicia merasa ada yang hilang saat melihat wajah Arnold mulai terlihat dingin saat menatapnya, wanita itu kini menatap Andreas pria yang dulu menjadi cinta pertamanya.
Arnold sudah mencoba untuk menahan rasa sakit di hatinya, apa lagi ia mendengar tawa dan Cia dan Kakaknya yang terdengar begitu bahagia.
Tuan besar diam-diam memperhatikan putra keduanya itu, terlihat dengan jelas di netra pekat Arnold jika ada penyesalan di sana. Namun, saat ia melihat Andreas dan Cia terlihat begitu bahagia.
Tuan besar berjalan keluar pintu sambil memegang ponselnya, ia ingin berbicara dengan putra keduanya itu, saat akan menutup pintu memberikan kode kepada Arnold untuk mengikutinya.
Kini kedua pria beda usia itu duduk di taman di mana tempat Jack dan Arnold tadi duduk. Tuan Besar Setyawan menatap putranya itu intens.
"Kamu lihat bagaimana bahagianya Cia saat bersama Andreas." Tuan besar menatap putranya itu lagi, lalu mengalihkan pandangannya ke area taman.
Arnold hanya diam, ia berusaha menenangkan emosinya yang semakin gemuruh, Tuan Besar kini duduk di samping putranya.
"Papa dulu bodoh, melepaskan berlian demi kerikil yang tidak berguna," ujar Tuan Besar.
__ADS_1
"Papa, tidak bodoh, tapi tidak menyadarinya. Seperti aku sekarang ini," kata Arnold.
"Cia sudah beberapa kali menolak rujuk," jelas Tuan besar.
"Pa, apa aku harus melepaskannya?" tanya Arnold.
Tuan besar mengerutkan keningnya, apa putranya lupa kalau sebenarnya sudah bercerai dengan istrinya.
"Maksud kamu apa, Nak?" tanya tuan besar.
"Apa harus aku lepaskan Cia untuk Kakak, tapi aku mencintainya," ucap Arnold sambil meneteskan air matanya.
Tuan besar begitu terkejut, putranya yang selama ini cuek dan dingin sekarang menangis saat wanita yang dulu ia sia-siakan sudah menemukan cinta pertamanya. Tuan besar sudah tahu semuanya saat masih di tanah air, Andreas menceritakan semuanya hingga membuat pria itu merasa bersalah.
Pria paruh baya itu di buat terkejut atas pengakuan Andreas kalau ia akan menikahi Velicia karena wanita itu sekarang bukan lagi istri dari Adiknya.
"Apa kamu tahu, jika Andreas pria yang dicintai oleh Velicia?" tanya Tuan Besar.
Arnold hanya mengangguk, hal itu membuat pria paruh baya itu menarik napas dalam. Ia sebagai orang tua tidak ingin egois untuk kepentingannya sendiri.
Arnold memejamkan matanya, dadanya semakin sesak. Kini ia beranjak dari duduknya untuk kembali ke ruangan Velicia. Saat sampai di ruang rawat sudah sepi tidak ada orang hanya ada wanita itu terbaring sambil memainkan ponselnya.
Velicia menaikan alisnya saat melihat kedua mata Arnold memerah, begitu juga hidungnya. Pria itu tersenyum canggung, ia duduk agak jauh dari istrinya itu.
"Apa kabar?" tanya Arnold membuat Cia merasa ada sesuatu yang sudah terjadi.
"Ar, apa yang terjadi?" tanya Cia yang kini sudah duduk sambil bersandar di ranjangnya.
"Aku senang saat mendengar kamu sudah menemukan cinta pertamamu, Cia." Arnold menatap langit-langit kamar Cia supaya air matanya tidak jatuh.
"Ar, kamu sudah tahu!" kata Cia lirih.
"Iya, aku tahu dari Papa dan ia meminta supaya aku merelakan semuanya," ujar Arnold dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Velicia tertegun ini yang kedua kalinya ia melihat Arnold menangis di depannya. Cia terisak saat melihat pria itu terlihat begitu kecewa. Itu juga yang ia rasakan waktu tahu kalau salah menikahi pria yang dikiranya cinta pertamanya.
"Maaf."Kata-kata itu keluar dari mulut seseorang yang berada di pintu.
Arnold dan Cia melihat Andreas berdiri di sana, hanya ada hening saat pria itu berjalan dan kini memeluk tubuh wanita yang sedang terisak itu.
Arnold memejamkan matanya, mungkin kini waktunya ia melepaskan Cia dan menandatangani surat perceraian itu supaya wanita itu bisa menikah dengan Kakaknya.
Arnold beranjak dari duduknya, pria itu mengambil koper kecil di sudut ruangan. Andreas melihat itu berdiri dan mencekal tangan adiknya.
"Mau kemana?" tanya Andreas.
"Clara telepon banyak kerjaan," jawab Arnold dingin.
"Bisakah kamu menjaganya, karena aku harus ke Singapore selama dua minggu. Ada konser disana dan itu sudah lama sebelum semua ini terjadi, " jelas Andreas.
Arnold mengepalkan kedua tangannya, apa yang dikatakan kakaknya itu begitu membuatnya kecewa. Sedari tadi ia pikir kalau pria yang di depannya itu tulus kepada istrinya. Namun, tidak beda dengan papanya yang lebih memilih pekerjaan daripada wanitanya.
"Kalau kamu tidak bisa enggak apa-apa, Ar." Velicia melihat rahang Arnold yang sudah menegang itu membuatnya takut.
"Aku bisa," jawab Arnold dengan menatap lekat wanita yang kini tersenyum menatapnya.
Ada dua kemungkinan Cia senyum kepada Arnold atau dengan Andreas karena kedua pria itu sedang menatap wanita itu.
"Mama akan menemani Papa buat cek up, dan Aura akan kembali ke tanah air untuk mengurus perusahan bersama Leon." Andreas menjelaskan kepada adiknya.
Arnold tidak menjawab pria itu hanya diam sambil menatap Cia yang sedang tersenyum saat Andreas menjelaskan kepadanya.
"Kapan berangkat?" tanya Arnold.
"Kau mengusirku!" gerutu Andreas kesal melihat adiknya.
"Bukannya lebih cepat lebih baik," ujar Arnold.
__ADS_1
Andreas hanya mendengus saat ia akan mencium kening Velicia wanita itu mendorongnya. Semua itu diperhatikan oleh Arnold membuat pria itu mengerutkan keningnya.
bersambung ya...