PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
menjenguk Velicia


__ADS_3

Pagi harinya Jack masih berada di depan ruang rawat adiknya karena ia tak ingin menjauh dari Velicia.


Menunggu Clara datang Jack sambil mengerjakan email yang di kiirm oleh asistennya.


Jack sedang duduk sambil sesekali melihat Velicia, pria itu belum ada tidur karena ia takut sesuatu terjadi kepada adiknya. Tak lama Clara datang, melihat wajah Jack begitu lelah membuat wanita itu iba.


"Tuan, sebaiknya pulang untuk istirahat," kata Clara.


"Iya, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya," kata Jack sambil berlalu meninggalkan ruang ICU.


Clara hanya menarik napas, wanita itu datang dengan membawa semua pekerjaannya. Dilihatnya Velicia masih setia dengan tidur panjangnya. Air mata Clara menetes di saat seperti ini hanya ada dirinya dan Jack ,sedangkan pria yang begitu dicintai Nonanya itu tidak tahu kalau mantan istrinya sedang koma sekarang.


Clara kembali ke tempat duduknya, wanita itu perlahan membuka  laptopnya dan beberapa dokumen dari tas kerjanya. Saat sedang sibuk ia dikejutkan dengan kedatangan Tuan Besar Setyawan.


"Selamat datang, Tuan," sapa Clara sambil berdiri menatap mantan mertua dari Nonanya itu.


"Bagaimana, Apa sudah sadar?" tanya Tuan Besar.


"Belum Tuan, kita menunggu keadaan Nona stabil baru bisa membawa ke Jerman," kata Clara.


"Hem," jawabnya sambil berjalan menuju  ke arah ruang ICU.


Tuan besar masuk, tetapi sebelumnya pria itu memakai pakaian khusus. Dibukanya pintu perlahan, ruangan itu hanya hening. Ditatapnya dengan wajah pucat Velicia.


"Kenapa kamu sembunyikan semuanya, Nak?" tanya Tuan besar.


Pria itu  tidak kuat menahan tangisnya, wanita yang begitu ia sayangi kini tengah berbaring dalam keadaan tidak berdaya. Diusapnya air matanya, tak lama Tuan besar mengecup kening Velicia dengan lembut.


Dari pintu Clara melihat semuanya, ia begitu juga sedih sama seperti apa yang dirasakan oleh pria paruh baya itu. Tuang besar keluar dengan wajah sedih, pria itu merasa kalau mantan menantunya itu kian kurus.


Clara hanya menunduk saat Pria itu keluar begitu saja, menegurnya pun tidak, Dokter Herman datang sambil tersenyum melihat Clara. pria itu masuk dengan dua orang suster di belakangnya,


Setelah lima belas menit keluar Dokter Herman berkata." Semua stabil jangan khawatir,"

__ADS_1


Clara mengangguk tanda mengerti, setelah dokter pergi gadis itu melaporkan kepada Jack. Kalau Nonanya sudah stabil kemungkinan sore bisa dibawa ke Jerman.


***


Sesampainya di villa Tuan besar melihat Arnold yang baru pulang dari kemarin terlihat begitu berantakan. Hal itu memicu amarah dari Tuan Besar.


"Kamu itu dari mana saja, hah!"teriak tuan besar.


Arnold merasa aneh dengan Papanya, biasa kapanpun ia pulang tidak akan pernah marah, tetapi  ada  yang aneh karena tiba-tiba pria di depannya itu begitu murka.


"Papa kenapa?" tanya Arnold.


"Apa yang selama ini kamu lakukan kepada istrimu itu, hah!" Tuang besar langsung memegang dadanya yang begitu sakit.


Andreas melihat itu begitu panik, ia berlari ke arah Papanya. Arnold membantu kakaknya untuk membawa Papanya ke kamarnya.


"Papa harus tenang," kata Andreas.


"Ar, panggil dokter biar aku yang menjaga Papa," kata Andreas.


Setelah selesai telepon pria itu kembali masuk kamar Papanya.


"Apa Papa tidur?" tanya Arnold.


Andreas hanya mengangguk. Pria itu memperhatikan adiknya yang begitu tega membuat  istri menderita.


Tak lama dokter datang memeriksa Keadaan tuan besar dan berkata." Jangan membuat beliau stres dan banyak pikiran."


Andreas dan Arnold mengangguk. Keduanya terlihat begitu sedih melihat pria yang biasa tegar kini begitu lemah.


Arnold lebih dulu keluar dari kamar Papanya. Ia begitu frustasi karena tidak menemukan Valecia  di villanya. Arnold menghubungi nomer mantan istrinya itu, tapi tidak diangkatnya.


Arnold tidak mau kalah, dihubunginya Clara. Karena wanita itu hari ini tiba -tiba mengambil cuti bersamaan dengan hilangnya Mantan istrinya.

__ADS_1


Arnold keluar dari kamarnya untuk pergi, tetapi Andreas yang baru keluar dari kamar Papanya mencegahnya.


"Ar, kamu mau kemana lagi?" tanya Andreas dengan nada tinggi.


"Kak, aku mau kemana biasa kalian tidak peduli,tapi kali ini aku harus menemukan mantan istriku karena aku masih mencintainya."Arnold langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Kakaknya.


Andreas mendengar itu tersenyum getir, kenapa setelah berpisah adiknya itu baru sadar kalau cintanya begitu besar kepada mantan istrinya.


Arnold langsung keluar rumah hal itu membuat Anderas hanya bisa menatap datar, adiknya  kini baru menyadari kalau wanita itu begitu berharga. Kini ia akan membuat adiknya itu semakin menyesal, Karena selama ia menjaga mantan dari adiknya akan mengembalikan kebahagiaan yang sudah direnggut nya. Janji itu tertanam dalam hatinya walau ia belum tahu seperti apa pewaris tunggal dari Arista itu.


Andrea kembali lagi masuk dalam kamar Papanya yang kini sudah tertidur karena obat yang diberikan oleh dokter, ia melihat pria baru baya itu hanya tersenyum, andai Ada Mamanya pasti tidak akan seperti itu jadinya.


Andreas menghubungi Jack untuk bertemu, tapi sayang ponsel pria itu tidak dia angkat. Ia bingung harus menghubungi siapa lagi karena yang ia tahu kalau wanita itu kini sedang koma. Pria itu keluar dari rumah dan berpesan kepada asisten rumah tangga untuk menjaga papanya karena ia ada perlu.


Andreas masuk mobil Papanya, kemudian ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jujur ia bingung di mana wanita itu dirawat sekarang. Dilihatnya jam masih menunjukan pukul 9 pagi.


Andreas mengemudikan mobilnya menuju keluarga Arista, tapi tidak ada pelayan yang membukakan pintu untuknya, Pria itu semakin frustasi, Karena Villa itu terlihat sepi.


Andreas tidak menyadari jika ia pernah mengantarkan gadis kecilnya pulang malam hari. Pria itu kembali ke mobilnya, kini tujuannya pergi ke perusahan Arista untuk menanyakan keberadaan wanita itu.


Saat Anderas sedang mau melajukan mobilnya dapat telepon dari Papanya pria itu hanya menarik napas panjang karena Papanya mengajaknya untuk menjenguk mamanya.


Andreas anak yang begitu menurut, lagian ia tidak akan membiarkan papanya untuk mengemudikan mobil sendirinya di saat kondisi sedang tidak fit,.


Mobil yang dikemudikan oleh Andreas sampai di depan vila, Tuan besar sudah berjalan dengan langkah lebarnya. pria itu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Papanya.


"Papa kenapa mendadak mau bertemu Mama?" tanya Andreas.


"Ada yang mau Papa sampaikan,."Tuan besar menatap putranya.


"Pa, jangan sakiti Mama lagi," kata Andreas.


"Papa tidak akan sakiti, tapi Mamamu harus tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga anak bungsunya itu," ujar Tuan besar.

__ADS_1


Andreas hanya diam, ia berharap kedatangan Papanya tidak menimbulkan kesedihan di hati wanita yang begitu ia sayangi.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga setelah dua jam mobil sampai di rumah yang terluar sederhana, Pintu terbuka keluar sosok wanita yang masih terlihat cantik dengan umur yang tidak muda lagi.


__ADS_2