PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Penyelesaian kesepakatan


__ADS_3

"Merry, jika kamu butuh sesuatu gunakan atm itu, ingat jangan tanya pinnya padaku," ujar Velicia membuat Merry tertawa. 


Velicia dan Merry kenal sejak lama, sebelum Velicia menyukai Arnold, karena itu dia tahu semua PIN Velicia adalah tanggal pertemuan Velicia dengan Arnold 31122008 (31 Desember 2008).


"Aku akan menggunakan semaunya," goda Merr membuat Velicia tergelak mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Merry, hari sudah sore aku pulang ya," pamit Velicia kepada sahabatnya itu.


"Kenapa buru-buru!" sungut Merry karena dia masih begitu merindukan sahabatnya itu.


"Aku lelah," jawab Velicia sambil berjalan menuju ke arah mobilnya.


Tak lama wanita itu mengemudikan mobilnya meninggalkan area kafe, selama beberapa hari ini ia merasa hidupnya hanya santai-santai saja. Sesampai di villa milik keluarga Arista, Velicia perlahan masuk dengan langkah gontai. Dia merebahkan diri di sofa karena pusing, saat akan memejamkan matanya suara telepon masuk.


Velicia meraih tasnya, saat dilihatnya nomor yang tidak dikenalnya hal itu membuat keningnya berkerut. Ada rasa ragu saat akan mengangkatnya. Namun, akhirnya ia angkat takut hal yang penting.


"Halo," kata Velicia lemah.


"Apa kabar Veils?" tanya seseorang dibalik telepon itu.


Velicia terdiam, yang memanggilnya veils hanya rekan bisnisnya saja, tapi ada rasa kalau dia tidak asing dengan suara itu.


"Ini siapa?" tanya Velicia.


"Kamu lupa, aku Nyonya Setyawan istri dari Arnold Setyawan," jawab Viona. 


Wanita itu Viona yang sengaja menghubungi Velicia, untuk mengatakan kalau dia adalah Nyonya Setyawan saat ini.

__ADS_1


"Ada apa kau menghubungiku?" tanya Velicia dingin.


"Apa kamu tahu, harusnya tiga tahun lalu aku yang menjadi Nyonya Setyawan dan sekarang aku mengambil apa yang semestinya menjadi haku, Velicia!" seru Viona dari seberang sana.


“Kamu masih belum menikah, ayah Arnold masih belum merestui kalian!" cibir Velicia, dia malas menghiraukan wanita yang dicintai oleh Arnold itu lagi dan langsung memblokir nomor Viona.


Velicia tidak habis pikir, dia sudah bercerai dengan Arnold. Namun, Viona masih saja mengganggunya. Dia akan semakin stres kalau hanya di dalam villa saja. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. 


Setelah lima belas menit Velicia sudah baru keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah terlihat segar. Velicia begitu lelah, hingga dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun, ia tidak tertidur matanya menatap kosong ke langit-langit kamarnya.


Umurnya kini tinggal dua bulan lebih saja, tanpa ia sadari bulir bening itu mengalir ke pipinya. Saat-saat seperti ini dia sendiri, untuk bercerita saja ia tidak bisa. Semuanya Velicia pendam sendiri, mungkin sampai hari itu tiba dimana dia tidak akan merasakan sakit lagi. wanita itu merasa lelah, setelah meminum obat pereda nyeri akhirnya terlelap.


Pagi harinya Velicia terbangun, dilihatnya jam sudah menunjukan pukul delapan. Wanita itu seperti baisa menuju kamar mandi, setelah selesai dengan Ritualnya  ia mulai menghias dirinya. Membuka lemari dan mendapatkan gaun warna biru muda yang begitu kontras dengan kulit tubuhnya.


Velicia tidak lupa memakai lipstik berwarna pink, setelah selesai wanita itu beranjak berdiri dan keluar kamarnya. Ia berencana akan ke pantai dimana dulu Arnold melamarnya.


Mobil yang dikemudikan oleh Velicia melaju membelah jalanan, wanita itu begitu terlihat cantik dengan kacamata hitamnya, orang tidak akan mengira jika dia umurnya tak lama lagi. setelah perjalanan selama dua jam Velicia sampai di Pantai Falajawa.


Saat sedang menikmati hembusan angin laut dan suara ombak yang terdengar begitu indah, tiba-tiba Arnold menghubunginya. Velicia dengan malas akhirnya mengangkatnya.


"Halo," katanya dingin.


"Kamu di mana?" tanya Arnold.


Velicia menarik napas dalam, mantan suaminya itu sekarang memperhatikannya . Entah apa lagi yang diinginkan oleh pria itu.


"Aku di pantai," jawab Velicia.

__ADS_1


Arnold terdiam sebentar lalu berkata," Aku kita Pacaran, Cia."


Velicia terkejut, Arnold masih membahasnya lagi. Karena tidak ada jawaban dari mantan istrinya membuat pria itu frustasi, dia bukan pria yang perlu dikasihani wanita.


"Ada Syaratnya, Ar!" kata Velicia.


"Apa?" tanya Arnold singkat seakan dia sudah tidak sabar untuk syarat apa yang akan diajukan oleh mantan istrinya itu.


"Selama dua bulan kamu tidak boleh bertemu dengan Viona, dan akan fokus pacaran denganku selama itu dan jangan mengungkit nama Viona di hadapanku, Ar! kecuali aku yang mengingatnya," hening tidak ada jawaban dari Arnold, "Syarat yang kedua tidak boleh berhubungan intim!" Suara Velicia terdengar begitu jelas saat menyampaikan itu kepada mantan suaminya melalui telepon.


Velicia membuat kesepakatan yang kedua karena dia takut mantan suaminya itu nanti khilaf, selain itu karena penyakitnya semakin parah dan tidak sanggup menahannya.


"Baiklah aku setuju," jawab Arnold, dan sambungan telepon terputus begitu saja dari pihak Arnold.


Velicia tersenyum, mungkin ini cara Arnold untuk menebus kesalahannya. Wanita itu berjalan menuju dimana mobilnya terparkir, ia langsung masuk dan mengemudiankan mobilnya menuju villa keluarga Arista.


Hari berganti, kini sudah dua hari di mana Arnold mengatakan akan menjadi kekasihnya selama dua bulan, tapi selama dua hari itu keduanya tidak saling kontak.


Velicia menarik napas panjang, dilihatnya ponselnya sedari tadi. Ia berharap Arnold menghubunginya, tapi itu rasanya tidak mungkin. Banyak prasangka buruk yang ada dalam pikirannya saat ini.


Velicia berdiri mengambil novel yang sudah lama dibeli, tapi belum ada waktu untuk membacanya, jika mengingat kesepakatan dua hari yang lalu membuatnya kembali kecewa, ia duduk di samping jendela dan mau mulai baca novel, tapi tidak sengaja  wanita itu melihat ke bawah jendelanya ada Arnold di bawah sana.


Velicia tertegun, entah apa yang dilakukan mantan suaminya itu dibawah sana. Apa mungkin dia tidak ada kerjaan. Wanita itu begitu terkejut hingga hanya menatap saja ke arah Arnold hingga pria itu menempelkan ponselnya di telinga sembari memberi kode ke mantan istrinya untuk mengambil handphonenya.


Velicia mengerutkan keningnya, untuk apa pria itu menyuruhnya untuk mengambil ponselnya. Kenapa tidak masuk saja dan berbicara langsung. Arnold menatapnya sambil terus menyuruh Velicia untuk mengangkat ponselnya.


Arnold yang melihat mantan istrinya itu malah asik melihatnya menjadi kesal sendiri, tapi sebisa mungkin dia menahannya dan bersabar menghadapi Velicia.

__ADS_1


Velicia berdiri dari duduknya, wanita itu melihat ponselnya terus bergetar dimana nama mantan suaminya yang menghubunginya, diraihnya ponselnya, tapi tidak diangkat olehnya.


Velicia berjalan menuju ke jendela, Arnold masih berdiri dan menatap ke arahnya, pria itu kembali menghubunginya. Namun, Velicia lagi-lagi tidak menghiraukannya. Wanita itu ragu-ragu untuk menerima panggilan itu, tapi dengan berat hati akhirnya ditekannya tombol hijau itu,“Ada apa mencariku?”


__ADS_2